Selasa, 25 Agustus 2020

loading...

 

Kesan pertama ketika membaca di halaman-halaman awal dari Buku Cak Nur, Sang Guru Bangsa oleh Muhamad Wahyuni Nafis ini saya menangkapnya adanya sebuah perjuangan dari pemikir besar anak bangsa Prof. DR. Nurcholish Madjid. Perjuangan itu sendiri nantinya akan membuahkan hasil gemilang di mana Sang Guru Bangsa itu melahirkan pemikiran-pemikiran yang berguna bukan hanya bagi agamanya, tapi lebih dari pada itu bermanfaat besar bagi bangsa dan negeri ini. Mengenai buku ini, walau isinya luar biasa tapi bahasa yang digunakan dalam buku ini begitu ringan dan enak dibaca.

Ringan karena disampaikan dengan runtut bagaimana perjuangan Cak Nur diceritakan dengan apik seakan-akan kita mengikuti kehidupan Cak Nur bagaimana berjuang untuk mencapai pendidikan yang terkadang dirinya berada di tengah-tengah 'minoritas' dalam masyarakatnya ketika itu. Pada jamannya memang sebuah komunitas atau kelompok kala itu masih menjadi pegangan yang sangat keras di mana Cak Nur yang lahir dari keluarga Masyumi sering harus bersinggungan dengan NU yang saat itu berseteru. Imbas perseteruan itu tentu saja berpengaruh dalam segala sendi kehidupan termasuk ke dunia pendidikan yang dilewatinya. 

Penulis buku ini sendiri berhasil menampilkan sosok gurunya tersebut secara menyeluruh, dari masa kecilnya sampai kepada pemikirannya dengan sebutan Trilogi Pemikiran Cak Nur yaitu tawhid, pluralisme, dan Indonesia  sebagai modern  nation state. Sehingga dengan membaca buku ini kita akan disuguhkan sebuah kehidupan yang menyeluruh dari sosok Cak Nur. Dari kesederhanaannya dalam hidup, kerendahhatiannya dalam bersikap serta kecerdasannya bukan hanya diakui oleh banyak kalangan, tapi juga terpotret dengan jelas dari buku ini.

Memang tokoh Cak Nur yang datang dari daerah Jombang, Jawa Timur dengan berjuang dalam menempuh pendidikan dengan gemilang di beberapa tempat termasuk di Pondok Pesantren Moderen Gontor. Kemudian mengejar kehausan ilmunya di Jakarta. Kota yang sebenarnya tidak pernah ditempatinya sebelumnya. Makanya, di ibukota itulah Cak Nur yang menjadi mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Sebuah perjuangan bukan hanya dalam soal pendidikan, tapi juga bagaimana berjuang untuk bisa tinggal di metropolitan itu sambil belajar.

Jejak-jejak kehebatan Cak Nur juga bisa dirasakan sendiri oleh sahabatnya ketika mereka kuliah di Universitas Chicago yaitu Prof  Dr.. Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute, dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (2000-2005) yang menyebut Cak Nur sebagai intelektual kelas berat Indonesia yang menyangkut keislaman, kemodernan, keindonesaan, dan kemanusiaan universal.

Buku yang diterbitkan oleh Kompas tahun 2014 ini boleh dibilang berat tapi juga ringan untuk dinikmati supaya kita bisa banyak belajar dari orang-orang besar dengan mengambil hikmah, ketekunan, kesederhanaan serta semangat untuk terus melihat Indonesia sebagai sebuah bangsa. Semoga.


Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates