Senin, 15 Maret 2021

loading...


Penulisan sebuah buku tentu saja bukanlah dihasilkan dengan cara sederhana. Pikiran-pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan adalah usaha yang tidak bisa dihasilkan dalam sekejab, apalagi topik yang dipilih termasuk katagori berat, maka pastilah membutuhkan kerja keras dan memeras otak yang tidak mudah. Apapun isi sebuah buku, itu adalah sebuah pekerjaan yang tentu membutuhkan waktu yang tidak pendek, Makanya mengapa Redaksi benar-benar menghargai setiap buku yang dihasilkan dari sebuah tahap-tahap sulit sehingga perlu untuk diapresiasi. Kalaupun topik yang dipilih itu adalah menyangkut keyakinan penulis yang mungkin berbeda dengan suara mayoritas, tapi tetaplah kita harus menghargainya sebagai sebuah karya yang perlu mendapat acungan jempol. Termasuk buku yang ingin diangkat dalam postingan ini. Oh ia, kalaupun gagasan yang disampaikan berbeda tentu saja perbedaan itu tidak harus diserang dengan cara kasar, apalagi dalam bentuk caci maki, atau melecehkan. Karena yang harus menjadi budaya literasi adalah sebuah gagasan, dilawan dengan gagasan, sebuah ide harus dijawab dengan ide, tidak dengan pelecehan apalagi dengan tuduhan sesat dan menyesatkan.

Judul                : Mengapa Nama YAHWEH Semakin Populer?

Penulis             : Pdt. Jahja Iskandar, M.Th

Penerbit           : PT. Arbiyah Pratama, Jakarta

Tahun              : 2009

Halaman         : 188 Halaman

Buku ini diterima oleh Redaksi bersamaan dengan Alkitab dengan versi Indonesian Literal Translation yang kini ketika artikel ini ditulis masuk dalam edisi 3. Tentu saja Alkitab versi ILT ini menjadi andalan dari penulis buku ini. Karena ILT sendiri merupakan Alkitab versi lain dari yang ada sekarang khususnya yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia LAI. Karena di dalam Alkitab versi ILT ini penggunaan nama YAHWE sangat ditonjolkan. Seperti yang disampaikan dalam Kata Pengantar buku ini yang sangat bersyukur dengan kehadiran Alkitab ILT karena hal tersebut akan membangkitkan kembali penggunaan nama YAHWEH dalam kehidupan sebagian orang Kristen. Maklum, penulis merasa bahwa penggunaan Nama YAHWEH dari sisi penyebutan kata sebenarnya lebih otentik menurut penulis ada di dalam keseluruhan Alkitab. Tapi di sisi lain banyak orang yang kalau boleh dibilang 'kurang sreg' penggunaan nama tersebut dalam penyebutan Tuhan di kehidupan sehari-hari. Makanya penulis merasa penting untuk menempatkan Nama YAHWEH itu pada proporsinya. 

Sebagai sebuah keinginan untuk meneliti dan menjawab banyak pertanyaan kenapa nama YAHWEH kurang pepuler, yang artinya ini berhubungan dengan penyebutan. Tentu saja penyebutan haruslah bersumber kepada Alkitab. Tapi bukan hanya kepada Alkitab yang kita pegang sekarang tapi harus mengacu kepada sumber aslinya ketika sebutan mengenai Tuhan ingin ditelaah. Artinya penulis harus berusaha untuk meneliti dari budaya dan bahasa asli Alkitab itu sendiri. Itupun harus kembali memilah antara teks Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani karena keduanya berbeda dalam arti penulisan dan budaya yang menyertainya. Menurut penulis, kalau PL memang tidak diragukan lagi dan sudah selesai mengenai penyebutan sesembahan orang-orang Yahudi yang menjadi acuan penyembahan tadi yaitu dengan panggilan Nama YAHWEH. Walaupun di zaman Ezra penyebutan sesembahan nama YAHWEH itu dikaji ulang mengingat begitu kudusnya Nama tersebut yang berdasar pada Hukum ke-3 dari 10 Hukum Taurat. Dan kemudian digantikan dengan nama-nama lain untuk menjaga kekudusanNya itu dengan nama seperti Adonai. Perkembangan itu terus berlanjut.

Namun demikian penulis berusaha keras untuk membawa pembaca mengenai penghormatan kepada penyebutan pribadi yang seharusnya setiap nama itu memiliki makna dan unik dan khas. Sehingga kita harus menghargai nama yang disematkan kepada Tuhan itu bukan hanya berdasarkan sekedar nama, tapi itu berbicara mengenai jabatan, fungsi, gelar dan julukan serta posisiNya. Dengan berusaha mengambil berbagai pandangan dari berbagai ahli mengenai nama sesembahan itu penulis berusaha untuk mengutarakan bahwa nama YAHWE merupakan nama diri yang otentik dari nama Tuhan Sang Pencipta. Tentu saja acuannya adalah selain dari para peneliti, tapi juga dari Alkitab sebagai sumber utamanya. Tidak lupa juga penulis menyinggung penggunaan nama Allah dalam konteks kekristenan di Indonesia dan tentu di Timur Tengah serta pokok-pokok pikiran yang diusulkan oleh penulis dalam masalah ini.

Pada kesimpulannya dari penulis bahwa Nama YAHWEH merupakan nama yang seharusnya disematkan kepada Bapa Pencipta. Kemudian penulis menghubungkan dengan akhir zaman di mana nama itulah yang menjadi sebutan. Memang untuk bagian ini perlu didiskusikan lebih lanjut, apalagi menyangkut antikris 666 yang ditujukan kepada beberapa kelompok tertentu. 

Sebagai tambahan seperti sebuah ulasan mengenai Alkitab ILT yang ditulis oleh Republika di mana ILT yang muncul dan mendapat tempat di sebagian orang Kristen di Indonesia lebih cenderung diterima oleh mereka yang berafiliasi kepada kelompok-kelompok kekristenan Mesianik yang dianggap lebih pro kepada budaya Israel. Tapi sayang analisa yang ditulis oleh Menachen Ali tersebut berusaha membenturkan dengan mengatakan mereka yang antusias dengan ILT itu adalah sangat anti budaya Arab. Tentu saja hal tersebut menafikan mereka yang menggunakan ILT hanya ingin mencari kebenaran dalam soal isi Alkitab dan tidak terlalu perduli dengan budaya Arab. Karena bukankah budaya Israel lebih dekat dengan budaya Arab ketimbang dengan budaya Indoensia sendiri? Ah terlalu jauh lah!

Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates