Jumat, 06 Desember 2019

loading...
 

                         Gambar Illustrasi Kalicode yang identik dengan YB Mangunwijaya

Judul di atas diambil dari sebuah judul artikel di kolom Internasional di Harian Kompas Rabu, 7 Mei 2008 kemarin yang menulis wawancara media tersebut dengan Ramos Horta, presiden Timur Leste yang baru sembuh dari luka-luka parahnya setelah dalam sebuah usaha pembunuhan terhadap presiden yang pernah menerima Hadiah Nobel itu dengan cara ditembak oleh sekelompok pemberontak. Menurut Horta dirinya merasakan bahwa ia merasakan campur tangan Tuhan di dalam pengalaman pahitnya itu. Bahkan menurut Horta, ia mengalami hal-hal supranatural dalam sebuah mimpi di mana ia melihat Tuhan Yesus, dan bahkan terlibat dalam sebuah dialog yang mempertanyakan kenapa ia ditembak.

Lalu apa hubungannya dengan buku yang ditulis oleh Y B. Mangunwijaya yang diterbitkan taun 1997 tersebut? Buku ini berisi kumpulan pandangan Romo Mangun mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan situasi menjelang masa Reformasi. Tentu saja isinya berkenaan dengan konteks pada waktu tersebut. Namun yang menarik bagi saya adalah ketika saya membaca koran kemarin saya langusng teringat dengan salah satu tulisan dalam buku tersebut di mana Romo Mangun mengemontari panganugerahan Hadiah Nobel kepada dua tokoh Timor-Timur yaitu yang pertama kepada Uskup Belo dan yang kedua kepada Ramos Horta.

Saya justru tertarik dengan tulisan penutup dalam buku ini di mana Romo Mangun menulis demikian (halaman 115). Ramos Horta selalu merendah diri, bersembunyi di belakang jubah Uskup Dili, memuji Mgr. Belo sebagai pemimpin utamanya. Kutipan yang disampaikan oleh Horta demikian, “Pemenang yang sesungguhnya dari Hadiah Nobel untuk Perdamaian 1996 ialah pemimpin rohani kami, Dom Carlos Filipe Ximenes Belo. Beliau adalah pengejawantahan ketahanan fleksibel, kelurusan moral, harkat martabat dan identitas rakyat Timor Timur serta perjuangan panjangnya meraih perdamaian dan kemerdekaan.”

Kemudian, masih menurut buku ini, BBC satu kali bertanya kepada Ramos Horta yang mengaku bahwa Uskup Belo sebagai pemimpin spiritualnya dengan mengatakan, mengapa Ramos Horta tidak pernah hadir dalam misa-misa Kudus yang dikorbankan oleh Uskup Belo, padahal tempat khusus di Katedral sudah tersedia untuknya? Yah, sebuah pertanyaan kritis yang tentu berangkat dari sebuah kebingungan.

Tapi kejadian itu belasan tahun lalu kejadiannya ketika Ramos Horta masih sibuk dengan perjuangannya untuk kemerdekaan bagi Timor Timur. Tidak tahu sekarang, apakah Ramos Horta bisa membuktikan kembali ucapannya ketika ia mengalami suatu pengalaman religius bertemu dengan Tuhan, yang bisa dibuktikan di dalam kehidupan kesehariannya. Mudah-mudahan ia bisa bisa membuktikannya dengan cara berpolitiknya yang menggunakan hati nurani.

Judul      : Politik Hati Nurani
Penulis   : Y B. Mangunwijaya
Penerbit : PT Grafiasri Mukti, Tahun 1997

ISBN      : 979-8467-03-5

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates