Stoikisme di Tengah Dunia yang Tidak Pasti: Belajar Tenang Tanpa Menjadi Mati Rasa
Pernahkah Anda membuka berita hanya untuk mengetahui harga, pekerjaan, politik, teknologi, atau ekonomi, tetapi setelah beberapa menit justru merasa semakin cemas?
Masalahnya bukan selalu karena kita sedang mengalami sesuatu yang buruk secara langsung. Kadang-kadang kita lelah karena terlalu banyak kemungkinan buruk yang terus berputar di kepala.
Dunia hari ini membuat kita seolah-olah harus mengetahui semuanya. Perubahan ekonomi terjadi cepat, teknologi berkembang tanpa menunggu kesiapan kita, media sosial membawa kabar dari berbagai penjuru dunia dalam hitungan detik, sementara masa depan pekerjaan dan kehidupan terasa semakin sulit diprediksi.
Dalam situasi seperti ini, Stoikisme kembali menarik perhatian. Bukan karena filsafat Yunani-Romawi ini menawarkan cara untuk menghindari masalah, tetapi karena ia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: ketika dunia tidak bisa kita kendalikan, bagaimana kita tetap bisa mengendalikan cara kita menjalani hidup?
Stoikisme Bukan Ajakan untuk Menjadi Orang yang Tidak Punya Perasaan
Stoikisme sering disalahpahami sebagai sikap tahan banting, tidak mengeluh, tidak menangis, dan menerima apa pun yang terjadi.
Padahal, pemikiran Stoa jauh lebih kompleks.
Buku The Stoic Life: Emotions, Duties, and Fate karya Tad Brennan justru menarik karena tidak menyederhanakan Stoikisme menjadi kumpulan kalimat motivasi. Diterbitkan oleh Oxford University Press pada 2005, buku ini membahas sistem etika Stoik melalui psikologi, etika, dan persoalan takdir. Brennan juga menggunakan teks-teks Stoik klasik untuk menjelaskan bagaimana para filsuf Stoa memahami kehidupan, emosi, kewajiban, dan kebebasan. (OUP Academic)
Dengan kata lain, Stoikisme bukan sekadar mengatakan, “Jangan khawatir.”
Ia justru mengajak kita bertanya: Mengapa saya khawatir? Penilaian apa yang sedang saya buat terhadap keadaan ini? Dan tindakan apa yang masih mungkin saya lakukan?
Dari Krisis Ekonomi ke Krisis Perhatian
Di sinilah Stoikisme menjadi menarik untuk kehidupan modern.
Krisis hari ini tidak hanya berbentuk kehilangan pekerjaan, kenaikan harga, penurunan pendapatan, atau ketidakpastian ekonomi. Kita juga menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis perhatian.
Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi sehingga sulit membedakan antara sesuatu yang benar-benar perlu kita tangani dan sesuatu yang sebenarnya berada jauh di luar kehidupan kita.
Misalnya, seseorang mungkin terus mengikuti berita ekonomi dunia, membaca komentar tentang resesi, melihat harga pasar, lalu membayangkan masa depan keluarganya akan buruk. Padahal, belum tentu ada perubahan nyata dalam kehidupannya hari itu.
Stoikisme menawarkan latihan sederhana: bedakan antara peristiwa dan penilaian kita terhadap peristiwa tersebut.
Kita tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi. Tetapi kita masih dapat memikirkan bagaimana meresponsnya.
Jangan Sekadar “Mengendalikan yang Bisa Dikendalikan”
Istilah populer dalam Stoikisme adalah dichotomy of control, yang biasanya diterjemahkan sebagai dikotomi kendali.
Namun, pembaca modern perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakannya menjadi slogan “abaikan semua yang tidak bisa dikendalikan”. Dalam pemikiran Epictetus, persoalannya lebih dekat pada apa yang “bergantung pada kita”, terutama penilaian, pilihan, dan tindakan kita.
Ini penting.
Jika perusahaan melakukan PHK, kita tidak bisa mengendalikan keputusan manajemen. Tetapi kita masih dapat menentukan apakah akan memperbarui keterampilan, mencari pekerjaan lain, mengatur pengeluaran, meminta bantuan, atau menyerah pada kepanikan.
Jika harga kebutuhan meningkat, kita tidak dapat mengatur harga pasar sendirian. Namun kita dapat mengevaluasi kembali gaya hidup dan prioritas keluarga.
Dengan demikian, Stoikisme bukan pasrah. Stoikisme justru mengembalikan perhatian kita kepada wilayah tempat tindakan masih mungkin dilakukan.
Emosi Bukan Musuh yang Harus Dibunuh
Bagian menarik dari pemikiran Stoik adalah cara mereka memahami emosi.
Marah,
takut, kecewa, dan cemas bukan sekadar sesuatu yang harus ditekan.
Brennan membahas psikologi Stoik dan bagaimana emosi berkaitan dengan
penilaian kita terhadap sesuatu. Dalam kerangka Stoa, persoalannya bukan
sekadar “jangan marah”, melainkan memahami bagaimana suatu kesan atau
penilaian mendapatkan persetujuan batin (assent). (Notre Dame
Philosophical Reviews)
Ini sangat relevan dengan kehidupan digital.
Sebuah
komentar di media sosial bisa membuat kita marah dalam hitungan detik.
Sebuah berita ekonomi dapat membuat kita takut sebelum kita memahami
konteksnya. Sebuah unggahan orang lain dapat membuat kita merasa
tertinggal.
Di sinilah latihan Stoik menjadi menarik: jangan langsung memberikan persetujuan kepada kesan pertama.
Berhenti sebentar.
Tanyakan:
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang saya asumsikan? Apakah ini
benar-benar masalah saya? Dan apa tindakan terbaik yang dapat saya
lakukan sekarang?
Jeda kecil semacam ini dapat mengubah respons impulsif menjadi keputusan yang lebih rasional.
The Stoic Life: Memahami Fondasi, Bukan Sekadar Menghafal Nasihat
Bagi
pembaca yang mengenal Stoikisme melalui kutipan Marcus Aurelius,
Seneca, atau Epictetus di media sosial, The Stoic Life menawarkan
pengalaman yang berbeda.
Tad Brennan tidak sekadar memberikan
daftar “10 cara menjadi Stoik”. Ia membawa pembaca masuk ke fondasi
pemikiran Stoa, termasuk persoalan emosi, etika, kewajiban, tindakan
yang tepat, kebebasan, serta takdir. Struktur bukunya memang menunjukkan
bahwa Stoikisme merupakan sebuah sistem filsafat yang jauh lebih luas
daripada sekadar teknik mengatasi stres. (OUP Academic)
Karena
itu, buku ini mungkin bukan bacaan paling ringan bagi orang yang hanya
mencari tips praktis. Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Brennan memberi semacam peta, bukan sekadar petunjuk jalan.
Pembaca
diajak memahami mengapa seorang Stoik berpikir demikian sebelum
memutuskan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan
sendiri.
Stoikisme untuk Dunia yang Tidak Bisa Kita Prediksi
Mungkin inilah alasan Stoikisme tetap menarik lebih dari dua ribu tahun setelah kemunculannya.
Kita
memang hidup dengan teknologi yang jauh berbeda dari Epictetus atau
Marcus Aurelius. Kita memiliki internet, kecerdasan buatan, pasar
global, media sosial, dan berbagai bentuk pekerjaan yang dahulu tidak
pernah dibayangkan.
Namun satu persoalan manusia tetap sama: kita tidak pernah sepenuhnya tahu apa yang akan terjadi besok.
Karena itu, Stoikisme tidak perlu dipahami sebagai usaha untuk menjadi manusia yang kebal terhadap masalah.
Sebaliknya, ia dapat dibaca sebagai latihan untuk menjadi manusia yang lebih jernih ketika menghadapi masalah.
Ketika ekonomi tidak pasti, kita tetap dapat mengatur keputusan keuangan.
Ketika pekerjaan berubah, kita tetap dapat belajar.
Ketika orang lain mengecewakan, kita tetap dapat memilih bagaimana merespons.
Ketika masa depan tidak jelas, kita tetap dapat menjalankan kewajiban hari ini.
Mungkin
itulah pelajaran Stoik yang paling relevan bagi zaman sekarang:
ketenangan bukan berarti dunia berhenti menjadi kacau. Ketenangan adalah
kemampuan untuk tidak membiarkan kekacauan dunia mengambil alih seluruh
cara kita berpikir.
Data Buku
Judul : The Stoic Life: Emotions, Duties, and Fate
Penulis : Tad Brennan
Penerbit : Oxford University Press
Tahun terbit: 2005
Tebal : 352 halaman


Posting Komentar untuk "Stoikisme di Tengah Dunia yang Tidak Pasti: Belajar Tenang Tanpa Menjadi Mati Rasa"
Posting Komentar