Jumat, 03 Juli 2020

loading...

Pemilihan judul tulisan di cover dalam menilai buku menarik ini menurut saya sedikit bombastis dan cenderung hanya ingin menarik minat pembaca, atau setidak-tidaknya seperti pancingan agar orang merasa terkesima. Khususnya kata yang digunakan, Anak Pendeta Muallaf. Karena kalau membaca isi buku ini hampir tidak ada hubungannya masalah keputusan menjadi muallaf dari tokoh yang diceritakan ini dengan orang tuanya sang pendeta itu sendiri. Kecuali hubungannya sebatas anak dan bapak. Dan narasi inilah yang rupanya sering dipakai sebagai iklan untuk menarik minat terhadap ketokohan seseorang. Padahal, sepak terjang tokoh yang diceritakan itu bukan melulu soal bagaimana dia menjadi Muallaf, tapi bagaimana ia berjuang dengan luar biasa untuk menghapus rasisme.

Tapi kembali kepada kecenderungan pemilihan narasi MANTAN ini menggejala. Makanya jangan kaget, kalau kemudian muncul banyak narasi serupa jaman sekarang dengan pola-pola yang sama. Contohnya, anak pendeta bergelar STh, muallaf, mantan pendeta menjadi muallaf. Lulusan Vatikan Menjadi muallaf, mantan pastor menjadi muallaf, mantan pendeta menjadi muallaf  dan seterusnya. Tapi tentu saja, pemilihan kata seperti disebut di atas bukan melulu dari pihak Muslim, dari pihak Kristen juga sama. Contohnya, sepulang dari tanah suci, percaya Yesus, seorang Muslim menerima Yesus, Anak asli Melayu percaya Yesus, dan seterusnya dan seterusnya. Tentu saja, pemilihan kata tersebut bukan tanpa maksud dan tujuan. Apalagi kalau bukan untuk memberi drama dalam penyampaian pesan yang disampaikan. Apakah itu salah? Andalah penilai yang obyektif.

Tapi kembali kepada buku yang memberi penjelasan rinci mengenai tokoh yang selama ini hanya mendengar namanya dan sepak terjangnya yang luar biasa yaitu Malcolm X. Buku ini seakan memberi kemudahan bagi pembacanya untuk mengikuti secara runtut kehidupan tokoh luar biasa dari Amerika Serikat ini sejak lahir dan kehidupannya serta prosesnya menjadi muallaf dan perjuangannya mengembangkan syiar Islam di negara Paman Sam itu.

Tapi pujian bagi buku ini dalam menceritakan perjalanan hidup sang tokoh begitu runtut dan detail, sehingga bagi siapapun yang membaca buku ini akan mudah mengikuti alur kisah hidupnya. Buku yang ditulis oleh Riswan Permadi ini memang bercerita sangat runtut bagaimana Malcolm X berjuang untuk memutuskan mata rantai rasisme yang sampai hari ini belum selesai di Amerika Serikat. Rasisme memang sangat berbahaya bagi siapapun dan di manapun.

Perjuangan Malcolm X yang lahir tumbuh dan besar di bawah tekanan rasisme itu sangat menyakitkan dan mempengaruhi seluruh kehidupannya. Rasisme yang dialaminya sudah mendarah daging dan hal tersebut mempengaruhi seluruh kehidupan dalam arti, cara berpikir, pandangan hidup dari kelompoknya serta pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadiannya seakan membentuk hidup kelompoknya dan Malcolm X khususnya.

Satu pujian lagi buku ini adalah kehidupan Malcolm X bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapapun termasuk di negara ini bahwa rasisme (apapun bentuknya) suatu saat akan menemui jalannya sendiri bagi timbulnya sesuatu yang positif atau malah sebaliknya negatif sebagai buahnya. Di sinilah cita-cita Malcolm X yang berjuang melalui agamanya untuk menghapus rasisme yang sudah berkembang parah tersebut. Sebuah perjuangan yang patut dihargai dan menurut saya inilah model muallaf yang benar-benar sibuk dengan tujuan positifnya yaitu menghapus rasisme yang terjadi saat itu. Jadi, sekali lagi buku ini bukan berbicara bagaimana pergumulan batin seorang Malcolm X menjadi muallaf, tapi bagaimana perjuangan Malcolm X setelah menjadi muallaf yang memberi inspirasi. Itulah kelebihannya, bukan penyerangan terhadap keyakinan agama orang tuanya.




Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates