Kepintaran, Latihan, dan Keahlian: Pelajaran dari Robert Greene dalam Master

Kita sering menganggap orang yang ahli dalam sesuatu sebagai orang yang memang sejak awal "pintar" di bidang tersebut. Seorang programmer yang mampu memecahkan masalah rumit dianggap memiliki kecerdasan khusus. Seorang musisi yang mampu memainkan alat musik dengan sangat baik dianggap berbakat. Begitu pula seorang pengemudi berpengalaman yang mampu memperkirakan jarak kendaraan tanpa banyak berpikir.

Tetapi apakah keahlian selalu berarti seseorang memiliki kecerdasan luar biasa sejak lahir?

Gagasan Robert Greene dalam bukunya Mastery menarik untuk dibicarakan dalam konteks ini. Greene menunjukkan bahwa penguasaan suatu bidang bukan sekadar persoalan bakat bawaan. Ada proses panjang berupa latihan, pengalaman, pengamatan, kegagalan, bimbingan, dan ketekunan yang secara perlahan mengubah seseorang dari pemula menjadi ahli.

Dengan demikian, pembicaraan tentang kecerdasan dan keahlian menjadi jauh lebih menarik. Kita memang tidak memulai kehidupan dengan kemampuan yang sama, tetapi kemampuan awal bukanlah keseluruhan cerita.

Kepintaran Bukan Satu-satunya Modal untuk Menjadi Ahli


Kemampuan kognitif memang mempunyai pengaruh terhadap proses belajar. Orang dengan kemampuan tertentu mungkin lebih cepat memahami konsep, mengenali hubungan, mengingat informasi, atau memecahkan masalah.

Genetik juga mempunyai kontribusi terhadap perbedaan kemampuan kognitif antarmanusia. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kecerdasan seseorang sepenuhnya ditentukan oleh orang tua atau bahwa seorang anak yang mempunyai kemampuan awal biasa-biasa saja tidak dapat menjadi ahli.

Ada perbedaan penting antara kecerdasan, keterampilan, dan keahlian.

Kecerdasan berkaitan dengan kemampuan untuk belajar, memahami, bernalar, dan menyelesaikan masalah. Keterampilan berkembang melalui pembelajaran dan latihan. Sementara itu, keahlian merupakan hasil dari proses panjang ketika pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan pola-pola tertentu telah terorganisasi dengan sangat baik.

Karena itu, orang yang sangat ahli dalam satu bidang belum tentu memiliki kemampuan luar biasa dalam semua bidang.

Belajar Menyetir adalah Contoh Sederhana tentang Mastery


Bayangkan seseorang yang baru pertama kali belajar menyetir mobil.

Pada awalnya, hampir semua hal membutuhkan perhatian sadar. Ia harus memikirkan kapan menginjak rem, kapan menekan gas, bagaimana memindahkan persneling, melihat spion, menjaga posisi kendaraan, sekaligus memperhatikan kendaraan lain.

Beban pikirannya sangat besar.

Setelah berlatih beberapa kali, sebagian tindakan mulai terasa lebih mudah. Ia tidak perlu terus-menerus mengingat posisi persneling. Kakinya mulai memahami kapan harus menginjak rem atau gas. Ia mulai mampu memperkirakan lebar mobil dan jarak dengan kendaraan lain.

Setelah bertahun-tahun mengemudi, proses tersebut menjadi semakin otomatis.

Pengemudi berpengalaman bahkan mungkin tidak dapat menjelaskan secara rinci bagaimana ia memperkirakan bahwa mobilnya masih cukup masuk ketika melewati jalan sempit. Ia hanya "tahu".

Apakah itu berarti ia tidak menggunakan kecerdasan?

Justru sebaliknya. Kemampuan kognitif, persepsi, koordinasi motorik, ingatan, dan pengalaman telah terintegrasi menjadi sebuah keterampilan yang sangat terlatih.

Inilah salah satu cara memahami gagasan Mastery Robert Greene.

Dari Berpikir Sadar Menuju Pengenalan Pola


Salah satu perubahan penting ketika seseorang menjadi ahli adalah kemampuannya mengenali pola.

Pemula melihat banyak hal sebagai informasi yang terpisah.

Pengemudi baru melihat persneling, rem, gas, spion, kendaraan lain, marka jalan, dan tikungan sebagai tugas yang berbeda-beda.

Pengemudi berpengalaman melihat semuanya sebagai sebuah situasi lalu lintas yang utuh.

Hal yang sama terjadi dalam bidang lain.

Seorang dokter berpengalaman dapat mengenali kombinasi gejala tertentu berdasarkan pengalaman menghadapi banyak kasus. Seorang teknisi komputer dapat melihat gejala kerusakan dan segera membentuk beberapa dugaan. Seorang pemain catur dapat mengenali pola posisi yang pernah ditemuinya berkali-kali.

Keahlian bukan sekadar mempunyai lebih banyak informasi. Keahlian berarti informasi tersebut telah terorganisasi menjadi pola yang bermakna.

Apakah Latihan Bisa Membuat Seseorang Menjadi "Lebih Pintar"?


Jawabannya perlu dibuat hati-hati.

Latihan tidak berarti seseorang dapat mengubah semua aspek kemampuan kognitifnya sesuka hati. Manusia tetap mempunyai perbedaan biologis dan kemampuan awal yang berbeda.

Namun, latihan dapat membuat seseorang menjadi jauh lebih kompeten dalam bidang tertentu.

Inilah yang sering hilang dalam pembicaraan tentang orang pintar.

Kita melihat seseorang yang sudah sangat ahli dan kemudian mengatakan, "Dia memang pintar."

Padahal kita tidak melihat ribuan jam pengalaman yang berada di belakang keahliannya.

Seorang pemain musik tidak tiba-tiba memiliki koordinasi tangan yang luar biasa. Seorang penulis tidak langsung mampu menyusun gagasan dengan baik. Seorang programmer tidak sejak lahir memahami struktur kode.

Ada proses panjang yang membuat sesuatu yang dahulu sulit akhirnya menjadi lebih mudah.

Bakat Tetap Penting, Tetapi Bukan Seluruh Cerita


Gagasan Greene akan menjadi terlalu sederhana jika ditafsirkan sebagai "bakat tidak penting".

Bakat dan kemampuan awal tetap mempunyai peran. Seseorang mungkin lebih cepat mempelajari bidang tertentu dibandingkan orang lain. Ada pula bidang yang membutuhkan kemampuan fisik, sensorik, atau kognitif tertentu.

Namun, memiliki modal awal bukan berarti otomatis mencapai penguasaan.

Orang dengan kemampuan tinggi tetapi tidak pernah berlatih mungkin tidak menjadi ahli. Sebaliknya, orang dengan kemampuan awal yang biasa saja dapat mencapai tingkat keterampilan yang sangat tinggi karena terus belajar, mendapatkan umpan balik, memperbaiki kesalahan, dan bertahan dalam proses yang panjang.

Dengan kata lain, kemampuan awal memengaruhi titik keberangkatan, tetapi tidak sendirian menentukan perjalanan seseorang.

Lingkungan Menentukan Apakah Potensi Mendapatkan Kesempatan


Di sinilah faktor lingkungan kembali menjadi penting.

Seseorang membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Pendidikan, keluarga, mentor, kondisi ekonomi, akses terhadap informasi, komunitas, dan kesempatan berlatih semuanya dapat memengaruhi perkembangan seseorang.

Anak yang rasa ingin tahunya dihargai mungkin lebih terdorong untuk bertanya dan mencari jawaban. Anak yang mempunyai akses terhadap buku dan pendidikan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan.

Karena itu, kepintaran yang terlihat pada seseorang sering kali merupakan hasil interaksi antara potensi bawaan dan pengalaman hidup.

Mastery adalah Proses Mengubah Potensi Menjadi Keahlian


Pada akhirnya, gagasan Robert Greene dalam Mastery dapat dibaca sebagai ajakan untuk tidak terlalu cepat memberi label "pintar" atau "tidak pintar" kepada diri sendiri.

Kita mungkin tidak dapat memilih seluruh kemampuan yang kita bawa sejak lahir. Kita juga tidak selalu dapat memilih lingkungan tempat kita dibesarkan.

Tetapi kita masih mempunyai ruang untuk belajar.

Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa menjadi terampil. Dari terampil menjadi ahli.

Seperti orang yang belajar menyetir, pada awalnya setiap tindakan membutuhkan konsentrasi. Setelah latihan dan pengalaman yang cukup, banyak hal menjadi otomatis. Bukan karena kecerdasannya hilang, tetapi karena kecerdasannya telah berubah menjadi keterampilan yang terinternalisasi.

Mungkin inilah pesan paling menarik dari Mastery: jangan menganggap kemampuan seseorang hari ini sebagai gambaran seluruh potensinya.

Kecerdasan dapat menjadi modal. Bakat dapat memberikan keuntungan awal. Lingkungan dapat membuka atau menutup kesempatan. Tetapi latihan, pengalaman, ketekunan, dan proses belajar memungkinkan seseorang mengubah modal tersebut menjadi keahlian.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya, "Apakah saya cukup pintar?"

Pertanyaan yang lebih penting mungkin:

"Bidang apa yang ingin saya kuasai, dan apakah saya bersedia menjalani proses panjang untuk menjadi ahli di dalamnya?"

Posting Komentar untuk "Kepintaran, Latihan, dan Keahlian: Pelajaran dari Robert Greene dalam Master"