Mengapa Buku "Semua Bisa Kena" dari Never Okay Project Bukan Sekadar Angka, tapi Alarm Nyata Dunia Kerja

Pernahkah Anda mendengar kalimat, "Ah, cuma bercanda kok, jangan baperan," setelah seseorang melakukan tindakan fisik yang tidak menyenangkan di tempat kerja? Atau mungkin Anda pernah menyaksikan rekan kerja terpaksa bungkam saat area sensitifnya tersenggol, hanya karena pelakunya adalah "orang dekat" sang pemimpin?

Di sinilah buku atau laporan riset "Semua Bisa Kena: Laporan Hasil Survei Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia 2022" hadir. Disusun oleh Never Okay Project yang berkolaborasi dengan International Labour Organization (ILO) Indonesia, laporan ini tidak berbicara di ruang kosong. Ia adalah cermin retak yang memotret realitas pahit yang terjadi di sekitar kita.

Buku ini seakan terus "berbicara" dan semakin relevan hari ini, justru ketika kita melihat fenomena pelecehan di masyarakat—baik di ruang publik maupun domestik—terkesan semakin menjadi-jadi.

Membongkar Anatomi Pelecehan Terselubung lewat Judul "Semua Bisa Kena"

Judul laporan ini sangat kuat dan tepat sasaran. Semua Bisa Kena Never Okay Project membuktikan secara empiris bahwa kekerasan dan pelecehan di dunia kerja tidak mengenal gender, strata jabatan, ataupun jenis industri.

Meskipun pekerja perempuan dan kelompok minoritas menempati persentase korban tertinggi, pekerja laki-laki pun tidak luput dari sasaran. Mulai dari pekerja kantoran korporat, buruh pabrik, pekerja kreatif, hingga pekerja magang dan freelancer, semuanya berada di bawah bayang-bayang risiko yang sama.


Salah satu fokus krusial dalam laporan ini adalah maraknya pelecehan terselubung (hostile environment harassment). Tindakan-tindakan seperti menepuk badan, menyenggol area sensitif, atau melontarkan lelucon bermuatan seksualitas sering kali dikemas secara manipulatif dengan label "bercanda". Ini adalah area abu-abu (grey area) di mana pelaku berlindung, sementara korban dipaksa meragukan validitas trauma mereka sendiri (gaslighting).

Benteng Hirarki dan Pembungkaman Korban

Mengapa kasus kekerasan seksual di tempat kerja begitu sulit untuk dilaporkan? Laporan riset ILO dan Never Okay Project ini menggarisbawahi tebalnya faktor relasi kuasa.

Ketika pelaku memiliki kedekatan dengan pimpinan atau menduduki posisi struktural yang lebih tinggi, korban dihadapkan pada ancaman eksistensial:

  •  Ketakutan akan kehilangan mata pencaharian atau karier yang dihambat.
  •  Ancaman sosial berupa stigma negatif sebagai "wanita yang tidak berharga" akibat budaya patriarki yang sering kali menyalahkan korban (victim-blaming).

Struktur internal perusahaan yang alih-alih melindungi, justru kerap berubah menjadi perisai bagi pelaku demi menjaga reputasi jangka pendek.

Mengapa Isu Ini Semakin Menjadi-jadi?

Jika hari ini kita merasa kasus pelecehan semakin sering terdengar, ada dua sudut pandang yang bisa kita lihat. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa ruang publik kita masih darurat keamanan psikis. Namun di sisi lain, ini adalah tanda bahwa kesadaran kolektif mulai tumbuh.

Buku ini memberikan keberanian dan kosakata baru bagi para korban. Mereka mulai menyadari bahwa apa yang mereka alami selama ini adalah pelanggaran hak asasi, dan mereka berhak untuk bersuara (speak up). Dunia kerja adalah mikrokosmos dari masyarakat; jika budaya permisif terhadap pelecehan di biarkan tumbuh di kantor, ia akan merusak seluruh tatanan sosial kita.

Perspektif Bisnis: Ketegasan Tanpa Kompromi (Zero Tolerance)

Bagi para pemilik kebijakan dan manajemen perusahaan, membiarkan pelecehan terjadi di lingkungan kerja adalah investasi bom waktu. Menutup-nutupi kasus demi "nama baik" justru membuka peluang isu ini menggelinding liar di media sosial. Ketika itu terjadi, kompetitor akan dengan mudah menjadikannya sasaran tembak untuk menjatuhkan kredibilitas bisnis Anda.

Lebih dari sekadar urusan moralitas, menangani kekerasan seksual di tempat kerja secepat mungkin adalah langkah mitigasi risiko reputasi dan finansial. Lingkungan kerja yang toksik terbukti menurunkan produktivitas dan menaikkan angka pengunduran diri karyawan (turnover) bertalenta.

Kesimpulan: Sebuah Rekomendasi Membaca

Review buku Semua Bisa Kena ini membawa satu pesan kuat: Ketegasan tanpa kompromi adalah satu-satunya jalan keluar. Perusahaan harus memiliki aturan hitam di atas putih yang jelas dan sistem pengaduan yang aman (whistleblowing system).

Buku ini adalah bacaan wajib, bukan hanya bagi para aktivis sosial atau pekerja, tetapi terutama bagi para pemimpin perusahaan, manajer HRD, dan pengambil kebijakan. Laporan dari Never Okay Project dan ILO Indonesia ini menantang kita semua untuk berhenti memalingkan muka dan mulai membangun ruang kerja yang aman, bermartabat, dan setara untuk semua. Karena pada akhirnya, jika kita abai, Semua Bisa Kena.

Posting Komentar untuk "Mengapa Buku "Semua Bisa Kena" dari Never Okay Project Bukan Sekadar Angka, tapi Alarm Nyata Dunia Kerja"