Lebih dari Sekadar "Antek Asing": Menyelami Dilema Hidup Londo Ireng dalam Buku Petrik Matanasi

Belakangan ini, istilah "Londo Ireng" kembali mencuat dan hangat dibicarakan publik setelah dilempar dalam pidato politik ruang publik. Kata ini terlontar untuk menuduh pihak-pihak tertentu—mulai dari elemen LSM, wartawan, hingga kelompok kritis—sebagai "antek asing" yang dianggap bekerja merugikan bangsanya sendiri demi kepentingan luar.

Dalam retorika politik modern, Londo Ireng diartikan secara sangat sederhana: pengkhianat. Ia menjadi cap hitam-putih untuk memisahkan siapa yang setia pada tanah air dan siapa yang "menjual diri" pada asing.

Namun, jika kita bersedia menengok ke belakang dan membuka lembaran sejarah dengan kepala dingin, istilah Londo Ireng menyimpan lapis-lapis kompleksitas yang jauh lebih rumit daripada sekadar umpatan politik. Salah satu literatur yang sangat jeli membedah fenomena ini adalah buku karya jurnalis dan penulis sejarah Petrik Matanasi yang berjudul Pribumi Jadi Letnan KNIL (Penerbit Trompet, 2012).

Melalui buku tersebut, kita diajak untuk melihat bahwa keputusan orang-orang pribumi pada masa kolonial untuk mengenakan seragam tentara Belanda bukanlah pilihan yang mudah. Itu adalah sebuah dilema kemanusiaan, garis tipis antara bertahan hidup, mobilitas sosial, dan stigma sepanjang hayat.

Asal Usul Istilah dan Kompleksitas Sejarah

Secara etimologis dalam bahasa Jawa, Londo Ireng berarti "Belanda Hitam". Istilah ini pertama kali muncul pada abad ke-19 untuk menyebut serdadu asal Ghana (Afrika Barat) yang direkrut oleh pemerintah kolonial Belanda untuk berlaga di Hindia Belanda. Bagi warga Jawa saat itu, mereka adalah orang berkulit hitam, tetapi berpakaian, bersenjata, dan berwenang layaknya perwira Belanda.

Seiring berjalannya waktu, istilah ini meluas menjadi sebutan peyoratif bagi siapa saja warga pribumi yang bekerja, berpihak, atau mengadopsi gaya hidup penjajah. Uniknya, stigma ini tak hanya menyasar bidang militer. Dalam sejarah keagamaan di Jawa Timur, misalnya, pengikut Kristen Jawa kelompok J.E. Jellesma di Mojowarno yang didorong mengadopsi gaya hidup Eropa—seperti mencukur rambut dan berpakaian celana/gaun Barat—sempat mendapat julukan yang mirip dari masyarakat sekitarnya yang memegang teguh adat tradisi. Walaupun istilahnya menjadi londo tanpa kursi.

Namun, stigma paling pekat dan membekas dari istilah ini memang tertuju pada satu lembaga: Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), tentara kerajaan kolonial Belanda.

Bedah Buku: Sisi Lain Perwira Pribumi di KNIL

Dalam buku Pribumi Jadi Letnan KNIL, Petrik Matanasi menggali fakta sejarah yang kerap diabaikan dalam penulisan sejarah arus utama (mainstream). Penulisan sejarah resmi kita sering kali terburu-buru mengkotak-kotakkan pelaku sejarah ke dalam dua kubu kaku: pahlawan atau pengkhianat.

Petrik membedah bagaimana pemuda-pemuda pribumi—terutama dari wilayah seperti Jawa, Ambon, Menado, dan Timor—bisa merangkak naik hingga mencapai pangkat perwira (seperti Letnan) di dalam struktur militer kolonial yang sangat diskriminatif.
Bagi serdadu pribumi saat itu, keputusan menjadi KNIL jarang sekali didasari oleh "keinginan luhur untuk mengkhianati bangsa." Kata "bangsa Indonesia" sendiri bahkan belum sepenuhnya mengkristal dalam imajinasi kolektif sebagian besar rakyat di awal abad ke-20. Lantas, apa yang mendorong mereka?

1. Pilihan Efektif untuk Bertahan Hidup dan Mobilitas Sosial

Pada era kolonial, struktur ekonomi sangat menindas rakyat jelata. Menjadi petani sering kali berarti hidup di bawah bayang-bayang tanam paksa, kemiskinan ekstrem, dan penderitaan tanpa akhir. Di tengah himpitan tersebut, menjadi tentara KNIL adalah jalan pintas paling rasional untuk memperbaiki nasib.

KNIL menawarkan gaji yang pasti, jaminan beras, tempat tinggal, pakaian yang layak, serta pensiun. Bagi pemuda dari kampung, mengenakan seragam tentara dan sepatu lars memberikan prestise serta status sosial yang tidak mungkin mereka dapatkan jika tetap menjadi buruh tani.

2. Impian Meretas Glass Ceiling Rasisme Kolonial

Mencapai pangkat Letnan bagi seorang pribumi adalah pencapaian luar biasa sekaligus ironis. Dalam buku Petrik Matanasi, ditunjukkan betapa ketatnya batas rasisme sistemik Belanda. Perwira pribumi berada di posisi yang sangat canggung:
 * Di satu sisi, mereka dihormati dan ditakuti oleh prajurit bawahan yang sesama pribumi.
 * Di sisi lain, mereka tetap dipandang sebelah mata oleh perwira kulit putih Eropa, mendapat fasilitas yang berbeda, serta dibatasi kenaikan pangkatnya.

Mereka hidup di ruang remang-remang: terlalu "Belanda" di mata rakyatnya sendiri, tetapi tidak pernah benar-benar dianggap "Setara Belanda" oleh penguasa kolonial.
Mengambil Keputusan Berat, Tidak Mengambil Pun Serba Sulit

Membaca karya Petrik Matanasi menyadarkan kita bahwa menjadi Londo Ireng di era kolonial adalah sebuah pilihan tragis. Mengambil keputusan untuk bergabung dengan KNIL terasa sangat berat karena harus siap dimusuhi oleh lingkungan sosialnya sendiri. Namun, tidak mengambil keputusan tersebut berarti tetap terjebak dalam pusaran kemiskinan struktural tanpa masa depan.

Menariknya, sejarah tidak pernah benar-benar linier. Banyak dari perwira pribumi lulusan KNIL atau akademi militer Belanda (Koninklijke Militaire Academie) yang di kemudian hari justru menjadi pilar utama pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah proklamasi 1945. Nama-nama besar seperti T.B. Simatupang, A.H. Nasution, hingga D.I. Pandjaitan adalah contoh nyata bagaimana keahlian militer yang didapat dari wadah kolonial akhirnya didarmabaktikan sepenuhnya untuk memerdekakan Republik Indonesia.

Jika kita menilai mereka secara gegabah dengan kacamata hari ini, kita akan dengan mudah melabeli mereka sebagai "mantan Londo Ireng." Padahal, realitas perjalanan hidup mereka jauh lebih dinamis dan penuh kepahlawanan yang lahir dari pemikiran matang.

Refleksi: Berhentilah Menyederhanakan Sejarah demi Narasi Politik

Kembalinya istilah Londo Ireng dalam wacana politik saat ini menunjukkan betapa gemarnya kita menggunakan trauma masa lalu sebagai alat pemukul politik masa kini. Menuduh pihak yang berbeda pandangan atau bersikap kritis sebagai Londo Ireng adalah bentuk penyederhanaan masalah yang tidak mendidik.

Buku Pribumi Jadi Letnan KNIL karya Petrik Matanasi mengajarkan kita satu hal penting: empati sejarah. Sebelum kita dengan mudah melemparkan cap "pengkhianat" atau "antek asing", kita perlu memahami struktur, tekanan zaman, dan dilema manusia di balik sebuah pilihan hidup.

Istilah Londo Ireng tidak sepatutnya direduksi sekadar menjadi komoditas retorika untuk membungkam kritik. Sejarah menyajikan Londo Ireng bukan agar kita mahir menunjuk hidung sesama saudara, melainkan agar kita belajar betapa mahal dan rumitnya harga sebuah identitas kebangsaan di tengah himpitan kekuasaan.
Apakah draf artikel ini sudah pas dari segi nada, kedalaman pembahasan, dan penekanan pesan yang ingin disampaikan?

Posting Komentar untuk "Lebih dari Sekadar "Antek Asing": Menyelami Dilema Hidup Londo Ireng dalam Buku Petrik Matanasi"