Buddhisme Militan: Membongkar Wajah Kekerasan Agama di Asia Tenggara


Ketika Agama, Nasionalisme, dan Politik Bertemu

Bagaimana mungkin agama yang sangat lekat dengan gagasan kasih sayang, pengendalian diri, dan tidak menyakiti makhluk hidup dapat terlibat dalam kekerasan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar mengganggu. Namun justru pertanyaan semacam inilah yang membuat buku Buddhisme Militan: Bangkitnya Kekerasan Agama di Sri Lanka, Myanmar, dan Thailand karya Peter Lehr menarik untuk dibaca kembali.

Buku ini tidak semata-mata mengajak kita melihat kekerasan yang dilakukan oleh sebagian kelompok Buddhis. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: mengapa identitas keagamaan yang pada dasarnya mengajarkan perdamaian dapat bertemu dengan nasionalisme, politik, ketakutan terhadap kelompok lain, dan akhirnya menghasilkan pembenaran terhadap kekerasan?

Itulah persoalan yang membuat buku ini tetap relevan.

Buddhisme Militan dan paradoks agama yang damai

Buddhisme sering dipersepsikan sebagai salah satu tradisi keagamaan yang sangat dekat dengan non-kekerasan. Konsep ahimsa, kasih sayang, pengendalian diri, dan upaya mengurangi penderitaan menjadi bagian penting dalam pembicaraan mengenai etika Buddhis.

Namun ahimsa sendiri bukan konsep yang hanya terdapat dalam Buddhisme. Gagasan non-kekerasan berkembang dalam berbagai tradisi India, termasuk Hindu, Jain, dan Buddhisme. Dalam Buddhisme, persoalan non-kekerasan juga berkaitan dengan niat, penderitaan, welas asih, serta tindakan manusia terhadap makhluk lain.

Di sinilah buku Lehr menjadi menarik. Ia tidak berhenti pada pertanyaan apakah Buddhisme mengajarkan kekerasan atau tidak. Sebaliknya, ia melihat bagaimana ajaran agama berinteraksi dengan kehidupan sosial dan politik.

Dengan kata lain, kita perlu membedakan antara ajaran agama, interpretasi terhadap agama, dan tindakan para pemeluk agama.

Ketiganya tidak selalu identik.

Dari Agama Menuju Identitas Politik

Salah satu pelajaran penting dari buku ini adalah bahwa kekerasan keagamaan tidak selalu muncul karena seseorang tiba-tiba meninggalkan ajaran agamanya.

Kadang persoalannya justru lebih rumit.

Agama dapat bertemu dengan identitas etnis dan nasional. Ketika seseorang mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai umat agama tertentu, tetapi juga sebagai bagian dari bangsa atau kelompok etnis yang merasa sedang terancam, agama dapat berubah menjadi bahasa untuk mempertahankan identitas tersebut.

Dalam konteks Myanmar, penelitian mengenai nasionalisme Buddhis menunjukkan bagaimana gerakan seperti 969 dan MaBaTha berkembang dengan narasi perlindungan terhadap Buddhisme dan identitas mayoritas. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa gagasan mengenai negara Buddhis dan sejarah keagamaan dapat digunakan sebagai salah satu pembenaran bagi nasionalisme tersebut.


Di sinilah istilah nasionalisme Buddhis penting dipahami.

Istilah ini bukan berarti semua umat Buddha adalah nasionalis atau semua nasionalisme Buddhis berujung pada kekerasan. Yang perlu diperhatikan adalah situasi ketika identitas agama dan identitas bangsa dilebur sedemikian rupa sehingga kritik terhadap kelompok mayoritas dianggap sebagai ancaman terhadap agama dan negara sekaligus.

Ketika Kelompok Minoritas Dipandang Sebagai Ancaman

Buku Lehr membahas Sri Lanka, Myanmar, dan Thailand sebagai tiga kasus yang memiliki sejarah dan karakter berbeda.

Di Sri Lanka, misalnya, hubungan antara nasionalisme Sinhala-Buddhis dan kelompok minoritas telah menjadi bagian dari sejarah politik yang panjang. Kerusuhan 1915 merupakan salah satu catatan penting kekerasan anti-Muslim di Ceylon, sementara perkembangan berikutnya memperlihatkan bagaimana persoalan etnis, agama, kolonialisme, politik, dan perebutan kekuasaan saling berkelindan.

Dalam konteks yang lebih modern, organisasi seperti Bodu Bala Sena menunjukkan bagaimana narasi tentang perlindungan agama dapat berkelindan dengan nasionalisme Sinhala serta kekhawatiran terhadap komunitas Muslim. Kajian terbaru bahkan menyoroti bagaimana retorika digital dapat menghubungkan agama, identitas nasional, dan gambaran mengenai kelompok lain sebagai ancaman.

Artinya, kekerasan tidak selalu dimulai dengan seruan langsung untuk menyerang.

Ia bisa dimulai jauh sebelumnya: dengan membangun persepsi bahwa “kita sedang terancam.”

Rohingya dan Pertanyaan yang Lebih Besar

Kasus Rohingya di Myanmar membuat pembahasan tentang Buddhisme militan memperoleh perhatian internasional.

Lehr menempatkan krisis Rohingya sebagai salah satu latar penting bukunya. Ia mempertanyakan bagaimana sebagian aktor Buddhis, termasuk sejumlah biksu, dapat mengambil posisi politik yang keras terhadap kelompok yang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap masyarakat Buddhis.

Tetapi ada pelajaran yang lebih luas di sini.

Kita sebaiknya tidak menyederhanakan tragedi Rohingya menjadi cerita bahwa “Buddhisme menyebabkan kekerasan.”

Itu terlalu sederhana.

Yang perlu diperiksa adalah hubungan antara agama, negara, nasionalisme, etnisitas, sejarah kolonial, kepentingan politik, propaganda, serta posisi kelompok mayoritas dan minoritas.

Penelitian tentang Myanmar bahkan menunjukkan bahwa gerakan nasionalis Buddhis sendiri tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh komunitas Buddhis. Dengan kata lain, terdapat umat dan pemuka agama yang menolak atau mengkritik nasionalisme keagamaan tersebut.

Ini penting agar kita tidak membuat kesalahan yang sama: menganggap tindakan sebagian kelompok sebagai representasi seluruh agama.

 

Pelajaran Penting: Pemimpin Agama Juga Manusia

Mungkin salah satu pelajaran paling penting dari buku ini justru bukan tentang Buddhisme.

Ini tentang manusia.

Pemimpin agama memiliki pengaruh besar. Karena itu, ketika otoritas keagamaan bertemu dengan politik identitas, pengaruh tersebut dapat digunakan untuk membangun perdamaian, tetapi juga dapat digunakan untuk memperkuat permusuhan.

Persoalannya bukan terletak pada agama semata.

Agama dapat menjadi sumber solidaritas, pelayanan, pengampunan, pengendalian diri, dan perdamaian. Tetapi agama juga dapat ditarik masuk ke dalam kepentingan politik ketika identitas keagamaan dipakai untuk menentukan siapa yang dianggap “kita” dan siapa yang dianggap “mereka”.

Fenomena semacam ini sebenarnya tidak eksklusif pada Buddhisme.

Sejarah berbagai agama menunjukkan bahwa manusia dapat menggunakan bahasa suci untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya dipengaruhi oleh ketakutan, kekuasaan, kepentingan kelompok, atau konflik politik.

Karena itu, kritik terhadap kekerasan atas nama agama seharusnya tidak diarahkan untuk merendahkan agama. Justru sebaliknya, kritik diperlukan agar agama tidak kehilangan fungsi moralnya.

Mengapa Buku ini Masih Relevan Dibaca?

Buddhisme Militan pertama kali diterbitkan oleh Palgrave Macmillan pada 2019 dan membandingkan perkembangan kekerasan terkait Buddhisme di Sri Lanka, Myanmar/Burma, dan Thailand. Lehr secara khusus membahas hubungan antara doktrin non-kekerasan, para biksu, politik, nasionalisme, serta pembenaran terhadap kekerasan.

Buku ini menjadi semakin menarik bila dibaca dengan konteks hari ini.

Kita hidup dalam era ketika informasi bergerak sangat cepat. Narasi mengenai ancaman terhadap kelompok agama atau identitas tertentu dapat menyebar melalui media sosial sebelum masyarakat sempat memeriksa kebenarannya.

Karena itu, pertanyaan yang diajukan buku ini tidak hanya cocok untuk memahami Sri Lanka, Myanmar, dan Thailand.

Pertanyaannya juga berlaku lebih luas:

Apa yang terjadi ketika iman berubah menjadi identitas politik?

Dan lebih jauh lagi:

Bagaimana kita memastikan bahwa agama tetap menjadi kekuatan yang membangun manusia, bukan alat untuk memusuhi manusia lain?

Agama tidak Harus Menjadi Sumber Kekerasan

Membicarakan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk agama bukan berarti menyimpulkan bahwa agama adalah sumber kekerasan.

Justru di sinilah pentingnya membaca buku seperti karya Peter Lehr dengan kepala dingin.

Agama memiliki sumber daya moral yang sangat besar untuk melawan kekerasan: kasih sayang, pengampunan, pengendalian diri, solidaritas, penghormatan terhadap kehidupan, dan keberanian untuk mengakui kesalahan.

Namun nilai-nilai tersebut membutuhkan manusia yang bersedia menjalankannya.

Pada akhirnya, buku Buddhisme Militan tidak hanya mengajak kita bertanya tentang Buddhisme.

Ia mengajak kita bercermin.

Sebab siapa pun kita, dari agama apa pun kita berasal, selalu ada kemungkinan ketika identitas agama bertemu dengan rasa takut, fanatisme, politik kekuasaan, dan kebencian terhadap kelompok lain, nilai-nilai luhur agama dapat ditarik ke arah yang berlawanan.

Maka tugas umat beragama bukan sekadar mengatakan bahwa agamanya mengajarkan perdamaian.

Tugas yang lebih berat adalah memastikan kehidupan beragamanya benar-benar menghasilkan perdamaian.

Posting Komentar untuk "Buddhisme Militan: Membongkar Wajah Kekerasan Agama di Asia Tenggara"