Senin, 09 Desember 2019

Coba perhatikan Tajuk Rencana Harian Kompas, Senin 25 Mei 2009 yang mengulas mengenai kematian mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun yang disinyalir sebagai bentuk rasa tidak bisa menahan rasa malu dan rasa bersalah atas tuduhan korupsi. Sebenarnya Roh Moo-hyun sendiri presiden yang dikenal sangat bersih dan penganjur demokrasi. Namun karena istri dan juga anak serta menantu laki-lakinya yang ternyata menjadi tertuduh terlibat skandal korupsi maka Roh akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Menurut Tajuk Rencana tersebut, tindakan Roh itu terasa kontras dengan fenomena budaya di banyak bangsa, termasuk di Indonesia. Sementara korupsi itu sendiri tidak pernah surut dan cenderung terus naik keberadannya, walaupun sudah ada Hari Anti Korupsi Internasional yang juga diperingati di negara kita di setiap 9 Desember termasuk 2019 ini. Miris bukan.

Buku yang coba diangkat ke permukaan ini ingin melihat perihal rasa malu yang sebenarnya itu manusiawi. Makanya rasa malu itu wajar dimiliki oleh manusia yang sehat dan bahkan perasan malu itu sendiri bisa menjadi sebuah sumber kreatifitas dan pembelajaran. Kalau Roh melakukan bunuh diri karena rasa malunya kaena ternyata keluarganya terlibat dengan korupsi, maka bukan tindakan bunuh dirinya yang bisa dianggap bear, tapi bagaimana ia merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya dan tidak sesuai dengan apa yang ia galakkan semasa ia memerintah. Bandingkan dengan budaya kita bila melakukan korupsi, sudah jelas-jelas korupsi saja masih berusaha untuk tertawa dan gembira, apalagi tidak ketahuan.

Namun demikian rasa malu itu bisa menadi racun yang sangat mematikan di dalam hidup kita apabila rasa malu itu didiskripsikan sebagai rasa malu sebagai gangguan karakter dan neurosis. Apabila rasa malu semacam itu sudah menguasai hidup kita, maka racun rasa malu semacam itu yang harus diberantas. Karena rasa malu semacam itu sebagai penghancur utama dalam kehidupan manusia.
Rasa malu semacam ini adalah kita merasa diri ini sebagai manusia yang cacat dan merasa diri tercela, dan kita kemudian membutuhkan diri sebagai yang tidak cacat atau sempurna. Karena kita merasa tidak sempurna itulah kemudian kita merasa malu. Nah, rasa malu semacam inilah yang disebut sebagai racun di dalam kehidupan kita. 

Makanya buku ini menurut saya luar biasa yang akan menolong kita untuk membuang racun rasa malu yang sering kali menghinggapi orang-orang tertentu ataupun malah kita sendiri. Karena terkadang rasa malu model ini jarang disadari oleh pemiliknya, maka buku ini tentu saja bisa membuka dan membimbing kita.  

Judul     : Melepas Ikatan Rasa Malu (Healing The Shame That Binds You)
Penulis  : John Bradshaw
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Tahun     : Jakarta, 2006


Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates