Sebenarnya saya tidak suka membaca buku novel, entahlah menapa? Yang jelas sejak kecil kurang menikmatinya. Tapi karena suka dengan buku, saya memesan juga, dengan niatan hanya untuk koleksi. Namun, ketika membaca prolog buku yang ada di tangan saya ini, sebuah novel karya Sergius Sutanto berjudul Mangun: Sebuah Novel saya begitu melahapnya. Sebuah Novel yang tentu berdasarkan kisah nyata dari kehidupan seorang pejuang kemanusiaan bernama Y. B. Mangunwijaya. Buku setebal 412 halaman ini diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia dan diterbitkan tahun 2016 silam.

Kembali kepada prolog yang menyeret saya untuk terus menikmati tulisan novel ini. Kata-kata itu memang disampaikan oleh penulis tapi isinya menggambarkan sebuah rahasia mengapa seorang Mangunwijaya bersikap lantang dan berani menghadapi ancaman apapun bila yang dibelanya itu adalah sebuah kebenaran. "Satu keyakinan, dan mungkin sudah menjadi ayat suci bagi sebagian orang; kematian adalah sebuah perayaan, bukan kemalangan." Pembuka prolog ini seperti menjadi sihir munculnya sebuah keberanian untuk bertindak dan pemicu tekad untuk menghadapi apapun termasuk resiko akan kematian. Hal tersebut yang bisa disimpulkan oleh penulis ketika menceritakan sosok Romo Mangun. "Dia tidak memikirkan banyak hal saat ancaman kematian mengintai dan menderanya bertahun-tahun.