Mengapa Dolar Rp17.700 Bikin Harga BBM dan Sembako Melonjak? Belajar dari Buku "Fixing the Dollar Now


Perkataan, "Tidak apa-apa dolar naik, toh kita belanja di pasar pakai Rupiah, bukan dolar"? Memang sering menjadi blunder komunikasi, karena pada kenyataannya, struktur ekonomi kita masih sangat bergantung pada dolar (terutama untuk impor bahan baku dan minyak).

Bagi kita masyarakat awam yang setiap hari bergelut dengan realitas lapangan, diksi tersebut terasa seperti angin lalu yang kurang tepat. Faktanya, begitu kurs dolar AS menyentuh angka Rp.17.700, efek dominonya langsung terasa di dompet kita. Mulai dari harga bahan pokok yang merangkak naik, hingga biaya mengisi BBM, khususnya bagi pemilik kendaraan diesel yang kini harus mengelus dada melihat angka yang hampir menyentuh Rp30 ribuan per liter.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Mengapa dompet orang Indonesia selalu menjadi korban setiap kali mata uang Amerika Serikat itu bergejolak?

Untuk memahami fenomena ini tanpa pusing dengan istilah sosiologi-ekonomi yang rumit, kita bisa berkaca pada sebuah buku menarik karya ekonom dunia, Judy Shelton, yang berjudul Fixing the Dollar Now: Why US Money Lost Its Integrity and How We Can Restore It.

1. Ilusi "Kita Tidak Pakai Dolar" vs Realitas Sektor Riil

Secara fisik, kita memang bertransaksi menggunakan Rupiah. Namun, secara sistem, dapur Indonesia sangat bergantung pada dolar. Buku Judy Shelton menjelaskan bahwa sejak tahun 1971, dolar AS telah menjadi "raja tanpa mahkota" di dunia keuangan global (fiat money murni tanpa jaminan emas).

Ketika Bank Sentral Amerika (The Fed) mengacak-acak kebijakan moneter mereka demi menyelamatkan ekonomi domestik mereka sendiri, efek sampingnya diekspor ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Penyebab Harga BBM Diesel Melejit: Minyak mentah dunia dijual dalam satuan dolar. Ketika Rupiah melemah hingga Rp17.700, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah atau perusahaan untuk mengimpor minyak menjadi berkali-kali lipat lebih mahal. Angka Rp30 ribu per liter untuk diesel adalah realitas pahit dari "pajak tak terlihat" akibat melemahnya kurs kita.

Efek Domino Sembako: Banyak bahan pangan kita (seperti kedelai untuk tahu/tempe, terigu, hingga bahan baku pupuk) adalah barang impor yang dibeli pakai dolar. Jadi, saat dolar naik, biaya produksi otomatis naik, dan konsumen akhirlah yang menanggung bebannya.

2. Mengapa Dolar Kehilangan "Integritasnya" dan Kita yang Menanggung Akibatnya?

Dalam bukunya, Judy Shelton melontarkan kritik pedas: Dolar AS saat ini sudah kehilangan integritasnya. Mengapa? Karena nilainya tidak lagi diikat oleh aset fisik seperti emas, melainkan hanya dicetak berdasarkan keputusan politik para pejabat bank sentral di Washington.

Kondisi krisis hari ini adalah bukti nyata dari kekhawatiran Shelton. Ketika AS mencetak uang secara masif atau menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam inflasi mereka, modal-modal asing di Indonesia "pulang kampung" ke Amerika. Akibatnya, pasokan dolar di Indonesia menipis, dan hukum pasar berlaku: barang yang langka (dolar) harganya menjadi sangat mahal (menembus Rp17.700).

Kritik Shelton untuk Dunia Hari Ini: Sistem keuangan global saat ini sangat tidak adil bagi negara berkembang. Kita dipaksa tunduk pada ketidakpastian mata uang negara lain yang tidak bisa kita kontrol.

3. Apa Solusinya? Belajar dari Kritik Krisis Global

Shelton menawarkan solusi klasik yang radikal: dunia harus kembali ke Standar Emas Kontemporer (mengaitkan nilai uang dengan aset fisik yang stabil). Jika mata uang memiliki jangkar yang jelas, pengusaha di Indonesia tidak perlu cemas memikirkan kurs harian saat mau kulakan bahan baku, dan harga BBM tidak perlu sekasual itu melonjak drastis.

Saat ini, pemerintah Indonesia sebenarnya sedang mencoba melakukan langkah alternatif yang sejalan dengan semangat buku ini melalui kebijakan Local Currency Transaction (LCT) yaitu bertransaksi dagang dengan negara tetangga tanpa menggunakan dolar lagi. Namun, perjalanan menuju sana masih panjang.

Kesimpulan: Di Balik Angka Rp17.700

Membesarkan hati rakyat di tengah situasi sulit tentu adalah tugas pemerintah. Namun, menggunakan diksi yang mengabaikan realitas ketergantungan kita pada dolar justru bisa menjadi blunder. dasn buku Fixing the Dollar Now menyadarkan kita bahwa perut mules saat mengisi BBM diesel seharga Rp30 ribuan bukanlah sekadar masalah domestik semata. Ini adalah alarm keras dari sistem moneter dunia yang sedang rapuh. Dan selama sistem global ini belum diperbaiki, masyarakat awamlah yang harus tetap memperketat ikat pinggang.

Posting Komentar untuk "Mengapa Dolar Rp17.700 Bikin Harga BBM dan Sembako Melonjak? Belajar dari Buku "Fixing the Dollar Now"