Kekayaan Anda yang Paling Berharga — Elwood N. Chapman dan Pelajaran tentang Pengembangan Diri
Mengenal Buku Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga Karya Elwood N. Chapman
Ada banyak hal yang dianggap menentukan keberhasilan seseorang: tingkat pendidikan, kecerdasan, pengalaman, kekayaan, usia, jabatan, dan lingkungan pergaulan. Namun, bagaimana jika ada satu faktor lain yang tidak kalah penting, bahkan dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan seluruh kelebihan tersebut?
Faktor itu adalah sikap.
Gagasan inilah yang menjadi inti buku Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga, karya Elwood N. Chapman, yang judul aslinya adalah Attitude: Your Most Priceless Possession. Buku ini merupakan salah satu karya klasik dalam bidang pengembangan diri (self-help) yang mengajak pembaca memperhatikan bagaimana sikap memengaruhi kehidupan pribadi, hubungan antarmanusia, serta keberhasilan dalam pekerjaan.
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Binarupa Aksara. Diterjemahkan oleh Agus Maulana, dengan ketebalan 76 halaman. Sementara itu, edisi bahasa Inggris tercatat telah diterbitkan oleh Crisp Publications pada 1980-an dan mengalami beberapa kali revisi.
Walaupun tergolong buku lama, tema yang dibahas Chapman tetap relevan. Kita hidup dalam masyarakat yang semakin kompetitif, dengan perubahan teknologi yang cepat, tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, dan interaksi sosial yang kerap menguras energi emosional.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar seberapa banyak kemampuan yang kita miliki, melainkan bagaimana kita bersikap ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Mengapa Sikap Menjadi Kekayaan yang Paling Berharga?
Judul buku ini mengandung sebuah pernyataan yang menarik: sikap merupakan kekayaan yang paling berharga.
Kekayaan biasanya dikaitkan dengan sesuatu yang dapat dimiliki, dihitung, disimpan, diwariskan, atau dipertukarkan. Sebaliknya, sikap tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Namun, sikap memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain, menanggapi masalah, menjalankan tanggung jawab, dan mengambil keputusan.
Dua orang dapat menghadapi situasi yang serupa, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda.
Seorang karyawan, misalnya, mendapat kritik dari atasannya. Orang pertama menganggap kritik tersebut sebagai penghinaan dan langsung bersikap defensif. Orang kedua mencoba memahami bagian mana yang perlu diperbaiki, meskipun ia tetap dapat menyampaikan keberatan jika kritik itu tidak adil.
Perbedaannya bukan semata-mata terletak pada kecerdasan atau kemampuan teknis, melainkan juga pada sikap ketika menghadapi ketidaknyamanan.
Demikian pula dalam keluarga. Ketika pasangan melakukan kesalahan, seseorang dapat memilih untuk mempermalukan pasangannya atau membicarakan persoalan tersebut dengan tujuan mencari penyelesaian.
Sikap tidak otomatis menghilangkan masalah. Akan tetapi, sikap dapat memengaruhi apakah masalah itu berkembang menjadi konflik berkepanjangan atau menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Inilah salah satu alasan mengapa gagasan Chapman tetap layak dibaca: ia mengajak pembaca memeriksa sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu cara mereka merespons kehidupan sehari-hari.
Sikap Positif Tidak Ditentukan oleh Usia, Pendidikan, atau Profesi
Salah satu gagasan menarik yang dapat ditarik dari buku ini adalah bahwa sikap positif tidak secara otomatis dimiliki seseorang hanya karena ia mempunyai latar belakang yang baik.
Orang berpendidikan tinggi belum tentu terbuka terhadap kritik. Orang yang memiliki banyak uang belum tentu murah hati. Seseorang yang menduduki jabatan tinggi belum tentu mampu menghargai orang lain. Sebaliknya, orang dengan pendidikan terbatas atau pekerjaan sederhana dapat memperlihatkan kedewasaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab yang mengagumkan.
Dengan demikian, sikap bukanlah hak istimewa kelompok tertentu.
Seseorang tidak harus menunggu menjadi kaya, memperoleh gelar akademis, menduduki jabatan penting, atau mencapai usia tertentu untuk mulai membangun sikap yang lebih baik.
Hal yang sama berlaku sebaliknya. Prestasi masa lalu tidak menjamin bahwa seseorang akan selalu bersikap baik. Orang yang pernah menjadi pemimpin teladan pun dapat menjadi arogan. Seseorang yang dahulu dikenal sabar dapat menjadi mudah tersinggung ketika menghadapi tekanan berkepanjangan.
Karena itu, sikap perlu diperiksa secara berkala.
Namun, ada satu catatan penting. Mengatakan bahwa sikap tidak ditentukan oleh usia, profesi, atau status sosial bukan berarti lingkungan sama sekali tidak berpengaruh. Pola asuh, pengalaman traumatis, diskriminasi, kondisi ekonomi, kesehatan, dan kualitas hubungan sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi sikap, tetapi tidak selalu menentukan seluruh kemungkinan perubahan seseorang.
Kita perlu mengakui pengaruh lingkungan tanpa menganggap manusia kehilangan kemampuan untuk belajar dan berkembang.
Mengapa Sikap Perlu Di-upgrade Secara Berkala?
Sikap juga dapat mengalami kelelahan
Salah satu kelebihan pendekatan Chapman adalah gagasan bahwa sikap positif tidak cukup dibentuk sekali, kemudian dibiarkan begitu saja.
Bayangkan baterai sebuah kendaraan. Ketika digunakan terus-menerus, daya baterai dapat berkurang. Demikian pula semangat dan kesabaran seseorang dapat terkuras oleh rutinitas, beban kerja, konflik, kekecewaan, dan interaksi dengan orang yang sulit.
Seseorang yang biasanya ramah mungkin mulai mudah marah setelah berbulan-bulan menghadapi beban kerja yang tidak seimbang. Orang tua yang penuh kasih sayang mungkin menjadi lebih mudah membentak ketika kurang tidur dan tidak memperoleh dukungan. Seorang pemimpin yang dahulu bersemangat dapat kehilangan antusiasme ketika menghadapi kegagalan berulang.
Situasi semacam itu tidak selalu berarti seseorang telah berubah menjadi pribadi yang buruk. Bisa jadi, ia sedang mengalami kelelahan dan membutuhkan penyesuaian.
Gagasan tentang attitude adjustment atau penyesuaian sikap membantu kita memahami bahwa pemeliharaan sikap merupakan bagian dari proses pengembangan diri.
Mengenali perubahan sebelum menjadi kebiasaan
Masalahnya, perubahan sikap sering kali terjadi secara perlahan.
Awalnya kita hanya sesekali mengeluh. Kemudian, keluhan menjadi respons otomatis. Kita mulai melihat kekurangan orang lain lebih cepat daripada kelebihannya. Kritik terasa seperti serangan pribadi. Kesalahan kecil dianggap sebagai bukti bahwa orang lain memang tidak dapat dipercaya.
Jika pola tersebut terus berulang, sikap negatif dapat berubah menjadi kebiasaan.
Karena itu, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
- Apakah akhir-akhir ini saya lebih mudah marah daripada biasanya?
- Apakah saya semakin sulit menerima kritik?
- Apakah saya lebih sering menyalahkan orang lain daripada mencari penyelesaian?
- Apakah saya masih mampu melihat kemungkinan baik ketika menghadapi masalah?
- Apakah orang-orang di sekitar saya merasa aman ketika berbicara dengan saya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan alat untuk menghakimi diri sendiri. Sebaliknya, pertanyaan itu membantu kita mengenali pola yang mungkin selama ini tidak disadari.
Memperbarui sikap bukan berarti berpura-pura bahagia
Penting untuk membedakan sikap positif dari tuntutan untuk selalu terlihat bahagia.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, mengalami kedukaan, menghadapi konflik keluarga, atau sedang sakit tidak harus memaksakan senyum agar dianggap memiliki sikap yang baik.
Sikap positif yang sehat bukan penyangkalan terhadap kenyataan. Sikap positif adalah kemampuan untuk mengakui kenyataan, merasakan emosi yang muncul, lalu mencari respons yang paling masuk akal dan bertanggung jawab.
Kita dapat mengakui bahwa keadaan sedang buruk tanpa menyimpulkan bahwa seluruh masa depan pasti buruk.
Kita dapat merasa kecewa tanpa memperlakukan orang lain secara semena-mena.
Kita dapat mengakui keterbatasan tanpa berhenti mengembangkan kemampuan.
Di sinilah pembaruan sikap memiliki arti yang lebih mendalam daripada sekadar berpikir positif.
Perbandingan Buku Elwood N. Chapman dengan John C. Maxwell
Untuk memahami kekuatan gagasan Chapman secara lebih utuh, menarik untuk membandingkannya dengan John C. Maxwell, penulis dan pemikir kepemimpinan yang juga banyak membahas pentingnya sikap.
Maxwell mengangkat tema ini antara lain dalam The Winning Attitude dan The Difference Maker: Making Your Attitude Your Greatest Asset. Buku terakhir diterbitkan oleh Thomas Nelson pada 2006 dan membahas bagaimana sikap memengaruhi kehidupan pribadi, karier, serta hubungan dengan orang lain.
Keduanya sama-sama menempatkan sikap sebagai faktor penting dalam pengembangan diri. Namun, titik tekan mereka tidak sepenuhnya sama.
1. Chapman: sikap perlu dipelihara dan diperbarui
Chapman menekankan pentingnya mengenali kondisi sikap dan melakukan penyesuaian ketika sikap tersebut mulai merugikan diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain.
Pendekatannya praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca diajak memperhatikan bagaimana respons mental memengaruhi kinerja, hubungan interpersonal, dan cara menghadapi lingkungan kerja.
Kekuatan pendekatan ini terletak pada kesederhanaannya. Pembaca tidak harus menjadi ahli psikologi untuk mulai mengevaluasi sikap sendiri.
Pertanyaan utamanya adalah: bagaimana saya mengenali sikap yang mulai memburuk dan mengembalikannya ke arah yang lebih konstruktif?
2. Maxwell: sikap menentukan bagaimana kemampuan digunakan
Dalam The Difference Maker, Maxwell menyoroti perbedaan hasil yang dapat muncul ketika orang dengan kemampuan serupa menghadapi situasi yang sama, tetapi memiliki sikap berbeda.
Gagasan ini mengingatkan pembaca bahwa kompetensi saja tidak selalu cukup. Pengetahuan, bakat, dan kesempatan perlu disertai kemauan belajar, ketekunan, serta kesediaan menghadapi kesulitan.
Maxwell juga membahas batas-batas sikap. Sikap positif bukan pengganti kompetensi, keterampilan, atau tindakan nyata. Sikap yang baik tidak menjamin bahwa semua hal akan berjalan sesuai harapan, tetapi dapat membantu seseorang menggunakan kemampuannya secara lebih efektif.
Penjelasan ini penting agar gagasan tentang sikap tidak berubah menjadi anggapan bahwa siapa pun pasti sukses asalkan berpikir positif.
3. Perbedaan fokus: pemeliharaan diri dan pengaruh terhadap orang lain
Perbedaan lain terletak pada penekanan pembahasannya.
Chapman dapat dibaca sebagai panduan untuk memeriksa dan memperbarui sikap dalam kehidupan sehari-hari. Maxwell memperluas pembahasan dengan menghubungkan sikap dan pengaruh seseorang terhadap orang lain, khususnya dalam konteks kepemimpinan.
Seorang pemimpin, misalnya, tidak hanya bertanggung jawab atas sikap pribadinya. Cara ia menanggapi kegagalan, menerima masukan, dan memperlakukan anggota tim turut membentuk suasana kerja.
Pemimpin yang mudah menyalahkan orang lain dapat menciptakan lingkungan yang membuat anggota tim takut mengakui kesalahan. Sebaliknya, pemimpin yang tegas tetapi terbuka terhadap evaluasi dapat membantu tim belajar dari kegagalan.
Dalam keluarga, prinsip serupa berlaku. Sikap orang tua terhadap kesalahan anak dapat memengaruhi apakah anak berani mengakui kesalahannya atau justru belajar menyembunyikannya.
Maxwell mengingatkan kita bahwa sikap tidak berhenti sebagai urusan pribadi. Sikap juga mempunyai konsekuensi sosial.
4. Menghadapi rutinitas dan menghadapi kegagalan
Chapman relevan ketika kita merasa sikap mulai terkikis oleh rutinitas dan tekanan sehari-hari. Maxwell membantu memperluas refleksi tentang bagaimana sikap digunakan ketika menghadapi hambatan, perubahan, dan kegagalan.
Keduanya dapat dibaca secara saling melengkapi.
Kita membutuhkan kemampuan mengenali kapan semangat mulai menurun. Kita juga membutuhkan kemampuan untuk bertahan, belajar, dan menyesuaikan strategi ketika menghadapi kegagalan.
Namun, ketekunan bukan berarti terus memaksakan diri dalam situasi yang merusak. Kadang-kadang, sikap yang dewasa justru terlihat ketika seseorang berani meminta bantuan, menetapkan batas, atau meninggalkan strategi yang tidak lagi efektif.
Jika Chapman membantu kita memelihara sikap, Maxwell mengajak kita memahami bagaimana sikap tersebut memengaruhi tindakan dan orang lain.
Sikap Positif Bukan Segalanya: Batas Penting dalam Pengembangan Diri
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membaca buku motivasi adalah kecenderungan untuk menjelaskan terlalu banyak persoalan melalui sikap pribadi.
Jika seseorang gagal, ia dianggap kurang positif. Jika seseorang tidak berkembang dalam pekerjaan, ia dinilai tidak memiliki semangat. Jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, ia mungkin dianggap kurang gigih.
Penilaian seperti itu tidak selalu adil.
Keberhasilan dipengaruhi banyak faktor, termasuk kesempatan, sumber daya, kesehatan, pendidikan, kondisi keluarga, dan struktur sosial. Dua orang dengan sikap sama-sama baik dapat memperoleh hasil yang berbeda karena menghadapi kondisi yang berbeda.
Demikian pula, seseorang yang sedang mengalami depresi, kelelahan berat, atau tekanan berkepanjangan mungkin tidak cukup terbantu hanya dengan membaca kalimat motivasi.
Dalam keadaan seperti itu, dukungan sosial, perubahan lingkungan, istirahat, bantuan profesional, atau penyelesaian masalah konkret dapat diperlukan.
Hal ini tidak membatalkan gagasan Chapman maupun Maxwell. Justru, pemahaman yang seimbang membuat gagasan mereka lebih berguna.
Sikap positif sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber daya penting dalam menghadapi kehidupan, bukan satu-satunya penentu hasil kehidupan.
Kita tetap perlu memperbaiki sikap, tetapi juga memperbaiki sistem kerja, membangun relasi yang sehat, meningkatkan keterampilan, dan mencari pertolongan ketika diperlukan.
Cara Meningkatkan Sikap Positif dalam Kehidupan Sehari-hari
Apa manfaat praktis yang dapat diperoleh pembaca dari gagasan Chapman dan Maxwell? Berikut tujuh langkah yang dapat digunakan sebagai latihan pengembangan diri.
1. Melakukan evaluasi sikap setiap hari
Luangkan beberapa menit untuk meninjau respons terhadap kejadian yang dialami.
Tidak perlu menilai seluruh kehidupan sekaligus. Pilih satu kejadian yang memancing kemarahan, kekecewaan, atau rasa tidak berdaya.
Tanyakan: apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana saya merespons, dan adakah respons lain yang lebih baik?
Tujuannya bukan mencari kesalahan diri tanpa henti, melainkan mengenali pola yang dapat diperbaiki.
2. Memisahkan fakta dari penafsiran
Ketika seseorang tidak membalas pesan, fakta yang kita ketahui hanyalah bahwa ia belum membalas pesan.
Kesimpulan bahwa ia tidak menghargai kita masih merupakan penafsiran yang perlu diperiksa.
Kebiasaan membedakan fakta dari asumsi membantu mengurangi reaksi berlebihan dan membuka kemungkinan penjelasan lain.
3. Mengubah keluhan menjadi pertanyaan pemecahan masalah
Keluhan dapat membantu mengungkapkan ketidakpuasan, tetapi keluhan yang berulang tanpa tindakan sering membuat seseorang semakin terjebak dalam masalah.
Cobalah mengubah pertanyaan dari "Mengapa semuanya selalu buruk?" menjadi "Bagian mana yang dapat saya perbaiki sekarang?"
Perubahan pertanyaan tersebut tidak menghapus persoalan. Namun, perhatian mulai diarahkan pada tindakan yang mungkin dilakukan.
4. Memperhatikan kondisi fisik dan emosional
Kurang tidur, kelelahan, beban kerja, dan tekanan berkepanjangan dapat memengaruhi kesabaran serta kemampuan mengambil keputusan.
Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa diri sendiri atau orang lain mempunyai sikap buruk, periksa juga kondisi yang sedang dihadapi.
Terkadang, yang diperlukan bukan ceramah motivasi, melainkan istirahat, pembagian tanggung jawab yang lebih adil, atau percakapan yang jujur.
5. Melatih dialog internal yang realistis
Dialog internal adalah cara kita berbicara kepada diri sendiri.
Daripada mengatakan, "Saya selalu gagal," cobalah mengatakan, "Saya belum berhasil dalam hal ini, tetapi saya dapat memeriksa apa yang perlu diperbaiki."
Perhatikan bahwa kalimat kedua bukan optimisme kosong. Kalimat itu mengakui kegagalan sekaligus mempertahankan kemungkinan untuk belajar.
6. Meminta umpan balik dari orang yang dipercaya
Kita tidak selalu mampu melihat sikap sendiri dengan jelas.
Tanyakan kepada orang yang dapat memberikan masukan secara jujur: bagaimana cara saya merespons kritik? Apakah saya terlalu defensif? Apakah saya memberi ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat?
Masukan semacam ini dapat membantu menemukan pola yang tidak terlihat melalui introspeksi saja.
7. Mengukur perubahan melalui tindakan
Sikap positif tidak cukup dinilai berdasarkan perasaan atau niat.
Perhatikan perubahan yang dapat diamati: apakah kita lebih mampu mendengarkan sebelum menjawab, lebih bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, lebih konsisten menjalankan tugas, atau lebih bersedia meminta maaf?
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi tanda bahwa proses pembaruan sikap mulai menghasilkan sesuatu yang nyata.
Mengapa Buku Ini Masih Relevan bagi Pembaca Masa Kini?
Di tengah banyaknya buku pengembangan diri yang menawarkan perubahan besar dalam waktu singkat, buku Chapman mengangkat persoalan yang lebih mendasar: bagaimana kita mempertahankan sikap yang sehat ketika kehidupan sehari-hari tidak selalu menyenangkan.
Relevansinya dapat dilihat dalam setidaknya tiga bidang.
Pertama, pengembangan diri. Pembaca diajak memahami bahwa pertumbuhan pribadi bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga mengevaluasi kebiasaan berpikir dan merespons.
Kedua, hubungan interpersonal. Sikap memengaruhi bagaimana seseorang mendengarkan, menerima perbedaan, mengelola konflik, dan memperlakukan orang lain.
Ketiga, dunia kerja dan kepemimpinan. Kompetensi teknis akan lebih bermanfaat jika disertai tanggung jawab, kemauan belajar, keterbukaan terhadap kritik, dan kemampuan bekerja sama.
Bagi orang yang sedang mencari buku self-help tentang sikap positif, buku Chapman menawarkan titik awal yang relatif sederhana. Bagi pembaca yang ingin memperluas pembahasan ke kepemimpinan, karya John C. Maxwell dapat menjadi bacaan pendamping.
Keduanya mengingatkan bahwa pertumbuhan pribadi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita ketahui, tetapi juga oleh bagaimana pengetahuan itu diterjemahkan menjadi perilaku.
Kelebihan dan Keterbatasan Buku Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga
Sebagai sebuah review buku, penting untuk melihat kelebihan sekaligus batas pendekatannya.
Kelebihan buku
1. Tema yang universal. Sikap relevan bagi pelajar, pekerja, orang tua, pemimpin, maupun orang yang sedang mengevaluasi arah hidupnya.
2. Pendekatan praktis. Berdasarkan deskripsi bibliografis dan struktur edisi bahasa Inggris, buku ini dirancang sebagai panduan praktis untuk memperbaiki sikap dan hubungan antarmanusia, bukan sebagai buku teori psikologi yang berat.
3. Mudah diterapkan. Gagasan mengenai penyesuaian sikap dapat diterjemahkan menjadi latihan refleksi, pengelolaan respons, dan evaluasi kebiasaan sehari-hari.
4. Tetap relevan meskipun tergolong klasik. Persoalan seperti kejenuhan, kritik, konflik, dan kesulitan mempertahankan semangat masih ditemukan dalam kehidupan modern.
Keterbatasan yang perlu diperhatikan
1. Sikap tidak menjelaskan seluruh persoalan manusia. Masalah struktural, keterbatasan sumber daya, kondisi kesehatan, dan lingkungan yang tidak aman tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan pola pikir.
2. Optimisme harus disertai tindakan. Sikap positif tanpa kompetensi, perencanaan, dan pelaksanaan dapat berakhir sebagai harapan tanpa hasil.
3. Tidak semua masalah memerlukan penyesuaian sikap pribadi. Dalam situasi ketidakadilan atau perlakuan yang merugikan, tindakan yang tepat mungkin berupa penetapan batas, pencarian dukungan, atau perubahan lingkungan.
4. Konteks zaman telah berubah. Sebagai buku klasik, sebagian contoh dan konteks dunia kerjanya mungkin terasa berbeda dari pengalaman pembaca masa kini. Pembaca perlu menerapkan prinsip dasarnya secara kritis, bukan menyalin semua penerapannya secara harfiah.
Perlu dicatat bahwa penilaian ini merupakan evaluasi terhadap gagasan dan pendekatan buku berdasarkan informasi bibliografis yang tersedia. Tanpa menelaah keseluruhan teks setiap edisi, penilaian ini tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap setiap bab atau latihan secara spesifik.
Kesimpulan: Sikap Adalah Kekayaan yang Harus Dijaga, Bukan Sekadar Dimiliki
Buku Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga karya Elwood N. Chapman mengingatkan pembaca bahwa sikap merupakan bagian penting dari kehidupan yang kerap tidak memperoleh perhatian memadai.
Kita dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan pengalaman. Namun, tanpa kesediaan mengevaluasi cara berpikir dan bertindak, seluruh kemampuan tersebut mungkin tidak digunakan secara optimal.
Yang menarik, sikap bukan sesuatu yang selesai dibentuk ketika seseorang beranjak dewasa. Sikap dapat berkembang, melemah, dan berubah seiring pengalaman. Karena itu, setiap orang memiliki alasan untuk terus memeriksa dan memperbaruinya.
Pemikiran Chapman menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan John C. Maxwell. Chapman menekankan pentingnya pemeliharaan dan penyesuaian sikap, sedangkan Maxwell membantu kita melihat bagaimana sikap memengaruhi kemampuan, tindakan, dan hubungan dengan orang lain.
Namun, pelajaran terpentingnya bukan bahwa kita harus selalu berpikir positif atau menyalahkan diri ketika menghadapi kesulitan. Pelajaran terpentingnya adalah bahwa kita perlu belajar membedakan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dari respons yang masih dapat kita perbaiki.
Kita tidak selalu dapat menentukan perlakuan orang lain, kondisi ekonomi, atau hasil setiap usaha. Akan tetapi, kita dapat belajar merespons dengan lebih bijaksana, mencari bantuan ketika diperlukan, dan memperbaiki perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, kekayaan sikap tidak terlihat dari seberapa sering seseorang mengatakan bahwa dirinya positif, melainkan dari bagaimana ia bertindak ketika menghadapi kekecewaan, perbedaan, kegagalan, dan tanggung jawab.
Itulah alasan mengapa buku klasik Chapman masih layak dibaca: bukan karena sikap dapat menyelesaikan segala sesuatu, melainkan karena cara kita bersikap merupakan bagian penting dari cara kita menjalani kehidupan.
Informasi Buku
- Judul: Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga
- Judul asli: Attitude: Your Most Priceless Possession
- Penulis: Elwood N. Chapman
- Penerbit edisi Indonesia: Binarupa Aksara
- Penerjemah: Agus Maulana
- Tahun edisi Indonesia yang tercatat: 1991
- Tebal: 76 halaman
- Genre: Pengembangan diri ( self-help), sikap, hubungan interpersonal, dan manajemen

Posting Komentar untuk "Kekayaan Anda yang Paling Berharga — Elwood N. Chapman dan Pelajaran tentang Pengembangan Diri"
Posting Komentar