Rabu, 15 April 2020


Perjalan setiap manusia itu bukan hanya memiliki lika-likunya sendiri tapi lebih dari pada itu penuh misteri dan bahkan karena saking sulit ditebak terkadang membingungkan. Setidaknya kalau membaca buku yang ditulis oleh Anton Kurnia berjudul, Dari Penjara Taliban Menuju Iman yang menceritakan kisah seorang wanita yang sebelumnya pernah dipenjara oleh Taliban tapi akhirnya menjadi mualaf. Wanita itu bernama Yvonne Ridley, seorang yang pernah menggemparkan dunia karena selama 10 hari ia harus mendekam menjadi tawanan Taliban ketika dia menjalankan tugasnya sebagai reportase Sunday Express dan Daily Express.

Tapi seperti banyak orang lain yang pernah melakukan konversi keyakinan atau agama biasanya didahului oleh banyaknya persoalan dan beban hidup yang harus ditanggung, demikian juga dengan kehidupan Yvone. Pergulatan batin secara pribadi yang telah menjadi bagian hidupnya tentu saja bukan penentu utamanya sehingga meninggalkan keyakinan sebelumnya dan menjadi mualaf dunia, tapi bisa menjadi pemicu dan pemantik sehingga berkeputusan untuk memeluk Islam.

Menjadi menarik ketika menelusuri kehidupan masa kecil dari Yvone yang diulas oleh buku ini di mana ia dilahirkan tahun 1958 di Stanley, County Durham, Inggris, sebagai anak bungsu dari 3  bersaudara. Masa kecil hingga remaja gadis cantik ini aktif di gereja karena memang keuarganya cukup religius dari keluarga Protestan. Seperti layaknya remaja aktif iapun menjadi anggota paduan suara dan pernah menjadi guru Sekolah Minggu (Ini biasa terjadi di kalangan gereja). Namun demikian ketika memasuki masa dewasanya Yvone kehidupannya mulai mengalami banyak masalah khususnya dalam kehidupan asmaranya. 3 kali ia menikah dalam umur kepala 4.

Perkenalannya dengan Muslim sebenarnya juga menjadi bagian dari kehidupan pernikahannya khususnya ketika ia menjalin asmara dengan Daoud Zaarourra, seorang lelaki Muslim asal Palestina. Daoud sendiri sebenarnya seorang kolonel PLO (Palestine Liberation Organization - atau yang kita kenal dengan Organisasi Pembebasan Palestina). Beberapa catatan mengenai Daoud, dia adalah mantan komandan Fatah (sayap militer PLO) di Lebanon tahun 1972-1976 dan dia dipercaya menjadi kepala intelijen pribadi Yasser Arafat. Yvonne bertemu dengan Daoud di Siprus ketika melakukan liputan jurnalistiknya tahun 1991.

Rupanya hubungan itu berlanjut walaupun Yvonne kembali ke Inggris tapi hubungan asmara itu berlanjut sampai Daoud mengunjungi kekasihnya itu sampai Yvonne hamil awal tahun 1992, walaupun hubungan mereka tidak sampai ke pelaminan. Walaupun ditentang oleh rekan-rekan Daoud di antara sejawatnya karena dianggapnya Yvonne bisa jadi perempuan mata-mata, tapi mereka berdua tetap menjalin hubungan. Buah cinta hubungan mereka akhirnya lahirlah anak bernama Daisy 3 Oktober 1992. Daoud akhirnya pindah ke Inggris, tapi hubungan mereka mulai mengalami masalah ketika Yvonne karena kesibukannya yang sangat tinggi menjadikan hubungan mereka mulai renggang.

Memang keberhasilannya sebagai jurnalis kawakan memang menyita banyak waktunya. Tapi di sisi lain, kegagalannya dalam semua pernikahannya tentu menimbulkan banyak luka dalam kehidupannya. Tapi pengalamannya dalam penangkapan dirinya oleh Taliban menjadi catatan tersendiri baginya. Bahkan pengalamannya itu mengubah cara pandangnya mengenai Islam dan bahkan mendorongnya untuk belajar lebih banyak mengenai agama tersebut. Hubungannya dan kedekatannya dengan beberapa tokoh dan ulama Muslim tentu membawanya untuk akhirnya mengambil keputusan untuk berpindah agama.

Buku yang sangat menarik untuk dibaca karena memberi banyak inspirasi mengenai bagaimana perjuangan wanita Barat yang benar-benar memiliki ketertarikan dengan Islam. Seperti yang diungkap oleh penulisnya bahwa buku ini bukan sebuah "buku dakwah" yang hanya ditujukan kepada pembaca Muslim, tapi di dalamnya membawa banyak pesan-pesan kemanusiaan dan tentu pesan perdamaian termakhtub di dalamnya.
loading...

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates