Minggu, 22 Maret 2020


Maaf sebelumnya karena buku yang saya bahas ini merupakan buku khusus bagi mereka yang berani menghadapi kematian. Jadi bukan untuk bagi mereka yang pengecut. Mengapa demikian? Karena kalau kita menelaah isinya, maka kita bisa menangkap maksud penulis yang sebenarnya yaitu penulis menantang pembaca untuk kita bisa siap menghadapi kematian. Pengertian siap di sini adalah ketika kematian itu datang entah itu karena kematian secara normal maupun secara tiba-tiba karena penyakit atau apapun maka tidak ada lagi beban yang turut dipikul ketika kita menghadapi kematian itu sendiri.

Saya memilih buku ini untuk menjadi perhatian karena saat ini kita seperti diaduk-aduk emosi kita dengan berbagai berita yang mempengaruhi sisi psikis kita karena Virus Corona. Berita kematian yang selama ini kurang menarik untuk diikuti kisah dan jumlahnya, tapi sekarang kita menjadi orang-orang yang perduli bahwa bertita kematian seperti terbitnya koran harian. Kita perduli, sudah berapa orang yang sudah mati karena virus COVID-19 itu? Baik itu mereka yang menemui ajal dari antara saudara-saudara kita sendiri, maupun mereka yang ada di belahan dunia di negara lain.

Tapi bagaimana dengan kita ketika melihat sebuah kematian? Pada akhirnya ternyata kematian itu sendiri tidak bisa kita hindari. Tidak ada tempat yang aman di dunia ini yang bisa menjaga kita terluput dari kematian. Itu fakta. Sekalipun berbagai penemuan dan kecerdasan manusia yang bisa menciptakan berbagai obat apapun termasuk obat awet muda, tapi itu tidak akan sanggup untuk menghentikan kematian itu mendekati kita. Celakanya kematian itu sendiri menjadi misteri bagi kita. Kita tidak tahu kapan akan datang.


Tapi, jangan khawatir, buku ini bukanlah buku horor yang bisa mendatangkan kecemasan. Mengapa? Justru buku ini menjadi buku berharga karena di dalamnya sang penulis Patricia Weenolsen, Ph.D. justru sebaliknya ingin mengajak pembaca untuk menyiapkan kematian yang pasti itu dengan kebahagiaan. Buku setebal 438 halaman itu malah mengajak kita untuk bisa mati dengan damai, bukan dengan membawa beban berat. Makanya di cover belakang buku dengan judul aslinya The Art of Dying ini bukanlah buku tentang kematian, tetapi tentang The Art of Living, tentang cinta yang membuat hidup manusia tetap bermakna meskipun hidup itu telah berlalu.

Tapi bagaimana kita mengartikan melalui kehidupan sehari-hari dari buku Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta ini? Kalau kematian itu pasti maka sebaiknya kita menyiapkan ketika kita hidup. Bagaimana kita menyiapkan supaya ketika kematian itu datang, kita benar-benar mati dengan damai. Jadi kematian itu akan damai ketika kita sudah melewati pengampunan dengan orang lain atau memafkan oran lain, atau sebaliknya tidak ada orang lain yang menjadikan hidup kita menjadi batu sandungan, bagaimana kita tidak merugikan pihak lain dan tidak merepotkan orang lain sehingga ketika kematian itu datang, kita benar-benar siap dengan kematian itu sendiri.

Kalau membaca dari daftar isinya saja, kita bisa menangkap pesan bagaimana mempersiapkan diri dengan kematian itu sendiri, dan tentu saja hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berani menghadapi kematian, apalagi ketika melewati sakit dan kelemahan tubuh ketika akan menuju ke kematian itu sendiri. Tetapi yang jelas, buku ini patut untuk dibaca.


Ide Dari Buku . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates