Senin, 09 Desember 2019

loading...
Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan berbagai istilah-istilah dan nama tempat dan nama orang yang muncul ke permukaan dan menjejali pikiran kita setiap hari dengan berbagai informasi yang mnyertainya. Taruhlah sebagian kita sebagai bangsa Indonesia menjadi kenal di mana itu Ambalat yang menjadi perbincangan hangat setelah kapal diraja Malaysia yang terus menerus memasuki perairan kita, yang tentu ini juga sedikit banyak membuat kita bangsa Indonesia tidak habis pikir apa maunya Malaysia itu. 

Sementara di dalam negeri sendiri kita juga dibuat bingung dengan istilah yang dulu hanya didengar oleh orang-orang tertentu tapi kini banyak orang yang mulai biasa mendengar kata neoliberal yang kemudian disingkat dengan kata neolib, di mana kata-kata itu sering diangkat untuk dijadi senjata penyerangan terhadap “lawan” kampanye. 

Juga Manohara mengambil tempat di pemberitaan dengan kasusnya yang menimbulkan galaunya duta besar Indonesia untuk Malaysia, dan juga tidak sedikit yang membuat orang geram dengan ulah Pangeran Kelantan Tengku Muhammad Fakhry Petra. 

Dan hingar bingarnya genderang “perang” argumentasi dan gagasan serta janji-janji dalam kampanya Pemilu Presiden 2008 yang akan dilaksanakan pada Juli bulan depan di mana Mega Prabowo, SBY Budiono, dan JK Wiranto akan bertarung pada bulan depan. 

Hari Selasa lalu saya menyaksikan dua TV News secara bergantian menampilkan debat yang tidak ada habis-habisnya. Saya bergumam kepada teman, “Wah, kita selalu nonton orang bertengkar terus.” Anehnya, saya dengan teman yang sama-sama menonton sering terlibat juga dalam perdebatan karena kami beda pilihan calom presiden.
Itu yang kita saksikan di media. 

Nah, buku yang akan diangkat ini sebenarnya berbicara mengenai bagaimana kita bisa mengelola emosi kita untuk tujuan yang memberi motivasi untuk semakin maju mencapai hidup sukses dalam berbagai hal. Kalau dilihat dari judul buku ini Emotion Inteleeigence atau kecerdasan emosional memiliki definisi pengunaan emosi secara cerdas. Jadi bagaimana caranya emosi yang kita miliki ini digunakan sebagai pemandu perilaku dan pemikiran kita sedemikian rupa sehingga emosi itu menghasilkan sesuatu yang berguna.

Maksudnya bagaimana? Dari sisi positif, kalau kita mau presentasi di tempat di mana begitu banyak orang, bisa jadi kita merasa gelisah,mondar-mandir, ingin ke belakang terus dan seterusnya. Maka buku ini akan menolong kita bagaimana kita bisa menurunkan kegelisahan iu sendiri dengan cara seperti relaksasi, dan mencoba mengehentikan tindakan yang kadang-kadang itu tidak kita sadari.
Dalam penerapan di tempat kerja kecerdasan emosi ini bisa menjadi alat untuk menyelesikan masalah dengan teman atau rekan kerja, bagaimana menghadapi pelanggan yang rewel dan seterusnya. 

Dan kalau kita tidak memiliki Emotion Intelligence atau kecerdasan emosi itu, maka akibatnya, di tempat kerja bisa jadi kita senang mengumpat bawahan, atau teman kerja kita yang memiliki konflik dengan kita dan banyak hal lainnya. Akibatnya pekerjaan terganggu karena timbulnya rasa tidak enak, konflik dsb. Pendeknya kecerdasan emosi ini bisa digunakan untuk kepentingan intrapersonal maksudnya membantu diri kita sendiri tapi juga dalam membantu orang lain atau interpersonal.
Nah, kalau Anda ingin lebih dalam dengan buku ini, silahkan Anda mencoba membacanya. Pasti bermanfaat untuk Anda.

 Judul        : Emotion Intelleigence at Work(Pemandu Pikiran Perilaku Anda untuk Meraih Kesuksesan)
Pengarang : Hendrie Weisinger, Ph.D.
Penerbit    : Buana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Tahun        : Jakarta, 2006

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates