Membangun Personal Brand: Antara Strategi Pemasaran dan Kejujuran Rasa
Di era digital yang serba cepat, setiap individu memiliki panggung yang sama untuk menunjukkan jati dirinya untuk membangun personal branding. Salah satu panduan yang paling banyak dibicarakan adalah buku "Be The Brand: The Ultimate Guide to Building Your Personal Brand" karya Jules Marcoux. Namun, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apakah tepat menyamakan manusia dengan sebuah barang dagangan dalam beriklan?
Filosofi "Be The Brand": Sederhana Itu Powerfull
Jules Marcoux membawa pendekatan yang sangat praktis. Ia memangkas kerumitan teori branding dan menyajikannya dalam bentuk yang bisa langsung dieksekusi. Menurutnya, membangun citra diri di media sosial atau dunia kerja pada dasarnya adalah tentang kejelasan pesan.
Ia menggunakan analogi produk bukan untuk merendahkan nilai kemanusiaan kita, melainkan untuk memberikan struktur. Jika perusahaan besar memiliki strategi untuk memperkenalkan produknya, mengapa kita tidak memiliki strategi untuk memperkenalkan potensi terbaik kita?
Diri Kita Sebagai "Iklan": Lebih dari Sekadar Visual
Buku ini menekankan bahwa membangun citra diri mirip dengan mengiklankan sebuah barang. Kita bicara tentang:
- Packaging (Kemasannya): Bagaimana kita mempresentasikan diri.
- Positioning: Di mana posisi kita dibandingkan orang lain.
- Promise (Janji): Apa manfaat yang didapat orang lain saat bekerja sama dengan kita.
Namun, ada poin krusial yang perlu kita garis bawahi: Manusia memiliki rasa dan jiwa. Inilah yang membedakan personal branding dengan pemasaran benda mati.
Menjembatani Logika Barang dengan Perasaan Manusia
Meskipun Marcoux menggunakan taktik pemasaran, keberhasilan sebuah personal brand justru terletak pada otentisitas. Sebuah barang mungkin laku karena iklan yang bombastis, namun manusia hanya akan mendapatkan kepercayaan (trust) jika ada koneksi emosional.
Dalam ulasan ini, kita melihat bahwa pendekatan "iklan" dalam Be The Brand seharusnya tidak membuat kita menjadi kaku. Sebaliknya, teknik pemasaran tersebut hanyalah "kendaraan" agar jiwa dan nilai yang kita miliki bisa sampai ke audiens yang tepat. Kita tidak hanya menjual fungsi, tapi kita sedang membangun hubungan.
Kesimpulan: Brand yang Memiliki Nyawa
Buku Be The Brand adalah kompas yang tepat bagi Anda yang ingin memulai tanpa pusing dengan teori yang berat. Namun, kunci utamanya tetaplah pada keseimbangan. Gunakan strategi pemasaran Jules Marcoux untuk keteraturan, tapi tetap gunakan hati Anda untuk membangun interaksi. Karena pada akhirnya, kita tidak sedang beriklan kepada robot, melainkan kepada sesama manusia yang mendambakan ketulusan.

Posting Komentar untuk "Membangun Personal Brand: Antara Strategi Pemasaran dan Kejujuran Rasa"
Posting Komentar