Seni Berbahagia Menurut Epicurus: Mengapa Hidup Sederhana Justru Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia?
Ketika Memiliki Lebih Banyak Tidak Membuat Kita Lebih Bahagia
Ada sesuatu yang aneh dalam kehidupan modern. Kita memiliki lebih banyak pilihan, tetapi semakin sulit merasa cukup. Kita bisa membeli hampir apa saja, berkomunikasi dengan siapa saja, melihat kehidupan orang lain melalui media sosial, bahkan bekerja dari mana saja. Namun, semua kemudahan itu tidak otomatis membuat kita lebih tenang.Setelah mendapatkan sesuatu, muncul keinginan berikutnya. Setelah mencapai satu target, ada target baru. Setelah melihat keberhasilan orang lain di media sosial, kita mulai bertanya mengapa hidup kita tidak seperti mereka.
Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: apakah kebahagiaan memang membutuhkan lebih banyak, atau justru membutuhkan lebih sedikit?
Pertanyaan semacam ini ternyata bukan persoalan manusia abad ke-21. Lebih dari dua ribu tahun lalu, filsuf Yunani bernama Epicurus sudah memikirkan persoalan yang sama.
Melalui Seni Berbahagia, pembaca diajak melihat kembali pemikiran Epicurus tentang kehidupan yang baik. Menariknya, filsafat yang selama ini sering dikaitkan dengan pesta, kenikmatan dan hidup berfoya-foya ternyata justru mengajarkan sesuatu yang hampir berlawanan: belajar membatasi keinginan agar manusia tidak diperbudak oleh keinginannya sendiri.
Epicurus dan Kesalahpahaman tentang Hedonisme
Epicurus memang seorang filsuf hedonis karena ia menempatkan kesenangan (pleasure) sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan. Namun, menyamakan Epicureanisme dengan gaya hidup konsumtif adalah penyederhanaan yang keliru.Bagi Epicurus, kehidupan yang menyenangkan bukan berarti terus mencari sensasi baru. Tujuan yang lebih penting adalah terbebas dari penderitaan tubuh (aponia) dan kegelisahan jiwa (ataraxia). Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa ketenangan dari gangguan mental dan bebas dari rasa sakit merupakan bagian penting dari konsep kebahagiaan Epicurus.
Inilah titik yang sering hilang ketika kata “hedonisme” digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Hedonisme populer berkata: “Cari kesenangan sebanyak mungkin.”
Epicurus lebih dekat dengan gagasan: “Pahami kesenangan mana yang benar-benar membuat hidup menjadi lebih baik.”
Perbedaannya sangat besar.
Kebahagiaan Dimulai dari Mengelola Keinginan
Salah satu gagasan Epicurus yang terasa sangat modern adalah pembagian terhadap keinginan manusia.Ada keinginan yang alami dan diperlukan, seperti makanan, tempat tinggal dan kebutuhan dasar. Ada pula keinginan yang alami tetapi sebenarnya tidak wajib dipenuhi. Sementara itu, terdapat keinginan yang tidak perlu dan bersifat tidak terbatas, seperti ambisi terhadap kekayaan, kekuasaan atau popularitas. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Masalahnya, kategori terakhir sering tidak memiliki titik akhir.
Seseorang mungkin berkata, “Saya akan bahagia kalau memiliki uang satu miliar.”
Setelah mendapatkannya, target berubah menjadi lima miliar.
Kemudian sepuluh miliar.
Begitu seterusnya.
Inilah salah satu gagasan Epicurus yang sangat relevan dengan budaya konsumsi dan media sosial saat ini. Persoalannya bukan semata-mata memiliki uang, rumah bagus, kendaraan atau popularitas. Persoalannya adalah ketika semua itu berubah menjadi keinginan tanpa batas yang terus menciptakan rasa kurang.
Kita akhirnya tidak menikmati apa yang sudah dimiliki karena perhatian selalu diarahkan kepada sesuatu yang belum ada.
FOMO dan Keinginan untuk Diakui
Jika Epicurus hidup pada zaman sekarang, salah satu persoalan yang mungkin menarik perhatiannya adalah budaya fear of missing out atau FOMO.Media sosial membuat kita terus melihat apa yang dilakukan orang lain: liburan, membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, makan di restoran tertentu, memiliki kendaraan baru atau mencapai pencapaian tertentu.
Tanpa sadar, kehidupan orang lain menjadi standar untuk menilai kehidupan kita sendiri.
Di sinilah gagasan Epicurus tentang keinginan menjadi menarik.
Penelitian modern mengenai relevansi Epicureanisme bahkan menghubungkan nasihat “hidup tidak mencolok” (live unnoticed) dengan problem media sosial. Dorongan untuk mencari pengakuan dari orang asing dapat meningkatkan kecemasan, sementara pengalaman pribadi yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi sesuatu yang harus dipamerkan. (OUP Academic)
Maka, salah satu pelajaran Epicurus untuk zaman digital bukan sekadar mengurangi belanja, melainkan mengurangi kebutuhan untuk terus mendapatkan validasi.
Tidak semua pengalaman harus diposting.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan.
Tidak semua kehidupan perlu dibandingkan.
Kadang-kadang, hidup yang bahagia adalah hidup yang tidak perlu mendapatkan tepuk tangan dari banyak orang.
Seni Mengatakan “Cukup”
Di sinilah Epicurus menjadi sangat relevan dengan kehidupan modern.Kebahagiaan bukan selalu persoalan mendapatkan lebih banyak. Kadang-kadang kebahagiaan muncul ketika kita mampu berkata, “Ini sudah cukup.”
Makan secukupnya.
Memiliki barang secukupnya.
Bekerja secukupnya.
Mengejar ambisi dengan batas yang masuk akal.
Menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat.
Ada kebijaksanaan di balik kesederhanaan semacam itu.
Epicurus bukan mengajak manusia membenci kenikmatan. Ia justru mengajak manusia menghitung konsekuensi dari setiap kenikmatan. Sebuah kesenangan yang memberikan kepuasan sesaat tetapi menghasilkan penderitaan panjang mungkin bukan pilihan yang bijaksana.
Sebaliknya, sesuatu yang tampak sederhana—makanan sederhana, percakapan dengan sahabat, tidur yang cukup, tubuh yang sehat dan pikiran yang tenang—bisa memiliki nilai besar.
Persahabatan Lebih Berharga daripada Kemewahan
Bagian menarik lainnya dari pemikiran Epicurus adalah pentingnya persahabatan.Ini membuat Epicureanisme tidak tepat dipahami sebagai filsafat hidup individualistis yang hanya berbicara tentang kesenangan pribadi.
Epicurus memberikan tempat sangat tinggi kepada philia, atau persahabatan. Persahabatan menyediakan rasa aman, dukungan dan kebahagiaan. Bahkan kajian tentang filsafat Epicurus menunjukkan bahwa persahabatan merupakan unsur penting dalam kehidupan yang bahagia. (Springer Nature Link)
Ini terasa sangat relevan ketika banyak orang modern memiliki ratusan atau ribuan koneksi digital tetapi belum tentu memiliki seseorang yang benar-benar bisa diajak berbicara ketika sedang menghadapi masalah.
Jumlah teman di media sosial bukan ukuran kualitas persahabatan.
Bagi Epicurus, kehidupan yang baik membutuhkan hubungan yang membuat manusia merasa aman dan diterima.
Mungkin karena itulah kebahagiaan tidak cukup dibangun dari apa yang kita punya, tetapi juga dari siapa yang berjalan bersama kita.
Mengapa Epicurus Berbicara tentang Kematian?
Salah satu sumber kecemasan manusia menurut Epicurus adalah ketakutan terhadap kematian.Ia berusaha mengajak manusia berpikir secara rasional mengenai kematian: ketika kita masih hidup, kematian belum hadir; ketika kematian datang, kita tidak lagi berada dalam kondisi untuk mengalaminya sebagai pengalaman hidup. Karena itu, ketakutan terhadap kematian dapat menjadi sumber kegelisahan yang tidak perlu. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Tentu saja, gagasan ini tidak harus diterima begitu saja, terutama oleh pembaca yang memiliki keyakinan agama mengenai kehidupan setelah kematian.
Namun sebagai latihan filsafat, pertanyaannya tetap menarik:
Berapa banyak keputusan dalam hidup kita yang sebenarnya dikendalikan oleh ketakutan?
Takut gagal.
Takut miskin.
Takut tidak dihargai.
Takut tertinggal.
Takut kehilangan status.
Takut terhadap masa depan.
Epicurus mengajak manusia memeriksa ketakutan tersebut dengan akal sehat, bukan membiarkannya mengendalikan kehidupan.
Membaca Kembali Seni Berbahagia di Zaman Sekarang
Buku Seni Berbahagia karya Epicurus yang diterbitkan Basabasi pada 2019 merupakan edisi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Carissa Fadina Permata dan diedit Eva Sri Rahayu. Buku ini memiliki 258 halaman dan ISBN 978-623-7290-45-2.
Buku ini menarik bukan karena menawarkan resep instan untuk menjadi bahagia. Justru sebaliknya, ia mengajak pembaca mempertanyakan kembali definisi kebahagiaan.
Apakah kita benar-benar menginginkan sesuatu?
Atau kita hanya menginginkannya karena orang lain memilikinya?
Apakah pekerjaan yang sedang kita kejar membuat hidup lebih baik?
Atau hanya membuat kita semakin takut kehilangan status?
Apakah barang yang kita beli benar-benar memenuhi kebutuhan?
Atau sekadar memberikan kepuasan singkat sebelum muncul keinginan baru?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat filsafat Epicurus terasa jauh lebih dekat dengan persoalan manusia modern daripada yang mungkin kita bayangkan.
Epicurus dan Pelajaran tentang Hidup yang “Cukup”
Pada akhirnya, Epicurus bukan filsuf yang mengajarkan manusia untuk mengejar kesenangan tanpa batas. Ia justru mengajarkan kebijaksanaan dalam memilih kesenangan.Kita boleh menikmati makanan enak, tetapi tidak harus berlebihan.
Kita boleh memiliki kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan berubah menjadi sumber kecemasan.
Kita boleh mengejar keberhasilan, tetapi jangan menjadikan pengakuan orang lain sebagai satu-satunya ukuran harga diri.
Kita boleh menikmati teknologi dan media sosial, tetapi jangan sampai kebutuhan untuk dilihat membuat kita kehilangan kemampuan menikmati kehidupan yang sebenarnya.
Dan yang paling penting, kita perlu memiliki orang-orang yang dapat menjadi sahabat dalam perjalanan hidup.
Mungkin inilah alasan pemikiran Epicurus tetap menarik lebih dari dua ribu tahun kemudian. Ia menawarkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab:
Bagaimana jika kebahagiaan bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan belajar menginginkan apa yang memang cukup untuk membuat hidup menjadi baik?
Di tengah dunia yang terus berkata “tambahkan lagi”, Epicurus justru mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya:
“Sebenarnya, berapa banyak yang benar-benar saya perlukan untuk hidup bahagia?”
Dan mungkin, pertanyaan itu sendiri sudah merupakan awal dari sebuah kehidupan yang lebih tenang.

Posting Komentar untuk "Seni Berbahagia Menurut Epicurus: Mengapa Hidup Sederhana Justru Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia?"
Posting Komentar