Strawberry Generation Karya Rhenald Kasali: Ketika Anak-Anak Kita Tumbuh dalam Dunia yang Berbeda
Salah satunya adalah Strawberry Generation karya Rhenald Kasali.
Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Mizan pada 2017. Edisi yang tercatat di katalog Perpustakaan Jakarta memiliki 279 halaman dan ISBN 978-602-441-029-2.
Sekilas, judul buku ini mungkin terdengar seperti kritik terhadap generasi muda.
Namun setelah melihat gagasan yang dibawa Rhenald Kasali, persoalannya ternyata lebih luas.
Buku ini tidak hanya berbicara tentang anak muda yang dianggap mudah menyerah atau gampang sakit hati. Rhenald juga mengajak pembaca melihat perubahan zaman, pola pikir, pendidikan, orang tua, dan cara mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan.
Dan menurut saya, justru di situlah buku ini menarik untuk dibaca kembali.
Apa Itu Strawberry Generation?
Mengapa menggunakan istilah strawberry generation?
Rhenald Kasali menggunakan karakter buah stroberi sebagai sebuah metafora. Stroberi terlihat menarik dan indah, tetapi relatif rapuh ketika mendapatkan tekanan. Dalam penjelasan resmi mengenai bukunya, Rhenald menggambarkan strawberry generation sebagai bagian dari generasi yang memiliki banyak gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan mudah sakit hati ketika menghadapi tantangan.
Dengan demikian, istilah ini bukan sekadar mengatakan bahwa anak muda sekarang malas.
Justru ada paradoks di dalamnya.
Mereka bisa memiliki banyak ide.
Mereka bisa kreatif.
Mereka bisa memiliki akses informasi yang luar biasa.
Mereka bisa sangat cepat mempelajari teknologi.
Tetapi persoalannya adalah bagaimana mereka menghadapi kesulitan ketika apa yang mereka inginkan tidak berjalan sesuai harapan.
Menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diperoleh melalui jalan pintas. Karena itu, mentalitas yang mudah rapuh perlu diubah menjadi mentalitas yang lebih tangguh.
Mengapa Buku Ini Masih Relevan?
Buku ini terbit pada 2017.
Saat itu media sosial memang sudah berkembang pesat. Smartphone sudah menjadi bagian kehidupan. Generasi muda juga sudah mulai mengalami perubahan besar dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.
Tetapi hampir satu dekade kemudian, perubahan tersebut justru semakin kuat.
Anak-anak sekarang tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan masa kecil orang tua mereka.
Informasi tersedia hampir tanpa batas.
Teknologi berkembang sangat cepat.
Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia belajar dan bekerja.
Media sosial membuat seseorang dapat membandingkan dirinya dengan begitu banyak orang.
Sementara itu, orang tua juga memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk memberikan fasilitas kepada anak.
Di sinilah gagasan Strawberry Generation menjadi menarik.
Bukan untuk mengatakan bahwa anak zaman sekarang lebih buruk.
Tetapi untuk bertanya:
«Kalau dunia sudah berubah, apakah cara kita mempersiapkan anak juga harus berubah?»
Anak Zaman Dulu Ditempa oleh Keterbatasan
Banyak orang tua sekarang tumbuh dalam kondisi yang lebih sederhana.
Ketika ingin membeli sesuatu, mereka harus menabung.
Ketika tidak mempunyai kendaraan, mereka berjalan atau menggunakan kendaraan umum.
Ketika orang tua mengalami kesulitan ekonomi, anak ikut merasakan keterbatasan tersebut.
Banyak anak juga terbiasa membantu pekerjaan rumah atau membantu orang tua.
Mereka mungkin tidak menyebut pengalaman itu sebagai pendidikan karakter.
Tetapi kehidupan mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Tidak punya uang mengajarkan menunggu.
Kegagalan mengajarkan mencoba lagi.
Keterbatasan mengajarkan mencari alternatif.
Tanggung jawab mengajarkan kemandirian.
Kekecewaan mengajarkan bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi.
Kesulitan menjadi semacam sekolah kehidupan.
Tetapi kita juga tidak boleh meromantisasi masa lalu.
Tidak semua kesulitan menghasilkan manusia tangguh. Sebagian pengalaman buruk justru dapat meninggalkan luka.
Karena itu, kita tidak perlu mengambil kesimpulan bahwa anak harus dibuat susah supaya menjadi kuat.
Itu bukan pesan yang harus kita ambil.
Ketika Orang Tua Berusaha Memberikan yang Terbaik
Justru ada persoalan yang lebih menarik.
Banyak orang tua bekerja keras supaya anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik.
Orang tua berkata:
«“Saya dulu susah. Anak saya jangan sampai mengalami kesusahan seperti saya.”»
Maka anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Mendapatkan fasilitas teknologi.
Mendapatkan kendaraan.
Mendapatkan akses informasi.
Mendapatkan berbagai kesempatan yang dahulu tidak dimiliki orang tuanya.
Semua itu adalah sesuatu yang positif.
Tetapi ada risiko ketika fasilitas berubah menjadi ketergantungan.
Anak tidak hanya dibantu ketika membutuhkan.
Semua masalah juga diselesaikan oleh orang tua.
Ketika anak lupa sesuatu, orang tua datang.
Ketika anak gagal, orang tua turun tangan.
Ketika anak menghadapi konflik, orang tua ikut menyelesaikannya.
Ketika anak kecewa, orang tua segera berusaha menghilangkan kekecewaan itu.
Anak akhirnya memiliki banyak fasilitas, tetapi semakin sedikit kesempatan untuk berlatih menghadapi kehidupan.
Dari Passenger Menjadi Driver
Salah satu gagasan yang menonjol dalam buku ini adalah perubahan dari passenger menjadi driver.
Rhenald menggunakan metafora tersebut untuk menggambarkan pentingnya seseorang mengambil kendali atas kehidupannya sendiri. Ia juga menghubungkannya dengan perubahan dari fixed mindset menuju growth mindset.
Bayangkan dua orang berada di dalam kendaraan.
Yang satu duduk sebagai penumpang.
Ia tinggal menunggu kendaraan sampai ke tujuan.
Yang lain menjadi pengemudi.
Ia harus menentukan arah, membaca situasi, menghindari hambatan, dan mengambil keputusan ketika jalan berubah.
Dalam kehidupan, seorang anak tentu tetap membutuhkan orang tua.
Tetapi pada akhirnya, anak harus belajar menjadi driver bagi kehidupannya sendiri.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah pola pengasuhan kita memberi kesempatan kepada anak untuk memegang kemudi?
Atau kita terlalu sering mengambil alih?
Anak Tidak Harus Dibuat Menderita
Jangan sampai istilah strawberry generation diterjemahkan menjadi:
«“Anak sekarang manja. Maka harus dididik keras seperti zaman dulu.”»
Itu bukan kesimpulan yang bijaksana.
Kita bisa mengambil pelajaran dari generasi sebelumnya tanpa harus mengulang semua pengalaman mereka.
Anak tidak perlu dibuat miskin agar belajar menghargai uang.
Tidak perlu dipermalukan agar tahan terhadap kritik.
Tidak perlu dipukul agar disiplin.
Tidak perlu sengaja dibuat gagal agar belajar bangkit.
Yang diperlukan adalah kesempatan menghadapi tantangan yang sesuai dengan usia dan kemampuannya.
Ada perbedaan antara membuat anak menderita dan membiarkan anak belajar menghadapi kesulitan.
Perbedaan itu sangat penting.
Anak Perlu Belajar Menghadapi Kata “Tidak”
Salah satu pendidikan sederhana yang sering terlupakan adalah mengajarkan anak bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi.
Orang tua boleh berkata:
«“Kita belum bisa membelinya.”»
Anak boleh kecewa.
Anak boleh menangis.
Tetapi orang tua tidak selalu harus mengubah keputusan hanya karena anak kecewa.
Sebab kelak kehidupan akan mengatakan “tidak” berkali-kali.
Tidak diterima di sekolah yang diinginkan.
Tidak mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.
Tidak memenangkan kompetisi.
Tidak diterima oleh seseorang.
Tidak mendapatkan kesempatan.
Tidak mencapai target.
Kalau anak sejak kecil tidak pernah belajar menghadapi kata “tidak”, bagaimana ia akan menghadapi penolakan ketika dewasa?
Kegagalan Bukan Musuh Anak
Kita sering takut anak gagal.
Padahal kegagalan yang berada dalam batas aman dapat menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga.
Anak mendapat nilai buruk.
Jangan hanya bertanya:
«“Mengapa nilaimu jelek?”»
Coba bertanya:
«“Bagian mana yang sulit?”»
Anak kalah dalam pertandingan.
Jangan langsung menyalahkan pelatih atau wasit.
Tanyakan:
«“Apa yang kamu pelajari?”»
Anak gagal melakukan sesuatu.
Jangan buru-buru mengambil alih.
Tanyakan:
«“Mau mencoba lagi?”»
Di sinilah anak belajar bahwa kegagalan bukan identitas.
Gagal melakukan sesuatu tidak berarti dirinya adalah seorang yang gagal.
Kegagalan adalah pengalaman.
Dari pengalaman itu seseorang dapat belajar.
Bagaimana dengan Kesehatan Mental Anak?
Di sinilah kita perlu memberikan catatan penting.
Istilah strawberry generation tidak boleh digunakan untuk menganggap semua anak yang mengalami persoalan kesehatan mental sebagai anak manja atau lemah.
Persoalan kesehatan mental jauh lebih kompleks daripada sekadar pola asuh.
Anak bisa mengalami tekanan dari keluarga, sekolah, pertemanan, media sosial, lingkungan, perubahan kehidupan, maupun berbagai faktor psikologis dan biologis.
Karena itu, ketika seorang anak benar-benar mengalami persoalan kesehatan mental, ia membutuhkan perhatian dan dukungan yang tepat.
Tetapi perhatian terhadap kesehatan mental juga tidak berarti anak harus dilindungi dari seluruh bentuk kesulitan.
Anak tetap perlu belajar menghadapi frustrasi.
Tetap perlu belajar bertanggung jawab.
Tetap perlu belajar menyelesaikan konflik.
Tetap perlu belajar menghadapi kegagalan.
Dengan kata lain, kesehatan mental dan ketangguhan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Buku Ini?
Menurut saya, salah satu pertanyaan terbesar yang ditinggalkan buku Strawberry Generation bukanlah:
«“Apakah anak saya termasuk generasi stroberi?”»
Pertanyaan itu terlalu sederhana.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
«“Apakah pola pengasuhan saya sedang membantu anak menjadi manusia yang mampu menghadapi kehidupan?”»
Ini membuat kita sebagai orang tua ikut bercermin.
Apakah kita terlalu cepat memberikan solusi?
Apakah kita terlalu takut melihat anak kecewa?
Apakah kita terlalu sering mengambil alih?
Apakah kita memberikan terlalu banyak fasilitas tetapi terlalu sedikit tanggung jawab?
Apakah anak diberi kesempatan mengambil keputusan?
Apakah anak diperbolehkan melakukan kesalahan?
Apakah kita mendengarkan perasaannya tanpa selalu menuruti keinginannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada sekadar memberikan label kepada anak.
Buku Lama, Pertanyaan yang Masih Baru
Ada alasan mengapa buku lama kadang layak dibaca kembali.
Bukan karena semua yang ditulis di dalamnya pasti masih berlaku.
Tetapi karena pertanyaan yang diajukan sebuah buku bisa tetap relevan meskipun zamannya berubah.
Strawberry Generation terbit ketika teknologi digital belum sedalam sekarang. Namun persoalan tentang ketangguhan, pola pikir, pendidikan, perubahan, tanggung jawab, dan cara generasi muda menghadapi tantangan tetap menjadi pembicaraan penting.
Buku ini pada dasarnya mengajak pembaca memikirkan perubahan.
Perubahan dunia.
Perubahan generasi.
Perubahan cara berpikir.
Dan perubahan cara mendidik.
Rhenald menekankan bahwa fixed mindset perlu digantikan dengan growth mindset, sementara mental passenger perlu berubah menjadi driver.
Bagi orang tua, gagasan itu bisa diterjemahkan secara sederhana:
Jangan hanya membuat anak nyaman. Persiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan.
Pada Akhirnya, Anak Harus Memegang Kemudinya Sendiri
Saya kira inilah alasan mengapa Strawberry Generation menarik untuk dibaca, bahkan ketika buku tersebut bukan buku baru lagi.
Kita tidak harus menerima begitu saja semua label tentang generasi muda.
Kita juga tidak perlu mengatakan bahwa generasi dahulu lebih baik.
Setiap generasi tumbuh dalam tantangan zamannya masing-masing.
Yang penting adalah bagaimana kita mempersiapkan generasi berikutnya.
Orang tua tidak perlu mewariskan penderitaan kepada anak.
Tetapi kita bisa mewariskan ketangguhan.
Tidak perlu mewariskan luka.
Tetapi kita bisa mewariskan hikmah.
Tidak perlu membuat jalan hidup anak penuh batu.
Tetapi kita perlu mengajarkan mereka bagaimana melewati batu ketika suatu hari mereka menemukannya.
Sebab suatu saat nanti, anak-anak kita akan meninggalkan rumah.
Kita tidak lagi bisa mengantarkan mereka ke setiap tujuan.
Tidak bisa menyelesaikan semua masalah.
Tidak bisa memperbaiki setiap kegagalan.
Tidak bisa menghapus semua kekecewaan.
Pada saat itulah mereka harus memegang kemudi sendiri.
Dan mungkin pertanyaan terbesar dari Strawberry Generation bukan:
“Apakah anak kita generasi stroberi?”
Melainkan:
«“Apakah kita sudah mempersiapkan mereka untuk menjadi pengemudi dalam kehidupannya sendiri?”»
Itulah pertanyaan yang menurut saya membuat buku karya Rhenald Kasali ini masih layak dibaca kembali.


Posting Komentar untuk "Strawberry Generation Karya Rhenald Kasali: Ketika Anak-Anak Kita Tumbuh dalam Dunia yang Berbeda"
Posting Komentar