Joshua Harris dan I Kissed Dating Goodbye: Sebuah Refleksi tentang Perubahan Keyakinan dan Pergulatan Iman


Perubahan Keyakinan Bukan Hal yang Harus Dihakimi

Setiap orang bisa berubah kapan saja. Pernyataan ini terdengar klise, sampai ia terjadi di depan mata kita, terutama ketika perubahan itu datang dari seseorang yang dulu menjadi panutan, yang ajarannya dipegang teguh oleh ribuan orang, dan yang tulisannya membentuk pola pikir generasi muda selama bertahun-tahun. Ketika sosok seperti Joshua Harris, penulis buku fenomenal I Kissed Dating Goodbye, mengubah total pandangan hidupnya, bahkan meninggalkan iman yang dulu ia bela dengan sekuat tenaga, kita dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar "apa yang terjadi?" yaitu: bagaimana kita menyikapi perubahan orang lain tanpa langsung menghakimi, dan menyadari bahwa perubahan itu bisa menimpa siapa saja, termasuk soal keimanan?

Petika Penulis Mengubah Segala yang Pernah Ia Ajarkan

Bagi banyak orang Kristen, terutama yang tumbuh pada akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an, nama Joshua Harris dan bukunya I Kissed Dating Goodbye bukanlah hal yang asing. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1997 itu meledak menjadi fenomena global, terjual lebih dari satu juta kopi, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk edisi Indonesia dengan judul Sebuah Perspektif Baru dalam Berpacaran dan Menjalin Hubungan yang diterbitkan Immanuel Bookstore & Publishing House.
 
Inti ajarannya sangat tegas: berpacaran dengan cara yang umum berisiko melanggar batas kerohanian, memicu ketergantungan emosional yang tidak sehat, dan bahkan bisa menjadi akar perceraian di masa depan. Harris mengusulkan pola hubungan yang lebih murni, terarah, dan melibatkan Tuhan sejak awal, bahkan sampai pada gagasan untuk tidak berpacaran sama sekali hingga siap menikah. Bagi banyak pemuda Kristen kala itu, buku ini menjadi semacam "pedoman resmi" hubungan yang benar.
 
Namun, kenyataan berbicara dengan cara yang tak terduga. Pada tahun 2019, lebih dari dua puluh tahun setelah buku itu terbit, Joshua Harris mulai menyuarakan keraguannya. Ia mengakui bahwa banyak gagasan dalam bukunya keliru, terlalu membatasi, dan bahkan bisa menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan pada orang-orang yang mencoba menjalaninya. Lebih dari itu, ia memutuskan untuk menarik buku tersebut dari peredaran dan berhenti menerbitkannya, langkah yang sangat jarang dilakukan oleh penulis yang bukunya telah mendunia.
 
Perubahan itu tidak berhenti di situ. Pada pertengahan Juli 2019, Harris mengumumkan bahwa ia dan istrinya, Shannon, telah bercerai. Bagi seorang pemimpin gereja yang melayani di Covenant Life Church, gereja besar dengan lebih dari 3.000 jemaat, berita ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena dulu ia mengajarkan bahwa hubungan yang dibangun dengan prinsip-prinsip yang benar seharusnya bertahan selamanya. Tak lama kemudian, ia menyampaikan berita yang lebih mengejutkan lagi: ia telah meninggalkan iman Kristennya.
 

 
 
Mengapa Konsep "Tanpa Pacaran" Semakin Banyak Dipertanyakan Hari Ini

Seiring berjalannya waktu, banyak pembaca dan pemikir Kristen mulai meninjau kembali gagasan-gagasan yang pernah populer pada masa lalu, termasuk konsep yang dibawa oleh I Kissed Dating Goodbye. Dulu, pendekatan yang ketat ini sering dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjaga kemurnian dan kesetiaan. Namun di masa kini, semakin banyak orang menyadari bahwa:
 
- Hubungan manusia itu kompleks dan tidak bisa diatur dengan rumus tunggal. Setiap orang memiliki latar belakang, kepribadian, dan perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang berhasil bagi satu orang belum tentu cocok bagi orang lain.
- Ketakutan bukanlah dasar yang baik untuk membangun hubungan. Jika kita menghindari berpacaran semata-mata karena takut berciuman, berpegangan tangan, atau melakukan kesalahan, maka kita membangun hubungan di atas ketakutan, bukan di atas kasih, kepercayaan, dan pengenalan yang tulus.
- Kesalahan dalam hubungan bukan berarti gagal secara rohani. Seseorang yang pernah berpacaran, berpisah, atau bahkan menikah lalu bercerai tidak otomatis berarti ia kurang beriman atau Tuhan meninggalkannya. Realitas hidup sering kali jauh lebih rumit daripada teori yang tertulis di buku.
- Pernyataan bahwa "berpacaran memicu perceraian" adalah generalisasi yang berlebihan. Banyak pasangan yang berpacaran dengan sehat, menghormati batas, dan tetap berpegang pada iman, lalu menikah dan hidup bahagia bersama. Sebaliknya, pasangan yang langsung menikah tanpa proses pengenalan yang cukup juga bisa menghadapi masalah besar.
 
Perubahan pandangan ini bukan berarti nilai-nilai kemurnian, kesetiaan, dan penghormatan menjadi tidak penting. Justru, banyak orang hari ini berusaha memahaminya dengan cara yang lebih seimbang—tidak menekan orang dengan standar yang mustahil dipenuhi, tetapi tetap mengajarkan tanggung jawab, kejujuran, dan kasih yang tulus.
 

Perjalanan Iman Bukan Garis Lurus, dan Kita Tidak Berhak Menilai Proses Orang Lain

Kisah Joshua Harris sering kali disambut dengan dua reaksi ekstrem: ada yang merasa dikhianati dan menyebutnya murtad, ada pula yang memujinya karena berani jujur terhadap perubahan hatinya. Namun, kedua pandangan itu sering kali melewatkan satu hal yang paling mendasar: perjalanan iman seseorang adalah proses yang terus berjalan, dan bukan hak kita untuk menjadi hakim atasnya.
 
Kita sering berasumsi bahwa iman seseorang itu harus tetap sama seumur hidup, bahwa begitu seseorang memutuskan untuk percaya, ia tidak boleh ragu, tidak boleh berubah pikiran, dan tidak boleh meninggalkannya. Padahal kenyataannya, iman itu hidup. Ia tumbuh, berkembang, dan kadang-kadang goyah seiring dengan pengalaman hidup yang kita alami. Seseorang bisa saja memegang teguh satu keyakinan selama puluhan tahun, lalu melalui pergumulan batin yang sangat dalam, akhirnya menyadari bahwa pandangannya berubah. Itu bukan tanda kelemahan, itu tanda bahwa ia terus berpikir, terus bertanya, dan terus mencari kebenaran.
 
Hal yang sama berlaku untuk semua orang. Kita bisa saja hari ini yakin akan sesuatu, lalu lima tahun ke depan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Bisa saja dulu kita menganggap satu hal benar mutlak, lalu setelah mengalami peristiwa hidup yang mengubah segalanya, kita menyadari bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting. Perubahan itu tidak berarti kita dulu berbohong, ia hanya berarti kita terus hidup, terus belajar, dan terus berkembang.
 
Karena itulah, ketika melihat orang lain mengalami perubahan besar dalam hidupnya—terutama dalam hal keyakinan—kita sebaiknya tidak buru-buru memberi label, menghakimi, atau memvonisnya salah. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hatinya, pergumulan apa yang ia alami, atau pertanyaan apa yang sedang ia cari jawabannya. Kita hanya melihat hasil akhirnya, tetapi kita tidak melihat proses yang panjang, berat, dan sering kali menyakitkan yang ia lalui sebelum sampai pada titik itu.

Apa yang Bisa Kita Pelajari di Era Kini dari Kisah Joshua Harris?

Kisah Joshua Harris bukanlah kisah tentang "kebenaran yang kalah" atau "orang yang jatuh". Ia adalah kisah tentang manusia biasa yang tumbuh, berubah, dan berani jujur terhadap perubahannya. Ada beberapa hal penting yang bisa kita renungkan bersama di masa kini:
 
Pertama, rendahkan hati terhadap apa yang kita yakini. Tidak peduli seberapa yakin kita saat ini, ada kemungkinan pandangan kita berubah di masa depan. Itu bukan hal yang memalukan, itu hal yang manusiawi. Menyadari hal ini akan membuat kita lebih lembut hati terhadap orang lain yang berbeda pandangan dengan kita, dan tidak terlalu memaksakan pendapat kita kepada mereka.
 
Kedua, pisahkan antara ajaran dan manusia. Buku I Kissed Dating Goodbye memang memiliki banyak kekurangan dan pandangan yang kini sudah usang. Namun, itu tidak berarti semua yang pernah ia tulis salah sepenuhnya, maupun berarti semua orang yang dulu terinspirasi olehnya kini salah. Kita bisa mengambil hal-hal yang baik, seperti pentingnya menjaga kemurnian, menghormati pasangan, dan melibatkan Tuhan dalam hubungan, tanpa harus menerima setiap kata yang tertulis sebagai kebenaran mutlak.
 
Ketiga, perubahan itu bukan hal yang harus ditakuti. Baik itu perubahan pandangan tentang hubungan, perubahan cara berpikir tentang iman, maupun perubahan jalan hidup secara keseluruhan—perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Yang terpenting bukanlah kita tidak pernah berubah, melainkan kita berubah dengan jujur, bertanggung jawab, dan tetap menghormati perjalanan orang lain.
 
Keempat, setiap orang berhak atas prosesnya sendiri. Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang dalam hal hubungan maupun iman. Yang cocok bagi satu orang belum tentu cocok bagi orang lain. Yang penting bukanlah mengikuti standar orang lain, melainkan jujur terhadap diri sendiri, terhadap Tuhan, dan terhadap orang-orang yang kita kasihi.

Penutup

Pada akhirnya, kisah Joshua Harris mengingatkan kita satu hal yang paling mendasar: kita semua adalah manusia yang sedang dalam proses. Tidak ada yang berdiri di atas, tidak ada yang berhak menjadi hakim atas perjalanan orang lain. Kita semua bisa berubah kapan saja—bisa saja hari ini kita memegang keyakinan yang sama dengan orang lain, lalu di masa depan kita berjalan di jalan yang berbeda. Itu bukan hal yang harus dihakimi. Itu adalah hal yang harus dipahami dengan rendah hati.
 
Karena itu, mari kita berhenti saling menilai. Mari kita berhenti memberi label pada orang lain hanya karena pandangannya berubah. Dan mari kita ingat: perubahan itu bisa menimpa siapa saja—termasuk soal keimanan. Dan ketika itu terjadi, yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan pemahaman bahwa setiap orang sedang berjalan dalam perjalanan yang unik, dan hanya Tuhan yang memahami sepenuhnya apa yang terjadi di dalam hati setiap manusia.

Posting Komentar untuk "Joshua Harris dan I Kissed Dating Goodbye: Sebuah Refleksi tentang Perubahan Keyakinan dan Pergulatan Iman"