Senin, 09 Desember 2019

Tidak sedikit orang yang akan memasuki pernikahan ibarat orang yang ingin memasuki sebuah dunia bahagia yang tiada tara di mana orang yang kita cintai, kasihi akan menjadi orang yang sesuai dengan keinginan kita. Makanya begitu semangatnya sejoli berangkat ke medan pernikahan dengan semangat sukacita.

Dalam sebuah perkawinan yang didasarkan atas cinta, tentu suami dan istri ketika memutuskan untuk memasuki sebuah rumah tangga harapan yang menjadi angan-angannya adalah kebahagiaan. Bagi seorang wanita yang hendak menikah bisa jadi bayang-bayang kebahagiaan karena akan merasa diperhatikan di dalam keluarga terus menerus mengiang-ngiang. Kalau apa yang menjadi angan-angannya ketika akan menikah itu benar-benar menjadi kenyataan, wow, luar biasa. Kita bisa bilang, puji Tuhan.

Tetapi tentu saja di dalam pernikahan itu sendiri saya yakin tidak akan berjalan mulus-mulus saja, tetapi di sana sini akan ada percekcokan karena munculnya perbedaan. Konflik sudah menjadi bagian yang tidak bisa terelakkan di dalam keluarga. Kalau selama konfliknya itu gampang diatasi, tidak masalah, tapi bagaimana kalau ternyata sang suami misalnya memiliki sifat yang sangat memuakkan yang menganggu kehidupan berkeluarga? Ada kalanya orang bisa mengalami apa yang disebut dengan dilusi. Nah, ketimbang sang istri dalam menghadapi sang suami yang selalu menyakitkan itu dengan cara melawan atau frustasi, cobalah membaca buku ini.

Mengapa? Karena buku ini memberikan arahan bagaimana istri menangkap kembali percikan kekuatan dan sukacita yang pernah diimpi-impikan ketika akan memasuki pernikahan. Di dalam menangkap kembali semangat kebahagiaan yang pernah dirasakan itu dengan cara mencoba untuk tampil sebagai istri yang bersikap positif dengan tujuan membangun dan membangun rumah tangga yang lebih sehat.

Pengaruh seorang istri yan positif di dalam keluarga tentu sangat penting bagi kebahagiaan keluarga, dan di situlah kehebatan seorang istri. dan Karol Ladd mengingatkan bahwa di dalam kebahagiaan rumah tangga itu bukan ditentukan oleh bagaimana seorang istri bisa membahagiakan suami. Bukan, tapi kehebatan seorang istri itu terletak bagaimana sang istri itu memusatkan hidupnya kepada Tuhan. Dan di dalam kehidupan yang saleh di hadapan Tuhan itulah seorang istri akan mendapatkan kuasa, yaitu kuasa Tuhan yang bekerja di dalam hidupnya, dan menerapkan kuasa itu di dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Karol Ladd menyebutkan ada tujuh kuasa yang dapat didapatkan dan dipraktekkan oleh seorang istri di dalam keluarga di mana kuasa-kuasa itu bila dimiliki dan dilakukan oleh seorang istri di dalam keluarga, entah keluarga itu sedang memiliki masalah, atau sedang mengecewakan atau dalam keadaan tenang-tenang saja, maka tujuh kuasa itu akan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi sebuah keluarga. Kuasa-kuasa itu adalah, kuasa kasih, kuasa komitmen, kuasa rasa hormat, kuasa dorongan semangat, kuasa daya tarik, kuasa tanggung jawab dan kuasa kehadiran Tuhan.
Dengan tulisan khas gaya seorang wanita Karol Ladd sangat teliti menjelaskan semua kuasa itu satu persatu. Dan tentu saja buku ini sangat komunikatif dan praktis untuk diterapkan di dalam keluarga.

Judul      : Kuasa Seorang Istri yang Positif (A Power of a Positive Wife)
Penulis   : Karol Ladd
Penerbit : Metanoia Publishing, Tahun 2006
Penerjemah : Sri Meilyana

loading...

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates