Discourses on Livy: Ketika Machiavelli Mengingatkan Bahwa Korupsi Dimulai dari Hilangnya Kepedulian pada Kepentingan Umum
Karya lain yang justru dianggap banyak akademisi sebagai pemikiran Machiavelli yang lebih lengkap dan lebih matang, yaitu Discourses on Livy.
Buku ini jauh lebih tebal, lebih filosofis, dan tidak berfokus pada bagaimana seorang pangeran merebut kekuasaan. Sebaliknya, Machiavelli bertanya: bagaimana sebuah negara bisa tetap bebas, kuat, dan tidak jatuh ke dalam kehancuran?
Untuk menjawab pertanyaan itu, ia mempelajari sejarah Romawi kuno melalui karya Livy. Dari sana, ia menemukan sesuatu yang menarik: ancaman terbesar bagi sebuah republik bukanlah musuh dari luar, melainkan korupsi yang tumbuh dari dalam masyarakatnya sendiri.
Yang mengejutkan, korupsi menurut Machiavelli jauh lebih luas daripada sekadar mencuri uang negara.
Korupsi Dimulai Ketika Kepentingan Umum Tidak Lagi Penting
Dalam Discourses on Livy, Machiavelli berulang kali menegaskan bahwa republik hanya bisa bertahan jika warganya memiliki perhatian terhadap kepentingan bersama.
Ketika orang mulai hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarganya sendiri, kelompoknya sendiri, atau golongannya sendiri, republik perlahan kehilangan fondasinya.
Bagi Machiavelli, korupsi adalah keadaan ketika masyarakat tidak lagi bertanya:
"Apa yang baik bagi negara?"
melainkan hanya bertanya:
"Apa keuntungan bagi saya?"
Di titik inilah kebebasan politik mulai melemah.
Jika kita melihat Indonesia hari ini, pertanyaan tersebut terasa relevan. Ketika kepentingan publik sering dikalahkan oleh kepentingan kelompok atau kepentingan jangka pendek, sesungguhnya yang sedang tergerus bukan hanya anggaran negara, tetapi juga semangat kewargaan yang menjadi dasar demokrasi.
Jabatan Publik Berubah Menjadi Alat Kepentingan Pribadi
Salah satu kekhawatiran utama Machiavelli adalah ketika kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah publik. Dalam republik Romawi yang ia kagumi, jabatan publik idealnya digunakan untuk menjaga kepentingan negara.
Namun ketika pejabat mulai menggunakan kedudukan untuk memperkaya diri, membangun dinasti, atau memperkuat jaringan kepentingan pribadi, republik memasuki fase kemunduran. Yang menarik, Machiavelli tidak terlalu terkejut dengan kecenderungan ini. Ia memahami bahwa manusia memiliki dorongan untuk mencari keuntungan.
Karena itulah ia percaya bahwa republik yang sehat harus memiliki mekanisme pengawasan yang kuat. Dan pesan ini terasa sangat modern. Machiavelli seolah mengingatkan bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada karakter individu, tetapi juga pada kuat atau lemahnya institusi pengawasan.
Hukum Menjadi Milik Kelompok Tertentu
Dalam Discourses on Livy, Machiavelli menilai bahwa hukum harus melindungi kepentingan republik secara keseluruhan.
Masalah muncul ketika hukum mulai dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan lebih besar dibanding warga biasa.
Ketika hukum dianggap hanya tajam kepada sebagian orang tetapi tumpul kepada sebagian lainnya, kepercayaan publik perlahan runtuh.
Di sinilah Machiavelli melihat awal kemerosotan republik.
Sebuah negara mungkin masih memiliki gedung pemerintahan, pengadilan, parlemen, dan pemilu. Namun jika masyarakat mulai kehilangan keyakinan bahwa aturan berlaku secara adil, fondasi moral negara tersebut sedang mengalami keretakan.
Apatisme Masyarakat Sama Berbahayanya dengan Korupsi
Salah satu gagasan paling menarik dalam Discourses on Livy adalah bahwa warga negara memiliki tanggung jawab menjaga republik.
Machiavelli tidak percaya bahwa masa depan negara hanya bergantung pada pemimpin.
Ia percaya bahwa kebebasan politik hanya bisa bertahan jika warga aktif terlibat dalam kehidupan publik.
Karena itu, apatisme menjadi ancaman serius.
Ketika masyarakat mulai berpikir:
"Politik itu kotor."
"Percuma mengawasi."
"Bukan urusan saya."
maka ruang pengawasan terhadap kekuasaan menjadi semakin kecil.
Dalam pandangan Machiavelli, republik yang sehat bukanlah republik yang bebas dari konflik, melainkan republik yang memiliki warga yang cukup peduli untuk ikut mengawasi arah perjalanan negaranya.
Demokrasi Tidak Bisa Bertahan Tanpa Warga yang Aktif
Barangkali inilah pesan terbesar Discourses on Livy.
Machiavelli melihat bahwa banyak negara runtuh bukan karena kekurangan pemimpin hebat, melainkan karena kehilangan warga yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Ia tidak menawarkan gambaran masyarakat yang sempurna.
Ia memahami bahwa manusia memiliki ambisi, kepentingan, dan egoisme.
Namun justru karena itulah republik membutuhkan warga yang bersedia menjaga keseimbangan kekuasaan, mengawasi pemimpin, dan memperjuangkan kepentingan umum.
Tanpa itu semua, demokrasi hanya menjadi prosedur administratif yang kehilangan jiwanya.
Mengapa Discourses on Livy Relevan untuk Indonesia?
Membaca Discourses on Livy hari ini terasa seperti membaca cermin yang memantulkan berbagai persoalan demokrasi modern.
Machiavelli mengingatkan bahwa korupsi bukan hanya soal uang yang hilang dari kas negara.
Korupsi juga muncul ketika:
kepentingan umum dikalahkan oleh kepentingan pribadi,
jabatan publik digunakan untuk keuntungan kelompok,
hukum kehilangan rasa keadilan,
masyarakat menjadi apatis terhadap kehidupan politik,
warga berhenti mengawasi kekuasaan.
Karena itu, pesan utama buku ini bukan sekadar kritik terhadap para pemimpin.
Pesan utamanya justru ditujukan kepada seluruh warga negara.
Sebuah republik tidak hancur dalam satu malam. Ia melemah sedikit demi sedikit ketika masyarakat kehilangan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Di sinilah Discourses on Livy menunjukkan wajah Machiavelli yang berbeda dari citra populernya. Bukan Machiavelli yang mengajarkan cara merebut kekuasaan, melainkan Machiavelli yang mengingatkan bahwa kebebasan politik hanya dapat bertahan jika warga negara tetap menjaga moral publik dan keberanian untuk peduli.
Lebih dari lima abad setelah ditulis, pesan tersebut masih terasa sangat dekat dengan realitas yang kita hadapi hari ini. Bahkan mungkin, bagi masyarakat Indonesia modern, Discourses on Livy justru memiliki relevansi yang tidak kalah besar dibanding The Prince.

Posting Komentar untuk "Discourses on Livy: Ketika Machiavelli Mengingatkan Bahwa Korupsi Dimulai dari Hilangnya Kepedulian pada Kepentingan Umum"
Posting Komentar