Review Buku Boundaries in Marriage: Mengapa Berani Berkata "Tidak" Justru Menyelamatkan Pernikahan Anda

Pendahuluan: Mitos "Dua Menjadi Satu"

Pernahkah Anda merasa bahwa menikah berarti Anda harus menyerahkan seluruh otonomi diri Anda? Banyak pasangan, terutama dalam budaya kita, mempercayai bahwa pernikahan yang bahagia adalah ketika tidak ada lagi sekat antara suami dan istri.

Namun, buku klasik karya Dr. Henry Cloud & Dr. John Townsend, berjudul Boundaries in Marriage: Understanding The Choices That Make or Break Loving Relationship, menawarkan pandangan yang radikal namun melegakan: Untuk membangun "Kita" yang kuat, Anda harus terlebih dahulu memiliki "Saya" yang sehat.

Jika Anda sering merasa lelah karena selalu berusaha menyenangkan pasangan tapi hati kecil Anda menolak, ulasan buku ini mungkin adalah jawaban yang Anda cari.
Apa Itu "Boundaries" (Batasan)?

Seperti yang dijelaskan dalam bukunya, batasan (boundaries) adalah garis properti pribadi. Bayangkan sebuah rumah dengan pagar. Pagar tersebut memperjelas mana halaman milik Anda dan mana milik tetangga.

Dalam pernikahan, batasan mendefinisikan wilayah emosional, spiritual, dan fisik individu.

- Tanpa batasan: Tercipta "wilayah abu-abu". Konflik menjadi kacau karena tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas perasaan dan masalah yang muncul.

- Dengan batasan: Masing-masing pihak tahu tanggung jawab, kebutuhan, dan pilihan mereka sendiri, lalu menyatukannya dengan rasa hormat.

Jebakan Budaya: Si Penurut ("The Compliant")

Salah satu poin paling krusial dalam buku ini—dan sangat relevan dengan budaya Timur serta nilai religius tertentu di Indonesia—adalah fenomena pasangan yang "terlalu penurut".
Seringkali, terutama pihak istri, dididik untuk selalu berkata "Ya" demi menyenangkan suami atau demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Cloud & Townsend mengingatkan bahaya fatal dari sikap ini melalui Hukum Motivasi (The Law of Motivation).

Bahaya "Asal Pasangan Senang"

Jika Anda melayani pasangan karena:
 * Takut dia marah,
 * Takut berdosa, atau
 * Merasa "memang sudah kewajiban",
Maka itu bukanlah cinta, melainkan ketakutan.

Buku ini menegaskan bahwa cinta sejati hanya bisa lahir dari kebebasan. Jika Anda tidak memiliki kebebasan untuk berkata "Tidak", maka kata "Ya" Anda tidak memiliki nilai. Kepatuhan semu ini lama-kelamaan akan menumpuk menjadi resentment (kepahitan) yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan hubungan.

10 Hukum Batasan untuk Pernikahan Sehat

Dr. Cloud dan Dr. Townsend merumuskan 10 hukum batasan untuk menjaga kewarasan masing-masing individu dalam pernikahan. Tiga di antaranya yang paling sering menjadi titik balik bagi banyak pasangan adalah:
1. Hukum Tabur Tuai (The Law of Sowing and Reaping)
Biarkan pasangan menanggung konsekuensi dari tindakannya. Jangan selalu menjadi penyelamat. Jika pasangan boros, biarkan dia merasakan sulitnya tidak punya uang. Melindunginya terus-menerus justru membuatnya tidak dewasa.
2. Hukum Tanggung Jawab (The Law of Responsibility)
Anda bertanggung jawab kepada pasangan (untuk mengasihi), tapi tidak bertanggung jawab atas pasangan (atas perasaan atau kebahagiaannya). Anda tidak bisa mengubah pasangan; Anda hanya bisa mengubah cara Anda bereaksi terhadapnya.
3. Hukum Keterbukaan (The Law of Exposure)
Batasan harus disampaikan secara verbal. Pasangan Anda bukan pembaca pikiran. "Ngambek" atau mendiamkan pasangan bukanlah batasan. Katakan dengan jelas apa yang Anda sukai dan apa yang tidak bisa Anda toleransi.

Kesimpulan: Konflik Itu Perlu

Buku Boundaries in Marriage mengajarkan kita untuk tidak takut pada konflik. Konflik yang terjadi karena penegakan batasan jauh lebih sehat daripada "kedamaian palsu" di mana satu pihak terus-menerus menekan perasaannya.

Membangun batasan bukan berarti membangun tembok pemisah yang egois. Justru sebaliknya, batasan adalah "gerbang". Ia menjaga hal-hal buruk tetap di luar, dan membiarkan hal-hal baik tetap di dalam.

Jika Anda ingin pernikahan yang bukan hanya sekadar bertahan, tapi bertumbuh secara dewasa, buku ini adalah bacaan wajib. Apakah Anda merasa kesulitan menetapkan batasan dengan pasangan? Atau justru merasa sering melanggar batasan pasangan? Yuk, diskusi di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Review Buku Boundaries in Marriage: Mengapa Berani Berkata "Tidak" Justru Menyelamatkan Pernikahan Anda"