Schadenfreude: Mengapa Kita Diam-Diam "Bersyukur" Saat Orang Lain Celaka?

Pernahkah Anda sedang menyetir, lalu melihat seorang pelanggar aturan lalu lintas yang ugal-ugalan tiba-tiba terperosok ke parit, dan di dalam hati Anda bergumam, "Rasain, makanya jangan sok jagoan"? Atau mungkin, Anda merasakan percikan kepuasan saat melihat tokoh publik yang selama ini dianggap "musuh" atau sombong akhirnya jatuh tersandung skandal?

Jika iya, Anda tidak sendirian. Perasaan "senang di atas penderitaan orang lain" ini memiliki nama: Schadenfreude.

Melalui buku berjudul Schadenfreude: Mengapa Kita Senang Melihat Orang Lain Susah yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2022), Tiffany Watt Smith mengajak kita membedah sisi gelap manusia ini dengan cara yang sangat jujur, tanpa menghakimi, namun tetap mendalam.

Bukan Sekadar Kejahatan, Tapi Refleksi Diri

Membaca buku ini sering kali terasa seperti sedang menunjuk ke arah diri sendiri. Smith menjelaskan bahwa schadenfreude bukan melulu soal kekejaman. Sering kali, perasaan ini muncul sebagai mekanisme pertahanan psikologis.

Dalam hubungan sosial di masyarakat, kita sering terjebak dalam persaingan terselubung. Rasa iri (envy) sering kali menjadi pendorong utama. Ketika seseorang yang kita anggap sebagai "saingan" atau "pihak lawan" mengalami kemalangan, posisi kita secara otomatis terasa lebih aman atau lebih tinggi.

Karma dan Dahaga Akan Keadilan

Salah satu poin menarik yang relevan dengan kehidupan kita sehari-hari adalah bagaimana kita mengaitkan kemalangan orang lain dengan konsep Karma.

Saat kita melihat orang "jahat" celaka, muncul rasa puas karena kita merasa dunia sedang menyeimbangkan dirinya sendiri. Kita merasa "bersyukur" bukan karena kita haus darah, melainkan karena keyakinan kita bahwa "yang salah harus dihukum" akhirnya terbukti. Di sini, schadenfreude berubah menjadi semacam konfirmasi atas moralitas yang kita anut.

Schadenfreude dalam Komunitas dan Media Sosial

Buku ini juga memberikan perspektif luas mengenai dinamika komunitas. Dalam kelompok masyarakat, schadenfreude sering digunakan untuk mempererat ikatan internal. Menertawakan "musuh bersama" bisa membuat anggota kelompok merasa lebih solid.

Namun, Smith memberikan catatan penting:

  1. Kejujuran Emosional: Mengakui adanya rasa senang ini lebih sehat daripada menekannya di bawah topeng kesucian.
  2. Melihat Secara Menyeluruh: Kita diajak untuk melihat penderitaan orang lain bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai pengingat akan kerentanan manusia. 
  3. Empati vs Kepuasan: Ada batas tipis di mana kita harus berhenti tertawa, terutama jika penderitaan tersebut sudah melampaui batas kemanusiaan.

Kesimpulan: Menjadi Manusia yang Lebih Sadar

Tiffany Watt Smith tidak meminta kita menjadi malaikat yang bersih dari rasa iri. Sebaliknya, ia meminta kita menjadi manusia yang sadar. Dengan memahami mengapa kita merasa senang saat orang lain susah, kita bisa belajar lebih banyak tentang insekuritas kita sendiri, nilai-nilai keadilan yang kita pegang, dan bagaimana kita memandang sesama manusia.

Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami psikologi di balik perilaku netizen, dinamika konflik sosial, atau sekadar ingin berdamai dengan sisi "gelap" di dalam batinnya sendiri.
Bagaimana menurut Anda? Apakah rasa puas saat melihat "karma" terjadi adalah hal yang wajar atau justru tanda kita perlu memperbaiki empati? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Schadenfreude: Mengapa Kita Diam-Diam "Bersyukur" Saat Orang Lain Celaka?"