The Atlas of Happiness: Mencari Makna Bahagia dari 30 Kultur Dunia


Kita hidup pada zaman ketika kebahagiaan semakin mudah dipamerkan, tetapi belum tentu semakin mudah dirasakan.

Media sosial membuat kita setiap hari melihat orang lain sedang berlibur, makan di restoran, membeli barang baru, meraih promosi, menikah, memiliki rumah, atau menikmati kehidupan yang tampaknya sempurna. Tanpa sadar, semua itu dapat menciptakan sebuah standar baru: kalau hidup kita tidak terlihat seperti itu, mungkin kita belum cukup bahagia.

Tetapi benarkah kebahagiaan memiliki satu ukuran yang berlaku untuk semua orang?

Pertanyaan itulah yang membuat The Atlas of Happiness: Rahasia Hidup Bahagia dari Beragam Kultur Dunia karya Helen Russell menarik untuk dibaca. Buku ini mengajak pembaca melakukan perjalanan melintasi berbagai budaya untuk melihat bagaimana masyarakat di 30 negara memahami kebahagiaan. Edisi aslinya diterbitkan pada 2018, sementara edisi Indonesianya diterbitkan Mahaka Publishing pada 2021. 

Alih-alih memberikan satu formula kebahagiaan, Russell menunjukkan bahwa kebahagiaan ternyata memiliki banyak bahasa, kebiasaan, nilai, dan cara pandang.

Kebahagiaan Tidak Selalu Berarti Menjadi Lebih Sukses

Salah satu gagasan menarik dari The Atlas of Happiness adalah bahwa kebahagiaan tidak harus selalu dikaitkan dengan pencapaian individual.

Kita terbiasa mendengar nasihat untuk bekerja lebih keras, mendapatkan penghasilan lebih besar, mencapai karier yang lebih tinggi, memiliki lebih banyak barang, atau menjadi seseorang yang sukses.

Semua itu memang dapat memberikan kepuasan. Namun, buku Russell mengajak kita melihat sisi lain: bagaimana hubungan dengan orang lain, kemampuan menikmati waktu, menerima ketidaksempurnaan, terhubung dengan alam, dan menemukan makna hidup juga dapat menjadi bagian dari kebahagiaan.

Deskripsi buku tersebut memang memperlihatkan keragaman itu: Jepang memiliki wabi-sabi, Italia mengenal dolce far niente, Islandia memiliki þetta reddast, sementara Afrika Selatan memperkenalkan konsep ubuntu. 

Dengan demikian, buku ini bukan sekadar daftar istilah asing yang menarik. Ia dapat menjadi semacam cermin untuk mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya kita cari ketika mengatakan ingin bahagia.

Ubuntu: Kebahagiaan yang Tidak Bisa Dipisahkan dari Orang Lain

Bagi saya, salah satu bagian yang menarik adalah Ubuntu dari Afrika Selatan.

Bagi pembaca Linux, kata Ubuntu tentu langsung mengingatkan pada salah satu distribusi Linux paling populer. Namun, Ubuntu sebagai nama sistem operasi berasal dari konsep Afrika yang jauh lebih tua. Situs resmi Ubuntu menjelaskan istilah tersebut sebagai gagasan tentang “humanity to others” dan keterhubungan manusia. Mark Shuttleworth kemudian memilih nama Ubuntu untuk proyek Linux yang dikembangkannya bersama para pengembang Debian. 

Di sinilah terdapat sebuah pertemuan menarik antara filsafat manusia dan teknologi.

Ubuntu menekankan bahwa manusia tidak berdiri sendirian. Dalam filsafat Ubuntu, manusia dipahami melalui hubungannya dengan manusia lain. Kajian akademis mengenai konsep ini juga menunjukkan bahwa Ubuntu memiliki beragam interpretasi, termasuk sebagai kualitas moral seseorang dan sebagai pandangan tentang keterhubungan antarmanusia. 

Karena itu, Ubuntu tidak tepat jika hanya disederhanakan menjadi slogan “aku ada karena kita ada”. Konsepnya memiliki sejarah dan interpretasi yang lebih kompleks.

Namun, pesan dasarnya sangat relevan dengan kehidupan modern: kebahagiaan pribadi tidak selalu harus dicari secara individual.

Ketika Dunia Digital Membuat Kita Terlalu Individualistis

Inilah salah satu cara menarik untuk membaca buku Helen Russell pada masa sekarang.

Teknologi membuat kita semakin terhubung, tetapi keterhubungan digital belum tentu sama dengan kedekatan manusia.

Kita dapat memiliki ratusan atau ribuan teman di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian. Kita dapat mengikuti kehidupan banyak orang, tetapi justru semakin sering membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Karena itu, konsep kebahagiaan dari berbagai kultur yang ditampilkan Russell menjadi semakin menarik.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi:

“Bagaimana saya bisa menjadi lebih bahagia?”

Melainkan:

“Hubungan seperti apa, kebiasaan seperti apa, dan cara hidup seperti apa yang membuat kehidupan saya terasa bermakna?”

Pertanyaan kedua jauh lebih luas daripada sekadar mengejar perasaan senang.


Dari Hygge hingga Wabi-Sabi: Tidak Ada Satu Resep Kebahagiaan

Salah satu kekuatan The Atlas of Happiness adalah keberaniannya memperlihatkan bahwa setiap kultur mempunyai cara berbeda dalam memahami kehidupan.

Hygge, misalnya, sering diasosiasikan dengan kenyamanan dan kebersamaan dalam budaya Denmark. Jepang memiliki wabi-sabi, yang mengajarkan penerimaan terhadap ketidaksempurnaan. Italia mengenal dolce far niente, seni menikmati “manisnya tidak melakukan apa-apa”. Buku ini juga membahas berbagai gagasan dari negara lain, termasuk Bhutan, Finlandia, Turki, India, Australia, Wales, dan sejumlah tempat lainnya. 

Yang menarik bukan sekadar istilah-istilah tersebut.

Yang lebih penting adalah pertanyaan yang muncul setelah membacanya:

Apakah kita perlu menjalani kehidupan dengan cara yang sama untuk memperoleh kebahagiaan?

Jawabannya tampaknya tidak.

Kita bisa belajar dari kultur lain tanpa harus menyalinnya mentah-mentah.

Belajar Bahagia Tanpa Mengimpor Budaya Secara Mentah

Ini juga menjadi cara membaca buku Russell yang menurut saya masih sangat relevan.

Ada kecenderungan dalam pembicaraan mengenai kebahagiaan untuk mengambil sebuah konsep dari negara tertentu, kemudian mengubahnya menjadi tren gaya hidup.

Misalnya, hygge dapat berubah menjadi sekadar dekorasi rumah yang nyaman. Wabi-sabi dapat berubah menjadi estetika interior. Ikigai dapat berubah menjadi diagram motivasi yang beredar di internet.

Padahal, sebuah konsep budaya tidak selalu bisa dipisahkan dari sejarah dan masyarakat yang melahirkannya.

Karena itu, The Atlas of Happiness sebaiknya tidak dibaca sebagai “30 resep yang harus kita tiru agar bahagia.”

Lebih menarik jika buku ini dibaca sebagai 30 jendela untuk melihat bahwa manusia memiliki banyak cara dalam memahami kehidupan yang baik.

Kita mengambil inspirasinya, kemudian menerjemahkannya sesuai kehidupan kita sendiri.

Apa yang Bisa Dipelajari Pembaca Indonesia?

Di sinilah buku tersebut menjadi semakin menarik bagi pembaca Indonesia.

Sebenarnya kita juga memiliki banyak nilai yang dapat digunakan untuk memahami kebahagiaan: kebersamaan, gotong royong, makan bersama, hubungan keluarga, kehidupan bertetangga, serta kebiasaan berkumpul.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menemukan konsep kebahagiaan.

Yang perlu dilakukan justru melihat kembali hal-hal sederhana yang mulai dianggap biasa.

Berbincang dengan keluarga tanpa terganggu ponsel. Mengunjungi orang tua. Membantu tetangga. Makan bersama. Berjalan kaki. Menikmati sore. Membaca buku. Atau sekadar memiliki waktu untuk tidak melakukan apa-apa.

Kebahagiaan mungkin tidak selalu berada pada sesuatu yang belum kita miliki.

Kadang-kadang kebahagiaan justru tersembunyi dalam hal-hal yang sudah ada tetapi terlalu sering kita abaikan.

The Atlas of Happiness dan Cara Baru Melihat Kebahagiaan

The Atlas of Happiness menarik karena tidak memaksa pembaca menerima satu definisi kebahagiaan.

Helen Russell justru mengajak kita melihat dunia dan menemukan bahwa manusia di berbagai tempat memiliki cara masing-masing untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Buku ini merupakan pengembangan dari ketertarikan Russell terhadap budaya Denmark yang sebelumnya ia eksplorasi dalam The Year of Living Danishly. 

Bagi saya, inilah alasan buku ini masih layak diperkenalkan kepada pembaca sekarang.

Di tengah budaya hustle, tekanan untuk selalu produktif, perbandingan di media sosial, dan kecenderungan mengukur keberhasilan melalui pencapaian, kita membutuhkan perspektif yang lebih luas tentang kebahagiaan.

Mungkin kebahagiaan bukan sesuatu yang harus kita kejar tanpa henti.

Mungkin kita hanya perlu belajar melihatnya dari lebih banyak sudut.

Dan The Atlas of Happiness memberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan itu—bukan hanya keliling dunia, tetapi juga melihat kembali kehidupan kita sendiri.

Data Buku

Judul                   : The Atlas of Happiness: Rahasia Hidup Bahagia dari Beragam Kultur Dunia
Penulis               : Helen Russell
Penerbit             : Mahaka Publishing
Edisi Indonesia: Cetakan I, Maret 2021
ISBN                    : 978-602-9474-35-0
Tebal                   : xii + 295 halaman

Data edisi Indonesia tersebut tercatat dalam katalog perpustakaan dan sumber penjualan buku Indonesia.

Posting Komentar untuk "The Atlas of Happiness: Mencari Makna Bahagia dari 30 Kultur Dunia"