Senin, 03 Januari 2022

Akankah Bahar bin Smith Kembali ke Penjara?

Akankah Bahar bin Smith Kembali ke Penjara?


Setelah mendatangi panggilan polisi hari sebelumnya untuk diperiksa kini Bahar bin Smith ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian. Setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus hoaks dalam ceramahnya di Bandung Bahar bin Smith langsung ditahan.

Walaupun oleh kuasa hukunya proses penetapan tersangka kepada yang bersangkutan terlalu cepat prosesnya namun pihak kepolisian yang mengantongi dua alat bukti sah yang mendukung sehingga Bahar bin Smith akhirnya ditahan.

Seperti yang disampaikan oleh Kombes Pol Arief Rachman, Ditreskrimsus Polda Jabar yang memberikan keterangannya di depan wartawan. Alasan penangkapan dan penahanan terhadap Bahar bin Smith itu berdasarkan alasan subyektif dan obyektif. Adapun alasan subyektif adalah, dikhawatirkan mengulangi tindak pidana, dan dikhawatirkan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Sementara alasan obyektif, ancaman hukuman terhadap pasal-pasal yang dipersangkakan terhadap tersangka di atas lima tahun penjara. Demikian juga polisi menetapkan penahanan yang sama terhadap penyebar video berinisial TR yang viral mengenai ceramah Bahar bin Smith tersebut.

Akankah Bahar bin Smith kembali akan dipenjara? Kita tunggu saja hasil persidangannya dalam beberapa waktu mendatang.

Hanya yang cukup menarik adalah, sebenarnya Bahar bin Smith tidak terlalu lama baru keluar dari penjara dalam kasus yang lain, tapi kini dia diancam dengan hukuman di atas lima tahun seperti penjelasan Kombes Pol Arief Rahcman tersebut. 


Sebuah buku menarik yang ingin diangkat dalam kesempatan ini adalah situasi dan kondisi penjara itu sendiri. Gambaran penjara dan mengapa orang yang pernah dipenjara dan tidak lama dipenjara kembali dan seterusnya. Judul Buku: Menyingkap Dunia Gelap Penjara oleh David J Cooke, Pamela J Baldwin & Jaqueline Howison. Buku diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2008.

Buku ini menjadi sangat penting bagi mereka yang berurusan dengan dunia penjara dalam pengertian pihak pelaku pembina dan yang berkepentingan dengan sistim penjara supaya penjara memang menjadi tempat untuk melakukan pembinaan. Sehingga ketika seseorang dipenjara ia bisa menyadari, kembali kepada masyarakat dan menjadi orang baik dan berguna kembali.

Memang dunia penjara merupakan dunia yang dipenuhi dengan berbagai latar belakang perilaku kejahatan yang dilakukan oleh para penghuninya. Tapi tidak sampai di situ sebenarnya untuk melakukan pendekatan, di mana seharusnya penjara seperti kata sosiolog Dr. Imam B. Prasodjo, di mana penjara secara ideal berperan memasyarakatkan kembali  para narapidana yang telah melanggar aturan hukum dan norma-norma yang dianut dalam masyarakat.

Yang menarik adalah pertanyaan mengapa seseorang melakukan kejahatan, dan bahkan mengulangi perbuatannya di kemudian hari? Bahkan tidak sedikit pelaku kejahatan dan bahkan sering keluar masuk penjara tapi masih mengulangi kembali. Menurut penulis, memang motivasi pelaku kriminal tidak pernaha ada yang sama. Mereka mempunyai alasan masing-masing dalam melakukan kejahatan. Tidak ada jawaban yang sederhana untuk menjelaskan perilaku kriminal. 

Contohnya perilaku kriminal yang akhir-akhir ini marak di Yogyakarta oleh anak-anak remaja belasan tahun yang disebut dengan klitih.

Tapi buku ini ingin menjelaskan adanya tiga petunjuk kita mengetahui 3 faktor yang mempengaruhi sehingga orang bertindak kriminal. 

  1. Pengaruh awal, seperti latar belakang dan keturunan
  2. Kedua, keadaan di mana ia berada kini. Di mana ia tinggal, apakah ia memiliki pekerjaan dan adakah krisis dalam hidupnya
  3. Ketiga keadaan sesat sebelum melakukan tindakan kriminal, apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, apakah tindakannya berisiko, seberapa mudahnya melakukan tindakan kriminal itu.

Akhirnya untuk mengetahui latar belakang tersebut dibutuhkan analisa berbagai ilmu tentang manusia. Karena bagaimanapun perilaku manusia adalah sesuatu yang kompleks.

Selain faktor-faktor penyebab seseorang masuk bui, juga dijelaskan banyak hal mengenai kupasan tentang dunia penjara. Walaupun yang menjadi titik berangkat adalah penjara di Inggris, tapi tentu saja menjadi hal umum bisa terjadi di berbagai penjara di belahan dunia ini. Seperti adanya se*s di lapas, homo s*ksualitas di dalam penjara, pros*itusi dan pemerkosaan serta akibat langsungnya yaitu penyakit kelamin.

Penjara, dunia gelap yang menakutkan, tapi terkadang banyak orang yang terkadang keluar masuk ke dalamnya.

Rabu, 29 Desember 2021

Peluang Bisnis yang Dikerjakan di Rumah

Peluang Bisnis yang Dikerjakan di Rumah


Melakukan bisnis di rumah bukanlah mustahil dilakukan. Berbagai ide bisnis bisa dilakukan di rumah bisa kita temukan. Asalkan memiliki tekad dan kemauan yang keras untuk menjalankannya maka peluang itu akan terbuka dan bisa dijalankan. Beberapa anak muda sudah membuktikan mereka bekerja di rumah dan menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Buku yang ada di meja Redaksi adalah sebuah buku yang ditulis oleh praktisi. Artinya penulis mengutarakan apa yang sedang dialami yaitu memulai bisnis dari rumah dan sedang menjalankan bisnisnya tersebut. Dia adalah Paul Power. Judul Buku, Berani Memulai & Menjalankan Bisnis dari Rumah. Diterbitkan oleh Tiga Kelana, Jakarta Tahun terbit 2010.

Pengalaman penulis buku ini menjadi menarik karena kita bisa belajar dari 0 bagaimana memulai bisnis di rumah. Menurut Paul, ia memulai bisnisnya itu dari meja dapurnya. Ketika edisi perdana buku ini ditulis semuanya dijalankan dari meja dapurnya, tapi ketika edisi berikutnya, ia sudah pindah menempati sebuah lokasi karena banyaknya pengunjung sebagai pelanggan yang datang.

Paul Power mengingatkan bagi pembaca yang ingin memulai bisnis yaitu, lakukanlah pelan-pelan atau jangan kemerungsung. Jangan berangan-angan dengan yang muluk-muluk, seperti menyewa tempat besar, memiliki konsultan bisnis yang mahal yang sekranya tidak bisa dijangkau. Prinsipnya, silahkan memiliki cita-cita tinggi, tetapi mulailah dengan hal kecil terlebih dahulu.

Menurut penulis begitu seseorang memiliki konsep-konsep yang benar ketika akan memulai bisnis, maka jalan kesuksesan akan terbuka. Bila kebetulan kita tidak memiliki latar belakang ilmu bisnis, tapi begitu bisnis itu dimulai maka di situlah proses belajar bisnis itu berlangsung.

Makanya buku ini tidak berisi teori-teori bisnis. Tetapi isi dari buku ini adalah berisi informasi mengenai bagaimana cara penulis memulai bisnis dan menjalankannya. Jadi lebih kepada pengalaman pribadi. Pengalaman berbisnis itu sendiri tentu saja bukan didapat dalam semalam. 

Pernah Paul Power penulis buku ini mengalami kegagalan dalam bisnisnya ketika awal-awal memulai. Dan ketika ia sudah berhasil dalam bisnisnya, baru tahu bahwa sebenarnya kegagalan itu tidak perlu terjadi seandainya ia mengerti seperti ketika sudah berhasil.

Makanya buku ini akan menjadi panduan langkah-langkah dan tips bagaimana memulai bisnis yang bisa diulai dari rumah dengan segala seluk-beluknya. Tujuannya apa? Supaya kita yang akan meulai bisnis meminimalisir kegagalan itu tadi dengan tips-tips yang diberikan oleh penulis buku ini.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan oleh mereka yang akan memulai bisnis termasuk dari rumah itu, yaitu tantangan dan kesulitan dan bahkan kegagalan dan bahkan keterpurukan. Namun tantangan dan kegagalan itu tidak membuatnya surut atau berhenti dari berusaha. Justru di situlah ia mempersiapkan diri lebih matang dan sebaik mungkin dengan berkomitmen untuk pekerjaan atau bisnis yang digelutinya itu. 


Pengalaman penulis sebenarnya juga berangkat dari keberadaan dirinya yang menjadi karyawan dan tentu saja kesaksiannya dalam buku ini akan memberikan semangat bagi siapapun yang ingin memulai berbisnis termasuk berbisnis dari rumah. Bacalah buku ini, siapa tahu Anda akan mengambil banyak pelajaran dari apa yang sedang disusahakan hari ini. Semoga!


Selasa, 28 Desember 2021

Peluang Usaha Paling Terbuka Tahun 2022

Peluang Usaha Paling Terbuka Tahun 2022


Keahlian apa saja yang diperlukan untuk mulai membuka usaha baru tahun ini? Peluang yang terbuka dan masih tersedia luas yaitu usaha bisnis kedai kopi. Bukan apa, kedai kopi tidak ada matinya. Tentu jualannya bukan ahanya kopi tapi ada makanan-makanan penyertanya. Lalu bagaimana anggaran biaya untuk membuka usaha baru ini? Semuanya diulas dengan semua perencanaan yang perlu dibuat untuk memulai usaha baru di tahun ini.

Peluang usaha ini terbuka luas dan bahkan bisa dilakukan secara rumahan. Kalau ada tambahan sedikit modal bisa mencari lokasi yang strategis di mana banyak keramaian orang. Dua puluh tahun terakhir ini bisnis kedai kopi tidak pernah ada matinya. Perkembangannya cenderung meningkat tajam. Hanya saja, yang perlu diingat sebelum memulai usaha kedai kopi dan penyertanya itu tidak boleh asal-asalan dan seadanya. 

Buku yang saya angkat ini merupakan buku panduan yang bisa menolong kita untuk memulai bisnis kedai kopi dan sandwich. Kenapa ada sandwich? Tentu karena buku ini ditulis oleh Jill Sutherland yang tentu konteksnya untuk masyarakat penyuka sandwich. Judul bukunya Berani Memulai & Menjalankan Bisnis kedai Sandwich dan Kopi. Buku ini diterbitkan oleh Tiga Kelana, Jakarta. Tahun Terbit 2010.



Tentu saja buku ini walaupun punya konteks luar, tapi sebenarnya langkah-langkahnya bisa diadaptasi ke usaha dalam negeri yang sedang digandrungi saat ini. Yaitu kedai kopi. Sebagai contoh, tidak jauh dari penulis ada kawasan yang dulunya merupakan persawahan sepi, dekat pemakaman umum yang bila dilewati malam hari menimbulkan was-was. Tapi kini, kawasan tersebut di sepanjang jalan berjejer kedai-kedai kopi yang selalu ramai setiap malam.

Bagaimana dengan modal yang kecil, bisakah memulai bisnis atau usaha ini? Mengapa tidak! Setiap usaha yang besar selalu dimulai dengan usaha yang kecil. Namun demikian, bukan berarti walaupun dengan usaha kecil, kita lalu melakukannya dengan asal-asalan. Tentunya tidak! Justru karena dengan modal kecil itulah kita bisa melakukannya dengan penuh perhitungan.

Dalam buku ini kita akan dipandu bagaimana mengembangkan kedai sandiwch dan kopi yang mulai kita bangun? Lalu, kita akan dipandu untuk membuat rencana-rencana matang dari bisnis prefesional. Bila dana kita memang besar, tentu kita bisa melakukan perekrutan karyawan dan mengatur karyawan. Juga tidak kalah penting adalah bagaimana mengelola keamanan di mana kita membuka kedai, serta faktor kesehatan dan kebersihan dari produk yang kita jual. Bahkan dalam buku ini akan dipandu bagaimana mencari tempat usaha yang strategis.

Jadi bagi siapapun yang telah mendaftar berbagai usaha yang bisa dilakukan pada tahun 2022 ini, mungkin ada baiknya usaha membuka kedai kopi bisa menjadi pilihan yang menarik. Karena selain usaha ini semakin hari semakin banyak peminat pembeli yang mengisi kedai-kedai yang sudah ada, tentu usaha ini tidak terlalu membutuhkan banyak biaya.

Apalagi bila kita bisa memilih barang-barang penyerta dari kopi, seperti sandwich, gorengan, makanan-makanan ringan dan seterusnya sesuai dengan dana yang dimiliki. Paling penting juga adalah bagaimana kita bisa berani memulai dan menjalankannya. Ini kunci awal untuk terbukanya usaha tahun-tahun mendatang.

Jumat, 10 Desember 2021

Bunuh Diri Dikutuk atau Berusaha Memahami?

Bunuh Diri Dikutuk atau Berusaha Memahami?


Rentetan peristiwa bunuh diri seperti menjadi hidangan berita yang selalu muncul. Dari Novia bunuh diri di makam ayahnya, bunuh diri di Taman Anggrek, Song Yoo-Jung yang diduga bunuh diri dan peristiwa menghabisi nyawa sendiri kita dengar terus-menerus. 

Di media sosial masyarakat berdiri di dua kubu, mengutuk tindakan bunuh diri karena dianggap berdosa, tapi di sisi lain berusaha untuk memahami gejolak jiwa yang tertekan yang seharusnya menjadi pelajaran di mana kita seharusnya peduli dengan keadaan lingkungan.

Menulusuri soal bunuh diri itu sendiri baru-baru ini diberitakan, di Swiss seorang ilmuwan bernama Dr. Philip Nitschke memperkenalkan sebuah alat sebagai hasil karyanya yaitu Sarco Suicide Pods, di mana alat ini dianggap sebagai alat yang ramah bagi mereka yang akan melakukan bunuh diri. Walaupun banyak dikritik oleh beberapa pihak yang menentang penemuan alat tersebut.


Fenomena bunuh diri itu sendiri dalam laporan News Detik yang menulis data yang menunjukkan kecenderungan peningkatan bunuh diri itu sendiri yang terjadi di Gunung Kidul. Dilaporkan sampai bulan Desember akhir tahun ini dalam setahun ditemukan ada 38 kasus. Sebuah peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2020 yang mencapai 29 kasus di daerah Gunung Kidul.

Sebuah buku menarik yang ditulis oleh Nova Riyanti Yusuf yang telah melakukan penelitian mengenai bunuh diri ini dengan judul Jelajah Jiwa, Menghapus Stigma: Autopsi Psikologis Bunuh Diri Dua Pelukis. Buku yang diterbitkan oleh Kompas, Tahun 2020. Seperti sub judul yang diangkat buku ini seperti menjadi sebuah penelitian yang jarang menarik hati kebanyakan yaitu mengenai bunuh diri dengan latar belakang artis.

Tetapi yang terpenting adalah bagaimana mencegah sedini mungkin tindakan bunuh diri itu dan secara khusus yang dilakukan oleh remaja. Tindakan pencegahan itu bukan hanya dilakukan ketika munculnya kasus-kasus bunuh diri di berbagai tempat. Tapi bagaimana pencegahan bunuh diri itu bisa dilakukan sejak awal kepada anak-anak sejak sekolah menengah dan atas.

Tentu saja melihat kasus-kasus bunuh diri bukan hanya menggunakan pendekatan-pendekatan moral dan agama. Mungkin dari segi pencegahan, bolehlah di mana memasukkan agama sebagai unsur untuk mengingatkan kepada masyarakat mengenai bunuh diri baik, tapi melangkah kepada menilai sebagai pribadi yang memiliki keinginan bunuh diri itu karena kurang iman itu hanyalah penilaian yang sangat dangkal. 

Buku karya luar biasa ini dengan tegas menyatakan bahwa kita jangan berpikir terkotak-kotak. Karena bunuh diri itu adalah isu mengenai kesehatan jiwa, yang tentu hal ini terkait dengan erat dengan berbagai kebijakan negara pada kesehatan dan pendidikan nasional.

Bunuh diri itu merupakan proses yang bukan sederhana untuk dinilai, apalagi melihat sebagai hitam putih. Tindakan itu sangat kompleks untuk diamati dan sangat individu. Ini bukan hanya masalah salah atau benar, suci atau kotor. Tidak sesederhana itu. Tapi bila setiap orang mau memahami apa yang terjadi pada pribadi yang ingin melakukan bunuh diri, maka kitapun bisa menjadi pahlawan untuk menolong, mengerti dan memahami apa yang sedang dialami oleh mereka yang memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Di dalam tindakan bunuh diri itu kita melihat betapa rumitnya diri manusia itu, dan kita bisa mengerti asalkan kita bersedia, bersabar dengan melihat sisi kemanusiaan. Beberapa waktu lalu seorang remaja ingin melakukan tindakan bunuh diri. Beruntung bisa diselamatkan dan memberitahu kepada orang tuanya perihal tindakan anaknya itu. Tapi apa yang dilakukan orang tuanya ketika bertemu? Ia malah menuding, bahwa anaknya sedang sakit mental yang ia ucapkan di depan putrinya tersebut.

Bacalah buku ini, niscaya kita akan mengubah pikiran dan cara pandang dalam melihat kasus buduh diri ini. Semoga!

Selasa, 23 November 2021

Latar Belakang Viralnya Video Garut 19 Detik

Latar Belakang Viralnya Video Garut 19 Detik


Setelah beredar luas video panas 19 detik pelakunya merasa menyesal karena sudah terlanjur menyebarkan video Garut 19 Detik itu dan menjadi viral. Pelakunya merupakan orang terdekat yang pernah menjalin hubungan cinta dengan sosok wanita berinisial RM dalam video tersebut sekaligus sebagai mitra kerjanya. Pelaku adalah seorang laki-laki berinisial AS itu berasal dari Garut yang ditangkap di Bekasi itu, mengaku mengunggah video syur itu lantaran cintanya terhalang oleh keluarga pihak perempuan.

Dalam pengakuannya AS akhirnya memutuskan untuk menyebarkan video dewasa itu lantaran cinta yang mereka lakukan semakin hari semakin besar, sementara dari pihak keluarga tidak merestui hubungan mereka. Padahal mereka menjalin hubungan cinta itu selama tiga tahun dan AS berharap cintanya itu akan berakhir di pelaminan. Tapi sayang RM justru malah memutuskan tali asmara tersebut karena tidak direstui oleh keluarganya. Kini AS menyesal setelah akibat perbuatan menyebarkan video terlarang tersebut tersebar dan menjadi viral.

Sebenarnya cinta itu menimbulkan banyak hal, cinta bisa mendatangkan keindahan, tapi sekaligus bisa menimbulkan kepedihan. Terlebih-lebih cinta bisa membuat buta, tapi sebenarnya cinta itu bisa membukakan mata. Setiap kita sebenarnya pernah mengalami cinta, entah itu ketika kita masih remaja, saat-saat pemuda, atau malah bahkan ketika waktu masih anak-anak.

Terkadang kalau kita mengingat kembali pengalaman cinta di saat-saat kita remaja, maka bisa saja kita akan senyum-senyum sendiri. Saat kita disebut mengalami cinta monyet dengan segala keanehannya. Terkadang tidak masuk akal apa yang kita lakukan itu ketika cinta itu datang dan melingkupi hidup kita.

Sebuah buku yang ditulis oleh Robert Fulghum berjudul True Love: Kumpulan Kisah Cinta Nyata yang Menggetarkan Hati dan diterbitkan oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama ini menjadi buku yang menarik untuk dibaca di kala santai dan sedang menikmati hari-hari yang indah. Karena di dalamnya berisi kisah-kisah nyata mengenai cerita cinta. Tapi jangan salah, bahwa cinta yang ditulis di buku ini bukan hanya berisi mengenai romantisme sebuah cinta. Karena ternyata terkadang cinta itu bisa berisi hal-hal yang penuh emosi, darah, air mata da kepedihan.


Buku ini sebenarnya ditulis oleh Robert Fulghum setelah ia menulis buku Uh-oh dan dipadu dengan catatan penulis di sebuah rubrik. Rupanya setelah itu banyak pembacanya yang berkirim surat yang berisi cerita-cerita cinta pembaca yang sangat beragam. Tapi jangan lalu berpikir surat-surat yang berisi pengalaman cinta itu hanya bersifat bahagia dan indahnya cinta. Tapi tidak sedikit rupanya kisah-kisah cinta yang diterimanya itu terkadang sinting dan kebalikan dari menyenangkan, yaitu tidak menyenangkan. 

Rupanya kisah-kisah cinta yang dikirim itu juga bukan hanya keindahan, tapi malah cerita cinta dengan pengalaman seperti badai dan guruh yang tentu bisa saja menakutkan. Penulis awalnya mengira kisah-kisah yang diterimanya itu hal-hal yang bersifat cinta yang lembut, tapi kebalikannya terkadang sangat keras.

Cinta terkadang terlihat aneh dan bisa jadi bila dikisahkan orang tidak percaya karena seperti tidak masuk di akal. Tapi itulah cinta. Dan keanehan cinta itulah kebenarannya dalam kisah-kisah yang diceritakan karena memang berdasarkan nyata bukan fiksi.

Setiap kita pasti memiliki kisah cinta pada masa lalu. Atau malah saat ini, kini sedang dimabuk asmara. Walaupun buku ini bertutur mengenai bagaimana kisah-kisah cinta yang pernah dilewati dan dialami oleh para pengirim kisah-kisah itu,tapi juga siapa tahu sekarang pembaca sedan dimabuk asmara dan dimabuk cinta. Benar, terkadang memang aneh, cemburu, tidak mengerti orang yang kita cinta seperti bersikap aneh dan seterusnya bisa menjadi bagian yang mungkin dialami juga oleh Anda.

Yang terpenting adalah, ketika cinta itu menguasai perasaan kita, berilah tempat kepada otak untuk kita berpikir. Karena bila tidak, bisa saja cinta itu akan membutakan kita, dan bisa mencelakakan kita. Selamat membaca buku ini.

Senin, 22 November 2021

Selamat Hari Ibu, Hargailah Dia

Selamat Hari Ibu, Hargailah Dia

 

Setiap tanggal 22 Desember kita diingatkan untuk mengingat peranan ibu dalam kehiduan kita. Karena betapa sering kita malah melupakan dan mengabaikan dengan keberadaan ibu yang sudah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita. Dengan mengingat betapa hebatnya dia Sang Ibu, dengan segala resiko dan perjuangannya untuk kita maka satu kita yang tidak mungkin kita abaikan yaitu menghargai dia.

Hari Ibu sendiri sebenarnya bertujuan untuk kembali melihat bagaimana sebenarnya peranan seorang peran ibu dalam mendidik dan mengajarkan sebagai bangsa Indonesia untuk menyadarkan kita sebagai anak-anaknya mengenai berbangsa dan bernegara. Hal itu dicetuskan dalam Konggres Perempuan Indonesia III 22-27 Juli 1938 di Bandung. Dengan dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera kala itu.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu itulah sebuah buku ingin diangkat dengan lebih berfokus kepada peranan seorang ibu. Tentu saja berbicara mengenai seorang ibu bukanlah hanya yang bersifat romantisme hubungan anak dengan seorang ibu. Karena terkadang ada juga hubungan tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Seorang ibu. Bagaimanapun kita tidak bisa terleas dari seorang ibu. Dari awal seseorang hidup, tidak mungkin bisa lepas dari faktor ibu. Karena bagaimanapun kita tetap bergantung kepadanya dari sejak awal yang tidak bisa dipenuhi oleh siapapun. Pengaruhnya terhadap seseorang, entah itu laki-laki maupun perempuan tetap melalui faktor ibu. Mungkin ada di antara kita yang merasa ibu kita seperti banyak bicara, selalu mengatur dan tidak pernah diam, tapi bagaimanapun sekali lagi faktor ibu itu tidak bisa dilepaskan.

Dalam banyak kasus terkadang ada anak yang memiliki hubungan yang renggang dengan ibu, dan bahkan bisa saja akhirnya terjebak dalam sebuah konflik yang berkepanjangan, tapi ingatlah, bagaimanapun, peran ibu sangat penting untuk Anda. Namun juga seorang ibu tentu saja juga dibesarkan oleh orang tua mereka termasuk ibu mereka yang juga tentunya hal tersebutkan diterapkan kepada anak-anak mereka. Gap cara didik tersebut bisa saja menimbulkan persoalan di kemudian hari ketika mendidik anak-anak di jaman yang berbeda.

Buku The Mom Factor atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Faktor Ibu ini ditulis oleh Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend ini menjadi sangat penting untuk dipelajari oleh karena beberapa hal yang berhubungan dengan seorang ibu kita. Beberapa pertanyaan ini begitu penting untuk membuka wawasan kita yang tertuang dalam buku setebal 365 halaman ini. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Bagaimana  saya bisa memiliki hubungan yang lebih baik sekarang ini  dengan ibu saya sendiri atau ibu orang lain?
  • Apa sajakah masalah-masalah dalam pekerjaan dan hubungan yang saya alami sekarang ini , yang terpengaruh dari cara ibu saya membesarkan saya?
  • Apa yang benar dan salah dalam cara saya membesarkan anak, dan bagaimana keterkaiatannya antara masa kecil saya dengan kehidupan saya sekarang?
  • Bagaimana saya bisa maju melampaui masalah-masalah masa kecil yang saya hadapi dalam menerima asuhan orang tua, sehingga saya dapat terus melangkah maju dalam kehidupan saya?
  • Apa cara terbaik bagi saya untuk membesarkan anak-anak saya sendiri?

Mungkin bagi sebagian orang Indonesia pertanyaan-pertanyaan di atas dalam poin pertama masalah hubungan dengan ibu hampir dipastikan baik-baik saja karena bagi orang timur, menghormati ibu adalah kewajiban yang sudah tertanam dalam benak setiap anak. Paling-paling hubungan itu menjadi renggang ketika bertemu dengan masalah-masalah yang muncul kemudian seperti soal warisan atau semacamnya.

Namun point berikutnya adalah faktor ibu yang memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan pertumbuhan anak baik secara pemikiran maupun secara psikologis anak ketika sudah dewasa. Ada seorang ibu yang ketika memberitahu anak yang salah dengan teriakan sampai tetangga kanan kirinya mendengar suaranya yang keras. Dan penulis menyaksikan sendiri bagaimana akhirnya sang anak ketika berhubungan dengan orang lain juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh ibundanya.

Karena itu, tidak ada manusia yang sempurna, termasuk ketika seorang ibu mendidik anak-anak mereka. Tidak semua ibu memiliki pengetahuan yang benar ketika mendidik anak-anak dan bahkan bisa dalam pengasuhan yang salah

Dan berikutnya adalah bagaimana kita yang sudah dibesarkan melalui tangan seorang ibu dan pengasuhan seorang wanita bernama ibu di mana faktor ibu menjadi faktor yang memberi pengaruh. Pengaruhnya bisa saja salah tapi juga bisa saja benar.

Pada akhirnya, buku Faktor Ibu ini menjadi sangat penting dan perlu untuk dipelajari, baik oleh para ibu maupun oleh kita anak-anak yang pernah dididik oleh seorang ibu. Bagi ibu buku ini akan memberi pelajaran yang menarik bagaimana memberikan pengasuhan yang benar terhadap anak-anak. Tetapi juga lebih penting lagi bagi kita sebagai anak-anak yang mungkin sekarang sudah menjadi dewasa bisa berdamai dengan seorang ibu bila pengasuhannya itu dianggap pernah melukai, menyakitkan.


Selasa, 16 Maret 2021

Belajar Menjadi Orang Indonesia kepada Soegija

Belajar Menjadi Orang Indonesia kepada Soegija

Sumber Foto: Flickr

Membaca repostingan Romo Jost Kokoh Prihatanto di media sosial Facebook yang terkoneksi pertemanan dengan Redaksi idebuku.com mengenai Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ mengingatkan Redaksi kepada buku mengenai tokoh ini. Postingan tersebut berkisah mengenai bagaimana tokoh yang masuk dalam deretan pahlawan nasional RI itu memberi andil dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Tentu yang ia lakukan adalah ia berjuang sesuai dengan jalan hidupnya. Di sinilah makna penting bagaimana setiap orang Indonesia apapun agamanya, sukunya, latarbelakangnya, pekerjaannya, dan seluruh kehidupannya dapat dijadikan jalan untuk melakukan tindakan demi Indonesia. Artinya, ada dua hal penting yang bisa dipetik pelajaran dari hal ini yaitu, tidak ada seorangpun yang bisa menghalang-halangi seorangpun untuk bisa melakukan perjuangan bagi negeri ini. Semuanya memiliki hak yang sama untuk melakukan perjuangan itu sendiri, tidak perduli dari latar belakangnya. Kedua adalah apapun pekerjaan dan profesi seseorang bisa dijadikan jalan untuk melakukan perjuangan untuk Indonesia ini.

Judul           : Soegija: Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan

Penulis        : G. Budi Subanar, SJ

Penerbit      : Galangpress, Yogyakarta

Tahun         : Cetakan 1, 2012

Halaman    : 553 Halaman


Ketika membaca buku yang mendapat pengantar dari sutradara film Soegija Garin Nugroho ini banyak pelajaran yang bisa didapatkan yaitu bagaimana bentuk perjuangan seorang rohaniawan dalam hal ini rohaniawan Katholik melakukan perjuangan bagi Indonesia. Tentu perjuangan yang dilakukan berbeda dengan mereka yang memanggul senjata di medan perang. Namun perjuangan yang dilakukan adalah perjuangan yang sesuai dengan jalan hidup yang dijalaninya. Buku ini memang bertitik tolak kepada perjuangan terhadap kemanusiaan yang menjadi ciri khas ajaran keyakinannya. Sehingga buku ini mengambil anak judul dengan istilah pejuang kemanusiaan.

Dua cara berbeda ini sama-sama penting dilakukan dan keduanya sama-sama dibutuhkan. Bila pejuang militer beserta laskar rakyat melakukan perang gerilya, sementara para pemimpin pemerintahan melakukan gerilya diplomasi untuk berhadapan dengan pihak-pihak asing. Dalam hal ini Mgr. Albertus Soegiyapranata, SJ, seorang uskup agung Semarang dan merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia yang tentu banyak melakukan usaha pemeliharaan dan pembinaan terhadap umat di tengah-tengah masa pergolakan tersebut.

Nah, melalui catatan harian yang ditulis oleh uskup Soegija secara runtut dari 13 Februari 1947-17 Agustus 1949 ini kita bisa membaca dengan runtut kehidupan dan perjuangan yang dilakukannya, baik terhadap umat maupun terhadap negara Indonesia saat itu. Dari buku ini juga kita bisa mendapat banyak informasi penting peristiwa-peristiwa yang terjadi di mana ia melakukan usaha-usaha sebagai respon terhadap perkembangan negara ketika itu. Dari sini bisa ditangkap bahwa ia melibatkan diri dalam isu-isu yang terjadi saat itu sebagai cara untuk mempertahankan Republik Indonesia.

Bila dilihat dari tahun, tanggal dan bahkan waktu begitu lengkap seperti layaknya sebuah catatan harian di mana peristiwanya tahun 1947-1949 yang merupakan masa-masa awal di mana negara Indonesia baru saja menyelenggarakan kemerdekaan tentu masih membutuhkan perjuangan. Peristiwa pemindahan ibukota pemerintah RI dari Jakarta ke Yogyakarta merupakan strategi menyelamatkan kemerdekaan pemerintah RI kala itu. Di sanalah beliau terlibat dengan beberapa tokoh penting berkenaan hal tersebut.

Sementara sebagai pemimpin agama Katolik di Indonesia ketika Belanda melakukan agresi militer pertama, beliau menyerukan supaya diadakannya genjatan senjata dan melakukan kritik pedas kepada umat Katolik belanda yang tergabung dalam Partai Katolik Belanda karena peran partai tersebut cukup besar atas aksi militer tersebut. Dengan tegas Soegija menyatakan bahwa umat Katolik Indonesia setia berada di pihak Republik Indonesia. 

Sebuah inspirasi di mana menjadi apapun tidak bisa menghapus keindonesaan kita. Beragama apapun seharusnya tetap menjadi Indonesia. Uskup Soegijapranata telah memberi contoh di mana sebagai pemimpin Katolik yang berkiblat kepada Vatikan tetapi Indonesia tetap menjadi harapan beliau berkarya.

Senin, 15 Maret 2021

Kelompok Antikris 666 atau Kelompok YAHWEH?

Kelompok Antikris 666 atau Kelompok YAHWEH?


Penulisan sebuah buku tentu saja bukanlah dihasilkan dengan cara sederhana. Pikiran-pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan adalah usaha yang tidak bisa dihasilkan dalam sekejab, apalagi topik yang dipilih termasuk katagori berat, maka pastilah membutuhkan kerja keras dan memeras otak yang tidak mudah. Apapun isi sebuah buku, itu adalah sebuah pekerjaan yang tentu membutuhkan waktu yang tidak pendek, Makanya mengapa Redaksi benar-benar menghargai setiap buku yang dihasilkan dari sebuah tahap-tahap sulit sehingga perlu untuk diapresiasi. Kalaupun topik yang dipilih itu adalah menyangkut keyakinan penulis yang mungkin berbeda dengan suara mayoritas, tapi tetaplah kita harus menghargainya sebagai sebuah karya yang perlu mendapat acungan jempol. Termasuk buku yang ingin diangkat dalam postingan ini. Oh ia, kalaupun gagasan yang disampaikan berbeda tentu saja perbedaan itu tidak harus diserang dengan cara kasar, apalagi dalam bentuk caci maki, atau melecehkan. Karena yang harus menjadi budaya literasi adalah sebuah gagasan, dilawan dengan gagasan, sebuah ide harus dijawab dengan ide, tidak dengan pelecehan apalagi dengan tuduhan sesat dan menyesatkan.

Judul                : Mengapa Nama YAHWEH Semakin Populer?

Penulis             : Pdt. Jahja Iskandar, M.Th

Penerbit           : PT. Arbiyah Pratama, Jakarta

Tahun              : 2009

Halaman         : 188 Halaman

Buku ini diterima oleh Redaksi bersamaan dengan Alkitab dengan versi Indonesian Literal Translation yang kini ketika artikel ini ditulis masuk dalam edisi 3. Tentu saja Alkitab versi ILT ini menjadi andalan dari penulis buku ini. Karena ILT sendiri merupakan Alkitab versi lain dari yang ada sekarang khususnya yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia LAI. Karena di dalam Alkitab versi ILT ini penggunaan nama YAHWE sangat ditonjolkan. Seperti yang disampaikan dalam Kata Pengantar buku ini yang sangat bersyukur dengan kehadiran Alkitab ILT karena hal tersebut akan membangkitkan kembali penggunaan nama YAHWEH dalam kehidupan sebagian orang Kristen. Maklum, penulis merasa bahwa penggunaan Nama YAHWEH dari sisi penyebutan kata sebenarnya lebih otentik menurut penulis ada di dalam keseluruhan Alkitab. Tapi di sisi lain banyak orang yang kalau boleh dibilang 'kurang sreg' penggunaan nama tersebut dalam penyebutan Tuhan di kehidupan sehari-hari. Makanya penulis merasa penting untuk menempatkan Nama YAHWEH itu pada proporsinya. 

Sebagai sebuah keinginan untuk meneliti dan menjawab banyak pertanyaan kenapa nama YAHWEH kurang pepuler, yang artinya ini berhubungan dengan penyebutan. Tentu saja penyebutan haruslah bersumber kepada Alkitab. Tapi bukan hanya kepada Alkitab yang kita pegang sekarang tapi harus mengacu kepada sumber aslinya ketika sebutan mengenai Tuhan ingin ditelaah. Artinya penulis harus berusaha untuk meneliti dari budaya dan bahasa asli Alkitab itu sendiri. Itupun harus kembali memilah antara teks Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani karena keduanya berbeda dalam arti penulisan dan budaya yang menyertainya. Menurut penulis, kalau PL memang tidak diragukan lagi dan sudah selesai mengenai penyebutan sesembahan orang-orang Yahudi yang menjadi acuan penyembahan tadi yaitu dengan panggilan Nama YAHWEH. Walaupun di zaman Ezra penyebutan sesembahan nama YAHWEH itu dikaji ulang mengingat begitu kudusnya Nama tersebut yang berdasar pada Hukum ke-3 dari 10 Hukum Taurat. Dan kemudian digantikan dengan nama-nama lain untuk menjaga kekudusanNya itu dengan nama seperti Adonai. Perkembangan itu terus berlanjut.

Namun demikian penulis berusaha keras untuk membawa pembaca mengenai penghormatan kepada penyebutan pribadi yang seharusnya setiap nama itu memiliki makna dan unik dan khas. Sehingga kita harus menghargai nama yang disematkan kepada Tuhan itu bukan hanya berdasarkan sekedar nama, tapi itu berbicara mengenai jabatan, fungsi, gelar dan julukan serta posisiNya. Dengan berusaha mengambil berbagai pandangan dari berbagai ahli mengenai nama sesembahan itu penulis berusaha untuk mengutarakan bahwa nama YAHWE merupakan nama diri yang otentik dari nama Tuhan Sang Pencipta. Tentu saja acuannya adalah selain dari para peneliti, tapi juga dari Alkitab sebagai sumber utamanya. Tidak lupa juga penulis menyinggung penggunaan nama Allah dalam konteks kekristenan di Indonesia dan tentu di Timur Tengah serta pokok-pokok pikiran yang diusulkan oleh penulis dalam masalah ini.

Pada kesimpulannya dari penulis bahwa Nama YAHWEH merupakan nama yang seharusnya disematkan kepada Bapa Pencipta. Kemudian penulis menghubungkan dengan akhir zaman di mana nama itulah yang menjadi sebutan. Memang untuk bagian ini perlu didiskusikan lebih lanjut, apalagi menyangkut antikris 666 yang ditujukan kepada beberapa kelompok tertentu. 

Sebagai tambahan seperti sebuah ulasan mengenai Alkitab ILT yang ditulis oleh Republika di mana ILT yang muncul dan mendapat tempat di sebagian orang Kristen di Indonesia lebih cenderung diterima oleh mereka yang berafiliasi kepada kelompok-kelompok kekristenan Mesianik yang dianggap lebih pro kepada budaya Israel. Tapi sayang analisa yang ditulis oleh Menachen Ali tersebut berusaha membenturkan dengan mengatakan mereka yang antusias dengan ILT itu adalah sangat anti budaya Arab. Tentu saja hal tersebut menafikan mereka yang menggunakan ILT hanya ingin mencari kebenaran dalam soal isi Alkitab dan tidak terlalu perduli dengan budaya Arab. Karena bukankah budaya Israel lebih dekat dengan budaya Arab ketimbang dengan budaya Indoensia sendiri? Ah terlalu jauh lah!

Hukum Perasuransian di Indonesia

Hukum Perasuransian di Indonesia

 

Tak dapat disangkal bahwa masalah perasuransian di Indonesia dalam beberapa tahun ini muncul. Beberapa kasus seperti Asuransi yang gagal bayar, klaim nasabah yang tidak jelas seperti yang diberitakan oleh CNBC Indonesia yang menurunkan laporannya mengenai beberapa asuransi yang tidak sanggup membayar kepada nasabahnya karena banyak persoalan. Nah tentu saja kita yang memiliki polis asuransi setidak-tidaknya harus benar-benar selektif ketika ingin menentukan asuransi apa yang akan dipilih. Karena kalau tidak, kita yang sudah capek-capek membayar dengan uang yang dihasilkan dari memeras keringat menguap begitu saja. Namun lebih dari itu kita juga harus sedikit memiliki pengetahuan (syukur-syukur bila benar-benar menguasai masalah hukum perasuransian ini) supaya kita benar-benar tahu hak dan kewajiban sebagai nasabah. Dan tentu saja buku ini menjadi penting untuk diketahui oleh mereka yang memang berkecimpung dalam perasuransian itu sendiri, maupun juga sebagai pihak asuransi itu sendiri. Sebuah buku yang mungkin bisa menolong memberi pengertian mengenai perasuransian itu sendiri yang ingin Redaksi perkenalkan kepada pembaca.

Judul          : Hukum Perasuransian: Norma Hukum berdasarkan Peraturan Perundang-undangan dan Putusan Mahkamah Konstitusi

Penulis       : Hendri Hutahaean

Halaman    : 237 Halaman

Seperti halnya buku-buku mengenai perundangan-undangan, entah itu di bidang hukum dan semacamnya tentu di dalamnya berisi daftar peraturan-peraturan dengan bahasa yang baku. Namun buku ini selain memang berisi himpunan norma-norma mengenai perasuransian yang bersumber pada peraturan perundang-undangan, namun penyajian dalam buku ini akan memberi kemudahan kepada setiap pembacanya untuk mudah memahami karena ditulis secara sistimatis. Dengan harapan bukan hanya mereka yang sudah mumpuni dalam bidang hukum dapat mudah memahaminya, tapi mereka yang awampun akan tidak kesulitan menangkap isinya.

Apalagi, bila dilihat dari daftar isi dari buku ini yang menjelaskan secara konfrehensif ini akan memberikan kemudahan dalam mendalami masalah hukum perasuransian tersebut. Hal ini juga perlu untuk diketahui karena terkadang kita yang awam di bidang hukum ketika didatangi oleh agen asuransi yang menawarkan kelebihan-kelebihan dari perusahaan asuransi yang diikutinya, hanya mendengar yang baik-baik saja dan tentu resiko juga tidak mungkin diungkapkan kepada kita. Baru kalau kita bertanya, di situlah jawaban akan didapatkan. Tapi bagaimana kita bisa menyampaikan pertanyaan bila kita buta sama sekali dengan hukum perasuransian itu sendiri.

Makanya, buku ini patut dibaca dan perlu untuk diketahui oleh siapapun, baik mereka yang sedang mencari informasi mengenai asuransi, ataupun mereka yang berkecimpung dengan dunia asuransi itu sendiri. Buku ini bisa diperoleh melalui website nulisbuku.com

Rabu, 10 Maret 2021

Mabuk Cinta? Belajarlah pada Filosuf Ini

Mabuk Cinta? Belajarlah pada Filosuf Ini


Berbicara mengenai jatuh cinta, mungkin dianggap tidak akan ada habisnya. Dan bahkan ketika mendengar kabar mengenai bubarnya cinta Kaesang dengan Felicia yang berakhir dengan banyak persoalan sampai-sampai menjadi trending topik di media sosial. Kalau membuka Youtube terkadang sampai membosankan kare

na isi konten mengenai cinta mereka selalu diulang dan diulang dengan cashing berbeda tapi isinya semuanya sama. Mungkin karena cerita cinta ini menyangkut anak presiden, jadi menjadi berita yang sexy. Love story yang ditampilkan juga tidak lebih seperti senetron-sinetron yang biasa disaksikan oleh sebagian penyuka cerita cinta yang hanya itu-itu saja. Celakanya, hal ini juga mempengaruhi alam bawah sadar ketika kita sedang mabuk cinta, yaitu yang ada dalam pikiran romantisme dengan semua persoalannya. Tapi tahukah Anda bahwa cinta itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam setidakya menurut pandangan penulis buku yang ingin diangkat oleh Redaksi idebuku.com.

Judul            : The Art of Loving

Penulis         : Erich Fromm: Memaknai Hakikat Cinta (International Bestseller)

Penerbit       : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun          : 2005

Halaman     : 177 halaman

Penyajian mengenai cinta menurut Fromm bukan hanya sekedar sensasi dan kesenangan belaka, tapi cinta menurutnya lebih dari sekedar itu semua, cinta itu adalah seni. Wow, Mempertanyakan kembali makna cinta dan mengartikan cinta itu ibaratnya seni, tentu saja kita dibawa untuk menengok bagaimana seni itu diciptakan? Ya, seni seperti seni-seni yang lain, kalau kita mengambil contoh satu saja bila cinta dimaknai sebagai seni, yaitu seni lukis, maka menciptakan sebuah lukisan bukanlah tanpa usaha, penciptaan sebuah karya lukisan tentu saja membutuhkan usaha yang keras dan bukan hanya sekedar. Apalagi kalau kita mau menciptakan seni lukis dengan kualitas yang baik. Makanya perlu keseriusan untuk dipelajari di dalamnya. Seni mencintai.

Memang sebagai makhluk sosial manusia memang ditakdirkan sebaga makhluk yang tidak bisa hidup dalam kesendirian. Keterpisahan merupakan momen dan sebagai sumber dari kegelisahan dan kecemasan. Keterpisahan dengan lainnya itu menimbulkan pencarian karena manusia memiliki rasio untuk menghilangkan kecemasan tadi. Memang banyak cara yang dilakukan dalam pencarian itu seperti konformitas yaitu pencarian dengan cara pelarian kepada hal-hal lain. Bisa juga dalam bentuk pencarian dengan kesibukan rutinitas harian.

Rutinitas memang mencari ciri di jaman sekarang ini sampai-sampai manusia itu sendiri baru mengingat bahwa dirinya juga manusia yang membutuhkan kesatuan dengan yang lain. Memang mereka bertemu dengan orang lain dalam ruang lingkup 'kerja' atau kantor, atau rutinitas yang sifatnya hanya semu saja, sehingga manusia membutuhkan apa yang dinamakan cinta sebagai cara peleburan pribadi. Nah, untuk mendapatkannya maka ibaratnya, seperti orang yang berusaha mengekspresikan sebuah seni, jadi diusahakan sedemikian rupa, dipelajari dengan serius, diteliti dengan matang dan seterusnya.

Erich Froom mengingatkan bahwa hasrat peleburan antarpribadi inilah yang paling kuat  pengaruhnya dalam diri manusia. Dan kerinduan paling mendasar, kekuatan yang menjaga ras manusia, klan keluarga. Dari sini juga kita juga bisa melihat model cinta apakah yang menjadi tujuan utamanya. 

Beberapa obyek cinta dipaparkan oleh Fromm seperti cinta yang paling fundamental yang paling mendasari semua jenis cinta, yaitu cinta sesama. Kedalaman analisa Fromm sangat menarik ketika melihat cinta akan sesama ini di mana cinta pada orang yang tidak berdaya seperti orang miskin, orang asing merupakan awal dari cinta sesama. Kata Fromm, Mencintai saudara sendiri bukanlah suatu prestasi. Ia kemudian mengambil contoh, binatang yang mencintai dan merawat anaknya. Ia melanjutkan, hanya dalam cinta pada mereka yang tidak mengabdi pada suatu kepentingan, cinta mulai terbentang. Kemudian Fromm juga menyebut beberapa obyek cinta seperti kepada ibu dan cinta erotis.

Ketika menyinggung cinta erotis yang menyebut sebagai suatu eksklusivitas yang tidak ada dalam cinta sesama dan cinta kepada ibu. Dan Fromm merasa bahwa cinta erotis ini perlu pembahasan lebih lanjut tapi dari apa yang dijelaskan sangat dalam dan mengesankan. Pokoknya, para pengagum cinta, bacalah buku ini, maka Anda akan mendapatkan kekayaan mengenai arti cinta yang dalam, bukan cinta yang dangkal.


Selasa, 09 Maret 2021

Kenapa Perlu Melatih Otak Supaya Lebih Baik?

Kenapa Perlu Melatih Otak Supaya Lebih Baik?


Sebuah buku yang cukup menarik untuk ditelaah karena isi buku yang saya tawarkan ini akan memberikan panduan bagaimana melatih otak itu supaya kita bisa memiliki pikiran yang baik dalam hidup ini. Karena menurut buku ini, otak kita itu bersifat neuroplastis -- dapat berubah dan tumbuh kembali. Dan sel saraf baru yang muncul setiap hari dan bermanfaat bagi psikis kita. Sekarang kitalah yang menentukan bagaimana perkembangan dari perubahan otak yang terjadi saban hari itu. Perubahan itulah yang nantinya yang akan mempengaruhi semangat, jiwa dan bahkan raga kita selanjutnya. Karena semua tindakan kita saklarnya ada di pikiran yang berasal dari otak kita. Berita baiknya adalah buku ini akan menolong kita untuk membuat perubahan-perubahan kepada yang baik dari otak kita dengan tips dan saran-saran yang ada dalam buku ini.

Judul             : Switch on Your Brain (Aktifkan Otak Anda: Kunci Mencapai Puncak Kesenangan, Pemikiran, dan Kesehatan)

Penulis         : Dr. Caronile Leaf

Penerbit       : Light Publishing, Jakarta

Tahun          : Mei 2019

Halaman     : 222 halaman

Hidup adalah pilihan, termasuk kita mengatur otak yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Kita bisa mengarahkan pikiran kita kepada apakah yang ingin kita arahkan. Apakah akan diarahkan kepada hal-hal buruk yang tentunya akan membawa dampak buruk juga terhadap kehidupan kita. Karena bagaimanapun pikiran itulah yang mengendalikan tingkah laku dan tindakan kita. Ketika kita akan melakukan korupsi maka otak dan pikiran kitalah yang memerintah untuk melakukannya. Saya tidak tahu apakah sebuah tindakan buruk apalagi sekelas pencurian itu dilakukan dengan tanpa disengaja, tapi dilakukan dengan ujug-ujug saja. Perintah otak yang menjadi sebuah pikiran dan diwujudkan dengan tindakan itu pada akhirnya bisa membentuk sebuah kebiasaan.

Namun sebaliknya kita bisa mengarahkan otak kita untuk bisa melakukan tindakan-tindakan yang baik dan pikiran yang sehat. Dan hal tersebut bisa dilatih setiap hari supaya otak dan pikiran kita membentuk pikiran dan otak yang sehat. Karena menurut penulis, pemikiran baru itu menumbuhkan jaringan di mana pada akhirnya kita bisa meningkatkan tingkat kecerdasan dan membawa kesembuhan pikir. Kata penulis, ia akan memberikan cara-cara bagaimana sebuah saklar dihidupkan supaya pikiran kita itu baik.

Cara kerjanya, (hal xx) otak merespon yang ada dalam pikiran dengan mengirimkan dorongan (stimulus) neorologis ke seluruh tubuh. Artinya pikiran dan emosi ditransformasi menjadi efek fisiologis dan spiritual, kemudian pengalaman fisiologis tersebut bertransformasi menjadi kondisi mental dan emosi.

Sebagai penulis Kristen, tentu saja apa yang diutarakan oleh penulis ini memberikan tips-tips dan saran-saran yang bisa dijadikan cara bagaimana membentuk jaringan-jaringan otak yang baru itu supaya akhirnya membentuk pikiran-pikiran yang baik berdasarkan petunjuk Alkitab. Buku ini memberikan pedoman yang bisa dipraktekkan dengan keteraturan yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghasilkan pikiran yang sehat.

Dengan mengambil waktu selama 21 hari penulis memberikan semacam perencanaan bimbingan pembentukan otak yang setiap harinya jaringannya terus bertumbuh. Ini semacam detox bagi otak selama 21 hari. Tentu saja tulisan-tulisan dan arahan praktis ini bukan sekedar dari sebuah teori yang diungkap dalam buku ini, tapi semua bentuk arahan itu berdasarkan hasil penelitian yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan kita sebagai pembaca. Apa yang menjadi saran itu bisa menjadi sebuah pembersihan cara-cara berpikir yang salah untuk bisa diubah sehingga kita memiliki pikiran-pikiran yang sehat. 

Sekali lagi apa yang dijelaskan dalam buku ini sangat praktis untuk dilakukan karena hal ini juga berdasarkan riset  di mana letihan-latihan yang bila diterapkan dengan baik dalam 21 hari setiap tahunnya akan menghasilkan perubahan pada cara berpikir yang bertahan lama. Anda mau mencoba? Ada baiknya membaca buku ini dan mempraktekkan dalam kehidupan kita.

Rabu, 03 Maret 2021

Belajar Ikhlas dari Abdidalem

Belajar Ikhlas dari Abdidalem

Sumber Gambar Flickr
Baru-baru ini sedang viral mengenai adanya lowongan penerimaan Abdidalem Keraton Yogyakarta melalui poster digital yang diunggah di media sosial. Seperti yang dilansir Tempo dengan mengutip Ketua Panitia penerimaan abdidalem tersebut Mas Bekel Brongtomadyo. Namun demikian Mas Bekel Brongtomadyo mengingatkan bahwa lowongan ini bukanlah lowongan pekerjaan tapi ini merupakan pengabdian seumur hidup. Mas Bekel Brongtomadyo perlu menyampaikan hal ini karena bila seseorang menanggapinya bahwa lowongan ini sebagai sebuah pekerjaan dengan imbalan tertentu maka hal tersebut akan mengecewakan. Karena pengabdian yang disebutkan tadi merupakan pengabdian itu dilakukan dengan cara nguri-uri kebudayaan Adiluhung.

Berkenaan dengan hal tersebut sebuah buku yang sudah lama Redaksi mencarinya dengan tema abdidalem dan baru kali ini bisa mendapatkan dari sebuah toko online dengan penjual dari Yogyakarta.

Judul           : Edelweiss van Jogja: Pengabdian Abdidalem Keraton Yogyakarta dalam Prespektif Sosio-fenomologi

Penulis        : Dr. Sindung Haryanto, M.Si

Penerbit      : Penerbit Kepel Press, Yogyakarta

Tahun         : Januari 2014

Halaman    :  318 halaman

Sangat menarik sekali ketika menelaah buku yang memberi gambaran bagaimana sebuah tradisi yang sudah ratusan tahun tetap mengakar dan tidak tergerus oleh jaman yang terus berubah. Abdidalem yang kemunculannya bersamaan dengan berdirinya kerajaan Yogyakarta tahun 1755 Masehi tetap berlangsung dengan karakteristiknya yang terus bertahan. Tahun boleh berubah, Raja terus berganti, tapi roh yang ada pada abdidalem terus berkobar yaitu di dalamnya ada pengabdian penuh dengan kesungguhan, kejujuran, loyalitas, dedikasi dan kesetiaan terhadap Keraton Yogyakarta. Kita boleh mendiskusikan ilmu ekonomi yang berbicara mengenai bagaimana mensejahterakan manusia dengan berbagai usaha di dalamnya. Namun berbicara mengenai imbalan abdidalem, cara menghitungnya bukan dengan cara matematis, karena imbalannya berdasarkan ketenangan batin. Tentu saja ketenangan batin tidak bisa diukur dengan materi, karena ia berada dalam diri.

Penulis yang meneliti keberadaan abdidalem dengan seluk beluk dan bahkan sampai kepada hal pribadi yaitu apa yang mereka dapatkan dari pengabdian mereka ini? Dengan melihat kecenderungan manusia hari ke hari di mana motivasi jaman moderen di mana manusia mencari uang begitu tinggi dan bahkan tidak cukup mencari tapi bagaimana penghasilan itu bisa dilipatgandakan. Namun abdidalem seperti meruntuhkan teori-teori di mana tujuan tindakan atau pengabdian itu bukan pada penghasilan, tetapi pada bagaimana mendapatkan 'lebih' dari sekedar ekonomi atau uang. Dengan menyebut angka rupiah yang diperoleh mereka dalam buku ini kita menjadi mengerti bahwa mereka bukan hanya mampu melihat yang kelihatan tapi lebih dari pada itu bisa merasakan apa yang mungkin tidak kita rasakan mengenai imbalan.

Namun demikian buku ini terus terang membuka wawasan baru mengenai abdidalem itu sendiri di mana bagi Redaksi idebuku.com selama ini ketika berbicara mengenai abdidalem, gambarannya seperti yang kita saksikan ketika masuk ke dalam Keraton Yogyakarta. Mereka menggunakan atribut pakaian khas, dan melakukan tugas-tugas satu dengan lainnya berbeda. Mungkin itu benar adanya, namun itu hanyalah sebagian, dan buku ini menjelaskan dengan detail latar belakang, pekerjaan, bagian-bagian abdidalem, serta lapisan-lapisan hirarki keberadaan abdidalem serta bagaimana proses penerimaan abdidalem yang bukan mudah, tapi melalui proses panjang. Di dalamnya ada proses tahapan-tahapan yang juga tidak sederhana. Seperti  proses sowan bekti yang bukan hanya dalam bentuk ujian kesungguhan, tapi di dalamnya juga berbicara keikhlasan total. Jumlahnya abdidalem ini mencapai 2.000 orang dengan kekhususan mereka.

Kalau demikian apa yang menjadikan mereka begitu bahagia dan rela bahkan ikhlas untuk mengabdi sebagai abdidalem, sementara untuk menjadi abdidalem sendiri bukanlah melalui proses yang gampang? Ada apa gerangan sampai mereka mencapai kebahagiaan seperti itu? Sementara jaman terus berubah dan pengaruh-pengaruh luar juga pastilah menjadi bagian dalam kehidupan mereka? Penulis menelusuri dengan meneliti apa yang menjadi latar belakang beberapa abdidalem tersebut yang diungkap dalam buku ini. Berbagai jawaban mengapa mereka menjadi abdidalem dan motivasi apa yang akhirnya membawa mereka hingga rela menjadi abdidalem tersebut.

Sebuah buku yang mengajarkan kepada kita tanpa khotbah, bagaimana kita menjadi orang yang ikhlas dalam hidup ini. Karena meyakini bahwa di balik yang kelihatan sebenarnya ada yang tidak kelihatan yang mampu memberikan kebahagiaan. Penilaian kita menjadi subyektif ketika kita hanya mengukur dengan apa yang kelihatan saja. Sama halnya kita begitu meyakini Tuhan dengan begitu yakinnya, bahwa Dia maha mengetahui, maha mengerti, dan maha-maha lainnya. Namun ketika tidak ada orang (yang kelihatan) lain yang tahu dan menganggap orang lain tidak mengerti kelakuan kita, kita begitu seenaknya korupsi, seenaknya mencuri, seenaknya melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti hati Tuhan. Entah apa karena Tuhan juga tidak kelihatan seperti manusia yang kelihatan. Di manakah keikhlasan kita?

Jumat, 26 Februari 2021

Dalam Memberi ada Ribuan Rahasia Terungkap

Dalam Memberi ada Ribuan Rahasia Terungkap

Pernahkah Anda mendengar nama Hong Zhong Hai, seorang veteran perang saudara China yang ditahbiskan menjadi salah satu orang dermawan paling dermawan dari 46 orang lainnya se Asia Tenggara versi majalah Forbes. Tidak tahu mengapa berita mengenai dirinya hanya didapat dari www.viva.co.id pada 2011 lalu. Atau memang lewat dari pemantauan redaksi idebuku.com. Berita ini pernah dikutip di sebuah portal yang tidak pernah terlupakan. Karena selain isinya heroik tapi juga mendatangkan decak kagum. Betapa tidak, lelaki sepuh tersebut rela memberikan 1,78 miliar untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Bagi orang yang berpunya, mungkin jumlah tersebut tidak seberapa, tapi Hong Zhong Hai bukanlah orang yang kaya dan berlebihan. Malah sebaliknya. Misalnya saja, seorang perawat yang datang ke rumahnya mengatakan bahwa handuknya robek sana-sini dan sudah seperti jaring laba-laba. Ia tidak mau membeli yang baru supaya dia bisa menyimpan uangnya untuk disumbangkan kepada orang yang kekurangan. Bahkan ketika seorang ibu mengirimkan sop untuknya karena sudah dibantu, Hong Zhong Hai berkomentar, "Sop ini adalah makanan paling lezat yang pernah saya cicipi."

Di meja redaksi sebuah buku menarik terpampang yang berjudul, The Power of Giving.

Judul         : The Power of Giving (Agar Kemakmuran dan kebahagiaan Selalu Menyertai Anda)

Penulis      : Harvey McKinnon & Azim Jamal

Penerbit    : Ufuk Press (Ufuk Publishing House), Jakarta

Tahun        : September 2012 (Cetakan III)

Halaman    : xxx +258 halaman

Membaca buku ini memang akan memberikan wawasan yang sebenarnya mungkin tidak baru, tapi terkadang cara pikir kita tentang memberi telah disempitkan dengan pemberian secara materi. Dan buku ini akan meluaskan cara pandang kita mengenai keluasan makna dari memberi itu sendiri.

Aku tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Maka sebenarnya kita sudah membatasi diri dengan ukuran dana dan semacamnya. Padahal pesan buku ini yang paling penting adalah, berilah tanpa harus berupa uang. Berikut ini yang disebutkan 'sesuatu' yang bisa kita berikan, yaitu, kasih sayang, perhatian, tindakan penyelamatan, kebaikan, ide-ide, nasihat, kemampuan, waktu, harapan, cinta, sentuhan dan seterusnya.

Dengan mengambil contoh terjadinya Tsunami di beberapa tempat pada tahun 2004 silam yang benar-benar memanggil banyak orang dan bahkan keterlibatan beberapa negara untuk turun mengambil bagian dalam pemberian. Bahkan pemberian itu begitu berfariasi, di mana bukan hanya dana yang diberikan, tapi banyak hal macam pemberian itu disampaikan kepada mereka yang tertimpa bencana dan memang membutuhkan uluran tangan banyak pihak.

Namun lebih dari itu analisa penulis mengenai memberi tidak hanya berhenti dalam soal tangan di atas dan tangan di bawah sebagai penerima. Namun memberi itu sendiri memiliki dampak. Tentu kepada pihak yang menerima pasti akan memberikan manfaat yang besar, apapapun bentuk pemberian itu. Tapi lebih dari itu memberi itu ternyata memberikan kebahagiaan kepada si pemberi, selain juga diyakini bahwa pemberian itu akan kembali kepada si pemberi.

Sekali lagi pengembalian dalam pemberian ini jangan juga dibatasi oleh hanya sebatas pahala di akhirat. Karena pemberian itu juga akan dirasakan langsung ketika mereka melakukan tindakan memberi. Daftar bukti-bukti diungkapkan oleh penulis yang bisa dirasakan oleh siapapun yang melakukan tindakan memberi. Contoh kecil saja di mana ketika seseorang melakukan pemberian berupa tenaga dengan menjadi sukarelawan, maka akibat pemberian itu juga berdampak kepada kesehatan. Makanya kata penulis, dengan mengutip sebuah jajak pendapat di Negara Inggris yang dilakukan survei mengatakan bahwa, kesehatan orang-orang yang memberi dengan menjadi sukarelawan itu lebih baik ketimbang sebelumnya. Artinya, ini merupakan diet yang tidak dapat diukur dengan cara apapun.

Akhirnya, dapat ditarik pelajaran bahwa memberi itu memberikan keuntungan bukan hanya mereka yang menerima tapi juga kepada mereka yang telah memberi. Apapaun bentuk dari pemberian tersebut. Semoga kita menjadi orang-orang yang memiliki hati untuk selalu siap memberi. Bukan dengan tujuan untuk menerima kembali, tapi karena ikhlas dan kalaupun pemberian itu memiliki dampak maka anggaplah itu sebuah bonus. Semoga!

Kamis, 25 Februari 2021

Ketika Vertigo Menyerang, Ampyun Banget

Ketika Vertigo Menyerang, Ampyun Banget


Bagi orang yang pernah merasakan terserang vertigo, pasti tahu bagaimana tidak nyamannya situasi tubuh. Serangan itu, menurut pengalaman Redaksi yang pernah mengalami vertigo, dimulai dengan sebuah tanda seperti ada suara gasing yang dilepas. Tiba-tiba saja dunia sekitar seperti berputar yang seakan-akan sulit untuk dikendalikan. Beruntung ketika serangan vertigo itu datang Redaksi sedang melakukan kegiatan bersih-bersih untuk sekedar mengeluarkan keringat kecil. Tiba-tiba keseimbangan hilang dan saya berusaha untuk mencari tempat untuk merebahkan diri. 

Bayangan Redaksi saat itu, pengalaman tersebut seperti menjadi akhir hidup di mana nyawa seakan terlepas. Maklum itu pengalaman pertama dan semoga yang terakhir. Vertigo semoga tidak menyerang lagi. Karena dunia sekitar terus berputar seperti dermolen yang sedang berputar kencang di pasar malam. Semuanya berputar. Karena merasa pusing kemudian Redaksi berusaha untuk memejamkan mata serapat-rapatnya, tapi putaran itu terus semakin kencang. Karena saking pusingnya, ingin rasanya mau muntah. Sambil berteriak untuk melepas ketegangan, sambil terus berpegangan pada apapun yang ada di sekitar. Entah berapa detik itu terjadi, tapi akhirnya sedikit demi sedikit mereda. Namun apesnya, setelah mereda beberapa detik, tiba-tiba serangan kedua datang dan kemudian pengalaman pertama terulang.

Sebagai tambahan dari pengalaman redaksi mengalami vertigo, di mana sampai hari ini masih teringat kejadian sebelum vertigo itu menyerang. Malam sebelum kejadian redaksi keasyikan membaca buku hingga larut malam. Dan ketika pagi hari tanpa sarapan terlebih dahulu, dan hanya minum kopi langsung melakukan aktifitas pagi dan dilanjutkan dengan bersih-bersih hingga pukul 12 siang. Tentu saja 

Itulah gambaran bagaimana pengalaman vertigo itu benar-benar tidak mengenakkan. Nah, Redaksi memiliki sebuah buku yang ditulis oleh para pakar baik itu pakar di bidang kedokteran umum maupun dokter spesialis saraf.

Judul         : Bunga Rampai Vertigo

Penulis      : Prof Dr. dr. Sri Utami, Sp.S(K), dr. Rusdy Ghazali Malueka, Ph.D dan dr. Abdul Gofir, Sp.S(K)

Penerbit    : Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Tahun        : Januari 2019 (Cetakan ketiga)

Halaman   : vii + 134 halaman

Memang bila dilihat dari para penulisnya yang akademisi dan praktisi maka isinya akan bisa ditebak bila penjelasannya sangat ilmiah dan berdasarkan berbagai data yang akurat. Selain juga pemaparan berbagai jenis vertigo yang menyerang manusia dengan pendekatan yang bisa dilakukan. Makanya buku ini menjadi buku langka karena memang masih jarang buku-buku bahasan mengenai vertigo yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Makanya buku ini bisa menjadi cara untuk memudahkan khususnya para mahasiswa kedokteran dan calon dokter spesialis dalam mempelajari vertigo.

Bila Anda membaca tulisan membuka artikel ini di mana pengalaman redaksi idebuku.com dalam bentuk cerita, maka kalau membuka buku ini tentu saja jauh berbeda, karena sifatnya ilmiah tadi. Seperti pengertian vertigo dari bahasa aslinya yaitu bahasa Latin vertere, yang artinya memutar-merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistem keseimbangan.

Walau demikian bagi orang awam seperti penelaah buku ini, tentu saja bacaan ini akan bermanfaat guna mengetahui analisa para ahli di mana orang yang pernah mengalami vertigo dari segi usia bisa menyerang siapapun. Walaupun bisa diprosen, 25% penderita berusia lebih dari 25 tahun dan 40% dialami oleh mereka yang di atas usia 40 tahun dan 30% pada populasi lebih dari 65 tahun.

Sebagai buku ilmiah tentu dalam pemaparannya juga dijelaskan berbagai jenis-jenis vertigo dan bagaimana vertigo itu berlangsung, cara-cara mengatasinya, serta bagaimana posisi yang benar ketika serangan vertigo itu datang semuanya diungkap dalam buku ini. Semoga bermanfaat, sebelum Anda memutuskan untuk membeli buku ini.