Review Buku The Trouble with Being Born Karya Emil Cioran: Mengapa Manusia Harus Dilahirkan untuk Menderita?


Ketika Kelahiran Menjadi Sebuah Persoalan: Membaca The Trouble with Being Born

Kebanyakan manusia menganggap kelahiran sebagai sebuah peristiwa yang patut dirayakan. Kehidupan dipandang sebagai anugerah, kesempatan, dan perjalanan yang harus dijalani sebaik mungkin. Kita tumbuh dengan berbagai keyakinan bahwa hidup mempunyai tujuan, penderitaan mempunyai alasan, dan setiap manusia mempunyai sesuatu yang harus diperjuangkan.

Namun, bagaimana jika kita membalik seluruh pemikiran tersebut?

Bagaimana jika persoalan terbesar manusia bukanlah kematian, melainkan kenyataan bahwa ia sudah telanjur dilahirkan?
Emil Cioran
Pertanyaan inilah yang menjadi pusat pemikiran Emil Cioran dalam bukunya The Trouble with Being Born atau De l'inconvénient d'être né, yang diterbitkan dalam bahasa Prancis pada 1973.

Cioran, seorang filsuf dan penulis asal Rumania yang kemudian menetap di Paris, dikenal melalui tulisan-tulisan pendek yang tajam, pesimistis, ironis, dan sering kali provokatif. Ia tidak membangun sebuah sistem filsafat yang tersusun secara akademis. Sebaliknya, ia menggunakan aforisme, yakni ungkapan pendek yang memuat pemikiran mendalam, untuk membongkar berbagai keyakinan yang selama ini dianggap wajar oleh manusia.

Dalam buku ini, ia mempertanyakan kelahiran, kematian, waktu, Tuhan, agama, penderitaan, hubungan antarmanusia, hingga alasan seseorang harus bangun dari tempat tidurnya setiap pagi.

Buku ini bukan bacaan yang menawarkan motivasi untuk menjalani kehidupan. Justru sebaliknya, Cioran mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut yang paling tidak nyaman: kemungkinan bahwa keberadaan manusia itu sendiri merupakan sebuah kecelakaan yang tidak pernah dimintanya.

1. Filsafat Pesimisme: Masalah Manusia Dimulai Sejak Kelahiran

Salah satu gagasan paling radikal Cioran adalah pandangannya bahwa kelahiran merupakan awal dari segala persoalan manusia.

Sebelum dilahirkan, manusia tidak mempunyai kesadaran mengenai dirinya. Ia tidak mengenal kecemasan, kehilangan, persaingan, kekecewaan, maupun kematian. Namun, begitu dilahirkan, ia memasuki dunia yang penuh tuntutan dan ketidakpastian.

Manusia tidak pernah diminta memberikan persetujuan untuk dilahirkan. Ia tidak memilih orang tua, tempat kelahiran, kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial, ataupun zaman ketika ia harus hidup.

Akan tetapi, setelah hadir di dunia, ia harus menanggung seluruh konsekuensinya.

Di sinilah pemikiran Cioran menjadi menarik. Ia tidak sekadar mengeluhkan penderitaan manusia, tetapi mempertanyakan mengapa manusia harus mengalami seluruh penderitaan tersebut sejak awal.

Pandangan ini dapat dikaitkan dengan antinatalisme, yaitu pemikiran filosofis yang mempertanyakan moralitas menghadirkan manusia baru ke dunia karena kehidupan mengandung risiko penderitaan.

Namun, perlu dibedakan bahwa buku Cioran bukanlah manifesto sistematis antinatalisme. Ia lebih banyak mengungkapkan pemberontakan personal terhadap fakta kelahiran daripada menyusun teori etika tentang reproduksi.

Pertanyaan yang ditinggalkannya tetap mengguncang: apakah kehidupan otomatis menjadi sesuatu yang baik hanya karena kehidupan itu ada?

2. Kesadaran Diri dan Ego: Ketika Manusia Menjadi Tawanan Pikirannya Sendiri

Hal menarik lainnya adalah kritik Cioran terhadap kesadaran manusia.

Kita sering menganggap kemampuan berpikir dan mengenali diri sendiri sebagai kelebihan manusia. Kesadaran memungkinkan kita memahami masa lalu, merencanakan masa depan, membangun hubungan, dan mengevaluasi tindakan.

Namun, kemampuan yang sama juga dapat menjadi sumber penderitaan.

Manusia tidak hanya mengalami kesedihan, tetapi juga memikirkan mengapa dirinya bersedih. Ia bukan hanya mengalami kegagalan, tetapi terus mengingatnya, membandingkannya dengan keberhasilan orang lain, dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi.

Kesadaran membuat manusia mampu memperpanjang penderitaannya melalui ingatan dan imajinasi.

Di sinilah kritik Cioran terhadap ego menemukan relevansinya. Manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri: bagaimana orang lain menilainya, apa yang telah dicapainya, apa yang belum dimilikinya, dan bagaimana masa depannya nanti.

Ego membuat manusia seolah-olah menjadi pusat dari segala sesuatu.

Padahal, alam semesta tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi harapan manusia. Dunia tetap bergerak tanpa memedulikan ambisi, kekecewaan, ataupun keberhasilan seseorang.

Gagasan ini mengingatkan kita bahwa sebagian penderitaan bukan hanya berasal dari kenyataan, melainkan juga dari hubungan rumit antara kenyataan dan pikiran kita sendiri.

3. Insomnia, Kesunyian, dan Penderitaan yang Tidak Terlihat

Salah satu sisi menarik kehidupan Cioran adalah pengalaman insomnia yang sangat memengaruhi pemikirannya.

Bagi seseorang yang mengalami kesulitan tidur, malam bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Malam dapat menjadi ruang ketika pikiran bekerja tanpa henti, sementara dunia di sekitarnya berhenti beraktivitas.

Tidak ada kesibukan pekerjaan, percakapan sosial, atau berbagai tuntutan yang biasanya mengalihkan perhatian.

Yang tersisa adalah diri sendiri dan pikirannya.

Dalam situasi semacam itu, seseorang bisa berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dihindari pada siang hari: apakah hidup yang dijalani sudah benar? Mengapa pengalaman masa lalu masih membebani? Apa sebenarnya yang sedang dikejar?

Cioran memperlihatkan bagaimana kesunyian dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan sekaligus membuka kesadaran.

Namun, perlu dicatat bahwa insomnia bukanlah sesuatu yang harus dirayakan atau dicari sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Pengalaman tersebut merupakan bagian dari pergulatan personal Cioran, bukan resep untuk memperoleh kedalaman berpikir.

Bagi pembaca, bagian ini justru memperlihatkan bahwa penderitaan yang tidak terlihat dari luar bisa mempunyai pengaruh sangat besar terhadap cara seseorang memahami kehidupan.


4. Waktu dan Masa Lalu: Mengapa Manusia Sulit Berdamai dengan Kehidupan?

Salah satu tema yang layak mendapat perhatian lebih dalam adalah hubungan manusia dengan waktu.

Manusia hidup pada masa kini, tetapi pikirannya sering kali berada di tempat lain. Ia menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan.

Kita mengingat keputusan yang salah, kesempatan yang terlewatkan, hubungan yang gagal, dan berbagai peristiwa yang tidak bisa diulang.

Sementara itu, masa depan menghadirkan kecemasan mengenai sesuatu yang belum tentu terjadi.

Dalam perspektif Cioran, waktu bukan sekadar rangkaian peristiwa yang membawa manusia menuju kematian. Waktu juga merupakan pengalaman psikologis yang memperlihatkan keterbatasan manusia.

Kita tidak bisa kembali ke masa sebelum dilahirkan. Kita tidak bisa mengulang kehidupan dengan seluruh pengetahuan yang sekarang dimiliki. Bahkan, kita tidak bisa mempertahankan keadaan yang sedang kita nikmati.

Kesadaran terhadap waktu membuat manusia semakin menyadari bahwa keberadaannya bersifat sementara.

Menariknya, gagasan ini dapat membawa kita pada pemikiran yang berbeda: jika kehidupan tidak dapat diulang, mengapa kita harus terus-menerus menghukum diri sendiri karena masa lalu?

Melepaskan masa lalu bukan berarti menganggapnya tidak penting. Artinya, kita berhenti menuntut sesuatu yang sudah berlalu untuk berubah.

5. Kematian dan Bvnvh Diri: Gagasan tentang Jalan Keluar dari Penderitaan


Cioran juga berbicara secara provokatif mengenai kematian dan bvnvh diri.

Dalam pemikirannya, kematian bukanlah persoalan utama karena kematian tidak dapat menghapus fakta bahwa seseorang sudah dilahirkan.

Salah satu aforisme yang terkenal dalam buku ini berbunyi:

"Not to be born is undoubtedly the best plan of all. Unfortunately it is within no one's reach."

Terjemahan bebasnya: tidak dilahirkan mungkin merupakan pilihan terbaik, tetapi sayangnya tidak seorang pun mempunyai kesempatan untuk memilihnya.

Cioran juga membahas gagasan bunuh diri sebagai semacam kemungkinan yang secara mental dapat memberikan rasa kebebasan dari penderitaan. Namun, gagasan tentang bunuh diri tidak boleh disamakan dengan ajakan untuk melakukannya.

Ada perbedaan penting antara memikirkan kemungkinan untuk mengakhiri kehidupan dan benar-benar mengambil tindakan tersebut.

Pembacaan yang lebih hati-hati melihat gagasan ini sebagai paradoks filosofis: mengetahui bahwa manusia mempunyai keterbatasan dan tidak mengendalikan seluruh keadaan hidupnya, tetapi masih memiliki ruang untuk mempertanyakan keberadaannya.

Bagi Cioran, pemikiran yang gelap tidak selalu harus berakhir dengan tindakan yang gelap. Ia sendiri hidup hingga 1995, pada usia 84 tahun.

6. Agama, Tuhan, dan Harapan: Kritik terhadap Kebutuhan Manusia akan Makna

Cioran tidak hanya mengkritik optimisme sosial, tetapi juga mempertanyakan agama dan keyakinan manusia terhadap Tuhan.

Manusia membutuhkan penjelasan ketika berhadapan dengan penderitaan. Ia ingin mengetahui mengapa sesuatu terjadi, mengapa orang baik mengalami kesulitan, dan mengapa kehidupan sering kali terasa tidak adil.

Agama, filsafat, dan berbagai sistem kepercayaan dapat memberikan kerangka untuk memahami pertanyaan tersebut.

Namun, Cioran tetap mempertahankan keraguan. Ia tidak mudah menerima sistem pemikiran yang menawarkan jawaban final mengenai kehidupan.

Di sinilah pemikirannya berbeda dari pendekatan yang berusaha menemukan tujuan universal bagi manusia.

Bagi Cioran, keraguan bukan sekadar kekurangan pengetahuan. Keraguan dapat menjadi bentuk kejujuran intelektual ketika seseorang menyadari bahwa tidak semua persoalan mempunyai jawaban yang memuaskan.

Menariknya, ketertarikannya terhadap agama dan persoalan ketuhanan juga memperlihatkan bahwa ia bukan penulis yang sekadar tidak peduli terhadap pertanyaan spiritual. Justru ia terus bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa bersedia menetap dalam sebuah kepastian.

7. Penerimaan Radikal dan Ironi: Cara Cioran Menghadapi Kehidupan

Jika kehidupan merupakan sesuatu yang tidak pernah kita pilih, bagaimana kita seharusnya menjalaninya?

Di sinilah ironi menjadi bagian penting dari pemikiran Cioran.

Ia sering menggunakan humor getir untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Dengan ironi, manusia dapat melihat betapa absurdnya ambisi, kesombongan, persaingan, dan tuntutan sosial.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, mengejar pengakuan, dan mempertahankan citra diri. Padahal, seluruh pencapaian tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa kehidupan tetap mempunyai keterbatasan.

Dari sini kita dapat menarik sebuah pelajaran: manusia tidak harus menjadikan setiap persoalan sebagai pertarungan besar yang menentukan harga dirinya.

Tidak semua kegagalan harus dianggap sebagai kehancuran. Tidak semua penolakan harus diterjemahkan sebagai ketidakberhargaan. Tidak semua harapan harus dipertahankan dengan mengorbankan ketenangan diri.

Penerimaan radikal bukan berarti membiarkan ketidakadilan atau berhenti bertanggung jawab. Penerimaan berarti mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan, kemudian menentukan bagaimana kita akan meresponsnya.

Dengan cara itu, kita dapat melepaskan sebagian beban yang selama ini kita ciptakan sendiri.

8. Raja Daud dan Ayub sebagai Pembanding: Ratapan atas Fakta Kelahiran

Ada satu paralel menarik ketika pemikiran Cioran dibandingkan dengan pengalaman manusia dalam literatur Alkitab.

Dalam Ayub 3:3-11, Ayub mengutuk hari kelahirannya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya tidak mati ketika keluar dari kandungan. Ratapan tersebut muncul ketika penderitaan telah menghancurkan berbagai kepastian yang sebelumnya dimiliki.

Yeremia juga mengungkapkan penyesalan terhadap hari kelahirannya dalam Yeremia 20:14-18.

Sementara itu, dalam Mazmur 22, Daud menyampaikan ratapan yang sangat mendalam tentang penderitaan dan perasaan ditinggalkan.

Ketiganya memperlihatkan bahwa pertanyaan mengenai keberadaan manusia bukanlah persoalan yang hanya muncul dalam filsafat modern.

Manusia sejak dahulu telah bergulat dengan pertanyaan mengapa dirinya harus menjalani kehidupan yang begitu berat.

Perbedaannya terletak pada posisi mereka dalam menghadapi pertanyaan tersebut. Ayub, Yeremia, dan Daud mengungkapkan ratapan dalam bahasa pengalaman religius, sedangkan Cioran mengolah kegelisahan eksistensial melalui skeptisisme, ironi, dan pesimisme filosofis.

Perbandingan ini bukan untuk menyamakan keyakinan mereka, melainkan memperlihatkan bahwa penderitaan dapat membawa manusia pada pertanyaan yang sama meskipun mereka berasal dari latar pemikiran yang sangat berbeda.

9. Cioran dan Seni Tidak Terlalu Serius Menjalani Kehidupan

Salah satu hal yang mungkin terlewat ketika membaca Cioran adalah bahwa pesimismenya tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan yang berat.

Ada unsur humor, bahkan kelucuan, dalam cara ia memandang kehidupan.

Ia seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengamati absurditas manusia sehingga tidak lagi mudah terkejut oleh perilaku manusia.

Manusia mengejar kekayaan, tetapi kemudian khawatir kehilangan kekayaannya. Mengejar popularitas, tetapi merasa tertekan karena harus mempertahankan citra. Menginginkan kebebasan, tetapi kemudian menciptakan sendiri berbagai kewajiban yang membelenggunya.

Bukankah ada sesuatu yang ironis dalam semua itu?

Dalam konteks ini, pemikiran Cioran dapat dibaca sebagai kritik terhadap budaya produktivitas dan obsesi pencapaian. Kita sering mengukur nilai kehidupan berdasarkan apa yang berhasil kita hasilkan, seberapa jauh kita berkembang, dan bagaimana orang lain melihat keberhasilan kita.

Padahal, seseorang tidak harus selalu produktif untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.

Ada kalanya menikmati waktu, membaca buku, duduk dalam kesunyian, atau sekadar menjalani hari tanpa ambisi besar merupakan pengalaman yang cukup.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan Cioran sebagai filsuf yang mengajarkan kemalasan. Ia tidak menawarkan metode pengembangan diri. Pemikirannya lebih tepat dibaca sebagai penolakan terhadap tuntutan manusia untuk selalu menghasilkan sesuatu dan memberikan pembenaran atas keberadaannya.

10. Kritik terhadap Pemikiran Cioran: Apakah Pesimisme Membebaskan Manusia?

Saya melihat ada dua sisi yang perlu dipertimbangkan ketika membaca buku ini.

Pertama, Cioran mempunyai kemampuan luar biasa dalam mengungkapkan sisi kehidupan yang sering kali tidak berani kita bicarakan.

Kita bisa merasa lelah tanpa mengetahui penyebabnya. Kita bisa mempunyai kehidupan yang relatif baik, tetapi tetap mengalami kehampaan. Kita bisa mencintai seseorang, tetapi pada saat yang sama merasakan kesepian. Kita bisa mencapai sesuatu yang selama ini diinginkan, tetapi ternyata tidak menemukan kepuasan seperti yang dibayangkan.

Cioran memberikan bahasa bagi pengalaman-pengalaman tersebut.

Ia mengingatkan bahwa optimisme bukan satu-satunya cara yang sah untuk memahami kehidupan. Mengakui penderitaan tidak menjadikan seseorang lemah, sebagaimana mempertanyakan makna kehidupan tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk hidup.

Namun, ada sisi lain yang harus diwaspadai.

Jika semua harapan dianggap sebagai ilusi, semua ambisi dianggap sebagai kesia-siaan, dan semua usaha dianggap sebagai bentuk kegilaan manusia, pesimisme dapat berubah menjadi penjara pemikiran.

Manusia bisa kehilangan kemampuan membedakan antara hal-hal yang memang tidak dapat dikendalikan dan hal-hal yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.

Misalnya, kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana memperlakukan keluarga kita sendiri. Kita tidak bisa mengubah seluruh pengalaman masa lalu, tetapi kita bisa belajar dari pengalaman tersebut. Kita tidak bisa menghindari seluruh penderitaan, tetapi kita bisa mengurangi penderitaan yang tidak perlu ditambahkan oleh tindakan kita sendiri.

Dengan demikian, penerimaan terhadap kenyataan seharusnya tidak berubah menjadi penolakan terhadap kemungkinan perubahan.

Bagi saya, inilah batas penting ketika mengambil pelajaran dari Cioran.

11. Berdamai dengan Kehidupan Tanpa Harus Menemukan Makna yang Agung

Salah satu pemikiran paling menarik yang dapat ditarik dari buku ini adalah kemungkinan menjalani kehidupan tanpa harus terus-menerus mencari pembenaran atas keberadaan kita.

Tidak semua orang harus mempunyai pencapaian luar biasa. Tidak semua pengalaman buruk harus menghasilkan kebijaksanaan. Tidak semua kegagalan harus menjadi batu loncatan menuju kesuksesan.

Terkadang, sesuatu memang menyakitkan. Sesuatu memang tidak adil. Ada kehilangan yang tidak bisa digantikan dan pengalaman yang tidak bisa diperbaiki sepenuhnya.

Menerima kenyataan tersebut merupakan bagian dari kedewasaan.

Di sini, saya melihat ada perbedaan antara menerima kehidupan dan menyerah terhadap kehidupan.

Menerima kehidupan berarti mengakui bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Sementara menyerah terhadap kehidupan berarti menutup kemungkinan bahwa masih ada pengalaman, hubungan, dan perubahan yang dapat dinikmati.

Kita bisa berhenti berkompetisi dengan orang lain tanpa berhenti melakukan sesuatu yang kita sukai. Kita bisa menurunkan ekspektasi tanpa kehilangan kepedulian. Kita bisa berhenti mengejar pengakuan tanpa harus berhenti berkarya.

Bahkan, seseorang bisa tetap membaca, menulis, bekerja, menolong orang lain, dan menikmati secangkir kopi pagi tanpa harus menganggap semua itu sebagai bagian dari sebuah misi besar untuk membuktikan bahwa hidupnya bermakna.

Mungkin di sinilah letak pembacaan yang lebih manusiawi terhadap pesimisme Cioran: kita tidak harus selalu memenangkan kehidupan untuk bisa menjalaninya.

Kesimpulan: The Trouble with Being Born, Sebuah Buku tentang Keberanian Menghadapi Kenyataan

The Trouble with Being Born bukan buku yang akan memberikan jawaban menenangkan mengenai alasan manusia dilahirkan. Cioran bahkan tampak sengaja menghindari jawaban-jawaban yang terlalu mudah.

Namun, justru itulah kekuatan buku ini.

Ia membawa pembaca berhadapan dengan pertanyaan yang sangat mendasar: bagaimana jika kehidupan tidak mempunyai jaminan kebahagiaan? Bagaimana jika penderitaan bukan sekadar gangguan sementara, melainkan bagian dari kondisi manusia? Dan bagaimana jika kita tidak pernah benar-benar bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas alasan keberadaan kita?

Membaca Cioran tidak berarti harus menerima seluruh pesimismenya. Kita bisa memahami kegelisahannya tanpa harus menjadikan kegelisahan tersebut sebagai pedoman hidup.

Perbandingannya dengan Daud, Ayub, dan Yeremia juga memperlihatkan bahwa ratapan terhadap kehidupan bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah pemikiran manusia. Perbedaannya terletak pada bagaimana masing-masing menghadapi pertanyaan tersebut.

Bagi saya, pelajaran yang paling menarik dari buku ini bukanlah bahwa manusia seharusnya menyesali kelahirannya, melainkan bahwa manusia perlu membebaskan dirinya dari berbagai tuntutan yang membuat kehidupan semakin berat.

Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Kita juga tidak mempunyai kendali penuh atas apa yang akan terjadi selama hidup. Namun, kita masih mempunyai ruang untuk menentukan bagaimana menghadapi kenyataan tersebut.

Mungkin kita tidak perlu terus-menerus bertanya apakah kehidupan ini merupakan hadiah atau kecelakaan.

Kita bisa berhenti sejenak, mengakui bahwa kehidupan memang tidak sempurna, dan menjalani hari tanpa harus membuktikan sesuatu kepada siapa pun.

Sebab, terkadang kebebasan bukan ditemukan ketika kita berhasil mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan, melainkan ketika kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan untuk mendapatkan semuanya.

Catatan tambahan untuk pembaca

Buku ini cocok dibaca oleh mereka yang tertarik pada:

- Filsafat eksistensialisme dan pesimisme.

- Pemikiran tentang makna hidup dan penderitaan manusia.

- Nihilisme dan absurditas kehidupan.

- Psikologi kesadaran diri, kesepian, dan krisis eksistensial.

- Kritik terhadap ambisi, produktivitas, dan tuntutan sosial.

Namun, buku ini bukan buku motivasi, buku terapi psikologis, atau panduan mengatasi depresi. Pembaca yang sedang mengalami krisis emosional berat sebaiknya tidak menjadikan pesimisme Cioran sebagai satu-satunya kerangka memahami kehidupannya.

Posting Komentar untuk "Review Buku The Trouble with Being Born Karya Emil Cioran: Mengapa Manusia Harus Dilahirkan untuk Menderita?"