Selasa, 16 Maret 2021

loading...

Sumber Foto: Flickr

Membaca repostingan Romo Jost Kokoh Prihatanto di media sosial Facebook yang terkoneksi pertemanan dengan Redaksi idebuku.com mengenai Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ mengingatkan Redaksi kepada buku mengenai tokoh ini. Postingan tersebut berkisah mengenai bagaimana tokoh yang masuk dalam deretan pahlawan nasional RI itu memberi andil dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tentu yang ia lakukan adalah ia berjuang sesuai dengan jalan hidupnya. Di sinilah makna penting bagaimana setiap orang Indonesia apapun agamanya, sukunya, latarbelakangnya, pekerjaannya, dan seluruh kehidupannya dapat dijadikan jalan untuk melakukan tindakan demi Indonesia. Artinya, ada dua hal penting yang bisa dipetik pelajaran dari hal ini yaitu, tidak ada seorangpun yang bisa menghalang-halangi seorangpun untuk bisa melakukan perjuangan bagi negeri ini. Semuanya memiliki hak yang sama untuk melakukan perjuangan itu sendiri, tidak perduli dari latar belakangnya. Kedua adalah apapun pekerjaan dan profesi seseorang bisa dijadikan jalan untuk melakukan perjuangan untuk Indonesia ini.

Judul           : Soegija: Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan

Penulis        : G. Budi Subanar, SJ

Penerbit      : Galangpress, Yogyakarta

Tahun         : Cetakan 1, 2012

Halaman    : 553 Halaman


Ketika membaca buku yang mendapat pengantar dari sutradara film Soegija Garin Nugroho ini banyak pelajaran yang bisa didapatkan yaitu bagaimana bentuk perjuangan seorang rohaniawan dalam hal ini rohaniawan Katholik melakukan perjuangan bagi Indonesia. Tentu perjuangan yang dilakukan berbeda dengan mereka yang memanggul senjata di medan perang. Namun perjuangan yang dilakukan adalah perjuangan yang sesuai dengan jalan hidup yang dijalaninya. Buku ini memang bertitik tolak kepada perjuangan terhadap kemanusiaan yang menjadi ciri khas ajaran keyakinannya. Sehingga buku ini mengambil anak judul dengan istilah pejuang kemanusiaan.

Dua cara berbeda ini sama-sama penting dilakukan dan keduanya sama-sama dibutuhkan. Bila pejuang militer beserta laskar rakyat melakukan perang gerilya, sementara para pemimpin pemerintahan melakukan gerilya diplomasi untuk berhadapan dengan pihak-pihak asing. Dalam hal ini Mgr. Albertus Soegiyapranata, SJ, seorang uskup agung Semarang dan merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia yang tentu banyak melakukan usaha pemeliharaan dan pembinaan terhadap umat di tengah-tengah masa pergolakan tersebut.

Nah, melalui catatan harian yang ditulis oleh uskup Soegija secara runtut dari 13 Februari 1947-17 Agustus 1949 ini kita bisa membaca dengan runtut kehidupan dan perjuangan yang dilakukannya, baik terhadap umat maupun terhadap negara Indonesia saat itu. Dari buku ini juga kita bisa mendapat banyak informasi penting peristiwa-peristiwa yang terjadi di mana ia melakukan usaha-usaha sebagai respon terhadap perkembangan negara ketika itu. Dari sini bisa ditangkap bahwa ia melibatkan diri dalam isu-isu yang terjadi saat itu sebagai cara untuk mempertahankan Republik Indonesia.

Bila dilihat dari tahun, tanggal dan bahkan waktu begitu lengkap seperti layaknya sebuah catatan harian di mana peristiwanya tahun 1947-1949 yang merupakan masa-masa awal di mana negara Indonesia baru saja menyelenggarakan kemerdekaan tentu masih membutuhkan perjuangan. Peristiwa pemindahan ibukota pemerintah RI dari Jakarta ke Yogyakarta merupakan strategi menyelamatkan kemerdekaan pemerintah RI kala itu. Di sanalah beliau terlibat dengan beberapa tokoh penting berkenaan hal tersebut.

Sementara sebagai pemimpin agama Katolik di Indonesia ketika Belanda melakukan agresi militer pertama, beliau menyerukan supaya diadakannya genjatan senjata dan melakukan kritik pedas kepada umat Katolik belanda yang tergabung dalam Partai Katolik Belanda karena peran partai tersebut cukup besar atas aksi militer tersebut. Dengan tegas Soegija menyatakan bahwa umat Katolik Indonesia setia berada di pihak Republik Indonesia. 

Sebuah inspirasi di mana menjadi apapun tidak bisa menghapus keindonesaan kita. Beragama apapun seharusnya tetap menjadi Indonesia. Uskup Soegijapranata telah memberi contoh di mana sebagai pemimpin Katolik yang berkiblat kepada Vatikan tetapi Indonesia tetap menjadi harapan beliau berkarya.

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates