Senin, 09 Desember 2019

Setidak-tidaknya ada dua peristiwa yang membuat buku ini perlu mendapat perhatian saya, pertama ketika saya ditelepon oleh seorang laki-laki tidak dikenal dengan dana sedih menyampaikan bahwa anak saya jatuh pingsan dan perlu segera mendapat pertolongan. Sebagai seorang ayah tentu saja saya langsung ingin tahu keadaannya bagaimana. Laki-laki itu dengan sambil menangis mengatakan bahwa anak saya sudah ada di rumah sakit. Tapi saya disuruh segera menghubungi salah satu guru yang menangani tersebut?

       Tapi, syukur bahwa saya ingat bahwa saya sering mendengar cerita nama-nama guru anak saya dan tidak satupun ada nama guru yang dimaksud. Dan dengan nada menghardik, saya katakan, bahwa Anda mau menipu saya ya? Awalnya, si laki-laki tersebut sambil menangis mengatakan, bahwa benar adanya anak saya di rumah sakit. Tapi sekali lagi saya membentaknya dengan mengatakan “Anda adalah penipu!” Benar saja, bentakan yang kedua membuat telepon akhirnya ditutup dan saya berkeyakinan bahwa si penelepon adalah penipu.

         Saya memang berpikir bahwa sang penipu tadi memang memainkan perasaan dan bagaimana seandainya istri saya sebagai wanita yang mengangkat telepon tadi. Tapi kekhawatiran saya rupanya terbukti di mana ketika saya bekerja, tampaknya istri saya yang ditelepon dengan modus yang sama seperti yang dialami oleh saya. Syukur bahwa saya sudah bercerita mengenai pengalaman saya kepada istri saya sehingga istri saya langsung menutup telepon dari laki-laki yang hendak menipu tersebut. Sang penipu tersebut mengerti betul apa arti seorang anak bagi orang tua mereka.

         Peristiwa kedua adalah terjadinya pembantaian massal di Sekolah Dasar Sandy Hook, Newton, Negara Bagian Connecticut, Amerika Serikat pada Jumat 14 Desember 2012 lalu di mana seorang pemuda bernama Adam Lanza (20 tahun) telah memberondongkan peluru ke arah anak-anak Sekolah Dasar tersebut yang menimbulkan 16 anak berusia enam tahun tewas, dan 4 anak berusia tujuh tahun meninggal dunia. Selain itu Adam Lanza yang akhirnya bunuh diri itu juga menewaskan 6 orang dewasa yang berusia 27-56 tahun termasuk kepala sekolah dan juga ibu pemuda tadi bernama Nancy, yang menjadi guru di sekolah tersebut. Sehingga total korban peristiwa tersebut berjumlah 28 orang. Mengerikan sekali.

         Tentu saja perbagai pertanyaan terbersit dalam benak banyak orang atas peristiwa kedua yang terjadi itu, tapi tentu saja saya ingin menghubungkan dengan buku yang sedang saya angkat ini di mana kita sebagai orang tua jangan sampai salah dalam mendidik anak-anak kita. Dan buku ini ingin menjelaskan bagaimana kita sebagai orang tua bisa mengerti bahwa anak-anak kita itu adalah sebagai seorang pribadi yang masing-masing anak unik. Makanya di dalam menghadapinya, dalam mendidiknya kita harus melakukannya sesuai dengan keberadaan anak tersebut.

        Dan lebih spesifik lagi dalam buku ini dijelaskan bahwa ketika kita menegur entah itu menegur untuk tidak melakukan sesuatu maka yang harus diperhatikan kita melakukan bukan karena anak kita perempuan atau anak kita itu laki-laki. Contoh praktisnya adalah, anak laki-laki tidak boleh memasak, karena itu pekerjaan anak perempuan. Atau anak laki-laki kok menangis? Wah, anak perempuan kok main sepak bola. Kamu ini perempuan, tidak boleh ini dan tidak boleh itu dan seterusnya.

         Selain itu dalam buku ini disinggung bagaimana kita menghadapi anak-anak kita ketika dikuasai oleh kemarahan. Hal apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua? Beberapa saran yang diberikan oleh penulis sangat praktis dan mudah dilakukan. Dan banyak hal lain yang dibahasa dalam buku ini yang pasti akan menolong kita sebagai orang tua bagaimana menghadapi anak-anak kita. Dan pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini adalah bagaimana kita sebagai orang tua bisa membimbing anak dengan mendasarkan bahwa setiap individu dari anak-anak kita berbeda, tapi bukan karena dia laki-laki atau perempuan. Dan setiap kita harus menghargai setiap individu dari anak-anak kita.

        Buku ini mudah dicerna oleh kita sebagai orang tua karena memang isinya sangat praktis dan lebih gampang lagi karena disajikan dalam bentuk tanya jawab yang mana pertanyaan-pertanyaan itu memang sering menjadi pertanyaan kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak kita sehari-hari. Semoga bermanfaat!  
       
Judul                : Problema Anak Dini Berbasis Gender
Penulis             : Elga Andriana
Penerbit           : Kanisius, Jogjakarta 2006
Halaman          : 159 halaman (termasuk pengantar dan daftar isi)
ISBN               : 979-21-1273-1
loading...

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates