Senin, 21 September 2020

loading...

Dua buku akan saya sajikan ini merupakan buku-buku terbitan lama (semacam terbitan rutin bernama GEMA NEHEMIA kala itu tahun 80an) yang saya peroleh dari seorang teman 10 tahun lalu di mana isinya berupa testimoni seorang Muslim berpindah agama menjadi Kristen. Media atau blog ini sebenarnya sudah beberapa kali menurunkan tulisan berdasarkan buku di mana buku-buku tersebut berbicara mengenai terjadinya konversi agama seseorang dari agama A ke B dan seterusnya. Dari Kristen menjadi Muallaf, dari Islam menjadi murtad dan seterusnya. Tujuannya adalah supaya masyarakat Indonesia menjadi terbiasa mendengar orang pindah agama dan hal tersebut bukan dianggap menjadi masalah besar. Nah, buku ini merupakan ulasan bagaimana seorang Hamran Ambrie yang banyak menulis di GEMA NEHEMIA itu menjelaskan jawaban-jawaban dan testimoni bagaimana ia mempertahankan iman barunya yaitu menjadi Kristen. Dan satu lagi buku kecil mengenai testimoni dari Hamran Ambrie sendiri dalam bahasa Inggris berjudul God Has Chosen For Me Everlasting Life diterbitkan oleh The Good Way - Rikon - Switzerland

Nah, buku GEMA NEHEMIA yang saya pegang ini merupakan edisi khusus berjudul, Sebuah Memori yang Tidak Terlupakan. Buku edisi khusus ini sebenarnya berisi kronologi pelarangan buku-buku karya Hamran Ambrie kala itu oleh Jaksa Agung RI dengan Surat Keputusan NOMOR KEP-039/J.A/5/1982 atas desakan beberapa kelompok dan perorangan atas buku-buku yang diterbitkan oleh BPK SINAR KASIH. Namun pelarangan tersebut mendapat jawaban dari pihak Hamram Ambrie yang disampaikan kepada pihak Jaksa Agung RI di mana apa yang ditulisnya itu sebagai reaksi atas serangan-serangan terhadap Alkitab dan Iman Kristiani. Dan buku-buku tersebut merupakan jawaban Hamran Ambrie untuk menjawab serangan-serangan ide tersebut.

Memang perpindahan agama merupakan sebuah peristiwa yang sensitif bagi semua orang. Sensitif karena bisa memiliki pengaruh terhadap emosi sebuah kelompok atau apapun namanya, dan terkadang bisa berujung kepada kekerasan. Makanya di negara-negara tertentu terkadang negara turun tangan dengan mengeluarkan regulasi supaya tidak terjadi adanya perpindahan agama. Beruntung di negeri kita ini masalah perpindahan agama dianggap sebagai hak seseorang yang siapapun tidak bisa mengintervensi keputusan seseorang dalam berpindah agama tadi. Hanya saja dalam hukum sosial, apalagi menyangkut orang-orang terkenal, cibiran dan pujian serta netralitas akan dijumpai.


Bagi penyuka lagu-lagu dari mas Didi Kempot yang interes dengan berita serta kehidupannya, tentu akan terus mengikuti berita-berita yang walaupun beliau sudah almarhum namun penggemarnya akan membaca setiap ada berita yang berhubungan dengan pemilik lagu Solo Balapan tersebut. Nah, baru-baru ini diberitakan mengenai pemukul gendangnya Didi Kempot yaitu Dori Harsa yang berpindah ke Kristen setelah menikah dengan Nella Kharisma. Bagaimana tanggapan di dunia maya? Setidaknya ada 3 kelompok yaitu:

1. Banyak yang menyayangkan dan bahkan merasa gerah dengan tindakan Dori yang lebih mengikuti keyakinan Nella Kharisma. Kelompok ini menjadi kelompok mayoritas.

2. Kelompok kedua adalah membelanya dengan berargumen bahwa tindakan Dori tidak ada yang perlu dipermasalahkan

3. Kelompok ketiga, kelompok yang netral. Keputusan Dori adalah keputusan pribadi yang tentu menjadi haknya mau tetap menjadi Islam atau berpindah menjadi Kristen.

Kalau memperhatikan kelompok-kelompok ini terkadang sumpah serapah muncul untuk mengutarakan kekesalannya. Umpatan dan bahkan hinaan serta berbagai kata-kata yang tidak elok juga bisa kita jumpai. Bahkan lebih dari itu, terkadang kelompok-kelompok ini melakukan 'perang' emosi dengan bertengkar berkelompok sendiri. Sebagai sebuah kekecewaan dan kebahagiaan sebagai bagian dari sebuah emosi, sebenarnya biasa kita jumpai 'konflik' kelompok maya ini. Mungkin inilah jalan supaya kita pada akhirnya terbiasa mendengar orang berpindah agama dan hal tersebut tidak dijadikan persoalan. Bukankah setiap jaman perpindahan agama menghiasi sejarah bangsa kita. Jadi, kalau kita sudah berkomitmen untuk membangun demokrasi yang baik, maka siap menerima hak-hak orang lain sejauh tidak membelenggu hak-hak kita.

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates