Pendidikan yang Layak: Ketika Anak Muda Harus Bekerja Keras untuk Sekolah
Pekerjaannya tidak ringan. Sebagai pembantu tukang, ia harus membantu pekerjaan-pekerjaan fisik yang membutuhkan tenaga cukup besar. Pagi hingga sore hari dihabiskan untuk bekerja.
Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian saya dari pemuda ini.
Ia masih ingin sekolah.
Saya pernah berbincang dengannya mengenai pendidikan. Dari percakapan itu saya mengetahui bahwa ia sebelumnya bersekolah di SMK dan sudah sampai kelas 2. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarganya membuat ia tidak mampu melanjutkan sekolah.
Ia kemudian memilih mengambil Paket C yang setara dengan pendidikan SMA.
Keinginannya untuk belajar ternyata begitu besar. Bahkan ketika harus bekerja pada siang hari, ia tetap mengikuti kegiatan belajar pada malam hari. Ia harus mengerjakan tugas, mengikuti pembelajaran melalui Zoom, dan berbagai kegiatan belajar lainnya.
Saya kemudian membayangkan bagaimana beratnya membagi waktu seperti itu.
Pagi sampai sore bekerja menggunakan tenaga.
Malam hari belajar menggunakan pikiran.
Ketika sebagian anak muda seusianya mungkin masih dapat berkonsentrasi pada sekolah tanpa harus memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari, pemuda ini harus melakukan keduanya sekaligus.
Bekerja untuk Bertahan, Belajar untuk Mengubah Masa Depan
Kisah pemuda tersebut membuat saya berpikir bahwa kerja keras ternyata memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Ada orang yang bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup. Ada pula orang yang bekerja keras karena ingin membangun masa depan yang lebih baik.
Tetapi ada orang yang harus melakukan keduanya sekaligus.
Ia harus bekerja keras untuk bertahan hidup, sekaligus bekerja keras untuk meningkatkan dirinya.
Pemuda tersebut termasuk di dalam kelompok terakhir.
Bagi dirinya, bekerja bukan berarti berhenti belajar. Justru setelah bekerja seharian, ia masih menyisakan tenaga dan waktu untuk sekolah.
Saya melihat ada sebuah keinginan yang kuat untuk memperbaiki kehidupan melalui pendidikan.
Saya juga memberikan sebuah laptop kepadanya agar dapat digunakan untuk keperluan sekolah. Kalau sewaktu-waktu saya membutuhkan bantuan untuk bersih-bersih, saya memanggilnya dan memberikan pekerjaan. Dengan demikian, ia tetap mempunyai kesempatan mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan sekolahnya.
Saya tidak tahu akan seperti apa masa depannya nanti. Tetapi saya melihat satu hal yang penting: ia tidak menyerah terhadap keadaan.
Ketika Membaca Buku Dua Muka Kebijakan Pendidikan Indonesia
Kisah tersebut kemudian terasa semakin menarik ketika saya sedang membaca buku Dua Muka Kebijakan Pendidikan Indonesia yang diterbitkan oleh Dompet Dhuafa Makmal Pendidikan.
Buku yang terbit pada 2013 itu membahas berbagai persoalan pendidikan Indonesia, terutama mengenai ketidakmerataan akses, infrastruktur, dan kualitas pendidikan. Salah satu perhatian penting buku tersebut adalah kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil, termasuk kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T.
Ada satu gagasan dari buku tersebut yang menurut saya tetap relevan untuk direnungkan: pendidikan bukan sekadar soal membangun sekolah atau menyediakan program pendidikan. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu apakah setiap anak benar-benar mendapatkan akses, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan, dan kepastian memperoleh layanan pendidikan.
Membaca hal tersebut membuat saya teringat kepada pemuda tadi.
Ia memang tidak tinggal di daerah terpencil. Ia tidak harus menyeberangi sungai atau berjalan berkilo-kilometer untuk mencapai sekolah sebagaimana kisah sebagian anak di daerah 3T yang dibahas dalam buku tersebut.
Tetapi perjuangannya memiliki bentuk yang berbeda.
Hambatannya adalah keadaan ekonomi.
Ayahnya telah meninggal. Ia harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Pendidikan formal yang pernah dijalaninya terhenti. Ketika ingin kembali belajar, ia harus mengambil jalan lain melalui Paket C.
Artinya, persoalan akses pendidikan tidak selalu berbentuk jarak geografis.
Kadang-kadang jaraknya hanya berupa kemiskinan.
Kadang-kadang berupa kondisi keluarga.
Kadang-kadang berupa biaya.
Dan kadang-kadang berupa keadaan hidup yang memaksa seorang anak memilih antara bekerja atau sekolah.
Pendidikan Seharusnya Tidak Hanya Tersedia, tetapi Terjangkau
Di sinilah menurut saya persoalan pendidikan perlu dilihat lebih luas.
Kita sering mengatakan bahwa pendidikan sudah tersedia. Sekolah ada. Guru ada. Program pemerintah ada. Bahkan berbagai bentuk bantuan pendidikan juga tersedia.
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: apakah semua anak benar-benar mampu mengaksesnya?
Buku Dua Muka Kebijakan Pendidikan Indonesia sejak awal memang mempertanyakan kesenjangan antara kebijakan pendidikan dengan kenyataan di lapangan. Buku tersebut mencatat bahwa pemerintah memiliki visi untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan, serta jaminan memperoleh layanan pendidikan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya kesenjangan pendidikan.
Persoalan inilah yang menurut saya tidak hanya milik anak-anak di daerah terpencil.
Di kota maupun desa, masih ada keluarga yang harus berpikir keras mengenai biaya pendidikan.
Masih ada anak yang harus bekerja.
Masih ada anak yang terpaksa berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarga.
Masih ada anak yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi jalannya tidak semudah anak-anak lain.
Karena itu, pendidikan yang layak seharusnya tidak hanya menjadi slogan tentang pemerataan. Ia harus benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.
Jangan Hanya Mengagumi Anak yang Berjuang
Kisah pemuda tadi juga membuat saya berpikir tentang cara kita melihat orang-orang yang sedang berjuang.
Kita mungkin akan mengatakan, “Hebat sekali anak itu. Sudah bekerja keras, masih mau sekolah.”
Pujian tersebut tentu tidak salah.
Namun, ada pertanyaan lain yang lebih penting.
Mengapa seorang anak harus bekerja seharian dan belajar pada malam hari hanya untuk mendapatkan kesempatan pendidikan?
Pertanyaan tersebut membawa kita dari persoalan individu menuju persoalan yang lebih besar.
Kita memang harus menghargai kerja kerasnya. Kita harus menghargai semangat belajarnya. Tetapi jangan sampai kekaguman terhadap kegigihan seorang anak membuat kita lupa bahwa ada persoalan pendidikan yang harus diselesaikan secara sistemik.
Anak yang gigih seharusnya mendapatkan dukungan.
Anak yang ingin belajar seharusnya mendapatkan kesempatan.
Anak yang berasal dari keluarga kurang mampu seharusnya tidak kehilangan masa depan hanya karena keadaan ekonomi keluarganya.
Pendidikan Adalah Jalan Mengubah Kehidupan
Bagi sebagian orang, sekolah mungkin merupakan bagian biasa dari kehidupan.
Bangun pagi, memakai seragam, pergi ke sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, lalu pulang.
Tetapi bagi sebagian anak lainnya, sekolah adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga.
Pendidikan dapat menjadi jalan untuk keluar dari keterbatasan.
Pendidikan dapat membuka kesempatan bekerja.
Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan.
Pendidikan dapat memperluas wawasan.
Dan yang paling penting, pendidikan dapat memberikan seseorang kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu, ketika ada seorang anak yang tetap ingin belajar meskipun harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, semangatnya layak mendapatkan perhatian.
Ia sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ijazah.
Ia sedang memperjuangkan kemungkinan kehidupan yang berbeda.
Negara dan Tanggung Jawab Pendidikan
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab orang tua.
Masyarakat memiliki peran. Dunia usaha dapat membantu. Lembaga sosial dan filantropi dapat mengambil bagian. Kita sebagai individu juga dapat melakukan sesuatu, sekecil apa pun.
Tetapi pada tingkat yang lebih mendasar, negara tetap memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap warga negara memperoleh pendidikan yang layak.
Buku Dua Muka Kebijakan Pendidikan Indonesia mengingatkan bahwa kebijakan pendidikan harus berorientasi pada keadilan dan pemerataan, bukan sekadar menghasilkan program-program yang terlihat baik di atas kertas. Buku tersebut bahkan menekankan pentingnya kebijakan yang dilakukan secara utuh, bukan setengah-setengah.
Saya kira gagasan tersebut masih sangat penting.
Pendidikan tidak boleh hanya bagus bagi mereka yang sejak awal memiliki fasilitas.
Pendidikan tidak boleh hanya mudah diperoleh oleh mereka yang tinggal di wilayah dengan infrastruktur lengkap.
Dan pendidikan tidak boleh menjadi sesuatu yang semakin sulit diperoleh ketika sebuah keluarga mengalami musibah ekonomi.
Semua Anak Berhak Memiliki Masa Depan
Kisah pemuda berusia 19 tahun itu hanyalah satu cerita kecil.
Saya tidak tahu berapa banyak anak muda lain yang mengalami keadaan serupa.
Namun, justru dari cerita kecil seperti inilah kita dapat melihat persoalan pendidikan secara lebih dekat.
Di satu sisi, ada anak yang harus bekerja keras untuk mempertahankan hidup.
Di sisi lain, ia juga harus bekerja keras untuk meningkatkan dirinya.
Ia bekerja pada siang hari dan belajar pada malam hari.
Ia lelah secara fisik, tetapi tidak menyerah secara mental.
Dan mungkin justru karena itulah kita perlu kembali bertanya tentang tujuan pendidikan.
Apakah pendidikan hanya untuk mereka yang mampu membayarnya?
Tentu tidak.
Apakah pendidikan hanya untuk mereka yang tinggal di tempat yang mudah dijangkau?
Tentu tidak.
Apakah pendidikan hanya menjadi tanggung jawab keluarga?
Juga tidak.
Pendidikan adalah bagian penting dari masa depan bangsa.
Karena itu, setiap anak seharusnya memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak, apa pun latar belakang keluarganya dan di mana pun ia berada.
Buku Dua Muka Kebijakan Pendidikan Indonesia membawa kita melihat wajah pendidikan dari sisi kebijakan dan kesenjangan, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat. Sementara kisah pemuda yang saya kenal membawa persoalan itu lebih dekat: ternyata perjuangan memperoleh pendidikan juga ada di sekitar kita.
Mungkin kita tidak selalu mampu mengubah sistem pendidikan Indonesia.
Tetapi kita bisa membantu satu orang.
Saya memilih memberikan sebuah laptop kepadanya.
Bukan karena laptop itu akan menyelesaikan seluruh persoalan pendidikannya, melainkan karena saya ingin memberikan sedikit ruang agar keinginannya untuk belajar tetap dapat berjalan.
Sebab terkadang, perubahan besar memang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
membantu seseorang yang masih ingin belajar agar tidak berhenti belajar.
Dan mungkin itulah makna paling sederhana dari pendidikan yang berkeadilan: tidak membiarkan keadaan menentukan siapa yang boleh memiliki masa depan.

Posting Komentar untuk "Pendidikan yang Layak: Ketika Anak Muda Harus Bekerja Keras untuk Sekolah"
Posting Komentar