Jumat, 06 Desember 2019

Demokrasi! Ah, tidak mungkin orang bertanya lagi dengan pertanyaan makanan apa itu? Walaupun kata di atas akhir-akhir ini sering kita dengar dari perdebatan, diskusi, para pemimpin negeri ini sampai kepada para demonstran yang berusaha menyuarakan aspirasinya. Namun terkadang sementara demokrasi diteriakkan, tindakan fisik menyertainya. Pemilihan kepala daerah, walikota, bupati, gubernur dan terakhir pemilihan presiden RI menjadi sebuah kejadian yang nyata dari ekses sebuah demokrasi.

Mantan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Abdul Hakim Garuda Nusantara mengungkapkan (Kompas 24 Juni 2008) bahwa di samping demokrasi membawa dampak yang sangat positif dari sebuah demokratisasi di Indonesia sangat terasa dalam hak berekspresi, hak berkumpul, hak berpartisipasi dalam pemerintahan, tapi juga berdampak pada peningkatan pada kemiskinan, bertambahnya jumlah pengangguran dan semakin meningkatnya kesenjangan sosial. Namun hal tersebut bukan semata-mata karena kesalahan demokrasi. Kalau begitu kondisi tersebut disebabkan oleh kesalahan sistem demokrasi yang digunakan dan pendistribusian sumber daya ekonomi yang tidak merata di Indonesia.

Tapi kan tidak semua orang yang bisa mengerti apa yang menjadi gagasan Pak Abdul Hakim Garuda Nusantara di atas? Karena kenyataannya, masih banyak orang yang cara berpikirnya lain dalam pengertian terbalik. Dulu waktu jaman otoriter, orang tidak susah cari makan, minyak tanah juga gampang didapat dan harganya juga mudah dijangkau oleh rakyat kebanyakan, pupuk tidak melambung tinggi harganya hingga petani dengan mudah memperoleh dan melakukan tugasnya dengan gampang. Tapi coba bandingkan dengan sekarang, semuanya jadi terbalik. Terus terang saja, saya yang sering bertemu dengan orang-orang kecil sering kali mendengar ungkapan-ungkapan senada.

Dalam hal tersebut buku berjudul Demokrasi, :Sebuah Pengantar untuk Penerapan yang diterbitkan oleh Fredrich-Ebert Stiftung ini mungkin bisa menjawab kebingungan di atas. Karena bagi mereka yang merasakan pahitnya akibat merasakan memasuki sebuah demokrasi tentu saja akan berpikir demokrasi seperti menjadi malapetaka. Karena apa? Karena demokrasi hanya sering dihubungkan dengan kenyataan negara-negara miskin yang terdapat kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendesak daripada demokrasi itu sendiri.

Padahal sebenarnya, jika demokrasi berfungsi dengan baik akan lebih efektif dalam hal menyalurkan makanan sehingga orang yang tadinya kelaparan bisa mendapatkan makanan. Demokrasi yang sempurna adalah sistem kekuasaan yang memiliki komitmen untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan penegakan hukum yang independen (hal. 1)

Jadi buku ini cukup penting untuk dibaca oleh siapa saja yang tertarik untuk mencari pengertian dan kegunaan demokrasi.

Judul       : Demokrasi, Sebuah Pengantar untuk Penerapan
Penulis    : Prof. Dr. Thomas Meyer
Penerbit   : Friedrik-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia
Tahun       : Desember 2002
loading...

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates