Kamis, 10 September 2020

loading...


Buku yang menjadi perhatian saya untuk ditampilkan ini merupakan bacaan yang sangat menarik untuk dibaca dan juga perlu oleh generasi saat ini. Karena buku ini kalau boleh dibilang memiliki gambaran seperti pepatah, "tidak makan nangkanya, tapi dapat getahnya". Ya, buku ini bercerita mengenai bagaimana perjalanan seseorang yang sedang berada di tempat yang tidak tepat di waktu yang tidak pas juga. Kisah perjalanan hidup anak manusia bernama Waloejo Sedjati yang sedang menerima beasiswa dengan menempuh pendidikan di negeri komunis yaitu Korea Utara, tapi akhirnya tidak bisa pulang kembali ke Tanah Air yang ia rindukan karena terhalang oleh situasi dari akibat Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Buku ini berjudul: Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa, dan Paris. Buku terbitan Kompas ini diterbitkan tahun 2013 silam. Buku ini menjadi sangat penting bagi kita supaya belajar dari pengalaman orang lain bagaimana kita tidak semena-mena memberikan label kepada siapapun dengan tuduhan yang membawa kesengsaraan bagi orang yang dituduh. Termasuk menuduh secara serampangan orang yang tidak kita sukai dengan label politik yang dianggap menakutkan bernama komunis.

Mengapa? Waloejo Sedjati telah merasakan bagaimana dampak dari 'dianggap' bagian dari komunis itu sendiri menjadikan dirinya seperti menjadi manusia terlempar dari komunitas besarnya yaitu Indonesia. Dia sendiri sebenarnya ingin pulang, ingin bertemu sanak saudaranya, ingin berjumpa dengan orang-orang yang dikasihinya, dan bisa bersua dengan kampung halaman yang telah membesarkannya setidak-tidaknya sampai masuk ke usia kuliiah. Tapi semua itu menjadi hilang karena dia sendiri tidak bisa pulang, karena pemerintah Orde Baru mencabut paspornya dan tidak memiliki harapan bisa kembali ke Tanah Air yang dicintainya itu.

Padahal Waloejo Sedjati sendiri tidak tahu menahu peristiwa yang menggegerkan Tanah Air saat itu. Karena dia sendiri sedang melakukan studi di Korea Utara untuk belajar kedokteran di Pyongyang. Dalam tulisan-tulisan yang ditulisnya itu Waloejo memaparkan pengalaman yang sebenarnya tidak mengenakkan dengan aturan super ketat ketika studi di Korea Utara tersebut. Semuanya diatur dari tidur, berbelanja, melakukan kegiatan apapun dari setiap individu semuanya dalam pengawasan pemerintah. 

Negeri asing yang memang menuntut adaptasi tinggi dari setiap orang yang ingin belajar di dalamnya, bukan saja harus beradaptasi dengan berbagai kebiasaan sehari-hari yang lazim, tapi juga lebih dari itu Waloejo harus beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan super ketat di mana apa yang boleh dan mana yang tidak boleh. Mata-mata selalu siap mengawasi setiap gerekan hidupnya, setiap hari. 

Saking ketatnya sejarawan Asvi Warman Adam yang memberikan Kata Pengantar dalam buku ini menyebutnya kehidupan mahasiswa asing di Pyongyang itu seperti berada dalam tahanan, seperti pesakitan. Sampai akhirnya ketika terjadi G30S PKI tahun 1965 seperti membuyarkan impiannya untuk bisa kembali ke Indonesia oleh karena paspor sebagai data diri yang sah di negeri orang itu dicabut oleh pemerintah RI saat itu pada tahun 1967 setelah menolak skrining KBRI kala itu. Maka setelah itu Waloejo tidak memiliki kewarganegaraan, dan meminta kepada pemerinta Pyongyang untuk bisa tinggal dan bekerja di Korea Utara. 


Namun demikian, di negara Sosialis itu ia malah hidup selalu di bawah tekanan karena semua kegiatan hidupya selalau dalam pengawasan. Maka ia megajukan pindah ke negara sosialis lainnya yaitu Uni Soviet tahun 1970. Di negeri tersebut ia menyelesaikan Ph.D nya dan bekerja juga di negeri Lenin tersebut dan menetap di negeri tersebut selama 12 tahun hingga ia kemudian pindah ke Perancis tahun 1981 dan menetap di Paris hingga akhir hayatnya tahun 2013.

Membaca buku ini benar-benar kita dibawa oleh suasana kota di mana Waloejo mengalaminya. Ia seperti mewakili kita memberi gambaran situasi dan kondisi di mana ia sedang menetap, baik itu di Korea Utara, Uni Soviet dan Paris Perancis. Tapi yang paling menarik adalah bagaimana perjalanan Seorang Waloejo berada di negeri orang sebagai orang Indonesia yang kehilangan Tanah Air yang telah melahirkannya dan mengembara ke berbagai negara. Rindu pulang, pasti, ingin kembali jelas, tapi karena imbas dari G30S PKI ia harus berada di tempat yang jauh. Jauh dari negerinya, jauh dari keluarganya dan jauh dari semua kenangan-kenangan masa kecilnya.


Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates