Mengulas Soe Hok-Gie... Sekali Lagi: Kritik Tajam yang Hidup Kembali di Kegelisahan Indonesia 2025

Buku Soe Hok-Gie... Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya adalah sebuah karya monumental yang menghidupkan kembali sosok Soe Hok-Gie, aktivis mahasiswa Universitas Indonesia yang dikenal karena kritiknya terhadap pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Diterbitkan pada Desember 2009 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Kompas, buku setebal 512 halaman dengan tambahan xxix halaman pembuka ini disunting oleh Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan. Buku ini bukan sekadar biografi, melainkan perayaan warisan intelektual dan semangat perjuangan Gie, yang tragisnya meninggal pada 16 Desember 1969 di puncak Mahameru, Gunung Semeru, akibat hipotermia saat mendaki.

Isi Buku: Mozaik Kehidupan dan Kritik Soe Hok-Gie

Buku ini terdiri dari tiga pilar utama:  
1. Kisah Perjalanan Akhir Gie: Bagian ini merekonstruksi hari-hari terakhir Gie menuju Malang, pendakiannya ke Semeru, dan proses evakuasi jenazahnya. Cerita ini dibangun dari ingatan rekan-rekannya, meskipun catatan tertulis minim.  
2. Tulisan-Tulisan Gie: Kumpulan esai, catatan harian, dan artikel Gie yang dimuat di berbagai media, termasuk Harian Kompas (1963–1969). Tulisannya mengupas isu politik, korupsi, kebebasan pers, dan ketidakadilan sosial dengan gaya tajam namun penuh idealisme. Ia juga menulis tentang kecintaannya pada alam dan ilmu pengetahuan.  
3. Kenangan dari Orang-Orang Terdekat: Kontribusi dari sahabat, keluarga, dan tokoh seperti Jakob Oetama, Budiarto Shambazy, Riri Riza, Mira Lesmana, hingga Ben Anderson menghidupkan Gie sebagai intelektual, pecinta alam, dan manusia biasa dengan kisah cinta dan candaan kampus.

Desain buku ini ramah pembaca, dengan font besar, tata letak dinamis, dan foto-foto langka yang memperkaya narasi. Buku ini bukan hanya tentang Gie sebagai demonstran, tetapi juga sebagai sosok romantis yang mencintai keadilan, alam, dan bangsanya—sesuai dengan judulnya, Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya.

Sorotan: Betapa Tidak Menariknya Pemerintah Sekarang

Salah satu bagian paling menggugah dalam buku ini adalah tulisan Gie berjudul "Betapa Tidak Menariknya Pemerintah Sekarang", yang diterbitkan di Harian Kompas pada 16 Juli 1969. Dalam esai ini, Gie melontarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, yang ia nilai gagal mewujudkan janji reformasi. Ia menyebut pemerintahan saat itu "tidak menarik" karena:
- Kehampaan visi: Orde Baru tidak mampu menawarkan gagasan besar yang menginspirasi rakyat.  
- Korupsi dan represi: Gie melihat tanda-tanda korupsi merasuki rezim baru, disertai sensor terhadap kebebasan berpendapat.  
- Keterputusan dengan rakyat: Pemerintah kehilangan koneksi dengan aspirasi masyarakat, terutama kaum muda dan intelektual.

Dengan gaya sarkastik namun penuh semangat, Gie menyesalkan hilangnya idealisme revolusioner yang pernah membakar semangat perjuangan kemerdekaan. Tulisan ini mencerminkan kekecewaan seorang pemuda yang pernah berjuang untuk perubahan, namun melihat pemerintahan baru jatuh ke pola lama: otoritarianisme dan ketidakadilan.

Relevansi di Indonesia 2025: Kegelisahan Rakyat yang Hidup Kembali

Lima puluh enam tahun setelah tulisan Gie diterbitkan, semangat kritiknya terasa hidup kembali di Indonesia 2025. Rakyat Indonesia saat ini sedang bergulat dengan kegelisahan serupa: krisis kepercayaan terhadap pemerintahan, korupsi yang masih merajalela, dan kebijakan yang kerap terasa jauh dari aspirasi masyarakat. Isu-isu seperti ketimpangan ekonomi, proyek infrastruktur kontroversial, dan ancaman terhadap kebebasan berekspresi melalui regulasi seperti UU ITE mencerminkan apa yang Gie kritisi di zamannya.

Di platform media sosial seperti X, warga menyuarakan kekecewaan terhadap kenaikan harga, pengangguran, dan ketidakadilan hukum. Namun, seperti yang Gie amati, pemangku kebijakan sering kali tampak tidak peka terhadap kegelisahan ini. Tulisan Gie menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan adalah siklus yang terus berulang. Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengeluh, tetapi juga berpikir kritis dan bertindak, seperti yang ia lakukan melalui demonstrasi dan tulisan-tulisannya.

Mengapa Buku Ini Penting Dibaca Sekarang?

Soe Hok-Gie... Sekali Lagi bukan sekadar nostalgia, melainkan panggilan untuk mengenang dan menghidupkan semangat kritis Gie. Buku ini relevan bagi siapa saja yang peduli dengan keadilan sosial, kebebasan, dan perjuangan melawan korupsi. Tulisan Gie, khususnya Betapa Tidak Menariknya Pemerintah Sekarang, adalah cermin yang mengajak kita bertanya: apakah pemerintahan saat ini cukup "menarik" untuk rakyatnya? Apakah kita cukup berani untuk menyuarakan kebenaran, seperti yang Gie lakukan?

Bagi generasi muda Indonesia 2025, buku ini adalah inspirasi untuk tetap kritis di tengah tantangan zaman. Gie mengajarkan bahwa satu suara, meskipun kecil, bisa mengguncang kesadaran kolektif. Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang ingin memahami sejarah aktivisme Indonesia dan menemukan semangat untuk memperjuangkan perubahan.

Sudahkah kamu membaca Soe Hok-Gie... Sekali Lagi? Bagikan pendapatmu tentang buku ini atau inspirasi apa yang kamu dapat dari semangat Soe Hok-Gie di kolom komentar! Untuk informasi lebih lanjut tentang aktivisme dan sejarah Indonesia, ikuti artikel kami berikutnya.

Posting Komentar untuk "Mengulas Soe Hok-Gie... Sekali Lagi: Kritik Tajam yang Hidup Kembali di Kegelisahan Indonesia 2025"