Papua Bukan Tanah Kosong dan Film Pesta Babi: Ketika Tanah, Hutan, dan Martabat Orang Papua Dipertaruhkan


Papua kembali menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bukan hanya karena konflik, pembangunan, atau isu politik yang terus berulang, tetapi juga karena karya-karya yang membuka mata publik terhadap realitas yang selama ini sering diabaikan. Salah satunya adalah buku Papua Bukan Tanah Kosong: Beragam Peristiwa dan Fakta Hak Asasi Manusia di Tanah Papua 2018 terbitan SKPKC Fransiskan Papua, dan satu lagi adalah film Pesta Babi yang sedang ramai diperbincangkan.

Keduanya hadir dalam medium yang berbeda, tetapi menyampaikan kegelisahan yang sama: Papua bukan wilayah kosong yang bisa diambil, diatur, dan dikuasai sesuka hati. Papua adalah tanah hidup, tanah adat, tanah identitas, dan tanah masa depan bagi orang-orang Papua sendiri.

Buku Papua Bukan Tanah Kosong dan film Pesta Babi sama-sama membuka mata bahwa Papua bukan ruang kosong untuk dieksploitasi. Tanah, hutan, dan manusia Papua harus dihormati, sementara negara perlu mengutamakan pendidikan dan keadilan, bukan penguasaan atas kekayaan alam.

Papua Bukan Tanah Kosong: Sebuah Seruan Melawan Penghapusan

Buku Papua Bukan Tanah Kosong merupakan dokumentasi penting tentang situasi hak asasi manusia di Papua pada tahun 2018. Dari daftar isi dan pengantarnya, buku ini memperlihatkan bagaimana Papua dibicarakan bukan hanya sebagai ruang geografis, melainkan sebagai ruang hidup yang terus mengalami tekanan.

Beberapa persoalan utama yang diangkat buku ini meliputi:

  • tragedi kemanusiaan di Asmat,
  • pembungkaman kebebasan berpendapat,
  • konflik bersenjata di Nduga,
  • militerisasi dan sengketa tanah,
  • penghancuran hutan Papua,
  • munculnya radikalisme,
  • serta lambannya penyelesaian pelanggaran HAM.

Pesan utama buku ini sangat jelas: tanah Papua memiliki manusia, sejarah, dan pemilik yang harus dihormati. Karena itu, Papua tidak boleh diperlakukan sebagai lahan kosong untuk investasi, eksploitasi, atau proyek pembangunan yang mengabaikan manusia yang sudah lama hidup di atasnya.

Dalam konteks ini, istilah “Papua Bukan Tanah Kosong” bukan sekadar slogan. Ia adalah penegasan bahwa orang Papua adalah subjek, bukan pelengkap. Mereka bukan penonton di tanah sendiri.

Film Pesta Babi dan Mata Publik yang Mulai Terbuka

Ramainya pembicaraan tentang film Pesta Babi menunjukkan satu hal penting: publik Indonesia mulai mencari cara lain untuk memahami Papua. Film, seperti halnya buku, punya kekuatan untuk menghadirkan pengalaman batin, luka sosial, dan ketegangan yang kadang tidak mampu dijelaskan oleh berita singkat atau pernyataan resmi.

Film yang menyentuh Papua sering kali membuat penonton sadar bahwa persoalan di tanah itu bukan hanya tentang pembangunan atau keamanan, tetapi juga tentang relasi kuasa. Siapa yang menentukan masa depan Papua? Siapa yang mendapatkan manfaat dari tanah, hutan, dan sumber daya alamnya? Dan siapa yang justru menanggung penderitaan?

Di sinilah kaitan penting antara Pesta Babi dan buku Papua Bukan Tanah Kosong. Keduanya mengajak kita melihat Papua bukan dari kacamata proyek, tetapi dari sisi manusia. Bukan dari bahasa statistik, tetapi dari kenyataan hidup sehari-hari orang Papua.

Hutan Papua, Tanah Adat, dan Luka yang Terus Berulang

Salah satu isu paling penting dalam buku ini adalah soal penghancuran hutan Papua. Hutan di Papua bukan hanya kawasan ekologis. Hutan adalah sumber makan, ruang budaya, pengetahuan leluhur, dan penopang kehidupan masyarakat adat. Ketika hutan rusak, yang hilang bukan cuma pohon, tetapi juga relasi hidup sebuah komunitas dengan tanahnya.

Pembangunan yang masuk tanpa penghormatan terhadap tanah adat Papua kerap menimbulkan gesekan. Masyarakat pemilik hak ulayat sering kali dipaksa berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar: investasi, perusahaan, proyek infrastruktur, atau agenda negara. Pada titik ini, konflik bukan sekadar soal lahan, melainkan soal martabat.

Jika tanah adat diperlakukan hanya sebagai objek ekonomi, maka orang Papua akan terus berada dalam posisi yang dirugikan. Mereka menyaksikan kekayaan alamnya diambil, tetapi tidak merasakan kesejahteraan yang setara. Mereka hidup di wilayah kaya, tetapi sering tetap akrab dengan kemiskinan, keterbatasan layanan kesehatan, dan akses pendidikan yang belum memadai.

Berhenti Menguasai Papua, Mulailah Menghormatinya

Pesan moral yang perlu ditegaskan hari ini sederhana tetapi penting: berhentilah menguasai Papua dengan rakus atas kekayaan di dalamnya. Cara pandang yang menempatkan Papua semata-mata sebagai sumber bahan mentah, ruang ekspansi, atau ladang investasi hanya akan memperpanjang penderitaan orang-orang Papua.

Orang Papua memiliki hak yang sama untuk hidup dengan aman, bermartabat, dan sejahtera di tanah mereka sendiri. Mereka berhak menikmati hasil tanahnya, menjaga hutannya, mempertahankan budaya dan identitasnya, serta menentukan arah hidup komunitasnya.

Menghormati Papua berarti mengakui bahwa:

  • masyarakat adat punya hak atas tanahnya,
  • hutan Papua tidak boleh dirusak demi keuntungan sepihak,
  • pembangunan harus melibatkan warga sebagai pemilik masa depan,
  • dan negara wajib hadir bukan sebagai penguasa yang menekan, melainkan sebagai pelindung yang memulihkan.

Pendidikan Adalah Jalan Keadilan yang Seharusnya Diprioritaskan

Jika benar ada keinginan untuk memajukan Papua, maka jawabannya tidak cukup dengan jalan, industri, atau proyek besar. Papua memerlukan pendidikan yang adil, berkualitas, dan berakar pada kebutuhan masyarakatnya.

Pendidikan adalah jalan paling masuk akal dan paling manusiawi untuk membangun Papua. Dengan pendidikan, anak-anak Papua dapat tumbuh sebagai generasi yang sehat, percaya diri, kritis, dan mampu menentukan masa depannya sendiri. Dengan pendidikan, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama perubahan.

Karena itu, para penguasa seharusnya tidak sibuk mengatur cara mengambil kekayaan Papua, melainkan serius memikirkan:

  • bagaimana sekolah-sekolah di Papua benar-benar hidup,
  • bagaimana guru hadir dan didukung,
  • bagaimana anak-anak di wilayah terpencil mendapat akses belajar yang layak,
  • dan bagaimana pendidikan menghormati bahasa, budaya, serta pengetahuan lokal Papua.

Papua tidak membutuhkan belas kasihan. Papua membutuhkan keadilan.

Saatnya Melihat Papua dengan Nurani

Baik buku Papua Bukan Tanah Kosong maupun film Pesta Babi sama-sama mengingatkan kita bahwa Papua tidak boleh terus dibicarakan dari jauh tanpa kesediaan untuk mendengar orang-orangnya sendiri. Selama ini, terlalu banyak keputusan dibuat atas nama Papua tanpa benar-benar memberi ruang pada suara orang Papua.

Kita perlu berhenti melihat Papua sebagai wilayah pinggiran yang bisa terus dikorbankan. Papua adalah bagian hidup yang tak terpisahkan dari manusia-manusia yang mencintai tanahnya, hutannya, sungainya, kampungnya, dan masa depan anak-anaknya.

Maka, jika hari ini semakin banyak orang mulai membaca, menonton, dan membicarakan Papua dengan lebih terbuka, semoga itu menjadi langkah awal yang baik. Bukan untuk sekadar ikut ramai, tetapi untuk memahami bahwa di balik kekayaan Papua, ada manusia yang selama ini terlalu sering menanggung beban paling besar.

Penutup

Papua bukan tanah kosong. Kalimat ini seharusnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang ingin bicara tentang pembangunan, investasi, negara, dan masa depan Papua. Tidak ada pembangunan yang layak disebut kemajuan jika dibangun di atas penderitaan masyarakat adat, kerusakan hutan, dan pengabaian hak manusia.

Sudah waktunya Papua dihormati, bukan dikuasai. Sudah waktunya orang Papua menikmati kekayaan tanahnya sendiri. Dan sudah waktunya negara benar-benar hadir melalui keadilan, perlindungan hak, layanan kesehatan, dan terutama pendidikan yang memerdekakan.

Sebab masa depan Papua yang adil hanya bisa lahir jika orang Papua tidak lagi dipinggirkan di tanahnya sendiri.

Posting Komentar untuk "Papua Bukan Tanah Kosong dan Film Pesta Babi: Ketika Tanah, Hutan, dan Martabat Orang Papua Dipertaruhkan"