Sikap Istri Tergantung Suami?

Sikap istri tergantung sikap suami satu sisi mungkin benar. Tapi pertanyaan lanjutan, jika suami dingin, apakah istri juga bersikap dingin? Bagaimana sikap istri bila suami egois misalnya, apakah akan diimbangi dengan egois?

Bila teori tersebut digunakan maka tentu keluarga tidak akan menemui ujung pangkalnya untuk sebuah persoalan. Bahkan di dalamnya ada kompetisi dalam hal buruk antara suami dan istri. Padahal sebuah keluarga sejak awal pastilah dibangun dengan sebuah optimisme yang besar di mana dua orang berjanji untuk sehidup semati, akan saling mendukung dan seterusnya. 

Ketika laki-laki dan perempuan memasuki pernikahan ibarat orang yang ingin memasuki sebuah dunia bahagia yang tiada tara di mana orang yang dicintai, dan dikasihi itu akan menjadi orang yang sesuai dengan keinginan kita. Makanya begitu semangatnya sejoli berangkat ke medan pernikahan dengan semangat kebahagiaan yang penuh.

Dalam sebuah perkawinan yang didasarkan atas cinta,harapan yang menjadi angan-angannya adalah kebahagiaan. Bagi seorang wanita yang hendak menikah bisa jadi bayang-bayang kebahagiaan karena akan merasa diperhatikan di dalam keluarga yang akan dibangunnya itu dan di pingirannya terus mengiang-ngiang bayangan bahagia.. Kalau apa yang menjadi angan-angannya.

Tetapi tentu saja di dalam pernikahan itu sendiri saya yakin tidak akan berjalan mulus-mulus saja, di sana sini akan ada percekcokan karena munculnya perbedaan. Konflik sudah menjadi bagian yang tidak bisa terelakkan di dalam keluarga. Kalau selama konfliknya itu gampang diatasi, tidak masalah, tapi bagaimana kalau ternyata sang suami misalnya memiliki sifat yang sangat memuakkan yang menganggu kehidupan berkeluarga? 

Ada kalanya orang bisa mengalami apa yang disebut dengan dilusi. Nah, ketimbang sang istri dalam menghadapi sang suami yang selalu menyakitkan itu dengan cara melawan atau frustasi, cobalah membaca buku ini.

Sebuah buku berjudul: Kuasa Seorang Istri yang Positif (A Power of a Positive Wife). Buku ini ditulis oleh Karol Ladd. Dan diterbitkan oleh Penerbit Metanoia Publishing, Jakarta dengan tahun terbit 2006.

Mengapa? Karena buku ini memberikan arahan bagaimana istri menangkap kembali percikan kekuatan dan sukacita yang pernah diimpi-impikan ketika akan memasuki pernikahan. Di dalam menangkap kembali semangat kebahagiaan yang pernah dirasakan itu dengan cara mencoba untuk tampil sebagai istri yang bersikap positif dengan tujuan membangun dan membangun rumah tangga yang lebih sehat.

Pengaruh seorang istri yan positif di dalam keluarga tentu sangat penting bagi kebahagiaan keluarga, dan di situlah kehebatan seorang istri. dan Karol Ladd mengingatkan bahwa di dalam kebahagiaan rumah tangga itu bukan ditentukan oleh bagaimana seorang istri bisa membahagiakan suami. Bukan, tapi kehebatan seorang istri itu terletak bagaimana sang istri itu memusatkan hidupnya kepada Tuhan. Dan di dalam kehidupan yang saleh di hadapan Tuhan itulah seorang istri akan mendapatkan kuasa, yaitu kuasa Tuhan yang bekerja di dalam hidupnya, dan menerapkan kuasa itu di dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Karol Ladd menyebutkan ada tujuh kuasa yang dapat didapatkan dan dipraktekkan oleh seorang istri di dalam keluarga di mana kuasa-kuasa itu bila dimiliki dan dilakukan oleh seorang istri di dalam keluarga, entah keluarga itu sedang memiliki masalah, atau sedang mengecewakan atau dalam keadaan tenang-tenang saja, maka tujuh kuasa itu akan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi sebuah keluarga. Kuasa-kuasa itu adalah, kuasa kasih, kuasa komitmen, kuasa rasa hormat, kuasa dorongan semangat, kuasa daya tarik, kuasa tanggung jawab dan kuasa kehadiran Tuhan.

Dengan tulisan khas gaya seorang wanita Karol Ladd sangat teliti menjelaskan semua kuasa itu satu persatu. Dan tentu saja buku ini sangat komunikatif dan praktis untuk diterapkan di dalam keluarga.

Sikap istri tergantung sikap suami bisa jadi dipegang oleh sebagian orang, tapi bila kita ingin supaya rumah tangga yang kita bangun itu menjadi rumah tangga yang bahagia maka harus ada pihak yang menjadi pahlawan untuk mengusahakannya. Syukur-syukur bila keduanya berusaha untuk memperbaiki diri untuk menuju kepada kebahagiaan keluarga tersebut. Semoga!


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.