Misteri Terkuak Siapa yang Menyalibkan Yesus


Tema Paskah tahun ini adalah Tak Terpisahkan dari Kasih Allah. Sebuah tema yang menghubungkan suasana dunia menghadapi penderitaan COVID-19 yang tetap meyakini bahwa kasih Tuhan itu masih tetap nyata. Pada Jumat Agung tahun ini masih tetap dalam suasana yang tetap dalam keprihatinan.

Paskah tidak bisa dipisahkan dengan penyaliban Yesus Kristus. Bahkan penyaliban Yesus menjadi poin penting dalam kekristenan. Penyaliban merupakan model penghukuman yang penuh dengan penderitaan. Bila Yesus Kristus merupakan tokoh yang dikasihi oleh Allah, kenapa justru Dia menderita dan membiarkan penderitaan itu sangat menyakitkan? Kalau demikian kenapa Allah membiarkanNya?

Memang kisah Paskah adalah kisah yang dekat dengan penderitaan dalam hal Yesus Kristus di kayu salib. Sebuah cerita penyaliban yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari kekristenan. Gambaran kesengsaraan itu begitu hebat yang dialami oleh tokoh Yesus Kristus. Tema ini memang sangat tepat ketika kita melihat kepada penderitaan yang ada.

Namun demikian ketika kita mengajukan pertanyaan lebih spesifik lagi maka rentetan pertanyaan ini tentu patut diajukan, Mengapa Yesus Kristus disalibkan? Mengapa Dia mengalami penderitaan yang begitu hebat? Tentu saja bukan menjauhkan kematian Yesus Kristus di kayu salib itu dengan kondisi saat ini, tapi justru berangkat dari merenungkan mengapa Yesus mati di kayu salib itu yang membuat Paskah menjadi bermakna.

Sebenarnya kembali kepada pertanyaan awal, bila Yesus yang merupakan paling dikasihi, kenapa Dia justru mengalami penderitaan di kayu salib. Pertanyaan lainnya lebih menukik adalah, siapa yang telah membunuh Yesus Kristus?

Allah.

Sebuah buku menarik yang ingin dilihat dalam rangka Paskah tahun ini adalah karya penulis terkenal John Piper. Judul buku: Penderitaan Yesus Kristus (The Passion of Jesus Christ). Diterbitkan oleh Penerbit Momentum. Tahun terbit 2006.

Jawaban bahkan Allah yang telah membunuh Yesus Kristus tentu bukan berdasarkan teori-teori membingungkan. Dan bahkan jawaban tersebut menjadi penjelasan singkat, tapi membutuhkan berbagai argumentasi yang akurat yang berasal dari Alkitab sendiri.

Makanya John Piper sudah mengira sejak awal yang ia jelaskan dalam Kata Pendahuluan bukunya ini. Pemikiran yang mengejutkan. Yesus adalah Anak-Nya. PenderitaannYa tidak tertera. Tapi seluruh pesan Alkitab menggiring kita kepada kesimpulan tersebut.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Piper bahwa Allahlah yang telah membunuh Yesus, tentu bukan dengan berpikir sederhana seperti orang diberikan kecelakaan. Bukan itu intinya, tapi Allah membunuh Yesus karena seperti yang disampaikan dalam doa jemaat mula-mula yang tertera dalam Kisah Para Rasul 4:27-28.

Dan buku ini memaparkan banyak alasan yang sangat lengkap yang ditulis oleh John Piper ini sebagai hasil perenungan yang dalam mengenai penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Sehingga membaca buku ini mengajak pembaca untuk benar-benar mendalami tindakan Allah bagi manusia dengan penderitaan Kristus yang telah dilakukanNya. Sehingga Paskah bukan hanya sebagai sebuah seremonial belaka, tapi bagaimana menyelami makna penderitaan Kristus itu bagi kehidupan kita.

Yang menarik dari ulasan Piper mengenai makna kematian Kristus dan penderitaanNya tersebut dengan melihat kenyataan yang terjadi pada masa-masa yang silam di mana justru mereka yang menamakan diri sebagai orang-orang yang mengikuti Kristus yang menderita, tetapi justru mendatangkan penderitaan bagi pihak lain. Berbagai kekerasan telah dilakukan oleh mereka yang mengaku Kristen yang tentu hal tersebut bukan prinsip Kristus yang dilakukan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.