A Happy Life Seneca: Mengapa Kita Tidak Bahagia Meski Terus Mengejarnya?
Kita Sibuk Mengejar Bahagia, tetapi Tidak Pernah Bertanya Apa Itu Bahagia
Kita sering berkata ingin bahagia.
Namun, pernahkah kita benar-benar berhenti untuk bertanya: bahagia itu sebenarnya seperti apa?
Banyak orang menganggap kebahagiaan akan datang setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih nyaman, pasangan yang tepat, anak yang berhasil atau kehidupan yang lebih mapan.
Masalahnya, ketika satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.
Gaji naik, standar hidup ikut naik.
Karier meningkat, target semakin tinggi.
Membeli satu barang, kemudian ingin membeli barang yang lebih bagus.
Melihat kehidupan orang lain di media sosial, kita merasa kehidupan sendiri masih kurang.
Akhirnya kita seperti pelari yang terus berlari tanpa pernah bertanya apakah lintasan yang ditempuh memang menuju tempat yang diinginkan.
Persoalan inilah yang menarik ketika membaca pemikiran Lucius Annaeus Seneca, filsuf Stoik Romawi yang hidup sekitar dua ribu tahun lalu.
Dalam A Happy Life, Seneca mengajak kita tidak langsung mencari teknik untuk menjadi bahagia. Ia justru mengajak manusia memeriksa terlebih dahulu apa tujuan hidup dan jalan seperti apa yang layak ditempuh untuk mencapainya. Deskripsi resmi Noura bahkan menggambarkan manusia sebagai orang yang mengejar kebahagiaan secara “buta dan tergesa-gesa” sehingga akhirnya justru mendapatkan kelelahan.
Seneca: Kebahagiaan Bukan Sekadar Merasa Senang
Bagi Seneca dan tradisi Stoik, kebahagiaan tidak terutama ditentukan oleh banyaknya kesenangan, kekayaan atau keberhasilan eksternal.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan akal dan menjalani hidup berdasarkan kebajikan.
Dalam Stoisisme, kebajikan seperti kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri menjadi pusat kehidupan yang baik. Kekayaan, kesehatan, reputasi dan status tidak dianggap sebagai sumber kebaikan moral itu sendiri. Semua itu bisa memiliki nilai praktis, tetapi tidak menentukan apakah seseorang menjalani kehidupan yang baik. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Gagasan ini terdengar sederhana, tetapi sangat mengganggu cara berpikir modern.
Sebab kita terbiasa mengukur keberhasilan melalui sesuatu yang terlihat.
Berapa penghasilan Anda?
Apa pekerjaan Anda?
Rumah Anda di mana?
Mobil Anda apa?
Anak Anda sekolah di mana?
Berapa banyak orang mengikuti akun media sosial Anda?
Seneca seolah mengajak kita membalik pertanyaan tersebut:
“Setelah semua itu dimiliki, apakah Anda menjadi manusia yang lebih baik?”
Masalahnya Bukan Memiliki Kekayaan
Stoisisme sering disalahpahami sebagai ajaran yang menyuruh manusia menolak kekayaan.
Tidak sesederhana itu.
Dalam pemikiran Stoik, kekayaan dan kesehatan dapat menjadi sesuatu yang layak dipilih (preferred indifferents), tetapi keduanya bukan sumber utama kebaikan moral. Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakan apa yang dimilikinya dan bagaimana ia bersikap ketika sesuatu itu hilang. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Ini penting bagi pembaca masa kini.
Seneca tidak harus dibaca sebagai orang yang berkata, “Jangan kaya.”
Pesannya lebih menarik:
“Jangan biarkan kekayaan menentukan apakah hidup Anda bernilai atau tidak.”
Seseorang boleh mengejar karier.
Boleh membangun bisnis.
Boleh mengumpulkan kekayaan.
Boleh menginginkan kehidupan yang nyaman.
Tetapi ketika semua itu menjadi satu-satunya sumber harga diri, manusia menyerahkan ketenangan hidupnya kepada sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Seneca Hidup di Tengah Kekuasaan, Bukan di Ruang Sunyi
Namun, pernahkah kita benar-benar berhenti untuk bertanya: bahagia itu sebenarnya seperti apa?
Banyak orang menganggap kebahagiaan akan datang setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih nyaman, pasangan yang tepat, anak yang berhasil atau kehidupan yang lebih mapan.
Masalahnya, ketika satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.
Gaji naik, standar hidup ikut naik.
Karier meningkat, target semakin tinggi.
Membeli satu barang, kemudian ingin membeli barang yang lebih bagus.
Melihat kehidupan orang lain di media sosial, kita merasa kehidupan sendiri masih kurang.
Akhirnya kita seperti pelari yang terus berlari tanpa pernah bertanya apakah lintasan yang ditempuh memang menuju tempat yang diinginkan.
Persoalan inilah yang menarik ketika membaca pemikiran Lucius Annaeus Seneca, filsuf Stoik Romawi yang hidup sekitar dua ribu tahun lalu.
Dalam A Happy Life, Seneca mengajak kita tidak langsung mencari teknik untuk menjadi bahagia. Ia justru mengajak manusia memeriksa terlebih dahulu apa tujuan hidup dan jalan seperti apa yang layak ditempuh untuk mencapainya. Deskripsi resmi Noura bahkan menggambarkan manusia sebagai orang yang mengejar kebahagiaan secara “buta dan tergesa-gesa” sehingga akhirnya justru mendapatkan kelelahan.
Seneca: Kebahagiaan Bukan Sekadar Merasa Senang
Bagi Seneca dan tradisi Stoik, kebahagiaan tidak terutama ditentukan oleh banyaknya kesenangan, kekayaan atau keberhasilan eksternal.Yang jauh lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan akal dan menjalani hidup berdasarkan kebajikan.
Dalam Stoisisme, kebajikan seperti kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri menjadi pusat kehidupan yang baik. Kekayaan, kesehatan, reputasi dan status tidak dianggap sebagai sumber kebaikan moral itu sendiri. Semua itu bisa memiliki nilai praktis, tetapi tidak menentukan apakah seseorang menjalani kehidupan yang baik. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Gagasan ini terdengar sederhana, tetapi sangat mengganggu cara berpikir modern.
Sebab kita terbiasa mengukur keberhasilan melalui sesuatu yang terlihat.
Berapa penghasilan Anda?
Apa pekerjaan Anda?
Rumah Anda di mana?
Mobil Anda apa?
Anak Anda sekolah di mana?
Berapa banyak orang mengikuti akun media sosial Anda?
Seneca seolah mengajak kita membalik pertanyaan tersebut:
“Setelah semua itu dimiliki, apakah Anda menjadi manusia yang lebih baik?”
Masalahnya Bukan Memiliki Kekayaan
Stoisisme sering disalahpahami sebagai ajaran yang menyuruh manusia menolak kekayaan.Tidak sesederhana itu.
Dalam pemikiran Stoik, kekayaan dan kesehatan dapat menjadi sesuatu yang layak dipilih (preferred indifferents), tetapi keduanya bukan sumber utama kebaikan moral. Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakan apa yang dimilikinya dan bagaimana ia bersikap ketika sesuatu itu hilang. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Ini penting bagi pembaca masa kini.
Seneca tidak harus dibaca sebagai orang yang berkata, “Jangan kaya.”
Pesannya lebih menarik:
“Jangan biarkan kekayaan menentukan apakah hidup Anda bernilai atau tidak.”
Seseorang boleh mengejar karier.
Boleh membangun bisnis.
Boleh mengumpulkan kekayaan.
Boleh menginginkan kehidupan yang nyaman.
Tetapi ketika semua itu menjadi satu-satunya sumber harga diri, manusia menyerahkan ketenangan hidupnya kepada sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Seneca Hidup di Tengah Kekuasaan, Bukan di Ruang Sunyi
Hal menarik dari Seneca adalah ia tidak berbicara tentang ketenangan dari kehidupan yang sepenuhnya bebas masalah.
Justru sebaliknya.
Ia hidup di tengah kekuasaan, politik dan konflik.
Seneca pernah menjadi pejabat publik Romawi, kemudian menjadi tokoh penting di lingkungan Kaisar Nero. Ia juga pernah mengalami pengasingan setelah dituduh melakukan hubungan terlarang dengan Julia Livilla, saudara perempuan Nero. Buku-buku dan sumber sejarah tentang kehidupannya menunjukkan bahwa perjalanan Seneca jauh dari kehidupan seorang filsuf yang tenang dan terisolasi. (Perpustakaan Kota Jogja)
Karena itu, pemikiran Seneca menjadi menarik untuk kehidupan modern.
Kita tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk belajar tenang.
Sebab jika ketenangan hanya mungkin diperoleh setelah semua masalah selesai, hampir tidak ada manusia yang akan pernah benar-benar tenang.
Kebahagiaan dan Obsesi Mengendalikan Segalanya
Di sinilah Stoisisme memiliki hubungan kuat dengan persoalan psikologis manusia modern.
Kita sering menghabiskan energi untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak berada dalam kendali kita.
Kita ingin semua orang menyukai kita.
Kita ingin atasan menghargai kita.
Kita ingin anak selalu mengikuti harapan kita.
Kita ingin pasangan selalu memahami kita.
Kita ingin bisnis selalu berhasil.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Padahal kehidupan tidak pernah memberikan jaminan seperti itu.
Stoisisme mengajak manusia membedakan antara apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.
Kita dapat mengendalikan pertimbangan, pilihan dan tindakan kita. Tetapi hasil akhirnya sering dipengaruhi oleh keadaan, keputusan orang lain dan keberuntungan.
Karena itu, kebahagiaan tidak seharusnya digantungkan sepenuhnya pada hasil.
Kita dapat berusaha sebaik mungkin mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Namun keputusan akhir bukan sepenuhnya milik kita.
Kita dapat mendidik anak sebaik mungkin. Tetapi anak tetap memiliki kehendak dan jalan hidupnya sendiri.
Kita dapat menjalankan bisnis dengan serius. Namun pasar tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.
Menerima kenyataan tersebut bukan berarti menyerah.
Justru sebaliknya, kita mengalihkan energi dari mengendalikan dunia menjadi memperbaiki respons kita terhadap dunia.
Mengapa Media Sosial Membuat Gagasan Seneca Semakin Relevan?
Ada satu persoalan modern yang membuat pemikiran Seneca terasa sangat dekat: perbandingan sosial.
Media sosial memungkinkan kita melihat kehidupan orang lain setiap hari.
Kita melihat orang berlibur.
Orang membeli rumah.
Orang mendapatkan promosi.
Orang menikah.
Orang membuka bisnis.
Orang memamerkan pencapaian.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik kehidupan orang lain.
Akibatnya muncul perasaan tertinggal.
Padahal menurut perspektif Stoik, penilaian kita terhadap sesuatu jauh lebih penting daripada sekadar kejadian eksternal. Kekayaan, reputasi dan status tidak otomatis menjadikan kehidupan seseorang baik. Yang menentukan adalah kualitas pertimbangan dan tindakan manusia terhadap keadaan tersebut. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Maka pertanyaan Stoik yang relevan di era Instagram, TikTok dan berbagai platform digital bukan:
“Bagaimana supaya hidup saya terlihat berhasil?”
Melainkan:
“Apakah kehidupan yang saya jalani memang sesuai dengan nilai yang saya anggap penting?”
Seneca dan Bahaya Hidup Menurut Standar Orang Lain
Kita bisa memiliki pekerjaan yang sebenarnya tidak kita sukai hanya karena dianggap bergengsi.
Kita bisa membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena takut dianggap ketinggalan.
Kita bisa mengejar jabatan bukan karena pekerjaan itu bermakna, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan.
Kita bahkan bisa menjalani kehidupan yang tampak sukses tetapi diam-diam merasa kosong.
Di sinilah gagasan Seneca mengenai kehidupan yang baik menjadi relevan.
Kebahagiaan bukan sekadar mendapatkan apa yang diinginkan. Kebahagiaan juga membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang layak diinginkan.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Jika semua keinginan dianggap harus dipenuhi, kita akan menjadi budak keinginan sendiri.
Tetapi jika kita mampu memilih keinginan berdasarkan nilai dan akal sehat, kita memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Seneca Sendiri Tidak Lepas dari Kontradiksi
Ada satu hal yang membuat Seneca justru menarik untuk dibaca secara kritis.
Ia adalah filsuf yang berbicara tentang kesederhanaan dan kebajikan, tetapi pada saat yang sama memiliki kekayaan besar dan berada dekat dengan pusat kekuasaan Romawi.
Ini merupakan kontradiksi yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Justru dari sini kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih menarik:
Apakah seseorang harus hidup miskin untuk memahami bahwa kekayaan bukan sumber utama kebahagiaan?
Belum tentu.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memperlakukan kekayaan tersebut.
Dalam kerangka Stoik, memiliki sesuatu dan diperbudak oleh sesuatu adalah dua persoalan yang berbeda.
Anda dapat memiliki uang tanpa menjadikan uang sebagai identitas.
Anda dapat memiliki jabatan tanpa menganggap jabatan menentukan harga diri.
Anda dapat menikmati kenyamanan tanpa panik ketika kenyamanan itu hilang.
Inilah pembacaan Seneca yang menurut saya jauh lebih menarik daripada sekadar mengatakan, “Hiduplah sederhana.”
Akhir Kehidupan Seneca: Sebuah Ironi yang Sulit Diabaikan
Pada akhirnya, kehidupan Seneca sendiri menunjukkan betapa kerasnya dunia yang ia hadapi.
Pada masa pemerintahan Nero, hubungannya dengan sang kaisar semakin memburuk. Pada 65 M, Seneca dikaitkan dengan Pisonian Conspiracy dan diperintahkan Nero untuk mengakhiri hidupnya. Ia kemudian melakukan bunuh diri sebagaimana diperintahkan. (Perpustakaan Kota Jogja)
Peristiwa tersebut membuat pertanyaan tentang kebahagiaan menjadi semakin dalam.
Apakah kebahagiaan berarti hidup tanpa penderitaan?
Seneca tampaknya akan menjawab tidak.
Kehidupan yang baik bukan kehidupan yang bebas dari nasib buruk. Sebab kita tidak pernah memiliki kendali penuh terhadap apa yang terjadi.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan ketika seseorang tetap berusaha menjaga kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri ketika menghadapi keadaan yang sulit.
Dalam kerangka Stoik, kebajikanlah yang menjadi inti kehidupan yang baik, bukan keberuntungan eksternal. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
A Happy Life: Belajar Berhenti Mengejar Kebahagiaan Secara Buta
A Happy Life karya Lucius Annaeus Seneca, yang diterbitkan Noura Books pada 2023, merupakan buku yang menarik dibaca kembali karena persoalan yang dibahasnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Edisi ini diterjemahkan Reinitha Amalia Lasmana dan disunting Isthi P. Rahayu. (Perpustakaan Kota Jogja)
Buku ini tidak memberikan resep sederhana seperti “lakukan lima hal dan Anda akan bahagia.”
Justru kekuatannya berada pada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apa tujuan hidup kita?
Apa yang sebenarnya kita kejar?
Mengapa kita menginginkannya?
Apakah sesuatu yang kita kejar benar-benar berada dalam kendali kita?
Dan yang paling penting:
Jika semua yang kita kejar akhirnya kita dapatkan, apakah kita otomatis menjadi bahagia?
Mungkin selama ini persoalan kita bukan karena kurang banyak mengejar kebahagiaan.
Mungkin kita justru terlalu sibuk mengejarnya sampai lupa menentukan arah.
Seneca mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan oleh kualitas manusia seperti apa yang kita bentuk melalui pilihan-pilihan kita.
Di tengah zaman yang terus mendorong kita untuk menjadi lebih kaya, lebih terkenal, lebih produktif dan lebih sukses, gagasan Seneca menawarkan pertanyaan yang lebih sunyi:
“Kalau semua itu tidak membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, untuk apa saya mengejarnya?”
Barangkali di situlah A Happy Life menjadi relevan.
Bukan karena Seneca mengajarkan bagaimana mendapatkan semua yang kita inginkan, tetapi karena ia mengajak kita belajar membedakan antara hidup yang terlihat berhasil dan hidup yang sungguh-sungguh layak dijalani.
Justru sebaliknya.
Ia hidup di tengah kekuasaan, politik dan konflik.
Seneca pernah menjadi pejabat publik Romawi, kemudian menjadi tokoh penting di lingkungan Kaisar Nero. Ia juga pernah mengalami pengasingan setelah dituduh melakukan hubungan terlarang dengan Julia Livilla, saudara perempuan Nero. Buku-buku dan sumber sejarah tentang kehidupannya menunjukkan bahwa perjalanan Seneca jauh dari kehidupan seorang filsuf yang tenang dan terisolasi. (Perpustakaan Kota Jogja)
Karena itu, pemikiran Seneca menjadi menarik untuk kehidupan modern.
Kita tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk belajar tenang.
Sebab jika ketenangan hanya mungkin diperoleh setelah semua masalah selesai, hampir tidak ada manusia yang akan pernah benar-benar tenang.
Kebahagiaan dan Obsesi Mengendalikan Segalanya
Di sinilah Stoisisme memiliki hubungan kuat dengan persoalan psikologis manusia modern.Kita sering menghabiskan energi untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak berada dalam kendali kita.
Kita ingin semua orang menyukai kita.
Kita ingin atasan menghargai kita.
Kita ingin anak selalu mengikuti harapan kita.
Kita ingin pasangan selalu memahami kita.
Kita ingin bisnis selalu berhasil.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Padahal kehidupan tidak pernah memberikan jaminan seperti itu.
Stoisisme mengajak manusia membedakan antara apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.
Kita dapat mengendalikan pertimbangan, pilihan dan tindakan kita. Tetapi hasil akhirnya sering dipengaruhi oleh keadaan, keputusan orang lain dan keberuntungan.
Karena itu, kebahagiaan tidak seharusnya digantungkan sepenuhnya pada hasil.
Kita dapat berusaha sebaik mungkin mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Namun keputusan akhir bukan sepenuhnya milik kita.
Kita dapat mendidik anak sebaik mungkin. Tetapi anak tetap memiliki kehendak dan jalan hidupnya sendiri.
Kita dapat menjalankan bisnis dengan serius. Namun pasar tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.
Menerima kenyataan tersebut bukan berarti menyerah.
Justru sebaliknya, kita mengalihkan energi dari mengendalikan dunia menjadi memperbaiki respons kita terhadap dunia.
Mengapa Media Sosial Membuat Gagasan Seneca Semakin Relevan?
Ada satu persoalan modern yang membuat pemikiran Seneca terasa sangat dekat: perbandingan sosial.Media sosial memungkinkan kita melihat kehidupan orang lain setiap hari.
Kita melihat orang berlibur.
Orang membeli rumah.
Orang mendapatkan promosi.
Orang menikah.
Orang membuka bisnis.
Orang memamerkan pencapaian.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik kehidupan orang lain.
Akibatnya muncul perasaan tertinggal.
Padahal menurut perspektif Stoik, penilaian kita terhadap sesuatu jauh lebih penting daripada sekadar kejadian eksternal. Kekayaan, reputasi dan status tidak otomatis menjadikan kehidupan seseorang baik. Yang menentukan adalah kualitas pertimbangan dan tindakan manusia terhadap keadaan tersebut. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Maka pertanyaan Stoik yang relevan di era Instagram, TikTok dan berbagai platform digital bukan:
“Bagaimana supaya hidup saya terlihat berhasil?”
Melainkan:
“Apakah kehidupan yang saya jalani memang sesuai dengan nilai yang saya anggap penting?”
Seneca dan Bahaya Hidup Menurut Standar Orang Lain
Kita bisa memiliki pekerjaan yang sebenarnya tidak kita sukai hanya karena dianggap bergengsi.Kita bisa membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena takut dianggap ketinggalan.
Kita bisa mengejar jabatan bukan karena pekerjaan itu bermakna, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan.
Kita bahkan bisa menjalani kehidupan yang tampak sukses tetapi diam-diam merasa kosong.
Di sinilah gagasan Seneca mengenai kehidupan yang baik menjadi relevan.
Kebahagiaan bukan sekadar mendapatkan apa yang diinginkan. Kebahagiaan juga membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang layak diinginkan.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Jika semua keinginan dianggap harus dipenuhi, kita akan menjadi budak keinginan sendiri.
Tetapi jika kita mampu memilih keinginan berdasarkan nilai dan akal sehat, kita memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Seneca Sendiri Tidak Lepas dari Kontradiksi
Ada satu hal yang membuat Seneca justru menarik untuk dibaca secara kritis.Ia adalah filsuf yang berbicara tentang kesederhanaan dan kebajikan, tetapi pada saat yang sama memiliki kekayaan besar dan berada dekat dengan pusat kekuasaan Romawi.
Ini merupakan kontradiksi yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Justru dari sini kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih menarik:
Apakah seseorang harus hidup miskin untuk memahami bahwa kekayaan bukan sumber utama kebahagiaan?
Belum tentu.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memperlakukan kekayaan tersebut.
Dalam kerangka Stoik, memiliki sesuatu dan diperbudak oleh sesuatu adalah dua persoalan yang berbeda.
Anda dapat memiliki uang tanpa menjadikan uang sebagai identitas.
Anda dapat memiliki jabatan tanpa menganggap jabatan menentukan harga diri.
Anda dapat menikmati kenyamanan tanpa panik ketika kenyamanan itu hilang.
Inilah pembacaan Seneca yang menurut saya jauh lebih menarik daripada sekadar mengatakan, “Hiduplah sederhana.”
Akhir Kehidupan Seneca: Sebuah Ironi yang Sulit Diabaikan
Pada akhirnya, kehidupan Seneca sendiri menunjukkan betapa kerasnya dunia yang ia hadapi.Pada masa pemerintahan Nero, hubungannya dengan sang kaisar semakin memburuk. Pada 65 M, Seneca dikaitkan dengan Pisonian Conspiracy dan diperintahkan Nero untuk mengakhiri hidupnya. Ia kemudian melakukan bunuh diri sebagaimana diperintahkan. (Perpustakaan Kota Jogja)
Peristiwa tersebut membuat pertanyaan tentang kebahagiaan menjadi semakin dalam.
Apakah kebahagiaan berarti hidup tanpa penderitaan?
Seneca tampaknya akan menjawab tidak.
Kehidupan yang baik bukan kehidupan yang bebas dari nasib buruk. Sebab kita tidak pernah memiliki kendali penuh terhadap apa yang terjadi.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan ketika seseorang tetap berusaha menjaga kebijaksanaan, keberanian, keadilan dan pengendalian diri ketika menghadapi keadaan yang sulit.
Dalam kerangka Stoik, kebajikanlah yang menjadi inti kehidupan yang baik, bukan keberuntungan eksternal. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
A Happy Life: Belajar Berhenti Mengejar Kebahagiaan Secara Buta
A Happy Life karya Lucius Annaeus Seneca, yang diterbitkan Noura Books pada 2023, merupakan buku yang menarik dibaca kembali karena persoalan yang dibahasnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Edisi ini diterjemahkan Reinitha Amalia Lasmana dan disunting Isthi P. Rahayu. (Perpustakaan Kota Jogja)Buku ini tidak memberikan resep sederhana seperti “lakukan lima hal dan Anda akan bahagia.”
Justru kekuatannya berada pada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apa tujuan hidup kita?
Apa yang sebenarnya kita kejar?
Mengapa kita menginginkannya?
Apakah sesuatu yang kita kejar benar-benar berada dalam kendali kita?
Dan yang paling penting:
Jika semua yang kita kejar akhirnya kita dapatkan, apakah kita otomatis menjadi bahagia?
Mungkin selama ini persoalan kita bukan karena kurang banyak mengejar kebahagiaan.
Mungkin kita justru terlalu sibuk mengejarnya sampai lupa menentukan arah.
Seneca mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan oleh kualitas manusia seperti apa yang kita bentuk melalui pilihan-pilihan kita.
Di tengah zaman yang terus mendorong kita untuk menjadi lebih kaya, lebih terkenal, lebih produktif dan lebih sukses, gagasan Seneca menawarkan pertanyaan yang lebih sunyi:
“Kalau semua itu tidak membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, untuk apa saya mengejarnya?”
Barangkali di situlah A Happy Life menjadi relevan.
Bukan karena Seneca mengajarkan bagaimana mendapatkan semua yang kita inginkan, tetapi karena ia mengajak kita belajar membedakan antara hidup yang terlihat berhasil dan hidup yang sungguh-sungguh layak dijalani.
Posting Komentar untuk "A Happy Life Seneca: Mengapa Kita Tidak Bahagia Meski Terus Mengejarnya?"
Posting Komentar