Minggu, 12 Juli 2020

loading...

Memang perjuangan untuk mencapai sesuatu terkadang dilalui dengan kerja keras dan air mata serta cucuran keringat yang menjadikan kita lelah dan capek dan bahkan tekanan sangat tinggi. Tapi bisakah kita di saat-saat berjuang tersebut bisa menikmati kebahagiaan? Bukankah perjuangan itu sendiri terkadang berpengaruh dengan sikap, cara pikir dan bahkan emosi yang bisa-bisa merebut kebahagiaan itu sendiri. Buku ini seperti ingin menjawab, bahwa ketika kita berjuang ingin mencapai apa yang kita cita-citakan, kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Setidak-tidaknya itulah yang ingin disampaikan oleh Teng Hui dalam Buku Kunci Kebahagiaan yang ditulis oleh penulis handal yaitu Alberthine Endah. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta dengan tahun terbit 2017. Buku memiliki ketebalan 343 halaman.

Kalau dilihat sepintas memang buku ini seperti buku motivasi, hanya saja yang menyampaikan adalah pelaku bisnis itu sendiri di mana di samping Teng Hui sudah mengalami dan merasakan apa yang sudah ditulisnya itu juga tulisan ini menjadi kaya karena teorinya yang bisa dilihat dari apa yang tertulis, tapi juga berisi praktis dari apa yang sudah dialaminya. Menjadi hidup tulisan ini karena terasa nyata berdasar pengalaman yang sudah dilewatinya.

Membaca buku ini lembar demi lembar benar-benar kaya akan makna untuk mencapai kebahagiaan bagi mereka yang mendambakannya. Dengan contoh dari tokoh yang menjadi ide penulisan buku ini berupa pengalaman hidup yang dijalaninya. Sejak meninggalnya sang ayah Teng Hui memang memasuki hidup masa kecil hingga remaja dalam babak baru yang sangat memprihatinkan. Jikalau sebelumnya ketika ayahnya menjadi orang yang berhasil dalam bisnis yang dilakoninya, kehidupan keluarganya terasa menyenangkan. Semuanya berjalan dengan menyenangkan dan membahagiakan. Topangan keberhasilan dalam hidup orang tuanya dirasakannya hingga semuanya berakhir ketika sang ayah pergi kepada penciptanya.


Dengan mewariskan usaha ayahnya dan kemudian dikelola oleh sang ibu, rupanya tidak memperpanjang keberhasilan itu. Sebaliknya usaha bisnis ayahnya itu semakin surut hingga jatuh. Imbasnya adalah Teng Hui harus masuk ke dalam hidup yang sangat menderita, kekurangan dan miskin serta jauh dari kata bahagia. Ia berpikir, kalau ia memiliki kekayaan seperti orang lain mungkin dirinya akan bahagia. Makanya berbagai cara untuk mempertahankan hidup dilakoninya. Tentu saja pengalamannya tidak semudah menuliskannya karena penderitaannya juga bukan sederhana.

Tapi prinsipnya ia terus "bergerak" istilah yang dipakai untuk menunjukkan bahwa ia terus berusaha, akhirnya membuahkan hasil. Ia menjadi orang yang boleh dikatakan sukses dengan keberhasilan yang luar biasa dalam banyak usaha. Hingga, Teng Hui bukan lagi menjadi orang yang kekurangan tapi bisa dikata memiliki banyak harta berkat usahanya itu. Namun demikian di saat-saat ia berhasil ia kemudian merenungkan apakah dirinya bahagia? Ternyata tidak!

Menurut pengakuannya, Teng Hui sampai dalam satu titik yaitu merindukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Karena sebaliknya ia merasa gelisah. Hasil pencariannya dengan melihat di luar dirinya yaitu, kenapa dirinya selalu cemas, kenapa dirinya tidak bahagia, dan kenapa harus berpikiran buruk. Dan akhirnya didapatkan bahwa, ternyata kebahagiaan itu bukan tentang apa yang kita capai, tapi apa yang kita pikirkan, kemudian disalurkan menjadi sikap dan cara pandang. Patokan kebahagiaan itu bukan terletak pada materi, reputasi dan takaran-takaran lainnya yang diciptakan dunia. Karena semua itu terus bergerak dan tidak akan pernah mencapai satu titik yaitu kepuasan. Buku yang patut untuk dibaca oleh siapapun, supaya kita mencapai apa yang disebut dengan kebahagiaan.



Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates