IDI dan dr. Terawan Apakah Ada Adu Kuat?


Pemecatan Dokter Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI berujung kepada pemanggilan Pengurus IDI oleh Komisi IX DPR RI. Setelah undangan pertama tidak datang, akhirnya Pengurus IDI hadir dalam Rapat dengan anggota DPR. 

Pembahasan berkisar mengenai berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh anggota DPR kepada IDI mengenai pemecatan dr. Terawan. Cecaran pertanyaan yang diajukan akhirnya menyinggung juga ke beberapa hal mengenai IDI sendiri. Seperti transparansi dana iuran anggota IDI dan pertanyaan-pertanyaan penting di seputaran keberadaan IDI.

Seperti diketahui dr. Terawan secara resmi dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) secara permanen. Pemecatan ini sebagai puncak perseteruan mantan Menteri Kesehatan dan organisasi profesi IDI ini yang sudah berlangsung lama.

Perbincangan di media sosial cukup ramai mengenai pemecatan tersebut dan bahkan menjadi 2 kubu. Pendukung pemecatan dan pendukung dr. Terawan. Rupanya kisruh IDI dan dr. Terawan juga mendapat sorotan dari Menteri Kesehatan RI yang juga angkat bicara mengenai hal tersebut. Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam konfrensi persnya menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan akan memulai mediasi antara IDI dan anggota-anggotanya agar komunikasinya lebih baik.

Penjelasan dari pihak dr. Terawan yang disampaikan oleh mantan Tenaga Ahli Menteri Kesehatan di era dr. Terawan dalam keterangan tertulisnya mengatakan, "sampai hari ini saya masih sangat bangga dan merasa terhormat berhimpun di sana (IDI). Lebih jauh dr. Terawan malah meminta supaya setiap pihak bisa menahan diri untuk tidak menimbulkan kekisruhan publik, karena masih dalam pandemi COVID-19.

Sekedar informasi mengenai dr. Terawan sebelum dirinya dipecat secara permanen ia menghadiri pengukuhan dirinya saat mendapatkan gelar Profesor Kehormatan (Guru Besar tidak tetap) Ilmu Pertahanan Bidang Kedokteran Militer, Fakultas Kedokteran Militer, Universitas Pertahanan.

Banyak pihak yang menyayangkan keputusan dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI memecat dr. Terawan. Beberapa tokoh nasional dan anggota DPR berkomentar bahwa menyayangkan keputusan tersebut. Bahkan seharusnya bila terjadi kebuntuan komunikasi antara IDI dan dr. Terawan dicarikan solusi untuk memecah kebuntuan tersebut.

Tulisan ini tidak ingin masuk ke ranah perdebatan soal pemecatan tersebut, apalagi memasuki ranah ilmiah mengenai sepak terjang dr. Terawan. Namun menjadi penting adalah bagaimana setiap profesi memberikan kontribusinya untuk bangsa dan negara ini. Termasuk profesi dokter.

Berhubungan dengan profesi dokter, bangsa ini memiliki sejarah panjang bagaimana dokter memiliki andil dalam kemerdekaan negeri ini hingga terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan salah satu buku menarik untuk ditelusuri dan bisa menjadi acuan untuk melihat negeri ini bukan hanya dengan kacamata sempit. Tapi bagaimana setiap orang dalam menjalankan profesinya memiliki tujuan yang jelas yaitu mengisi kemerdekaan dan bagaimana memajukan negeri ini. Dengan mengesampingkan golongan atau apapun namanya demi negeri ini.

Sebuah buku yang patut untuk dilirik kembali ketika melihat konflik IDI dan dr. Terawan ini berjudul: Dokter Soetomo. Disusun oleh Peter Kasenda, Dr. Yudha Tangkilisan, Prof. Dr. Djoko Marihandoyo. Buku ini diterbitkan oleh Museum Kebangkitan Nasional, Kemendikbud RI,  Tahun 2013.

Sebagai seorang dokter Dokter Soetomo bukan hanya berkutat kepada profesi yang disandangnya ketika NKRI ini belum berbentuk. Tapi bagaimana dengan profesinya memberikan andil terbentuknya sebuah negara. Pikiran Dokter Soetomo benar-benar jauh ke depan. Yaitu persatuan seluruh komponen bangsa menjadi cita-citanya. Karena bila persatuan dan kesatuan dicapai maka akan mudah untuk mencapai cita-cita yang ingin diraih.

Sebagai seorang dokter, ia memberikan sebuah petuah yang mungkin baik untuk menjadi renungan bagi semua. Catatannya yang dimuat dalam buku ini demikian:

 

Kewajibannya kaum intelektual kita, yaitu menjaga supaya rakyat menaruh kepercayaan kepada kita, sehingga dengan kepercayaan ini mereka lalu berdiri di belakang kita. Buat ini haruslah dijaga dengan tak pandang susah payah dan kerugian sehingga pergerakan vak itu menjadi suatu kenyataan dari pada suatu orgnisasi yang kuat, yang tidak dapat dibinasakan pula

Bagi mereka para intelektual di jamannya sebelum kemerdekaan terwujud memang banyak belajar dari teori dan politik sejarah Eropa yang akhirnya memberikan inspirasi, kemana mereka akan loyal? Kepada Belanda sebagai penjajah, atau perlu adanya sebuah kelompok yang terdiri dari para pemuda dan pemuda Nusantara.

Dari kesadaran itulah maka mulailah para pemuda dan pemudi itu memelopori sebuah pergerakan termasuk yang digagas oleh para pemuda tadi. Muncul organisasi Budi Utomodi dengan pemikiran organisasi yang memiliki cita-cita adanya kemerdekaan sebuah bangsa.

Tapi tentu saja sebuah perjuangan bukan tanpa halangan. Bahkan rintangannya bukan hanya datang dari pemerintah kolonial sendiri, tapi bahkan juga bisa dari dalam. Memang dalam hal ini kemunculan profesi dokter di mana hasil pendidikan yang menghasilkan banyak tenaga kedokteran tersebut mendapat respon khususnya dari para priyayi yang melihat profesi dokter sebagai 'priyayi baru' yang dianggap sebagai ancaman. Belum lagi persoalan dengan gaji dokter yang mengabdi di rumah sakit pemerintah dan mereka yang membuka praktek swasta juga muncul.

Dokter Soetomo, seorang intelektual yang hadir bukan tampil di posisi sebagai elit baru di masyarakat, tapi bagaimana dirinya mengasah pikirannya untuk peka dan melihat ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Kepekaan tersebut lahir dari latar belakang orang tua mereka yang dipaksa tunduk terhadap ketimpangan yang terjadi di masyarakat.

Kembali kepada persoalan yang muncul antara IDI dan dr. Terawan di mana harapan kita sebagai masyarakat bawah yang membutuhkan profesi mereka setidak-tidaknya tetap merasakan layanan di bidang kesehatan tanpa mendapat imbas oleh konflik yang terjadi. Semoga.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.