Jumat, 10 Desember 2021

Bunuh Diri Dikutuk atau Berusaha Memahami?

| Jumat, 10 Desember 2021


Rentetan peristiwa bunuh diri seperti menjadi hidangan berita yang selalu muncul. Dari Novia bunuh diri di makam ayahnya, bunuh diri di Taman Anggrek, Song Yoo-Jung yang diduga bunuh diri dan peristiwa menghabisi nyawa sendiri kita dengar terus-menerus. 

Di media sosial masyarakat berdiri di dua kubu, mengutuk tindakan bunuh diri karena dianggap berdosa, tapi di sisi lain berusaha untuk memahami gejolak jiwa yang tertekan yang seharusnya menjadi pelajaran di mana kita seharusnya peduli dengan keadaan lingkungan.

Menulusuri soal bunuh diri itu sendiri baru-baru ini diberitakan, di Swiss seorang ilmuwan bernama Dr. Philip Nitschke memperkenalkan sebuah alat sebagai hasil karyanya yaitu Sarco Suicide Pods, di mana alat ini dianggap sebagai alat yang ramah bagi mereka yang akan melakukan bunuh diri. Walaupun banyak dikritik oleh beberapa pihak yang menentang penemuan alat tersebut.


Fenomena bunuh diri itu sendiri dalam laporan News Detik yang menulis data yang menunjukkan kecenderungan peningkatan bunuh diri itu sendiri yang terjadi di Gunung Kidul. Dilaporkan sampai bulan Desember akhir tahun ini dalam setahun ditemukan ada 38 kasus. Sebuah peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2020 yang mencapai 29 kasus di daerah Gunung Kidul.

Sebuah buku menarik yang ditulis oleh Nova Riyanti Yusuf yang telah melakukan penelitian mengenai bunuh diri ini dengan judul Jelajah Jiwa, Menghapus Stigma: Autopsi Psikologis Bunuh Diri Dua Pelukis. Buku yang diterbitkan oleh Kompas, Tahun 2020. Seperti sub judul yang diangkat buku ini seperti menjadi sebuah penelitian yang jarang menarik hati kebanyakan yaitu mengenai bunuh diri dengan latar belakang artis.

Tetapi yang terpenting adalah bagaimana mencegah sedini mungkin tindakan bunuh diri itu dan secara khusus yang dilakukan oleh remaja. Tindakan pencegahan itu bukan hanya dilakukan ketika munculnya kasus-kasus bunuh diri di berbagai tempat. Tapi bagaimana pencegahan bunuh diri itu bisa dilakukan sejak awal kepada anak-anak sejak sekolah menengah dan atas.

Tentu saja melihat kasus-kasus bunuh diri bukan hanya menggunakan pendekatan-pendekatan moral dan agama. Mungkin dari segi pencegahan, bolehlah di mana memasukkan agama sebagai unsur untuk mengingatkan kepada masyarakat mengenai bunuh diri baik, tapi melangkah kepada menilai sebagai pribadi yang memiliki keinginan bunuh diri itu karena kurang iman itu hanyalah penilaian yang sangat dangkal. 

Buku karya luar biasa ini dengan tegas menyatakan bahwa kita jangan berpikir terkotak-kotak. Karena bunuh diri itu adalah isu mengenai kesehatan jiwa, yang tentu hal ini terkait dengan erat dengan berbagai kebijakan negara pada kesehatan dan pendidikan nasional.

Bunuh diri itu merupakan proses yang bukan sederhana untuk dinilai, apalagi melihat sebagai hitam putih. Tindakan itu sangat kompleks untuk diamati dan sangat individu. Ini bukan hanya masalah salah atau benar, suci atau kotor. Tidak sesederhana itu. Tapi bila setiap orang mau memahami apa yang terjadi pada pribadi yang ingin melakukan bunuh diri, maka kitapun bisa menjadi pahlawan untuk menolong, mengerti dan memahami apa yang sedang dialami oleh mereka yang memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Di dalam tindakan bunuh diri itu kita melihat betapa rumitnya diri manusia itu, dan kita bisa mengerti asalkan kita bersedia, bersabar dengan melihat sisi kemanusiaan. Beberapa waktu lalu seorang remaja ingin melakukan tindakan bunuh diri. Beruntung bisa diselamatkan dan memberitahu kepada orang tuanya perihal tindakan anaknya itu. Tapi apa yang dilakukan orang tuanya ketika bertemu? Ia malah menuding, bahwa anaknya sedang sakit mental yang ia ucapkan di depan putrinya tersebut.

Bacalah buku ini, niscaya kita akan mengubah pikiran dan cara pandang dalam melihat kasus buduh diri ini. Semoga!

//

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar