Arti Hari Raya Waisak dan Waisak 2566 BE


Pada tahun ini Hari Raya Waisak jatuh pada tanggal 16 Mei bertepatan dengan Hari Senin yang juga menjadi libur nasional. Hari Raya Waisak 2566 BE yang artinya Kalender Buddhist Era itu akan memperingati Tri Suci dalam agama Buddha.

Hari Raya Waisak sangat penting bagi umat Buddha di seluruh dunia di mana di dalamnya ada 3 peristiwa penting dalam peringatan tersebut dan menjadi makna Hari Raya Waisak. Pertama, yaitu memperingati Hari lahirnya Sidharta Gautama, penemu dan sekaligus pencetus Agama Buddha. Kedua adalah tercapainya Sang Sidharta Gautama menuju tahap penerangan agung dan akhirnya menjadi Buddha. Ketiga, peristiwa wafatnya Sang Buddha.

Berbeda dengan Kalender Mesehi di mana Sang Buddha ketika dilahirkan jatuh pada tahun 544 sebelum Masehi (SM) maka perhitungan dalam Kalender Buddhist Era BE 1 dimulai pada tahun 544 SM tersebut. Dan kemudian ditambah dengan perhitungan Masehi menjadi 2566 BE tadi.

Dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak inilah Redaksi Idebuku mengangkat sebuah buku yang khusus membahas mengenai Agama Buddha berjudul: Buddhisme: Pengaruhnya dalam Abad Modern. Buku ini ditulis oleh beberapa pemikir dan sebagai editor adalah FX. Mudji Sutrisno, SJ. Penerbit buku ini adalah Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Tahun terbit 1993.

Buku ini tidak sekedar mengungkap mengenai berbagai peristiwa kelahiran, dan proses Sidharta Gautama akhirnya menjadi Buddha serta wafatnya tokoh pencetus agama Buddha. Tapi lebih dari itu bagaimana agama Buddha menghasilkan filsafat hidup yang memberi pengaruh besar bagi dunia termasuk dunia modern saat ini.

Dunia modern khususnya dunia Barat memang identik dengan rasional, kesemuanya diukur dengan intelektualnya termasuk dalam melihat agama. Semuanya diukur dengan akal yang harus rasionalistis. Termasuk di dalamnya filsafat Barat yang tentu juga harus diakui menghasilkan berbagai teknologi. Lalu bagaimana dengan pendekatan lain dalam melihat spiritual? Apakah cukup hanya dengan menggunakan pendekatan rasional? 

Filsafat Timur yang diwakili oleh Hinduisme dan Buddhisme tampil memberi alternatif pendekatan lain yaitu pendekatan hati. Pendekatan tersebut seperti menjawab kekosongan lain selain pendekatan rasionalitas tadi. Dan di sinilah perbedaan mendasar antara filsafat Barat dan filsafat Timur. Romo Mudji memang pakar dalam menganalisa keduanya dan bahkan menghubungkan dengan keberadaan kita sebagai Indonesia. Dan pisau analisanya adalah apakah kita sebagai Indonesia kita lebih ingin memilih "dunia" Barat atau "dunia" Timur? Dengan penjelasan detail mengenai perbedaan dua kubu tersebut.

Supaya tulisan ini tidak terlalu berat, maka kita lihat secara praktis kehidupan keseharian. Apakah kita ingin mengikuti pola-pola cara berpikir kebudayaan Barat atau mengikuti pola pemikiran Timur? Dan Romo Mudji setuju dengan apa yang pernah disampaikan oleh Sutan Syahrir dalam Renungan Indonesia yaitu Barat dan Timur sedang tenggelam dalam masa lampau, dan yang muncul adalah matahari baru. Strategi baru, kebudayaan baru, Indonesia baru: sintesis dari paham tradisional yang bersumber  dari Hinduisme, Buddhisme, kebatinan Jawa dan paham-paham tradisional lain dan paham pemikiran Barat.

Buku ini bukan hanya menjelaskan Buddhisme dan yang melatarbelakangi kelahirannya, tapi berbagai kedalaman makna dipaparkan dengan lugas mengenai berbagai hal termasuk perpecahan yang terjadi dalam agama Buddha. Sementara para penulis lain memaparkan mengenai Buddhisme pada abad ke 20 dan bagaimana ajaran dan pengaruhnya saat ini.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.