Amanat Ilahi di Tengah Kecamuk Prahara 1965: Ketika Seorang Pendeta Menggembalakan Domba di Tengah Kekacauan
September sering membawa ingatan bangsa Indonesia kepada salah satu periode paling kelam dalam sejarahnya. Peristiwa G30S 1965 dan berbagai kekerasan yang terjadi setelahnya telah menjadi bagian dari sejarah yang terus dibicarakan, diperdebatkan, dan diteliti dari berbagai sudut pandang.
Namun, sejarah tidak selalu hadir melalui cerita para pemimpin politik, tokoh militer, atau orang-orang yang namanya tercatat dalam buku pelajaran.
Kadang-kadang sejarah justru terlihat jauh lebih nyata ketika kita membacanya melalui pengalaman seorang manusia biasa yang tiba-tiba harus hidup di tengah peristiwa besar.
Itulah yang saya rasakan ketika kembali membuka sebuah buku dari koleksi pribadi berjudul Amanat Ilahi di Tengah Kecamuk Prahara 1965, karya Drijanto Mestoko, yang diterbitkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
Buku yang saya miliki merupakan terbitan tahun 2014.
Buku ini membawa pembaca kepada pengalaman seorang pelayan Kristen bernama Ismanoe, seorang pendeta yang menjalankan pelayanan di Banyuwangi Selatan, khususnya di daerah Pasanggaran. Tetapi buku ini bukan sekadar cerita tentang pelayanan gereja.
Ini adalah kisah tentang seorang manusia yang datang untuk melayani Tuhan, tetapi kemudian harus menjalankan panggilannya ketika keadaan di sekelilingnya berubah menjadi penuh ketakutan dan kekacauan.
Berangkat untuk Melayani, Bukan untuk Menjadi Saksi Tragedi
Salah satu hal yang menarik dari kisah Ismanoe adalah perjalanan awalnya sebagai seorang pelayan Tuhan.
Ia berasal dari Kediri dan kemudian mendapat tugas pelayanan di Banyuwangi Selatan. Jika kita membayangkan perjalanan itu dalam konteks Indonesia sekarang, mungkin kita tidak terlalu memikirkan persoalan jarak. Kita tinggal menggunakan kendaraan dan perjalanan dapat direncanakan dengan relatif mudah.
Namun, situasinya tentu berbeda pada masa itu.
Transportasi belum seperti sekarang. Komunikasi juga jauh lebih terbatas. Pergi ke sebuah daerah pelayanan berarti benar-benar meninggalkan lingkungan yang telah dikenal untuk memasuki kehidupan baru bersama masyarakat yang berbeda.
Ismanoe datang ke Banyuwangi Selatan bukan dengan mengetahui bahwa beberapa waktu kemudian ia akan menjadi saksi salah satu periode paling mengerikan dalam sejarah Indonesia.
Ia datang untuk melayani.
Mungkin itulah inti sederhana dari seorang pelayan Tuhan: menerima panggilan, pergi ke tempat yang ditugaskan, dan melakukan apa yang dipercayakan kepadanya.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti sejarah seperti apa yang akan datang.
Dan mungkin ketika Ismanoe meninggalkan Kediri menuju Banyuwangi Selatan, ia tidak pernah membayangkan bahwa panggilan pelayanan yang diterimanya akan diuji dalam situasi yang begitu berat.
Pasanggaran dan Potret Kehidupan Banyuwangi Selatan
Hal menarik lainnya dari buku ini adalah cara kisah tersebut memotret kehidupan masyarakat secara cukup detail.
Pasanggaran bukan digambarkan sebagai sebuah nama tempat semata. Kehidupan masyarakatnya hadir melalui interaksi sehari-hari, percakapan, kebiasaan, dan hubungan antarmanusia.
Pembaca dapat melihat bahwa masyarakat di Banyuwangi Selatan tidak hanya terdiri dari satu kelompok budaya.
Ada masyarakat Jawa dan Osing, tetapi juga terdapat masyarakat Madura. Keberagaman itu bahkan terasa melalui dialog-dialog yang dimasukkan dalam cerita.
Penggunaan dialog Madura menjadi salah satu bagian menarik karena menunjukkan bahwa penulis berusaha menghadirkan suasana kehidupan sebagaimana adanya.
Ini membuat buku tersebut memiliki kekuatan tersendiri.
Sejarah tidak hanya muncul dalam bentuk tanggal.
Sejarah muncul melalui manusia.
Melalui cara mereka berbicara.
Melalui bahasa yang mereka gunakan.
Melalui hubungan mereka dengan tetangga.
Melalui ketakutan yang mulai memasuki kehidupan sehari-hari.
Pasanggaran dalam kisah ini bukan sekadar latar belakang sebuah cerita. Ia menjadi ruang kehidupan tempat manusia dari berbagai latar belakang menjalani hari-hari mereka—hingga kemudian keadaan politik nasional turut memengaruhi kehidupan masyarakat di tingkat lokal.
Ketika Sejarah Nasional Masuk ke Kehidupan Sehari-hari
Peristiwa G30S pada akhir September 1965 menjadi titik penting dalam sejarah Indonesia.
Namun, bagi masyarakat biasa, sejarah besar sering kali tidak pertama-tama datang dalam bentuk berita politik yang rumit.
Sejarah datang melalui perubahan suasana.
Orang mulai takut.
Percakapan berubah.
Orang mulai saling mencurigai.
Nama-nama tertentu menjadi berbahaya.
Hubungan sosial yang sebelumnya biasa saja dapat berubah karena identitas politik.
Dan kekerasan yang terjadi setelahnya membuat banyak orang berada dalam situasi yang tidak menentu.
Di tengah keadaan seperti itulah Ismanoe menjalankan pelayanannya.
Seorang pendeta yang sebelumnya mungkin berhadapan dengan persoalan-persoalan kehidupan jemaat seperti keluarga, ekonomi, kesedihan, dan kehidupan rohani, kini harus melihat penderitaan dalam bentuk yang jauh lebih besar.
Di sinilah panggilan pelayanan mulai memasuki wilayah pergulatan yang sangat nyata.
Pergulatan Seorang Pendeta di Tengah Penderitaan
Menjadi seorang pendeta ketika keadaan damai tentu memiliki tantangannya sendiri.
Tetapi bagaimana jika keadaan tidak lagi damai?
Bagaimana jika seorang pelayan Tuhan melihat manusia di sekitarnya berada dalam ketakutan?
Bagaimana jika penderitaan bukan lagi persoalan pribadi, tetapi telah menjadi bagian dari keadaan sosial?
Bagaimana jika seseorang harus mengambil keputusan dalam situasi ketika setiap pilihan memiliki risiko?
Inilah yang membuat tokoh Ismanoe menjadi menarik.
Ia bukan seorang tokoh politik.
Ia bukan seorang penguasa.
Ia tidak memiliki pasukan.
Ia tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan keadaan.
Ia adalah seorang pelayan Tuhan.
Tetapi justru sebagai seorang pelayan Tuhan, ia tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari penderitaan manusia yang terjadi di sekelilingnya.
Di sinilah terjadi pergulatan batin.
Seorang pendeta mungkin dapat berlindung di balik alasan bahwa persoalan politik bukan urusannya.
Tetapi apakah penderitaan manusia juga dapat dianggap bukan urusannya?
Pertanyaan seperti inilah yang membuat pengalaman Ismanoe menjadi sangat dalam.
"Gembalakanlah Domba-Domba-Ku"
Di tengah pergumulan itu, ada pesan yang terus menggema dalam benak Ismanoe:
«"Gembalakanlah domba-domba-Ku."»
Pesan Yesus kepada Petrus dalam Yohanes 21 bukan hanya sebuah ayat yang indah untuk dikhotbahkan.
Dalam konteks pergumulan seperti yang dialami Ismanoe, pesan itu berubah menjadi pertanyaan yang sangat konkret.
Apa arti menggembalakan domba ketika domba-domba itu sedang berada dalam ketakutan?
Apa arti menjadi gembala ketika keadaan di sekeliling sedang bergolak?
Apakah seorang gembala hanya bertugas ketika domba-dombanya berada dalam keadaan aman?
Atau justru tugas seorang gembala menjadi semakin penting ketika bahaya datang?
"Gembalakanlah domba-domba-Ku" bukan sekadar perintah untuk memimpin sebuah kegiatan keagamaan.
Menggembalakan berarti memperhatikan.
Menggembalakan berarti hadir.
Menggembalakan berarti tidak menutup mata terhadap penderitaan.
Menggembalakan berarti membawa tanggung jawab terhadap manusia yang dipercayakan Tuhan.
Tetapi di tengah situasi yang penuh ketakutan, menjalankan panggilan itu tentu tidak mudah.
Kasih dapat membawa risiko.
Kepedulian dapat menimbulkan persoalan.
Keberanian dapat memiliki konsekuensi.
Dan karena itulah pergulatan seorang pendeta tidak dapat dipahami secara sederhana.
Tidak Mudah Menilai Orang yang Hidup di Tengah Ketakutan
Membaca kisah seperti ini dari jarak puluhan tahun kemudian memang mudah membuat kita bertanya:
"Apa yang seharusnya dilakukan?"
"Mengapa tidak melakukan ini?"
"Mengapa tidak berani melakukan itu?"
Tetapi sejarah mengajarkan kepada kita bahwa hidup di tengah ketakutan tidak pernah sesederhana membaca cerita setelah semuanya berlalu.
Kita tidak berada di sana.
Kita tidak mengalami suasana yang sama.
Kita tidak mengetahui risiko yang harus dihadapi seseorang ketika mengambil keputusan.
Karena itu, kekuatan kisah Ismanoe bukan hanya terletak pada tindakan-tindakan yang dilakukan atau keputusan-keputusan yang diambilnya.
Kekuatan cerita ini justru terdapat dalam pergulatannya.
Ia harus mencoba memahami bagaimana panggilan Tuhan dijalankan ketika keadaan tidak ideal.
Bagaimana menjadi seorang gembala ketika dunia di sekeliling sedang kehilangan ketenangannya.
Bagaimana tetap melihat manusia sebagai manusia ketika masyarakat mulai terpecah oleh ketakutan dan konflik.
Panggilan Tuhan Tidak Selalu Datang dalam Situasi yang Ideal
Mungkin inilah salah satu pesan terpenting yang dapat direnungkan dari buku Amanat Ilahi di Tengah Kecamuk Prahara 1965.
Sering kali kita membayangkan panggilan Tuhan dalam situasi yang indah.
Seseorang dipanggil, lalu ia pergi.
Seseorang melayani, lalu pelayanan berkembang.
Seseorang melakukan kebaikan, lalu semuanya berjalan dengan baik.
Tetapi kenyataan hidup tidak selalu demikian.
Seseorang dapat menerima panggilan Tuhan, lalu beberapa tahun kemudian menemukan dirinya berada dalam situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Panggilan itu tetap sama.
Tetapi konteksnya berubah.
Dan ketika konteks berubah, seseorang harus kembali bertanya:
Apa arti panggilan Tuhan bagi saya hari ini?
Ismanoe mungkin datang ke Banyuwangi Selatan dengan semangat pelayanan.
Namun sejarah kemudian mengajarinya bahwa pelayanan tidak hanya terjadi di dalam gedung gereja.
Pelayanan juga terjadi ketika seseorang harus hadir di tengah penderitaan.
Pelayanan terjadi ketika seseorang mendengar ketakutan manusia.
Pelayanan terjadi ketika seorang gembala harus bertanya apa yang dapat dilakukan bagi domba-dombanya.
Sebuah Buku tentang Sejarah, tetapi Juga tentang Kemanusiaan
Amanat Ilahi di Tengah Kecamuk Prahara 1965 memang berhubungan dengan salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Tetapi bagi saya, buku ini tidak harus dibaca hanya sebagai buku tentang G30S.
Buku ini juga dapat dibaca sebagai cerita tentang:
- panggilan,
- keberanian,
- ketakutan,
- pelayanan,
- tanggung jawab,
- iman,
- dan kemanusiaan.
Kita melihat seorang pendeta yang datang ke sebuah daerah untuk melayani Tuhan.
Kita melihat masyarakat dengan latar budaya yang beragam.
Kita melihat kehidupan sehari-hari melalui interaksi dan dialog yang terasa hidup.
Lalu kita melihat bagaimana sejarah besar tiba-tiba memasuki kehidupan masyarakat biasa.
Dan di tengah semuanya, seorang pelayan Tuhan harus kembali mendengar suara panggilannya:
«"Gembalakanlah domba-domba-Ku."»
Mungkin itulah pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini.
Bukan hanya bagi seorang pendeta.
Tetapi bagi setiap orang yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap sesamanya.
Apa yang kita lakukan ketika melihat penderitaan?
Apakah kita hanya menjadi penonton?
Apakah kita berkata bahwa itu bukan urusan kita?
Atau kita mencoba bertanya:
Apa yang dapat saya lakukan sebagai manusia?
Karena mungkin panggilan Tuhan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman.
Kadang-kadang, panggilan itu membawa seseorang ke tengah dunia yang sedang mengalami prahara.
Dan di tengah prahara itulah seseorang harus kembali mengingat:
Gembalakanlah domba-domba-Ku.


Posting Komentar untuk "Amanat Ilahi di Tengah Kecamuk Prahara 1965: Ketika Seorang Pendeta Menggembalakan Domba di Tengah Kekacauan"
Posting Komentar