Rabu, 01 Juli 2020

loading...
Buku ini sebenarnya sudah saya baca cukup lama ketika masa kuliah dulu. Tentu saja buku tersebut cover dan tampilannya sudah lusuh dan judul muka depan agak buram. Setelah bekerja, saya ingat buku tersebut dan ingin mencari buku itu lagi untuk dibaca. Bukan apa, karena isi buku tersebut seperti bergema ketika berhadapan dengan dunia nyata yang terkadang tidak luput kita melakukan BOHONG ini. Bersyukur Penerbit Gema Insani, Jakarta kembali mencetak ulang dengan tampilan yang cukup menarik dengan tahun cetakan 2017 lalu yang dipegang saya dengan tanpa mengubah judul buku BOHONG DI DUNIA.

Ingin fokus dengan apa yang disampaikan oleh penulis yaitu Prof. Dr. Hamka dalam pendahauluan buku setebal 123 + xii dengan statmen awal bahwa, salah satu bukti suatu jiwa yang masih berjiwa budak, jiwa hamba adalah kebiasaan berbohong, kebiasaan memungkiri janji, serta kebiasaan tidak bertanggung jawab atas suatu kesalahan yang dilakukan dan tidak mau mengakui perbuatan sendiri. Sebaliknya sikap kejujuran dan keberanian mempertahankan kebenaran adalah intisari dari jiwa yang merdeka. Sementara, kebohongan atau kemunafikan adalah gejala dari jiwa budak.

Buku yang terbit pertama kali tahun 1949 ini terasa menarik karena begitu konprehensif Dr. H. A Malik Karim Amrullah membahas mengenai kobohongan ini dengan berbagai aspek-aspeknya dalam kehidupan, seperti bagaimana bohong itu ternyata begitu banyak warnanya dan penyebutannya. Tapi yang lebih nyata adalah bagaimana pembahasan itu memang didasarkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya, walaupun buku ini ditulis puluhan tahun lalu, tapi relevansinya sampai hari ini masih bisa diandalkan di kalangan kita manusia.


Buku ini akan terasa komplit karena ketika penulis berbicara mengenai bohong, dengan melihat bahwa kebohongan itu sendiri sudah menjadi banyak perhatian bagi banyak kalangan, baik dari analisa agama, filsafat, dan kajian ilmu jiwa. Dr. Hamka ketika membidik masalah bohong dari sikap agama terhadap kebohongan ini dengan melihat dari tiga agama besar (Samawi) yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam yang sebenarnya berasal dari satu rumpun, yaitu agama yang mengakui adanya SATU Tuhan. Tentu saja pemaparan HAMKA ini menunjukkan keluasan ilmunya bukan hanya agama yang dianutnya, tapi juga terhadap agama-agama Samawi lainnya dengan melakukan kutipan-kutipan dari kitab agama-agama tersebut. Tentu saja porsi pemaparan terhadap Islam cukup besar sehingga dalam cover belakang juga disebut bagaimana Dr. Hamka mengulas-kaji bohong dari perspektif Islam.

Sementara dari segi ilmu jiwa Buya Hamka juga membahas secara praktis pengaruh apa yang menjadikan seseorang itu bertumbuh menjadi pembohong. Sementara dari segi kajian ilmu filsafat, Buya Hamka menelusuri pendapat-pendapat pafa filosuf mengenai bohong ini. Tapi lebih menarik buku ini karena dari sinilah kita bisa melihat berbagai karakter manusia dengan masalah kebohongan. Akan menjadi nyata ketika kita melihat, bahkan melakukan serta berinteraksi dengan orang lain yang bila kebetulan kita lagi membohongi orang lain, atau kita dibohongi pihak lain.

Tapi tentu saja, yang paling penting supaya buku ini menjadi bermanfaat bagi kita adalah bagaimana kita berjuang untuk menjadi pejuang-pejuang kejujuran, pejuang-pejuang mental yang kokoh bila suasana mendukung kita untuk berbohong, kita bisa menjadi orang yang bertahan untuk tetap pada jalan yang benar, dan membuang semua kebohongan. Semoga!

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates