Selasa, 23 November 2021

Latar Belakang Viralnya Video Garut 19 Detik

Latar Belakang Viralnya Video Garut 19 Detik


Setelah beredar luas video panas 19 detik pelakunya merasa menyesal karena sudah terlanjur menyebarkan video Garut 19 Detik itu dan menjadi viral. Pelakunya merupakan orang terdekat yang pernah menjalin hubungan cinta dengan sosok wanita berinisial RM dalam video tersebut sekaligus sebagai mitra kerjanya. Pelaku adalah seorang laki-laki berinisial AS itu berasal dari Garut yang ditangkap di Bekasi itu, mengaku mengunggah video syur itu lantaran cintanya terhalang oleh keluarga pihak perempuan.

Dalam pengakuannya AS akhirnya memutuskan untuk menyebarkan video dewasa itu lantaran cinta yang mereka lakukan semakin hari semakin besar, sementara dari pihak keluarga tidak merestui hubungan mereka. Padahal mereka menjalin hubungan cinta itu selama tiga tahun dan AS berharap cintanya itu akan berakhir di pelaminan. Tapi sayang RM justru malah memutuskan tali asmara tersebut karena tidak direstui oleh keluarganya. Kini AS menyesal setelah akibat perbuatan menyebarkan video terlarang tersebut tersebar dan menjadi viral.

Sebenarnya cinta itu menimbulkan banyak hal, cinta bisa mendatangkan keindahan, tapi sekaligus bisa menimbulkan kepedihan. Terlebih-lebih cinta bisa membuat buta, tapi sebenarnya cinta itu bisa membukakan mata. Setiap kita sebenarnya pernah mengalami cinta, entah itu ketika kita masih remaja, saat-saat pemuda, atau malah bahkan ketika waktu masih anak-anak.

Terkadang kalau kita mengingat kembali pengalaman cinta di saat-saat kita remaja, maka bisa saja kita akan senyum-senyum sendiri. Saat kita disebut mengalami cinta monyet dengan segala keanehannya. Terkadang tidak masuk akal apa yang kita lakukan itu ketika cinta itu datang dan melingkupi hidup kita.

Sebuah buku yang ditulis oleh Robert Fulghum berjudul True Love: Kumpulan Kisah Cinta Nyata yang Menggetarkan Hati dan diterbitkan oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama ini menjadi buku yang menarik untuk dibaca di kala santai dan sedang menikmati hari-hari yang indah. Karena di dalamnya berisi kisah-kisah nyata mengenai cerita cinta. Tapi jangan salah, bahwa cinta yang ditulis di buku ini bukan hanya berisi mengenai romantisme sebuah cinta. Karena ternyata terkadang cinta itu bisa berisi hal-hal yang penuh emosi, darah, air mata da kepedihan.


Buku ini sebenarnya ditulis oleh Robert Fulghum setelah ia menulis buku Uh-oh dan dipadu dengan catatan penulis di sebuah rubrik. Rupanya setelah itu banyak pembacanya yang berkirim surat yang berisi cerita-cerita cinta pembaca yang sangat beragam. Tapi jangan lalu berpikir surat-surat yang berisi pengalaman cinta itu hanya bersifat bahagia dan indahnya cinta. Tapi tidak sedikit rupanya kisah-kisah cinta yang diterimanya itu terkadang sinting dan kebalikan dari menyenangkan, yaitu tidak menyenangkan. 

Rupanya kisah-kisah cinta yang dikirim itu juga bukan hanya keindahan, tapi malah cerita cinta dengan pengalaman seperti badai dan guruh yang tentu bisa saja menakutkan. Penulis awalnya mengira kisah-kisah yang diterimanya itu hal-hal yang bersifat cinta yang lembut, tapi kebalikannya terkadang sangat keras.

Cinta terkadang terlihat aneh dan bisa jadi bila dikisahkan orang tidak percaya karena seperti tidak masuk di akal. Tapi itulah cinta. Dan keanehan cinta itulah kebenarannya dalam kisah-kisah yang diceritakan karena memang berdasarkan nyata bukan fiksi.

Setiap kita pasti memiliki kisah cinta pada masa lalu. Atau malah saat ini, kini sedang dimabuk asmara. Walaupun buku ini bertutur mengenai bagaimana kisah-kisah cinta yang pernah dilewati dan dialami oleh para pengirim kisah-kisah itu,tapi juga siapa tahu sekarang pembaca sedan dimabuk asmara dan dimabuk cinta. Benar, terkadang memang aneh, cemburu, tidak mengerti orang yang kita cinta seperti bersikap aneh dan seterusnya bisa menjadi bagian yang mungkin dialami juga oleh Anda.

Yang terpenting adalah, ketika cinta itu menguasai perasaan kita, berilah tempat kepada otak untuk kita berpikir. Karena bila tidak, bisa saja cinta itu akan membutakan kita, dan bisa mencelakakan kita. Selamat membaca buku ini.

Senin, 22 November 2021

Selamat Hari Ibu, Hargailah Dia

Selamat Hari Ibu, Hargailah Dia

 

Setiap tanggal 22 Desember kita diingatkan untuk mengingat peranan ibu dalam kehiduan kita. Karena betapa sering kita malah melupakan dan mengabaikan dengan keberadaan ibu yang sudah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita. Dengan mengingat betapa hebatnya dia Sang Ibu, dengan segala resiko dan perjuangannya untuk kita maka satu kita yang tidak mungkin kita abaikan yaitu menghargai dia.

Hari Ibu sendiri sebenarnya bertujuan untuk kembali melihat bagaimana sebenarnya peranan seorang peran ibu dalam mendidik dan mengajarkan sebagai bangsa Indonesia untuk menyadarkan kita sebagai anak-anaknya mengenai berbangsa dan bernegara. Hal itu dicetuskan dalam Konggres Perempuan Indonesia III 22-27 Juli 1938 di Bandung. Dengan dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera kala itu.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu itulah sebuah buku ingin diangkat dengan lebih berfokus kepada peranan seorang ibu. Tentu saja berbicara mengenai seorang ibu bukanlah hanya yang bersifat romantisme hubungan anak dengan seorang ibu. Karena terkadang ada juga hubungan tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Seorang ibu. Bagaimanapun kita tidak bisa terleas dari seorang ibu. Dari awal seseorang hidup, tidak mungkin bisa lepas dari faktor ibu. Karena bagaimanapun kita tetap bergantung kepadanya dari sejak awal yang tidak bisa dipenuhi oleh siapapun. Pengaruhnya terhadap seseorang, entah itu laki-laki maupun perempuan tetap melalui faktor ibu. Mungkin ada di antara kita yang merasa ibu kita seperti banyak bicara, selalu mengatur dan tidak pernah diam, tapi bagaimanapun sekali lagi faktor ibu itu tidak bisa dilepaskan.

Dalam banyak kasus terkadang ada anak yang memiliki hubungan yang renggang dengan ibu, dan bahkan bisa saja akhirnya terjebak dalam sebuah konflik yang berkepanjangan, tapi ingatlah, bagaimanapun, peran ibu sangat penting untuk Anda. Namun juga seorang ibu tentu saja juga dibesarkan oleh orang tua mereka termasuk ibu mereka yang juga tentunya hal tersebutkan diterapkan kepada anak-anak mereka. Gap cara didik tersebut bisa saja menimbulkan persoalan di kemudian hari ketika mendidik anak-anak di jaman yang berbeda.

Buku The Mom Factor atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Faktor Ibu ini ditulis oleh Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend ini menjadi sangat penting untuk dipelajari oleh karena beberapa hal yang berhubungan dengan seorang ibu kita. Beberapa pertanyaan ini begitu penting untuk membuka wawasan kita yang tertuang dalam buku setebal 365 halaman ini. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Bagaimana  saya bisa memiliki hubungan yang lebih baik sekarang ini  dengan ibu saya sendiri atau ibu orang lain?
  • Apa sajakah masalah-masalah dalam pekerjaan dan hubungan yang saya alami sekarang ini , yang terpengaruh dari cara ibu saya membesarkan saya?
  • Apa yang benar dan salah dalam cara saya membesarkan anak, dan bagaimana keterkaiatannya antara masa kecil saya dengan kehidupan saya sekarang?
  • Bagaimana saya bisa maju melampaui masalah-masalah masa kecil yang saya hadapi dalam menerima asuhan orang tua, sehingga saya dapat terus melangkah maju dalam kehidupan saya?
  • Apa cara terbaik bagi saya untuk membesarkan anak-anak saya sendiri?

Mungkin bagi sebagian orang Indonesia pertanyaan-pertanyaan di atas dalam poin pertama masalah hubungan dengan ibu hampir dipastikan baik-baik saja karena bagi orang timur, menghormati ibu adalah kewajiban yang sudah tertanam dalam benak setiap anak. Paling-paling hubungan itu menjadi renggang ketika bertemu dengan masalah-masalah yang muncul kemudian seperti soal warisan atau semacamnya.

Namun point berikutnya adalah faktor ibu yang memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan pertumbuhan anak baik secara pemikiran maupun secara psikologis anak ketika sudah dewasa. Ada seorang ibu yang ketika memberitahu anak yang salah dengan teriakan sampai tetangga kanan kirinya mendengar suaranya yang keras. Dan penulis menyaksikan sendiri bagaimana akhirnya sang anak ketika berhubungan dengan orang lain juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh ibundanya.

Karena itu, tidak ada manusia yang sempurna, termasuk ketika seorang ibu mendidik anak-anak mereka. Tidak semua ibu memiliki pengetahuan yang benar ketika mendidik anak-anak dan bahkan bisa dalam pengasuhan yang salah

Dan berikutnya adalah bagaimana kita yang sudah dibesarkan melalui tangan seorang ibu dan pengasuhan seorang wanita bernama ibu di mana faktor ibu menjadi faktor yang memberi pengaruh. Pengaruhnya bisa saja salah tapi juga bisa saja benar.

Pada akhirnya, buku Faktor Ibu ini menjadi sangat penting dan perlu untuk dipelajari, baik oleh para ibu maupun oleh kita anak-anak yang pernah dididik oleh seorang ibu. Bagi ibu buku ini akan memberi pelajaran yang menarik bagaimana memberikan pengasuhan yang benar terhadap anak-anak. Tetapi juga lebih penting lagi bagi kita sebagai anak-anak yang mungkin sekarang sudah menjadi dewasa bisa berdamai dengan seorang ibu bila pengasuhannya itu dianggap pernah melukai, menyakitkan.