Senin, 09 Desember 2019

Bagi pembicara atau pengkhotbah, atau penceramah apapun ketika memasuki tema pengampunan, itu ibaratnya sebuah ujian dan tuntutan. Ujiannya adalah, apakah yang disampaikan itu akan dilaksanakannya. Di sinilah ada tuntutan lebih, apakah yang saya ceramahkan ini jelas-jelas dilakukan oleh si aku?

Membutuhkan sebuah keberanian yang lebih untuk membahas dan mengangkat tema mengenai pengampunan dalam sebuah seminar, maupun diskusi keluarga maupun menyampaikannya melalui mimbar. Soalnya kalau kita berani mengangkat tema ini maka jika tidak memiliki komitmen untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, maka pengampunan itu hanya manis dalam konsep, tapi kosong dalam kenyataan. 

Kalau kita berbicara mengenai pengampunan Tuhan di dalam kehidupan kita, atas dosa-dosa kita, semua orang sangat jago dengan argumen teologis yang sangat fasih dan tepat dalam pengambilan dalil-dalilnya. Lengkap dengan ayat dan pasal serta kitabnya mengenai persoalan ini. Tapi ketika sampai kepada tuntutan aplikasi praktis dalam kehidupan kita untuk mengampuni orang lain yang tidak sejalan dengan kita, yang pernah menyakiti hati kita, yang pernah menyinggung keyakinan kita, maka mulailah kita menghindar. Oleh karena apa? Karena kehidupan praktis soal pengampunan ini seperti tadi, manis dimulut, pahit dalam kehidupan nyata.

Nah, buku karya penulis yang tidak asing lagi bagi kita di mana karya-karya bukunya menempati rengking bestseller versi New York Times yaitu Paul J. Meyer ini berjudul Mengampuni …Mu’jizat Terakhir ini patut dibaca. Soalnya buku ini ditulis berangkat dari pengalaman hidup praktis. Sebuah buku yang terbalik dari buku-buku kebanyakan dalam membicarakan pengampunan yang sering dari rentetan ayat-ayat mengenai pengampunan, maka, buku ini berangkat dari pengalaman.
Seperti diceritakan oleh Meyer, bahwa ia menyaksikan bagaimana ibunya sendiri yang telah memberi inspirasi bagaimana praktek pengampunan itu telah menjadi pegangan hidup sang ibu di dalam menghadapi sikap suaminya yang sering menyakiti hatinya.

Menurut Mengampuni Paul J. Meyer, ibunya itu mau mengampuni suaminya yang adalah ayahnya sendiri itu karena ia ingin melakukannya. Keputusan hidupnya adalah ibunya lebih memilih sikap untuk hidup mengampuni ketimbang tidak mengampuni.

Kemudian dalam buku ini Paul J. Meyer memberikan langkah-langkah praktis yang mudah untuk dimengerti. Dan tanpa menggurui Paul J. Meyer mau menuntun kita selangkah demi selangkah untuk bertindak mengampuni. Dengan demikian maka tentu saja kita angkat topi dengan Paul J. Meyer yang telah menulis buku yang sangat menolong siapa saja yang mau 


Judul : Mengampuni …Mu’jizat Terakhir
Judul : Forgivenes…The Ultimate Miracle (judul asli)
Penulis : Paul J. Meyer
Penerjemah : Yahya Kristiyanto

Penerbit : Nafiri Gabriel, 2007
loading...

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates