The Selfish Gene Richard Dawkins: Jika Gen Egois, Mengapa Manusia Bisa Memilih untuk Tidak Egois?
Membaca The Selfish Gene karya Richard Dawkins terasa seperti memasuki sebuah hutan rimba.
Bukan hutan dalam arti pepohonan, sungai, dan binatang liar, melainkan sebuah dunia biologis tempat setiap makhluk hidup seolah-olah harus berjuang untuk mempertahankan keberadaannya. Tidak ada belas kasihan dalam pengertian moral manusia. Ada kompetisi, reproduksi, kelangsungan hidup, kerja sama, pengorbanan, dan strategi untuk membuat kehidupan terus berlanjut.
Di dalam hutan seperti itu, kita menemukan sesuatu yang agak mengganggu: manusia ternyata tidak berada di luar hukum evolusi.
Kita juga merupakan hasil dari proses evolusi.
Namun, semakin jauh membaca buku ini, muncul pertanyaan yang justru lebih menarik: kalau manusia dibentuk oleh dorongan biologis dan gen yang bekerja untuk mempertahankan keberadaannya, mengapa manusia bisa memilih untuk tidak mengikuti dorongan tersebut?
Di sinilah The Selfish Gene menjadi lebih dari sekadar buku tentang evolusi.
Apa yang Dimaksud Richard Dawkins dengan The Selfish Gene?
Judul The Selfish Gene mudah disalahpahami.
Kata "selfish" seolah-olah mengatakan bahwa manusia pada dasarnya egois. Padahal, Dawkins menggunakan istilah tersebut terutama sebagai cara untuk menjelaskan evolusi dari sudut pandang gen.
Gen yang lebih berhasil direplikasi dan diwariskan memiliki peluang lebih besar untuk tetap ada dalam populasi. Organisme, dalam gambaran besar ini, menjadi kendaraan yang memungkinkan gen bereplikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, "gen egois" bukanlah pernyataan moral.
Dawkins tidak sedang mengatakan bahwa manusia seharusnya menjadi egois. Ia sedang menunjukkan bagaimana proses seleksi alam dapat menghasilkan perilaku dan karakteristik yang mendukung keberlangsungan gen.
Perbedaan ini penting.
Sebab kalau kita membaca The Selfish Gene secara dangkal, kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa manusia hanyalah makhluk egois yang dikendalikan oleh gen. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.
Dunia Evolusi yang Terlihat Seperti Hutan Rimba
Salah satu pengalaman menarik ketika membaca buku Dawkins adalah melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda dari kebiasaan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menilai tindakan menggunakan kategori moral: baik, buruk, murah hati, egois, benar, salah, terpuji, atau tercela.
Tetapi evolusi tidak bekerja menggunakan kategori tersebut.
Seleksi alam tidak bertanya apakah suatu sifat baik secara moral. Pertanyaannya lebih sederhana: apakah sifat tersebut membuat organisme atau gen yang membawanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan bereproduksi?
Karena itu, dunia evolusi bisa terasa dingin.
Seekor hewan dapat bertarung demi wilayahnya. Organisme dapat berkompetisi mendapatkan pasangan. Induk melindungi anaknya. Hewan tertentu bekerja sama karena kerja sama tersebut memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup.
Semua itu tidak membutuhkan kesadaran moral seperti yang dimiliki manusia.
Dari sinilah metafora hutan rimba terasa masuk akal.
Tetapi kemudian kita sampai kepada manusia.
Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Manusia Adalah Hewan yang Berevolusi
Dawkins tidak perlu membuat garis tegas bahwa manusia sepenuhnya berbeda dari hewan.
Secara biologis, manusia adalah bagian dari dunia kehidupan yang berevolusi. Kita memiliki hubungan evolusioner dengan spesies lain dan membawa banyak warisan biologis yang juga ditemukan dalam dunia hewan.
Namun mengatakan bahwa manusia adalah hewan tidak berarti mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai perbedaan penting.
Manusia memiliki bahasa simbolik yang sangat kompleks, kemampuan membangun kebudayaan, membuat institusi, menciptakan teknologi, menyimpan pengetahuan lintas generasi, serta merefleksikan perilakunya sendiri.
Dengan kata lain, manusia bukan keluar dari evolusi.
Manusia justru merupakan salah satu hasil paling kompleks dari proses evolusi yang kemudian mampu memikirkan proses yang membentuk dirinya sendiri.
Di titik ini muncul sebuah paradoks.
Kita adalah produk evolusi, tetapi kita juga mampu mempertanyakan dorongan yang diwariskan melalui evolusi.
Jika Ada Dorongan Biologis, Apakah Kita Harus Mengikutinya?
Bagian tentang reproduksi dan strategi perkawinan dalam The Selfish Gene menjadi salah satu bagian yang mudah membuat pembaca mengernyitkan dahi.
Dawkins menunjukkan bahwa perbedaan investasi reproduktif antara jantan dan betina dapat menghasilkan strategi reproduksi yang berbeda. Dalam perspektif evolusioner, persoalan pasangan tidak sekadar berbicara mengenai cinta seperti yang kita kenal dalam kehidupan modern, tetapi juga tentang keberhasilan reproduksi.
Namun di sinilah kita harus berhati-hati.
Kecenderungan biologis tidak sama dengan kewajiban moral.
Misalnya, seseorang dapat mempunyai dorongan seksual tertentu. Tetapi keberadaan dorongan itu tidak otomatis menentukan keputusan yang akan dibuatnya.
Manusia bisa berhenti dan berpikir.
"Saya menginginkan ini, tetapi apakah saya harus melakukannya?"
Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan sesuatu yang sangat penting tentang manusia.
Dorongan tidak selalu berubah menjadi tindakan.
Ada jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita pilih untuk lakukan.
Jarak itulah yang kemudian diisi oleh akal budi, norma, pendidikan, budaya, agama, hukum, pengalaman, dan pertimbangan moral.
Budaya sebagai Cara Manusia Mengatur Dorongan Biologis
Di sinilah budaya menjadi sangat menarik ketika kita membaca The Selfish Gene.
Manusia tidak hanya mewariskan gen. Kita juga mewariskan informasi budaya.
Seorang anak tidak hanya menerima DNA dari orang tuanya. Ia juga menerima bahasa, kebiasaan, nilai, cerita, pengetahuan, aturan sosial, agama, dan berbagai bentuk kebudayaan lainnya.
Budaya bahkan dapat membatasi dorongan yang muncul secara biologis.
Dorongan seksual dapat diarahkan melalui norma perkawinan.
Dorongan agresi dibatasi oleh hukum.
Keinginan mengambil milik orang lain dibatasi oleh konsep kepemilikan.
Dorongan membalas dendam dapat ditahan oleh norma sosial dan nilai pengampunan.
Dengan demikian, manusia tidak hanya hidup berdasarkan apa yang "ingin" dilakukan oleh tubuhnya.
Manusia menciptakan sistem yang membantu dirinya menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Itulah salah satu hal yang membuat manusia begitu menarik.
Apakah Akal Budi Merupakan Pemberontakan terhadap Gen?
Pertanyaan ini, menurut saya, merupakan salah satu alasan mengapa The Selfish Gene tetap menarik dibaca.
Kita dapat membayangkan seseorang yang mempunyai dorongan tertentu tetapi memutuskan untuk tidak mengikutinya.
Ia marah, tetapi tidak memukul.
Ia menginginkan sesuatu milik orang lain, tetapi tidak mengambilnya.
Ia memiliki kesempatan berselingkuh, tetapi memilih tetap setia.
Ia ingin membalas perlakuan buruk, tetapi memilih memaafkan.
Apakah semua itu berarti ia telah mengalahkan biologinya?
Tidak sesederhana itu.
Kita tetap merupakan organisme biologis. Akal budi kita juga muncul dari otak yang merupakan hasil evolusi.
Tetapi manusia mempunyai kemampuan untuk menjadikan dorongannya sendiri sebagai objek pemikiran.
Kita dapat mengatakan:
"Saya mempunyai dorongan ini, tetapi saya tidak harus menjadi budaknya."
Ini bukan berarti manusia keluar dari evolusi.
Justru kemampuan untuk melakukan refleksi tersebut muncul pada makhluk yang berevolusi.
Evolusi Tidak Hanya Mengenal Kompetisi
Ada hal lain yang membuat The Selfish Gene menarik: dunia evolusi bukan sekadar pertarungan siapa yang paling kuat.
Kerja sama juga dapat menjadi strategi yang menguntungkan.
Hubungan antarindividu, perlindungan terhadap kerabat, dan kerja sama timbal balik dapat mempunyai konsekuensi evolusioner yang membuat perilaku tersebut bertahan.
Karena itu, kita tidak boleh menyederhanakan pesan buku ini menjadi:
«yang kuat menang dan yang lemah kalah.»
Evolusi jauh lebih rumit.
Dalam kondisi tertentu, organisme dapat bertahan bukan karena mampu mengalahkan semua yang lain, tetapi karena mampu bekerja sama dengan yang lain.
Ini juga membuat istilah "egois" menjadi lebih menarik.
Sebuah gen yang "egois" dalam pengertian evolusioner tidak harus menghasilkan organisme yang selalu egois terhadap sesamanya.
Setelah Membaca The Selfish Gene, Pertanyaan tentang Manusia Justru Bertambah
Bagi saya, kekuatan The Selfish Gene bukan hanya pada jawabannya.
Justru buku ini menarik karena membuat pertanyaan tentang manusia menjadi semakin sulit.
Jika sebagian perilaku kita mempunyai akar evolusioner, seberapa jauh kita dikendalikan oleh warisan biologis?
Jika kita memiliki dorongan tertentu, apakah kita harus mengikutinya?
Jika manusia mampu menahan dorongan biologis, apakah akal budi merupakan bentuk pemberontakan terhadap gen?
Dan jika budaya dapat mengubah perilaku manusia, apakah kebudayaan merupakan kelanjutan dari proses evolusi dalam bentuk yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari biologi menuju filsafat, psikologi, agama, moralitas, dan persoalan tentang kebebasan manusia.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling menarik dari The Selfish Gene bukanlah:
"Apakah manusia egois?"
Melainkan:
"Jika ada begitu banyak kekuatan biologis yang membentuk diri kita, sejauh mana kita dapat menentukan manusia seperti apa yang ingin kita menjadi?"
Itulah alasan saya melihat The Selfish Gene bukan sekadar sebagai buku tentang gen.
Buku Richard Dawkins ini seperti membawa kita masuk ke hutan rimba evolusi dan memperlihatkan bahwa di dalam diri manusia masih terdapat banyak jejak kehidupan biologis yang sangat tua.
Namun manusia memiliki sesuatu yang menarik.
Kita dapat melihat jejak tersebut.
Kita dapat menyadarinya.
Dan setelah menyadarinya, kita masih dapat bertanya:
"Apakah saya harus mengikuti jejak itu?"
Mungkin di situlah salah satu hal paling menarik tentang menjadi manusia.Untuk SEO, saya sengaja memakai “The Selfish Gene”, “Richard Dawkins”, “gen egois”, “evolusi”, “manusia”, “perilaku manusia”, “budaya”, dan “akal budi” secara alami, bukan dengan pengulangan kata kunci yang terasa dipaksakan.

Posting Komentar untuk "The Selfish Gene Richard Dawkins: Jika Gen Egois, Mengapa Manusia Bisa Memilih untuk Tidak Egois?"
Posting Komentar