Masyarakat Tanpa Tuhan: Benarkah Agama adalah Syarat Mutlak Mencapai Kebahagiaan?
Di Indonesia, agama adalah napas kehidupan. Di sini berlaku peace - religion, di mana agama punya hubungan yang erat dengan kedamaian. Bahkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi fondasi moral dan identitas bangsa. Namun, sebuah buku provokatif berjudul "Masyarakat Tanpa Tuhan" karya Phil Zuckerman (diterbitkan oleh Penerbit BasaBasi, 2018) mengajak kita melihat sisi lain dunia yang mungkin terdengar mustahil bagi telinga kita, sebuah masyarakat yang bahagia justru karena mereka "melupakan" Tuhan.
Eksperimen Sosiologis di Skandinavia
Phil Zuckerman, seorang sosiolog asal Amerika Serikat, merasa jengah dengan narasi di negaranya. Di Amerika, kaum Injili (Evangelis) sering menggaungkan bahwa tanpa agama, sebuah bangsa akan jatuh ke dalam lubang amoralitas dan kekacauan. Untuk menguji klaim ini, Zuckerman melakukan penelitian lapangan di Denmark dan Swedia.
Hasilnya mengejutkan. Dua negara ini secara konsisten berada di puncak indeks kebahagiaan dunia. Tingkat kriminalitas mereka rendah, korupsi hampir tidak ada, dan kesetaraan gender dijunjung tinggi. Namun, mayoritas warganya mengaku tidak percaya Tuhan atau tidak menganggap agama penting.
Titik Berangkat: Kontras dengan Amerika dan Dunia
Dalam bukunya, Zuckerman tidak hanya memuja Skandinavia. Ia menggunakannya sebagai kontras tajam terhadap Amerika Serikat yang "maju tapi religius". Di Amerika, agama hadir secara vokal dalam politik dan ruang publik, namun angka kesenjangan sosial dan tingkat stres masyarakatnya sering kali lebih tinggi dibanding Skandinavia.
Zuckerman memperkenalkan istilah "Indifference" (Ketidakpedulian). Warga Denmark dan Swedia bukan membenci agama (ateisme militan), mereka hanya merasa agama tidak lagi relevan karena fungsi-fungsi perlindungan yang biasanya disediakan agama—seperti rasa aman, kesehatan, dan kepastian masa depan, sudah diambil alih oleh negara melalui sistem jaminan sosial yang sangat kuat.
Relevansi bagi Masyarakat Indonesia
Membaca buku ini di Indonesia merupakan sebuah tantangan intelektual. Kita sering kali menyamakan "tidak beragama" dengan "tidak bermoral". Zuckerman mematahkan stereotip tersebut dengan menunjukkan bahwa etika sekuler bisa menghasilkan masyarakat yang jujur dan tertib.
Namun, apakah model ini bisa diterapkan di Indonesia? Ada beberapa poin refleksi yang muncul:
Jaminan Sosial vs Iman
Di Indonesia, agama sering menjadi "payung" saat negara belum mampu hadir sepenuhnya (misalnya dalam bantuan sosial komunitas rumah ibadah).
Moralitas Budaya
Zuckerman mencatat bahwa di Skandinavia, nilai-nilai Kristen telah terserap menjadi etika budaya tanpa perlu embel-embel teologis. Di Indonesia, nilai ketuhanan sudah menyatu dengan adat.
Kebahagiaan Kolektif
Buku ini memaksa kita bertanya, apakah kebahagiaan kita berasal dari ketenangan spiritual, ataukah kita juga merindukan stabilitas sosial-ekonomi yang membuat kita tidak perlu lagi "cemas" akan hari esok?
Kesimpulan: Menantang Tanpa Menggurui
Masyarakat Tanpa Tuhan bukanlah buku yang mengajak pembaca, Ayo menjadi ateis. Buku ini adalah cermin sosiologis. Ia menantang kita untuk melihat bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa penuh rumah ibadahnya, tetapi dari seberapa besar rasa aman dan kebahagiaan yang dirasakan oleh setiap warganya.
Bagi pembaca di Indonesia, karya Zuckerman ini adalah ajakan untuk berdialog secara sehat tentang peran agama di ruang publik dan bagaimana membangun moralitas bangsa yang inklusif.

Posting Komentar untuk "Masyarakat Tanpa Tuhan: Benarkah Agama adalah Syarat Mutlak Mencapai Kebahagiaan?"
Posting Komentar