Jumat, 06 Desember 2019

loading...

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh hasil penelitian riset berjudul Radikalisme dan Homeschooling dari Project Manager Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (PPIM UIN) yang menyebutkan bahwa berdasarkan hasil penelitian mereka di beberapa kota yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Solo, Surabaya, Makassar dan Padang yang menemukan lima Homeschooling terindikasi terpapar radikalisme. Sontak saja banyak yang tidak terima dengan kenyataan hasil riset tersebut.

Di Indonesia Home Schooling ini semakin lama semakin popular dan bahkan semakin tumbuh di beberapa kota besar khususnya. Masyarakat juga menyambut baik munculnya Homeschooling-homeschooling di beberapa tempat sebagai pilihan alternatif untuk pendidikan anak-anak mereka. Termasuk anak saya yang sejak SMP sampai kini memasuki kelas satu SMA tetap betah dengan Homeschooling. Namun di negara-negara maju Home Schooling bukanlah hal baru dan bahkan semakin popular.

Bebepara alasan yang membuat orang memutuskan untuk menyelenggarakan Home Schooling bagi anak-anak mereka di antaranya adalah situasi di mana pusat pendidikan sangat jauh dari tempat tinggalnya sehingga tidak memungkinkan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum. Kedua, karena memiliki factor-faktor khusus yang dialami sang anak seperti anak autis. Yang ketiga adalah pertimbangan ekonomi.


Buku yang akan kita lihat ini ditulis oleh Mary Kenyon ini menceritakan pengalamannya sehingga ia memutuskan untuk melakukan Home Schooling untuk anak-anak mereka. Selain factor perhitungan ekonomi yang mendorong Mary untuk melakukan Home Schooling tapi juga ada factor-faktor praktis yang dialami selama ia memasukkan ke sekolah umum. 


Menurut cerita Mary, ketika ia menyekolahkan anaknya di sekolah TK ia menyaksikan setelah setengah tahun berjalan anaknya menjadi anak yang suka memukul. Tentu saja ini bukan kesalahan sekolah, tapi ada persoalan dengan sang anak. Selain itu sering kali anaknya yang dimasukkan di sekolah umum itu mengalami sakit perut yang dikarenakan tidak sempat sarapan pagi. Penyebabnya, sering kali anaknya itu harus buru-buru menyiapkan semua yang berhubungan dengan sekolah karena takut ketinggalan bus jemputan. Tapi hal yang lebih mendorongnya untuk menyelenggarakan Home Shooling bagi anak-anaknya adalah karena setelah melakukan pengamatan ekonomi dengan membandingkan antara menyekolahkan anak-anak di sekolah umum dan Home Schooling ini ternyata Home Schooling ini jauh lebih murah biayanya.

Tapi itu di Amerika Serikat, kalau di Indonesia tentu berbanding terbalik, karena Home Schooling di negeri ini seperti sebuah bentuk baru yang kurang popular. Kalau dilihat dari biaya, maka bila membandingkannya bukan dengan sekolah negeri atau milik pemerintah yang nota bene mendapat asupan biaya dari negara. Maka akan menjadi adil bila membandingkan biaya Home Schooling dengan sekolah swasta, maka Home Schooling memang menjadi seimbang sama seperti biaya sekolah-sekolah swasta lainnya.

Buku yang bertebal 127 termasuk index ini menjelaskan bagaimana memulai sebuah Home Schooling bagi keluarga yang ingin memasukkan anaknya untuk masuk ke sekolah rumah. Namun juga dijelaskan bagaimana Home Schooling itu juga memiliki banyak manfaat yang akan didapatkan baik dari pengetahuan maupun factor ekonomi. 

Judul : Home Schooling from Scratch: Simple Living – Super Learning
Penulis : Mary Potter Kenyon
Penerbit : Gazelle Publicication, 1996 

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates