Membaca Kembali Permainan Kekuasaan Rahman Arge di Tengah Reshuffle Kabinet Prabowo
Ada buku yang tiba-tiba terasa berbeda ketika dibaca pada waktu yang tepat. Buku itu mungkin sudah berusia belasan tahun, tetapi sebuah peristiwa yang sedang berlangsung membuat halaman-halamannya seperti kembali berbicara. Itulah yang saya rasakan ketika membaca Permainan Kekuasaan: Karena Kursi Cuma Satu, Maka Saya Duduk di Kursi, Kamu di Tiang Gantungan karya Rahman Arge.
Buku yang saya pegang hari ini diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2008 dan memuat 200 kolom pilihan dengan ketebalan 811 halaman. Katalog Google Books mencatat buku ini sebagai kumpulan tulisan mengenai persoalan budaya, politik, dan sosial Indonesia. Daftar isinya memperlihatkan betapa luas tema yang dibicarakan Rahman Arge, mulai dari politik, demokrasi, korupsi, presiden, kemiskinan, sejarah, hingga berbagai tokoh dan persoalan masyarakat.
Menariknya, saya kembali membuka buku ini justru ketika reshuffle kabinet Prabowo sedang menjadi pembicaraan. Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan kabinet. Pemerintah menyebut pelantikan tersebut mencakup sejumlah menteri dan wakil menteri, sementara perubahan juga terjadi pada beberapa posisi strategis lainnya.
Peristiwa politik hari ini kemudian membawa saya kembali kepada satu tulisan Rahman Arge yang sangat menarik: “Resuffle 2007: Kembali ke Laptop.”
Ketika Reshuffle Dibicarakan Sambil Minum Kopi
Yang membuat tulisan Rahman Arge menarik bukan hanya persoalan reshuffle kabinet pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cara ia menyampaikan persoalan itulah yang membuat tulisan tersebut terasa hidup.
Ia tidak membawa pembaca ke ruang kuliah ilmu politik. Tidak ada uraian panjang mengenai teori kekuasaan atau hubungan antara lembaga negara. Ia justru menghadirkan percakapan santai dengan tokoh bernama Bang Jali, lengkap dengan suasana obrolan sambil minum kopi.
Bang Jali digambarkan mencak-mencak karena terkena reshuffle. Bahkan muncul kesan bahwa orang yang terkena pergantian jabatan seharusnya sudah tahu diri dan mengundurkan diri.
Namun jawaban yang muncul justru ringan:
“Politik, memang begitu.”
Kalimat pendek tersebut sebenarnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar.
Kalau politik memang seperti itu, lalu seperti apa sebenarnya “politik” yang dimaksud?
Dari “siapa mendapat apa?” menjadi “siapa memberi apa?”
Salah satu gagasan yang menarik dari tulisan tersebut adalah perubahan cara melihat politik. Politik tidak hanya dipahami sebagai pertanyaan siapa mendapat apa, tetapi juga siapa memberi apa.
Di sinilah kekuasaan menjadi menarik.
Jabatan politik bukan hanya kursi. Di belakang sebuah kursi terdapat kepentingan, dukungan, loyalitas, pengaruh, kebijakan, dan berbagai hubungan antarmanusia.
Karena itu, ketika sebuah kabinet mengalami reshuffle, masyarakat biasanya melihatnya melalui pertanyaan sederhana: siapa yang dicopot dan siapa yang menggantikan?
Tetapi Rahman Arge seolah mengajak pembaca melihat pertanyaan yang lebih dalam: apa yang sedang berlangsung di balik pergantian kursi tersebut?
Pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan prasangka. Kita justru bisa menggunakannya untuk memahami bahwa kekuasaan selalu memiliki dimensi manusiawi dan politik.
Kursi Kekuasaan dan Manusia di Belakangnya
Judul Permainan Kekuasaan sendiri sudah memberikan metafora yang kuat.
“Karena kursi cuma satu, maka saya duduk di kursi, kamu di tiang gantungan.”
Kalimat tersebut terasa satiris. Kursi menjadi simbol posisi dan kekuasaan, sedangkan tiang gantungan menggambarkan pihak yang kehilangan posisi atau menjadi korban dalam perebutan pengaruh.
Tentu saja kita tidak perlu membaca metafora itu secara harfiah. Justru kekuatan kalimat tersebut terletak pada sindirannya terhadap kecenderungan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Seseorang yang memperoleh kursi bisa melihat pergantian sebagai kesempatan. Sebaliknya, seseorang yang kehilangan kursi mungkin melihatnya sebagai kehilangan pengaruh.
Dalam konteks itulah reshuffle kabinet menjadi lebih daripada sekadar pergantian nama menteri.
Ia memperlihatkan bahwa jabatan publik selalu berhubungan dengan manusia, kepentingan, tanggung jawab, dan keputusan politik.
Rahman Arge Mengkritik Tanpa Menjadi Kaku
Salah satu kekuatan Rahman Arge sebagai penulis adalah kemampuannya menggabungkan humor dengan kritik sosial.
Daftar isi Permainan Kekuasaan menunjukkan judul seperti “Narsisme Politik”, “Korupsi Itu Indah Bung”, “Demokrasi LegoLego”, “Politik Siapa Memberi Apa?”, hingga “Politik Rebutan Mikrofon”. Judul-judul tersebut memperlihatkan bahwa kekuasaan dalam pandangannya tidak selalu harus dibicarakan menggunakan bahasa akademis.
Ia bisa menggunakan humor, percakapan, pengalaman perjalanan, tokoh sejarah, dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari.
Itulah sebabnya buku ini terasa seperti kumpulan potret.
Rahman Arge bukan sekadar membicarakan sistem politik. Ia memperhatikan manusia yang berada di dalam sistem tersebut.
Keterangan mengenai buku ini juga menunjukkan bahwa 200 tulisan tersebut dipilih dari ratusan bahkan mungkin ribuan tulisan Rahman Arge di berbagai media. Buku tersebut memuat pengalaman perjalanan, kepedulian terhadap masyarakat, serta pembelajaran dari tokoh-tokoh seperti Cut Nyak Dien, Robert Wolter Monginsidi, Nelson Mandela, Anwar Ibrahim, dan Bung Karno.
Membaca Buku Lama Ketika Politik Kembali Berubah
Di sinilah saya merasa Permainan Kekuasaan menarik untuk dibaca kembali pada 2026.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa tulisan Rahman Arge tentang reshuffle 2007 otomatis menjelaskan reshuffle kabinet Prabowo hari ini. Konteks politiknya berbeda. Pemerintahnya berbeda. Tantangan zamannya berbeda.
Namun ada pertanyaan yang tetap relevan: ketika orang berganti di kursi kekuasaan, apakah cara manusia memainkan kekuasaan juga ikut berubah?
Pertanyaan tersebut lebih menarik daripada sekadar membandingkan siapa yang diganti pada masa SBY dengan siapa yang diganti pada masa Prabowo.
Sebab sejarah politik tidak hanya terdiri dari nama-nama pejabat. Ada pola perilaku yang berulang: perebutan pengaruh, pembentukan koalisi, pemberian dukungan, pergantian posisi, kritik, dan harapan masyarakat terhadap pemerintah.
Karena itu, membaca Rahman Arge hari ini terasa seperti membaca percakapan lama yang tiba-tiba memperoleh konteks baru.
Kekuasaan selalu membutuhkan manusia yang mengawasinya
Pada akhirnya, mungkin inilah alasan buku Permainan Kekuasaan masih menarik meskipun diterbitkan pada 2008.
Buku tersebut bukan buku yang hanya berbicara tentang siapa yang berkuasa pada zamannya. Ia berbicara tentang perilaku manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Dan perilaku manusia tidak selalu berubah secepat pergantian kabinet.
Hari ini kita melihat reshuffle kabinet Prabowo. Kemarin kita mengenal reshuffle pada masa SBY. Besok mungkin akan ada pemerintahan dan nama-nama baru lagi.
Kursinya bisa berganti.
Orangnya bisa berganti.
Partainya bisa berganti.
Tetapi pertanyaan Rahman Arge tetap layak diajukan:
Apakah kita hanya sedang mengganti orang yang duduk di kursi, atau benar-benar sedang mengubah cara kekuasaan dimainkan?
Mungkin itulah alasan sebuah buku lama tiba-tiba terasa aktual ketika kita membacanya di tengah hiruk-pikuk politik hari ini.
Rahman Arge telah menulisnya bertahun-tahun lalu. Namun ketika kita membuka kembali halamannya hari ini, kita seperti sedang diajak duduk sebentar, minum kopi bersama Bang Jali, lalu melihat permainan kekuasaan dari jarak yang sedikit lebih tenang.
Dan mungkin, dari sana, kita bisa memahami bahwa dalam politik, pergantian kursi hanyalah satu bagian dari cerita. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan manusia setelah mendapatkan kursi tersebut.

Posting Komentar untuk "Membaca Kembali Permainan Kekuasaan Rahman Arge di Tengah Reshuffle Kabinet Prabowo"
Posting Komentar